Di dunia kultivasi yang mengandalkan kekuatan jiwa bawaan sebagai penguat teknik beladiri, Vincent sering diremehkan karena hanya memiliki soul tumbuhan, hal itu membuatnya dipandang sebelah mata dan sering dianiaya oleh sesama murid sekte tempatnya tinggal.
Dan potensi kekuatannya mulai terlihat setelah dilatih oleh ratu Lily, seorang ras elf yang tidak sengaja ia temui ketika dalam keadaan terluka parah. Beliau adalah seorang kultivator domain celestial yang terlempar ke domain fana setelah dikeroyok oleh empat kaisar penguasa dunia tersebut.
Ratu Lily yang nota benenya memiliki soul yang sama dengan Vincent dan sudah ahli dalam penguasaannya, tertarik untuk mengajari Vincent mengembangkan potensi soul tumbuhan tipe langka yaitu soul pohon adam yang merupakan rajanya tumbuhan.
Akankah dengan kekuatan Jiwa kayu yang dilatih dibawah bimbingan ratu Lily ia dapat berdiri di puncak dunia kultivasi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan Binatang Spiritual Tingkat Enam
Lima menit berlalu setelah dua energi kekuatan besar bertabrakan. Suasana hutan bukit lumut untuk sesaat terasa sunyi, bahkan pertarungan antara prajurit kayu melawan binatang spiritual tingkat tiga disisi lain pun terhenti.
Patung pertapa terpecah menjadi sulur-sulur kecil sebelum menghilang sepenuhnya dan hanya menyisakan Vincent yang berusaha berdiri setelah kesadarannya perlahan pulih. Tubun Vincent bergetar merasakan sakit teramat sangat disetiap inci anggota tubuhnya.
"Tinggal empat ekor lagi," gumam Vincent menatap dengan nafas tersengal ketika melihat empat binatang spiritual menyisakan macan bertaring tombak, sang rusa, serigala api dan landak jarum es. Namun keadaan mereka juga tidak lebih baik dari Vincent, terutama si Landak yang berada diambang kematian menyusul kelima binatang spiritual yang tewas setelah melakukan serangan gabungan karena kehabisan energi spiritual mereka.
Sementara prajurit kayu yang berhadapan dengan binatang spiritual tingkat tiga berhasil mengurangi jumlah mereka hampir setengahnya dan dipihak mereka memakan korban tiga prajurit kayu yang hancur akibat bentrokan tersebut.
"Sepertinya tenagaku hanya cukup untuk teknik ini, meski diriku belum menguasai sepenuhnya dan hanya bisa kukendalikan sekitar sepuluh menit. Tapi mungkin lebih dari cukup untuk mengatasi kalian saat ini," gumam Vincent yang kembali mencoba mengeluarkan teknik yang ia miliki.
Vincent memaksakan tubuhnya untuk berdiri tegak dan mulai melakukan gerakan tangan perlahan, kemudian jari telunjuk serta ibu jari kedua tangannya ia gabungkan membentuk segitiga dan mulai mengarahkan ke salah satu binatang spiritual yang ada di hadapannya.
"Teknik kaisar: MANIPULASI JIWA."
"Hentikan jurusmu itu anak muda!" suara menggema terdengar ditelinga Vincent. Namun tak ada sosok terlihat dari arah manapun.
"Siapa kau!" Teriak Vincent mengedar pandangan penuh waspada.
Suara mendesing bagai kilat melesat dari arah goa lumut dan dalam sekejap mata menukik tajam di depan para binatang spiritual yang terluka. Ke empat binatang spiritual langsung menunduk penuh hormat melihat kedatangannya.
"Tingkat enam! Jadi, dia dibalik kerjasama apik para binatang spiritual ini?" Vincent terlonjak saat melihat elang besar bersayap emas yang ternyata adalah bintang spiritual tingkat enam. Ia menurunkan kedua tangan, namun tidak membatalkan tekniknya untuk jaga-jaga.
'Sial sekali nasibku, harus bertemu binatang spiritual tingkat atas dalam keadaan seperti ini. Kalau begini tidak ada pilihan lain, aku harus melarikan diri menggunakan teknik teleport ketika dia lengah.' Vincent terus berhitung dengan segala kemungkinan. Ia sadar untuk saat ini tidak akan bisa mengalahkan binatang spiritual yang ada di hadapannya, apalagi teknik bodysatya salah satu jalan satu-satunya dalam menghadapi lawan kuat sudah ia pakai sebelumnya.
"Anak muda kenapa kau dan manusia-manusia itu mengganggu kehidupan damai kami?" Si elang menatap tajam ke arah Vincent dengan aura intimidasi tinggi. Andai ia tidak pernah merasakan aura membunuh ratu Lily secara langsung, mungkin dirinya akan gemetar ketakutan atau pingsan macam kultivator lain yang berada dibawah ranah Saint.
"Oh... Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kalian yang tiba-tiba datang entah dari mana dan mengusik ketenangan di kampung halamanku ini. Bahkan kalian terus mencoba melakukan teror saat pertama kali datang ke tempat ini dan memancing kultivator lokal untuk masuk ke goa lumut dan menyisakan satu orang dengan membawa batu jiwa yang cukup banyak. Bukankah itu sama saja kalian memancing agar orang-orang datang kemari dan menjadi mangsa kalian?"
WHUSS
Satu kepakan sayap sang elang membuat Vincent terhempas, namun itu juga memberinya kesempatan untuk menerapkan teknik manipulasi jiwa pada macam bertaring tombak.
