Raden Nandana Rahandika duda tanpa anak yang di jebak oleh seseorang mengakibatkan sebuah tragedi satu malam terjadi. Raden yang dijebak, harus merenggut kesucian gadis asing yang tidak dia kenal.
Apa yang akan Raden lakukan setelah tanpa sadar mengambil paksa kesucian seorang gadis yang tak dia kenal? ikuti kisahnya .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Kejadian tadi siang membuat Raden merasakan kecemburuan dihatinya.
Rasanya dia tidak terima dengan kenyataan jika ada orang lain yang menyukai istrinya.
Sekarang ini, terlihat Raden duduk di ranjang baru yang tadi siang Raden pesan saat pergi bersama ibu mertuanya. Terlihat dia sedang sibuk dengan ponselnya.
Sedangkan Elin terlihat sedang melakukan rutinitas nya sebelum tidur.
Sebenarnya, Raden ingin bertanya lebih jauh tentang bagaimana pergaulan nya sebelum menikah. Siapa laki-laki yang suka sama dia. Tapi, Raden urungkan karena takut membuat Elin marah atau bahkan kesal padanya.
Setelah selesai melakukan ritual malam nya,Elin naik ke atas tempat tidur, duduk di samping Raden yang saat ini masih sibuk dengan ponselnya.
Hahhh....
Terdengar suara helaan nafas Elin dan terlihat Elin mengusap lembut perut nya membuat Raden yang sedari tadi fokus dengan ponselnya langsung mengalihkan pandangannya.
Dapat dilihat dari mata Raden saat Elin mengusap perut nya. Melihat itu, Raden langsung reflek menyentuh perut Elin juga.
"Apa dia menyusahkan kamu hari ini?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Raden dengan menatap wajah Elin.
Elin menaikkan pandangannya membuat kedua pasang mata itu saling bertemu. " Dia baik kok, mas jangan khawatir." Raden menghela nafas lega mendengar jawaban istrinya itu.
"Alhamdulillah kalau begitu, aku kira dia menyusahkan kamu." Elin mengernyitkan dahinya.
"Dia nggak pernah menyusahkan aku mas, bagaimana pun..dia juga anakku." dengan nada kesal dan juga terlihat Elin mengerucutkan bibirnya membuat Raden gemas di buatnya.
"Sayangnya Daddy, sayang sama mommy terus yaa, jangan rewel..," Raden mengusap perut Elin yang sudah sedikit membuncit. Lalu tak lupa Raden mencium perut Elin.
"Maaf ya, kalau kata-kata ku ada yang salah, yang menyinggung perasaan kamu, aku minta maaf. Tapi, percayalah..aku nggak ada niat buat menyakiti kamu." ucapan Raden sontak membuat Elin menatap kembali wajah suaminya itu.
Raden merengkuh tubuh Elin supaya lebih dekat dengan sang istri. Tubuh mereka terlihat lebih dekat bahkan jarak mereka hanya beberapa cm saja. Raden fokus dengan bibir Elin yang begitu menggoda malam ini.
Tangan Raden terulur dan memegang rahang Elin dan wajahnya terlihat mendekat ke wajah Elin. Raden menempelkan bibirnya di bibir Elin dan bahkan bukan sekedar menempel saja, bahkan melum*t nya dengan lembut dengan penuh perasaan.
Elin yang mendapat perlakuan lembut itu pun mulai menikmati layaknya mendapat sebuah sengatan listrik yang mampu melumpuhkan tubuh Elin seketika. Bahkan rasanya tak daya saat Elin menggerakkan tangannya. Kegiatan itu berlangsung lumayan lama, kedua orang yang saat ini sedang dalam keadaan yang hilang akal, tiba-tiba Raden tersadar saat Elin berhasil menggerakkan tangan nya dan memukul pelan dada Raden untuk memberikan isyarat supaya dia menghentikan kegiatan mereka.
Elin rasanya ingin hilang nafas, beruntung Raden langsung membebaskan bibir itu hingga dia berusaha meraup oksigen yang sempat hilang dari tubuh nya. Raden menyatukan kening mereka yang saat ini sedang mengatur nafas mereka yang terengah-engah.
