NovelToon NovelToon
Pacar Sewa Satu Milyar

Pacar Sewa Satu Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:190
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.

Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.

Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.

Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Kedua

Andi baru sadar mall itu berisik setelah Nayla pergi. Tadi, suara langkah orang, tawa anak kecil, musik dari toko sepatu—semuanya seperti latar mati yang tidak terasa. Sekarang mendadak hidup lagi, menyerbu telinga tanpa permisi.

Dunia kembali berjalan seolah tidak ada apa-apa yang barusan terjadi—seolah tidak ada momen di mana mereka berdampingan bikin kue, saling menertawakan karena ia salah campur gula dan tepung.

Ia melirik ponsel. Layarnya menampilkan catatan kecil yang ia tulis tadi pagi: Latihan Pacaran Pertama — selesai. Tidak ada notifikasi lanjutan. Tidak ada emoji. Tidak ada apa-apa yang menunjukkan bahwa hari ini lebih dari sekadar janji kontrak.

Padahal di telapak tangan, masih ada sisa hangat yang tidak mau hilang.

Andi berjalan menuju parkiran. Langkahnya lebih pelan dari biasanya seseorang berharap jarak bisa memanjang kalau ia menunda setiap langkah. Di dalam mobil, ia duduk tanpa langsung menyalakan mesin. Tangannya bergerak reflek membuka obrolan dengan Nayla.

Kursor berkedip di layar, menantikan kata-kata.

Ia mengetik:

Makasih ya, Nay. Tadi…

Berhenti. Ia hapus semuanya. Terlalu personal—terlalu jauh dari batasan “profesional” yang mereka sepakati.

Mengetik lagi:

Latihannya seru. Gue nggak nyangka bisa ketawa banyak.

Hapus lagi. Terlalu ringan—seolah mencoba menyembunyikan apa yang sebenarnya terasa.

Ia mendesah, menggosok dahi. Ini wilayah abu-abu: terlalu personal untuk kontrak, terlalu resmi untuk perasaan. Akhirnya ia menulis:

Terima kasih untuk profesionalismenya.

Ia menatap kalimat itu lama. Kaku. Aman. Dan penuh bohong. Hapus lagi.

Mesin mobil akhirnya menyala. Lampu parkiran meredup satu per satu saat ia keluar. Jalanan Jakarta Timur sore itu padat, klakson saling bersahutan seperti debat kusir yang tidak ada pemimpinnya. Di lampu merah, ponselnya bergetar.

Nayla:

Latihan hari ini cukup ya. Next session sesuai jadwal. Jangan overthinking.

Andi tertawa kecil—suaranya pahit. Ternyata ia ketahuan—bahkan sebelum mengirim apa pun. Ia membalas singkat:

Siap.

Satu kata. Titik. Tidak ada yang lebih.

Mobil melaju lagi. Di kaca spion, bayangan mall makin kecil. Tapi perasaan di dadanya justru membesar—pelan, tidak meledak, tapi menetapi batu yang terbenam. Ia sadar sesuatu membuatnya terkejut:Latihan ini tidak mengajarinya cara pacaran. Latihan ini mengajarinya apa yang tidak boleh ia rasakan. Dan itu jauh lebih sulit.

Di apartemen, Andi masuk tanpa menyalakan lampu menjatuhkan badan ke sofa, menatap langit-langit retak halus—retak yang sudah lama ada, tapi baru malam ini terlihat jelas, luka yang tiba-tiba terasa sakit lagi.

Ponselnya ia letakkan terbalik di meja—seakan bisa mencegah perasaan mau keluar. Untuk pertama kalinya, ia berharap tidak ada jadwal lanjutan. Dan untuk pertama kalinya juga, ia takut kalau jadwal itu benar-benar ada.

Ia meraih kalender di dinding. Minggu depan sudah menunggu, ditandai dengan tulisan tebal: Latihan Pacaran Kedua. Dan entah kenapa, angka satu miliar yang dulu terdengar seperti denda—sekarang seperti alasan terakhir untuk mundur, sebelum ia benar-benar terlibat dalam sesuatu yang tidak bisa ia kontrol.

