Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11 - Utang Lama Keluarga Alamsyah
Kantor pribadi Arga berada di sebuah lantai tanpa papan nama, tanpa resepsionis, tanpa apa pun yang menunjukkan bahwa di balik pintu itu ada seseorang yang mengendalikan aset Rp500 miliar. Hanya sebuah meja, dua monitor, dan mesin kopi yang ia operasikan sendiri. Cangkirnya baru tersisa separuh ketika Rafael Kurniawan muncul di ambang pintu.
"Duduk." Arga mendorong kursi dengan kaki. "Aku butuh sesuatu yang sensitif."
Rafael duduk. Ia membuka laptop tanpa menunggu dipersilakan. Ia sudah hafal ritmenya: kalau Arga menyebut sesuatu "sensitif", berarti akan ada orang yang kehilangan tidur.
"Aku mau audit lengkap atas keuangan keluarga Kartawijaya. Bukan grup usahanya, keluarganya. Dana keluarga, rekening investasi, semua pergerakan di atas Rp100.000.000 dalam lima tahun terakhir. Semua yang bisa diakses secara legal."
Rafael mengangkat sebelah alis.
"Kalau jalur legal, ruangnya terbatas."
"Mulai dari yang publik. Registrasi perusahaan, risalah rapat dana, surat kuasa notaris. Kalau perlu, sewa kantor compliance pihak ketiga tanpa mengaitkannya ke Grup Imperial. Aku mau jarak."
"Tenggat?"
"Satu minggu. Lebih cepat kalau bisa."
Rafael menutup laptop dengan bunyi klik kering.
"Boleh aku tanya kenapa?"
Arga memutar cangkir di antara jari.
"Karena angka yang kulihat tidak cocok. Dana keluarga Kartawijaya seharusnya menghasilkan setidaknya Rp12 miliar dalam enam tahun terakhir. Yang masuk hanya Rp7 miliar. Rp5 miliar hilang. Dan tidak ada yang protes."
"Tidak ada?"
"Robert hanya CEO di atas nama. Seumur hidupnya dia belum pernah melihat spreadsheet sungguhan. Bu Ratih mengurus semuanya sejak suaminya meninggal." Arga meneguk sisa kopinya. "Kalau dia mengalihkan uang, aku mau tahu ke mana."
"Satu hal lagi." Arga membuka sistem Kodeks Mahendra di monitor kanan. Arsip digital itu masih sementara, sebagian besar koleksi keluarga masih berupa dokumen kertas yang disimpan di brankas di Jakarta dan diawasi langsung oleh Pak Jaya. Namun indeksnya sudah terdigitalisasi: nama, tanggal, koneksi.
Arga mengetik "Alamsyah" di kolom pencarian. Dua hasil muncul. "Periksa juga apakah nama Alamsyah muncul dalam transaksi lama Grup Imperial. Apa pun dalam sepuluh tahun terakhir."
Rafael mencatat lalu keluar tanpa pertanyaan tambahan. Itu salah satu kualitas yang paling Arga hargai darinya: kemampuan untuk tidak menanyakan hal yang memang tidak perlu ditanyakan.
Hasilnya datang dalam lima hari.
Arga berada di kantor yang sama, kursi yang sama, tetapi mesin kopi sudah digantikan botol air mineral. Pak Jaya menempati sudut ruangan seperti biasa, berdiri dengan tangan bersedekap, mengamati tanpa ikut campur.
Rafael memproyeksikan layar laptop ke dinding.
"Dana keluarga Kartawijaya dibentuk pada 2009, tepat setelah Hadi Kartawijaya meninggal. Pengelola resmi: Ratih Kartawijaya. Penerima manfaat: Robert, Marlina, dan para cucu. Dana itu menerima dividen dari kepemilikan perusahaan serta imbal hasil dari instrumen pendapatan tetap."
"Sampai situ normal."
"Normal." Rafael mengganti slide. "Sekarang bagian yang tidak normal. Setiap tahun, antara Maret dan Mei, ada transfer dari dana itu ke rekening badan usaha bernama SABC Konsultan Bisnis. Nilainya antara Rp300 juta sampai Rp500 juta. Total enam tahun terakhir: Rp2,4 miliar."