"Oy... Macan bodoh! apa yang kau lakukan?!" Sang Elang berhasil menahan serangan diam-diam dari arah belakang yang dilakukan oleh macan bertaring tombak.
Si macan tidak menggubris perkataan pemimpinnya, ia kembali melakukan serangan dengan mengayunkan cakar ke arahnya dan ternyata masih bisa sang elang hindari, lalu mencengkram kuat leher si macan dan menghantamnya ke tanah.
SPEAR
Vincent melihat kesempatan kedua saat sang elang kembali teralihkan oleh bawahannya. Ia melempar sepuluh tombak ketitik buta lawan berharap ada salah satu yang berhasil menembus tubuh sang elang. Namun harapan tinggal harapan karena sebelum sampai padanya, tiga binatang spiritual lain menghalau tombak tersebut.
Si landak yang memang sebelumnya dalam keadaan sekarat, kali ini dia benar-benar mati terhunus tombak milik Vincent. Sementara si serigala dan rusa berhasil memblokir, meski ada beberapa bagian tubuh yang mendapatkan goresan cukup dalam.
"Dasar makhluk hina!!! Akan kucabik-cabik seluruh tubuhmu hingga jadi bagian terkecil!" Amarah sang elang memuncak aura hitam pekat keluar dari seluruh tubuh.
Vincent merasakan bahaya. Ia pun menggunakan teknik teleport untuk melarikan diri dan menarik teknik pemanggil para prajurit kayu yang masih melakukan pertarungan dengan binatang spiritual tingkat tiga.
"Astaga!! Kukira musuh!" Adrian kaget yang menunggu di bawah bukit lumut bagian sisi lain. Ia langsung terjungkal ketika tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Ayo kita pergi!"
Namun baru saja mereka berbalik badan, sang elang sudah mendarat tepat didekat. Hentakan keras saat mendarat menimbulkan angin kencang dan tanah pijakannya hancur.
WHUSS
BRAKK
"Sial... Dia masih bisa mendeteksiku dijarak ini. Maafkan aku para prajurit, kumohon bertarung lah sampai akhir."
Vincent tersentak dan Adrian terhempas. Ia tidak mau ambil resiko membahayakan nyawa sendiri dan terpaksa memanggil kembali prajurit kayu untuk memperlambat sang elang dalam mengejarnya. Kemudian tanpa menunggu sedetik pun setelah prajurit kayu menyerbu lawan, ia kembali menggunakan teknik teleport pergi meninggalkan area hutan bukit lumut.
"Ada apa lagi ini?!"
Ketiga murid terbaik sekte kabut dan Ah Jun beserta kelompok prajurit yang melakukan pertemuan kembali tersentak kaget ketika suara melingking tajam terdengar dari arah bukit lumut dan kali ini aura yang dipancarkan lebih menyeramkan dibandingkan sebelumnya.
"Yang benar saja! Kali ini bukan lagi misi tingkat B dan sepertinya sekarang telah berada ditingkat A!" kesatria sergei menatap gelisah dengan keadaan hutan bukit lumut yang kian mencekam.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang senior?" Tanya kesatria Fred dengan wajah panik. Semua prajurit melirik kompak ke arah kesatria Sergei. Berharap mendapat jawaban atas masalah yang mereka hadapi sekarang, meski sebenarnya mereka belum menghadapi secara langsung bagaimana keganasan binatang spiritual tingkat menengah atas.
"Untuk sekarang aku tidak tau, lebih baik kita tunggu kesatria Zarra dan Gidou datang dari karesidenan Valen-"
"Itu terlalu lama! Apalagi dua orang itu belum muncul sampai saat ini. Jadi, bukankah lebih baik anda mengirim ulang pesan ke pemimpin Wedana Zolford untuk meminta bantuan pada Duke Vigo." Ah Jun menyela perkataan kesatria Sergei dengan kelakuan menyebalkan.
"Terus apakah anda juga sudah mengirim ulang pesan tentang keadaan saat ini? Bukankah sekte kabut adalah pelindung kerajaan Serena bagian barat?" kesatria Fred menimpali dengan nada mencibir.
"Apa maksudmu hah?!" Ah Jun tak terima mendengar perkataan kesatria Frederick yang nota bene nya lebih muda dan tingkat kultivasinya pun jauh dibandingkan dirinya.
"Ah Jun! Jaga sopan santunmu itu!" bentak Yu'er menatap galak.
"Maafkan adik junior saya tuan kesatria," timpal Li Jiang mencoba meredam situasi.
"Meski sedikit kasar tapi apa yang dikatakan oleh Ah Jun ada benarnya. Lebih cepat lebih baik kita harus segera mengirim bantuan pada atasan masing-masing." Perkataan Lee Ming cukup membuat Ah Jun senang, karena usulannya memang benar.
"Yu'er..! Tolong kirim pesan ke kepala sekte untuk melaporkan situasi saat ini dan meminta segera mengirim para tetua kemari," lanjut Lee Ming. Yu'er mengangguk, kemudian mengeluarkan batu suara dan menuangkan kesadaran ke dalamnya. Detik berikutnya batu berubah menjadi burung merpati dan melesat meninggalkan ruangan pertemuan.
"Tuan Lee Benar. Maafkan saya dan junior saya. Baiklah saya juga akan melakukannya juga." Kesatria Sergei melakukan hal yang sama.
WHUSS
BAMM
Beberapa detik setelah pesan berbentuk burung walet melesat keluar. Hentakan keras menimbulkan guncangan keras membuat mereka terkejut.