\=\=\=\=

Pagi datang tanpa seremoni. Jakarta tetap Jakarta: klakson yang tak berhenti, notifikasi yang mengganggu, kopi instan rasanya pahit meskipun mereknya diganti berkali-kali. Andi duduk di meja kecil apartemennya, menatap layar ponsel sambil mengaduk kopi yang sudah dingin.

Tidak ada pesan baru dari Nayla. Dan anehnya—itu melegakan sekaligus mengecewakan seperti menunggu kereta yang tidak tahu kapan datang: lega kalau belum ada tanda, kecewa karena harapannya tersisa.

Jam sembilan lewat sedikit, notifikasi kalender berbunyi dengan suara yang menyakitkan telinga. Agenda Tambahan — Makan Malam (Simulasi Publik).

Andi mengernyit. Ini baru. Belum ada di jadwal awal. Pesan Nayla masuk nyaris bersamaan menunggu.

Makan pertama di luar. Publik, tapi aman. Bukan latihan fisik, cuma simulasi pasangan yang… kelihatan normal.

Normal. Kata itu lagi adalah tujuan terjauh yang bisa mereka capai.

Ia membalas:

Lokasi?

Warung makan. Bukan restoran. Lebih aman buat pasangan yang belum jago akting. 😅

Andi mendengus kecil, tapi tersenyum juga. Entah kenapa, bagian “warung makan” justru membuat dadanya lebih tegang daripada kalau mereka ke restoran mewah.

Warung itu ada di pinggir jalan besar, lampunya terang tapi tidak ada niat estetik. Meja aluminium bergoyang , kursi plastik yang tidak nyaman, dan spanduk menu yang warnanya sudah pudar oleh hujan dan matahari.Justru itu yang membuatnya berbahaya.

Tidak ada topeng kemewahan. Tidak ada dalih “ini cuma gaya hidup.” Di tempat seperti ini, orang datang hanya untuk makan—dan dilihat sebagai manusia biasa. Tanpa selubung apapun.

Nayla sudah duduk lebih dulu. Rambutnya diikat rendah dengan jepit sederhana, baju kaus polos abu-abu, tanpa rias berlebihan. Ia tampak… santai. Terlalu santai untuk seseorang yang hidupnya diatur oleh kontrak dan aturan.

“Kak Andi,” katanya dengan suara yang ringan, seolah tidak mau mengganggu suasana warung, “ini level berikutnya.”

“Level apa?”

“Level kelihatan kayak pacaran tapi gak boleh merasa pacaran.”

Andi tertawa pendek, suara kecil agar tidak didengar tetangga meja. “Itu lebih susah dari kelihatannya. Seperti main pancing tapi gak boleh dapatkan ikan.”

“Iya,” jawab Nayla dengan jujur “Makanya bayarannya mahal upah untuk menahan rasa ingin.”

Mereka memesan: nasi putih, ayam goreng, sambal hijau, es teh manis dua gelas. Tidak ada lilin, tidak ada musik latar romantis—hanya suara wajan mendesis dan orang-orang ngobrol ria di meja sebelah. Dan justru di situ masalahnya.

Pelayan datang dengan piring kosong, melirik mereka sekilas sebelum menurunkan piring. Senyum kecil muncul di wajahnya, melihat sesuatu yang familiar.

“Masnya mau sambalnya dipisah atau digabung?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi Andi mendadak kaku, lidahnya terasa kering. Dia tidak pernah berpikir tentang hal sepele itu—tentang bagaimana pasangan biasanya berbagi atau memisahkan sambal.

Nayla yang menjawab lebih dulu, lancar tanpa jeda. “Dipisah aja, Mbak. Dia gak kuat pedas. Kalau ngambil sambal, pasti langsung kepalanya panas.”

Pelayan mengangguk, tertawa sedikit, lalu pergi.

Andi menatap Nayla dengan mata bingung. “Gue gak pernah bilang itu.”

Ia mengangkat bahu rileks. “Insting. Kalau gue ragu, gue kalah. Ini juga bagian dari latihan, kan? Membaca pasangan.”

Kalimat itu terdengar bercanda. Tapi Andi menangkap sesuatu di balik suaranya—kewaspadaan terlalu sering dipakai bagian dari dirinya yang tidak bisa dilepaskan.

