NovelToon NovelToon
Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: istia akhtar

Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.

3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.

Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan menangis lagi

Nawalisya

Sesuai janjinya seminggu yang lalu, Mas Fandy benar-benar datang kembali mengunjungiku. Tapi kedatangannya kali ini tidak sendiri. Melainkan bersama ayah ibu. Aku menyambut suka cita kedatangan ayah dan ibu mertuaku. Gimana nggak seneng? Aku udah kangen banget sama mereka. Orang tua yang menyayangiku pada saat mas Fandy bener-bener nggak menginginkanku.

Ku perhatikan dua orang paruh baya yang turun dari mobil, disusul dengan mas Fandy yang turun dari kursi belakang kemudi. Penampilannya begitu sangat mempesona. Aku menciut karna mas Fandy begitu mengagumkan di mata kaum hawa.

Di banding dengan penampilanku, Sungguh berbeda jauh. Aku berdaster, jelek dan kurus. Tubuhku tak seindah dulu sebelum aku mengandung anak mas Fandy. Aku jadi semakin raguuntuk kembali. Aku menunduk kemudian membuang pandanganku ke kiri dan ke kanan.

Mas Fandy berjalan pelan ke arahku, sekilas aku melihatnya tersenyum lebar dan merentangkan tangan, Sebenernya aku berniat untuk menerima pelukannya. Tapi entahlah, aku mendadak gugup dan tegang. Di raihnya tubuhku dan dipeluknya erat.

"Aku kangen kamu na, kamu kangen aku nggak?".

"Nggak". Aku menjawab tanpa menatapnya.

"Loh kok bisa?" Tanyanya lagi sambil merenggangkan pelukannya.

"Ayo ayah, ibu. Kita masuk dulu". Aku mengalihkan pembicaraan dengan mengajak ngobrol ayah ibu yang terbengong melihat tingkah kekanakan suami berondongku ini. Mas fandy? tentu aja dia cemburut dan memonyongkan bibirnya yang merona. Aku menahan tawa melihatnya.

"Iya nak". Jawab ayah yang menjulurkan lidahnya ke arah mas Fandy. Ku salami tangan ayah dan ibu bergantian. Kemudian kami masuk dengan mas Fandy yang mengekor di belakang ibu.

"Kamu apa kabar nduk? Kenapa kamu pergi nggak pamit sama ibuk atau ayah?" Tanya ibu sesaat setelah mereka terduduk.

Aku menunduk penuh rasa bersalah. "Maaf buk, kalau nawal pamit, ayah sama ibuk pasti nggak mengijinkan nawal pergi". Jawabku lirih.

"Ibuk ngerti. Ya udah, enggak apa-apa. Gimana sama kandunganmu? Apa cucu ibuk ini sehat??".

"Alhamdulillah sehat buk".

"Paman sama bibi mu kemana? Kok sepi?" Tanya ayah dengan hati-hati. "Ayah khawatir kalau kamu sendirian. Kamu kan lagi hamil. Takutnya sakit perut pas nggak ada orang gini". lanjutnya sambil mengusap pelan perutku, menikmati tendangan calon anak ku.

"Paman sama bibi ke pesantren yah. Biasa..... udah jadwal nya mengunjungi sepupu Nawal , Galuh sama Retno"

🌃🌃🌃

Fandyka

Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa paman dan bibi datang dari pesantren selepas mengunjungi anak-anaknya yang masih di dalam pesantren. Aku sengaja duduk berdampingan dengan Nawal yang dari memang sengaja menghindari ku. Tapi tak ku hiraukan sikapnya. Aku tetep aja berusaha dekat dengannya.

"Ehmm.... suara deheman keras mengejutkanku. Paman mulai memandang semua orang dengan senyum hangatnya.

"Fandy? apa sudah lama nunggu paman?".

"Enggak kok paman. Oh iya, ini Fandy ada sedikit oleh-oleh untuk paman sama bibi. semoga suka ya?", ucapku sambil memberikan paper bag berwarna hijau tua. Sebuah baju muslim dan muslimah dengan motif couple sengaja aku berikan untuk paman dan bibi yang udah merawat Nawal selama ini saat istriku itu jauh dari ku.