Arga mencondongkan tubuh ke depan.
"Siapa SABC?"
"Perusahaan cangkang. Berkedudukan di alamat komersial di Alam Sutera, tanpa karyawan terdaftar. Pemegang saham mayoritasnya sepupu jauh Bu Ratih, Hendrik Alamsyah. Dan di sini mulai menarik: Hendrik Alamsyah adalah kakak Satria Alamsyah."
Keheningan di ruangan itu menebal. Arga menatap Pak Jaya. Lelaki tua itu tetap berwajah datar, tetapi matanya mengatakan sesuatu yang tidak akan diucapkan mulutnya: hati-hati.
"Bu Ratih mengalihkan Rp2,5 miliar dari dana keluarga ke keluarga Alamsyah." Arga bicara pelan, seperti sedang memeriksa penjumlahan di kepalanya. "Dan Robert tidak pernah tahu."
"Tidak pernah. Risalah dana ditandatangani olehnya dengan surat kuasa yang diberikan Robert sendiri pada 2010. Dia mendelegasikan semuanya." Rafael berhenti sejenak. "Ada satu hal lagi."
"Katakan."
"Aku mengorelasikan NPWP mereka. SABC Konsultan Bisnis menerima uang dari keluarga Kartawijaya, lalu melakukan setoran modal ke perusahaan lain milik keluarga Alamsyah, Alamsyah Engineering. Perusahaan itu punya kontrak aktif dengan Grup Imperial. Pengadaan material untuk tiga proyek berjalan. Nilai total kontrak: Rp18 miliar."
Arga bersandar ke kursi. Ia menutup mata selama dua detik.
"Dengan kata lain, Bu Ratih mengambil uang dari keluarganya sendiri, mengalirkannya ke keluarga Alamsyah, lalu keluarga Alamsyah memakai uang itu sebagai modal kerja untuk mempertahankan kontrak dengan perusahaanku."
"Secara teknis, dengan Grup Imperial."
"Yang adalah milikku."
Rafael tidak membantah.
Pak Jaya bergerak dari sudut ruangan. Ia berhenti di depan meja. Suaranya rendah, terukur, seperti biasa.
"Arga. Kalau Tuan mengekspos ini, Tuan akan menghancurkan keluarga itu dari dalam. Robert akan tahu ibunya mencuri darinya selama enam tahun. Marlina akan dipaksa memilih sisi. Para kerabat akan terbelah. Ini tidak bisa ditarik kembali."
Arga membuka mata. Menatap lelaki tua itu.
"Pak Jaya, keluarga itu sudah hancur. Mereka hanya belum tahu."
Keheningan kembali turun. Pak Jaya mempertahankan tatapan selama tiga detik. Lalu ia mengangguk sekali, nyaris tak terlihat, dan kembali ke sudut ruangan.
Rafael berdeham.
"Ada satu hal terakhir. Sengaja kusimpan di akhir." Ia membuka sebuah dokumen di layar. "Alamsyah Engineering memperbarui kontrak dengan Grup Imperial empat bulan lalu. Pembaruan itu menyertakan klausul audit kualitas dengan tenggat sembilan puluh hari. Tenggat itu berakhir tiga minggu lagi."
Arga mengerti sebelum Rafael menyelesaikan kalimatnya.
"Kalau audit menunjukkan penyimpangan, kontrak bisa diputus dengan alasan yang sah."
"Tepat. Dan aku sudah menarik laporan pengiriman awal." Rafael memutar laptop. "Mark-up di tiga item. Keterlambatan di dua lot. Material di bawah spesifikasi teknis setidaknya pada satu item."
Arga terdiam lama. Lalu ia tersenyum, bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang akhirnya melihat seluruh papan permainan.
"Susun dosier lengkap. Semua terdokumentasi, semua bisa dilacak. Dan jadwalkan panggilan dengan Farah untuk Senin."
Ia akan memotong keduanya sekaligus.