"Maaf, maaf kalau aku keterlaluan. Kamu buat aku ngerasa gil*." Raden menangkupkan kedua tangannya di dua sisi pipi Elin.
Elin bisa melihat tatapan sayu Raden. Elin dan Raden seperti saling menyelami satu sama lain. Bahkan tangan Elin menyentuh tangan Raden yang masih berada di pipinya.
"Aku...aku menginginkan kamu malam ini." dengan suara seraknya Raden mengutarakan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Elin mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Raden dan menimbang-nimbang untuk menjawab apa pada suaminya itu.
Tak lama Elin menganggukan kepalanya pelan, Raden melihat itu pun tersenyum tipis. Raden tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Raden kembali memagut bibir merah alami Elin yang selalu menggodanya. Sampai Elin merasakan kehabisan nafas, Raden beralih ke leher jenjang Elin dan membuat beberapa tanda kepemilikan disana.
Sebuah suara merdu lolos dari bibir Elin. Hal itu membuat semangat Raden semakin tak terkendali. Tangan Raden sudah tak bisa diam. Tangan besarnya itu mengabsen tubuh istrinya.
Elin merasa malam ini Raden begitu bersemangat untuk mendapatkan pelepasan. Elin yang sadar akan dirinya masih ada di trimester pertama, Elin pun akhirnya bicara dengan nada lembut untuk mengingatkan Raden.
"Massss....ingat, kandungan aku masih muda. Kamu harus tahan diri." ucapan. Elin pun membuat Raden tersadar.
"Maaf sayang, aku..
"Kamu boleh melakukan nya, tapi harus pelan-pelan, ingat anak kita.Jangan sampai kamu menyakiti nya."ucapan Elin sontak membuat Raden memeluk tubuh Elin.
Elin melerai pelukan Raden dan tanpa disangka ternyata Elin tiba-tiba saja naik ke atas pangkuan Raden.
"Elin, apa yang kamu lakukan !" Raden melebarkan matanya saat Elin sudah ada di atas pangkuannya dan kedua tangannya melingkar di leher Raden.
"Kenapa, mas tergoda? Aku bukan melarang kamu melakukan nya, tapi aku mengingatkan kamu untuk hati-hati saja." Raden memejamkan matanya saat Elin seperti sengaja bergerak-gerak diatas pangkuannya.
Hal itu membuat adiknya yang sedari tadi sudah mulai tertidur kembali bangkit. Raden memejamkan mata nya. Rasanya seperti tersiksa saat adik nya itu berdenyut bereaksi dengan kelakuan Elin.
Raden memeluk tubuh Elin dan menghirup wanginya Tubun Elin yang selalu buat Raden hilang akal. Tangan besarnya bahkan saat ini menyibakkan daster mini yang Elin pakai. "Dia nampak lebih besar dari usianya. Apa dia kembar?" Elin menggelengkan kepalanya.
"Entahlah, yang jelas aku berharap dia akan baik-baik saja dan selalu sehat dan lahir dengan sempurna juga selamat." Raden mengangguk sambil tangannya mulai bergerak liat di tubuh Elin.
Tangan Raden mulai mendarat di bukit indah Elin. Dengan perlahan Raden melepas cover yang masih menutupi pemandangan indah itu.
Raden merem*s nya dan membuat Elin mengeluarkan suara yang terdengar merdu di telinga Raden.
Malam itu pun di lalui dengan panas oleh kedua sejoli itu. Elin pun tak segan-segan meminta Raden untuk lebih aktif, apa mungkin karena keadaan nya sedang hamil, Jadu berpengaruh karena hormon kehamilan nya ingin di manja suaminya itu.
Saat ini hubungan Raden dan juga Elin terlihat semakin erat. Bahkan tanpa mereka sadari, mereka sudah saling terikat satu sama lain. Bahkan bibit-bibit cinta dan cemburu sudah mulai terlihat.
Seperti Raden yang merasa kesal karena kehadiran teman masa sekolah sang istri. Sebagai sama-sama laki-laki, dia tahu apa yang ada di haru pria yang mengatasnamakan teman lama.
Dari tatapan laki-laki asing itu, jelas terlihat ada ketertarikan dengan Elin. Hal itu yang membuat resah hari Raden karena memiliki saingan yang sepertinya berniat mendekati Elin.
Bersambung