"Apa ini le? Kenapa pake ngasi oleh-oleh segala untuk paman dan bibi?", Bibi langsung saja menghujaniku dengan pertanyaaan.

"Nggak apa apa kok bi, Cuman suka aja kemaren pas lihat di toko. Kayaknya pas buat paman sama bibi. Pasti cocok." Aku menjawab dengan santainya. Ku lirik istriku memandangku dan tersenyum tipis.

"Makasih mas, udah peduli sama keluargaku".

"Mereka keluargaku juga na, karna kamu istriku". Aku mengulurkan tanganku dan berusaha menggenggamnya. Tidak ada penolakan. Tapi juga nggak ada respon.

"Gimana to nduk? Apa masih ragu untuk kembali dengan kang mas mu?", Suara bibi membuat pandanganku berpaling ke arahnya. Ku lihat Nawal masih menunduk. Aku sadar dan aku tau, kajahatan ku di masa lalu memang sulit di maafkan.

"Nduk, semua orang pernah bersalah. Semua orang pernak khilaf. Semua rumah tangga, pastilah banyak cobaan. Tapi taukah kamu? Semakin godaan dan cobaan datang menghampiri kita, bukankah itu akan semakin memperkuat ikatan batin suami istri secara alami? Bukankah itu akan semakin memperkokoh ikatan suci yang bernama pernikahan?". Kali ini, paman lah yang bersuara.

Ku lihat Nawal mengangkat kepalanya, memandang semua orang yang menatapnya dengan penuh permohonan. Kemudian menunduk dan menangis lagi. Kali ini, isakannya semakin tertahan.

Aku menjulurkan tangannya, menganggap dagunya dengan jari telunjuk, kemudian mengusap pelan air matanya yang menetes. Sungguh, hatiku terasa tercabik menyaksikan wanita pujaan hatiku ini menangis.

"Jangan nangis lagi", Hanya itu yang mampu ku ucapkan. Aku berusaha memberinya pengertian. "Aku nggak akan maksa kamu untuk Nerima aku sekarang. Asal kamu nyaman tinggal disini dan nggak merasa tertekan, aku nggak apa-apa walaupun harus bolak-balik Banyuwangi dan temanggung. Mungkin kalau waktunya udah tiba nanti saat mandekati hari kelahiran anak kita, aku akan nyari kost-kostan Deket sini untuk bisa mengawasi dan menjaga kamu".

Brugg

Nawal berhambur dengan keras ke pelukannya. Dia menangis sejadi-jadinya, "Udah mas cukup. Jangan ngomong apapun lagi. Aku mau ikut kamu pulang".

Aku mendadak kaku. Tubuhku menegang. Lidahku terasa kelu. Jantungku berdebar lebih cepat dan tak karuan. Darahku berdesir hebat. Sesuatu yang aku kira Nawal akan menolaknya, ternyata sekarang Nawal bersedia ikut denganku. Benarkah dia memaafkan ku dan bersedia kembali?

Tanganku perlahan terulur untuk balas memeluknya. Wangi shampo ini begitu menyenangkan. Aku menghisap wanginya yang lembut, menikmati setiap moment yang kurasa sangat susah untuk aku dapatkan selama ini.

"Jadi bener, kamu mau ikut aku pulang?", Nawal melerai pelukannya. Ku perhatikan, dia menunduk dan nggak berani menatapku. Ku raih dagunya, kuangkat perlahan wajahnya, dia menoleh ke bawah dan tetep nggak mau menatapku.

Ku perhatikan dan ku tatap intens wajah istriku ini, Sudah lebih baik dari Minggu kemarin. Saat ini kulitnya lebih cerah, matanya pun tak terlalu cekung, Rambutnya pun lebih lembut karna tak terlalu sering terkena matahari. "Hei? Kok diem?". Nawal meraih tanganku dan meremasnya pelan.

"Berjanji lah kamu nggak akan mengulangi kesalahan lagi mas, Aku akan ikut kamu kemanapun kamu pergi. Asal jangan menyakiti dan melukai aku lagi".