Makanan datang. Mereka mulai makan. Suara gigitan ayam dan sendok menyentuh piring menjadi latar suara utama. Dan di situlah gangguan datang.

Dari seberang jalan, sebuah ponsel terangkat terlalu lama. Kamera jelas mengarah ke arah meja mereka. Tidak jelas apakah memotret atau hanya refleks orang iseng yang suka mengambil foto sembarangan—butuhnya sudah cukup membuat jantung Andi mencelos.

“Nay…” katanya pelan, mata tidak berani bergerak dari ponsel itu.

“Tenang,” potong Nayla dengan suara yang sangat lembut, tanpa menoleh sama sekali. “Bukan siapa-siapa. Kalau kita panik, kelihatan mencurigakan. Cukup makan saja.”

Ia tetap makan dengan tenang tidak melihat apa-apa pun. Andi memaksakan diri melakukan hal yang sama, tapi suapannya terasa tercekik.

Pelayan kembali, kali ini membawa air tambahan, lebih ramah dari sebelumnya. “Mbaknya mirip temen saya deh. Kayak pernah lihat di mana ya…”

Nayla tersenyum—bukan senyum profesional yang dia tunjukkan di acara-acara, tapi senyuman aman seperti temen lama. “Mungkin wajah pasaran, Mbak. Banyak orang bilang begitu.”

Pelayan tertawa, puas dengan jawabannya, lalu pergi.

Andi menelan suapan terakhir, tenggorokannya masih kering. “Lu biasa gini?” tanyanya pelan, setelah yakin tidak ada yang mendengar. “Dilihat. Dinilai. Ditebak seperti apa yang mau lu lakukan?”

Nayla mengaduk es tehnya perlahan, matanya melihat butiran es mencair. “Biasa bukan berarti kebal, Kak. Cuma… tau kapan harus diam. Tau kapan harus jadi orang yang orang lain inginkan.”

Ada jeda di antara mereka. Tidak panjang, tapi cukup berat— batu yang terbenam di tengah air.

Andi sadar sesuatu lagi, sesuatu yang membuatnya terkejut: di meja makan sederhana ini, dengan ayam goreng dan sambal yang dipisah, perannya mulai kabur. Bukan lagi hanya klien dan talent. Bukan juga hanya pasangan pura-pura.

Mereka terlihat… wajar. Seperti pasangan yang benar-benar datang makan bersama, tanpa alasan lain selain ingin berbagi waktu.

Dan itu jauh lebih berbahaya daripada latihan apa pun di mall.

Saat mereka berdiri untuk pergi, Nayla membayar dulu—tanpa menunggu Andi menawarkan—lalu berkata pelan, hampir seperti catatan kecil yang hanya untuk didengarnya saja:

“Latihan hari ini sukses. Kita kelihatan cukup normal.”

Andi mengangguk, mata masih menatap wajahnya. “Terlalu sukses.”

Ia tersenyum tipis, tapi matanya terlihat serius. “Makanya besok kita balik ke aturan. Jangan terlalu jauh dari jalan yang sudah ditetapkan.”

Mereka berpisah di trotoar, berjalan ke arah yang berlawanan. Tidak ada pegangan tangan. Tidak ada basa-basi tentang “sampai jumpa.” Hanya dua orang yang berjalan sendiri-sendiri.

Tapi kali ini, Andi tidak langsung pergi ke mobilnya. Ia berdiri sebentar, menatap punggung Nayla yang menjauh, rambutnya bergoyang dengan angin malam. Lalu ia berpikir:

Kalau makan biasa saja sudah terasa seperti ini—apa yang terjadi kalau dunia mulai ikut campur lebih serius?

Dan entah kenapa, bayangan reuni yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya—atau mungkin sudah, tapi tidak mau mengaku—mulai terasa semakin dekat. Seperti awan yang tiba-tiba mendekat, siap menutupi matahari.

 

1
Greta Ela🦋🌺
Dah ketebak pasti si Nayla/Facepalm/
Ddie: 🤣🤣 ...ya gitu dk...Nayla
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Jadi dia ini anak mama yang manja ya/Chuckle/
Ddie: ya begitu lah dk ...kalau dk gak begitu ya..mandiri ...mandi sendiri
total 1 replies
Ddie
lucu absurd tapi mengena di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!