Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16. Le Serein
Mobil melaju pelan melewati jalanan Paris yang lumayan padat pagi itu. Di kursi belakang, Noa duduk di samping Riana. Tangan Riana yang kurus dan dingin terus menggenggam erat tangan Noa, seolah takut Noa akan pergi jika ia melepaskannya. Noa menoleh, memperhatikan wajah Riana yang tampak semakin pucat. Lingkar matanya menggelap, bibirnya terlihat pucat dan kering. Ia berusaha tersenyum, namun Noa bisa melihat sakit yang terus menggerogoti tubuhnya.
“Kau terlihat lelah hari ini,” bisik Noa dengan suara khawatir. Riana menggeleng pelan lalu tersenyum.
“Aku baik-baik saja, ini hanya sisa pengaruh kemo sebelumnya.” Ia meremas tangan Noa sedikit lebih kuat. “Yang penting kau bisa bersenang-senang hari ini.” Noa mengangguk lembut. “Aku akan mencobanya, Riana.”
Di depan, Landerik duduk berdampingan dengan sopirnya. Ia tidak berbicara apa pun, tapi sesekali menoleh lewat kaca spion untuk memastikan kondisi Riana. Kerut halus muncul di dahinya setiap kali ia melihat istrinya tampak lemah. Namun ia tetap diam dengan cara yang sama seperti selalu diam yang mengandung kepedihan.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gedung restoran klasik yang megah, dengan papan nama elegan bertuliskan, Le Seiren. Sopir turun dan membukakan pintu. Landerik ikut turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Noa dan Riana.
Saat keduanya keluar, Landerik menoleh pada Noa.
“Chef kepala sudah menunggu,” katanya singkat, Riana tersenyum lemah pada Noa. “Semangat, Noa Aku yakin kau akan menyukainya.” Noa mengangguk sebelum mengikuti langkah Landerik masuk ke dalam restoran.
Interior restoran itu elegan, pilar marmer putih, lampu klasik eropa, dan aroma harum roti panggang serta kaldu yang sedang dimasak. Suasana dapurnya terlihat sibuk namun terlihat tetap rapi. Landerik berjalan menuju seorang pria paruh baya dengan seragam chef putih yang tampak berwibawa. Kumisnya tertata rapi, dan ia membawa clipboard.
“Chef Marcel,” panggil Landerik. Chef Marcel membalikkan badan dan tersenyum ramah. “Tuan Bodden,” sapanya. “Ini kah wanita yang akan belajar di dapur kami?” Landerik memberi anggukan kecil, kemudian menoleh pada Noa. “Noa, ini Chef Marcel, kepala chef di restoran keluarga kami. Dialah yang akan bertanggung jawab mengajarimu.” Noa memberi salam dengan sedikit membungkuk. “Senang bertemu dengan Anda, Chef.”
“Begitu juga, Mademoiselle Noa,” jawab Marcel dengan aksen Prancis yang kental namun hangat. “Dapur kami akan menjadi rumah barumu mulai hari ini.” Landerik menatap Noa sekali lagi.
“Jika ada apa-apa, mintalah bantuan pada Chef Marcel atau Matilda. Aku harus mengantar Riana ke rumah sakit.” Mata Noa sedikit melembut. “Tolong jaga dia… untukku juga,” katanya pelan. Landerik terdiam sepersekian detik, lalu memberi anggukan tipis.
“Aku selalu menjaganya.”
Setelah itu, ia berbalik dan pergi. Noa hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh, punggung seorang pria yang memikul dua dunia sekaligus, cinta yang mendalam kepada seorang istri yang sedang berjuang untuk hidup dan pernikahan baru yang tidak diinginkannya. Noa menarik napas panjang. Hari barunya benar-benar dimulai.
...♡...
Chef Marcel memimpin Noa melewati lorong-lorong restoran yang dipenuhi aroma mentega, bawang putih, dan roti panggang. Setelah berganti pakaian di ruang loker, apron putih bersih, kemeja koki ringan, dan rambut yang ia ikat rapi, Noa mengikuti Chef Marcel menuju dapur utama.
Begitu pintu ayun dapur terbuka, suara hiruk pikuk dapur langsung menyergapnya, bunyi pisau memotong cepat, panci mendidih, perintah singkat dalam bahasa Prancis, dan aroma makanan yang menguar kuat. Noa menelan ludah antara gugup dan terpesona. Chef Marcel berhenti di depan salah satu stasiun kerja yang paling tertib. Di sana, seorang pria jangkung sedang memotong bawang dengan kecepatan yang membuat Noa takjub.
Bukan hanya karena keterampilannya, tapi juga penampilannya yang bisa dibilang luar biasa mencolok. Pria itu mengangkat wajahnya begitu mendengar langkah mereka. Ia tampan dengan cara yang berbeda dari Nolan atau pun Landerik. Matanya indah, bulu matanya lentik dan panjang, alisnya tebal yang membingkai wajahnya. Rahangnya tegas, kulitnya cerah, dagu yang cantik dan senyum kecilnya sangat menawan, seperti sengaja diciptakan untuk memesona siapa pun yang melihatnya.
Noa sempat terpaku. Beberapa detik itu cukup untuk membuatnya sadar jika dunia kuliner pun memiliki kejutan visual. Namun ia cepat memalingkan pandangan, menegur dirinya dalam hati. Aku di sini untuk belajar. Bukan untuk mengagumi wajah orang.
Chef Marcel menepuk bahu pria itu.
“Noa, ini Louis Grey,” katanya. “Salah satu sous-chef terbaik kami. Keahliannya sudah berada di level yang akan sangat membantumu.”
Louis tersenyum hangat, mata indahnya berkilau ramah. “Senang bertemu denganmu, Noa,” sapanya dengan suara lembut namun penuh percaya diri. “Aku sudah mendengar dari Chef Marcel, kau ingin mendalami dunia kuliner?”
Noa mengangguk pelan. “I—iya. Saya ingin belajar sebanyak mungkin.” Chef Marcel melanjutkan, nada suaranya tegas namun positif, “Louis yang akan membimbingmu untuk dasar-dasarnya. Setelah kau siap, aku sendiri yang akan mengetes kemampuanmu. Anggap saja ini langkah awal.”
Louis memberi isyarat pada Noa untuk mendekat ke stasiunnya.
“Jangan khawatir,” ujarnya sambil tersenyum lebar. “Aku tidak menggigit. Kita mulai dari hal paling sederhana dulu, tapi jangan khawatir, pada akhirnya, kau akan memasak seperti koki sungguhan.” Noa menghela napas dalam. Ia merasa gugup, tapi juga bersemangat.
Dunia baru sedang terbuka tepat di depan matanya dan seseorang seperti Louis Grey menjadi pemandu pertamanya.
To Be Countinue...
...Visual Character...
...◇...
■ Louis Grey