"Aku janji, akan aku pastikan semuanya baik-baik aja. Jadi? Kamu yakin untuk pulang ke Banyuwangi lagi?", Nawal mengangguk dan tersenyum tulus. Aku segera merapatkan diri kami. memeluknya erat, seakan takut kehilangan dia lagi. Kebahagiaan tengah menyelimuti ku.

Terima kasih Tuhan, telah mengembalikan istriku lagi. Aku berjanji akan terus membahagiakannya.

"Mas...?", Aku tergagap dan tersadar dari lamunan.

"Heh?".

"Lepasin, malu di lihatin ayah ibu sama pak lek u lek". Bisik nya lirih. Aku melepaskan pelukan dan mendadak salah tingkah. Ku garuk tengkuk ku yang nggak gatal. Nawal juga kembali menunduk, merasa malu. Ku lihat semua tengah tersenyum ke arah kami. Terutama ayah, senyumnya itu loh..... senyum meledek.

"Dulu aja, di sia-sia in", Ayah bergumam pelan, tapi sayangnya, aku masih bisa mendengarnya. Aku melotot ke arahnya yang tersenyum penuh kemenangan.

"Apaan sih yah? nggak lucu tau!". Sergah ku yang di sambut tawa keras dari semua orang. "Huh... nyebelin".

"Ayah ibu, Nawal permisi ke belakang dulu".

"Mau kemana nduk?" tanya ibu.

"Ke dapur Bu".

"Mau ngapain?" aku bertanya dengan lirih, ku lihat Nawal tersenyum padaku.

"Masak, buat makan malam".

"Aku nggak makan deh", sahutku cepat.

"Terus?".

"Makan kamu aja..." jawabku dengan senyum nakal.

"Gila....", Nawal melototkan matanya ke arah ku dengan kesal. Semua tertawa keras.

"Becanda lah na, beneran juga nggak apa-apa kan? kita kan masih suami istri?".

"Ngomong sekali lagi, ku goreng mulutmu mas!". Ucap Nawal dengan kesal. Aku berhasil menggodanya. Semua makin tertawa mendengar ucapan Nawal yang aku anggap itu sangat lucu dan menggemaskan.

1
rara ayu
Luar biasa
Siska Febriana
huhuuu knp sih Mila bahagia...disinikan yg terluka Nawal knp dibikin sakit .....seharusnya ada karma buat pelakor Mila SE*an itu😡
Siska Febriana
huhhh pengen gw Jambak si nenek lampir Mila itu
Siska Febriana
setan emank si Fandy ini.pengen bgt aku bejek bejek😡😡
falea sezi
bodoh aja mau balik bodoooooo
Firgi Septia
justru yg trauma itu nawal bukan kamu /Shame/
Mamanya Reza
hadeeeeeh.... dasar novel...
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel
Sari
yaampun cuman novel aja sakit hatinya, jadi takut punya suami lagi
Lala Al Fadholi
pshal happy ending tp knp masih kesal aja dgn fandy yg dengan gampangnya bolak balik ke milla...jd ga ikhlas aja kaya klo akhirnya beesama nawal lg mending dia menduda seumur hidup 😝🤪
Lala Al Fadholi
iba kok bisa mpe 4 tahun...iba kok bisa sampai mengalahi istri yg d cinta...iba kok bisa mengalahi anak dalam kandungan...dasar brondong tolol dan labil...ga cocok biat nawal yg dewasa
Nur Adam
smgt untuk krya mu rhor
Istia Akhtar ❤️: Terima kasih sudah singgah, jangan lupa singgah ke ceritaku yang lain.
total 1 replies
Sri Wahyuningsih
Kecewa
Saras Wati
bagus.... sangat menyentuh hati
Sulati Cus
do'a kok jelek bener
Sulati Cus
daddy pria brengs**
Nur Zia Aini
thor jngn bikin nawal.balikan.sm fandy thor
Yuli Nadya
ok
Henrita Henrita
berhenti membaca, karena wanitanya terlalu bodoh
Sri Wahyuni
smoga ga jtemu sm s nawal
Sri Wahyuni
mka nya nawal jngn bgtu mudah y jna rayuan suami laknat dan skrng rsakn akibt nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!