Di pernikahan Rachel dan Arlan yang baru seumur jagung, Arlan mengalami hal tak terduga yang membuatnya di pisahkan oleh sang istri. Namun, takdir kembali mempertemukan mereka dalam kondisi yang berbeda.
****
Kehidupan Arlan sebagai Dokter terbilang lurus-lurus saja. Tidak pernah tersandung kasus apapun, apalagi tidur dengan wanita.
Namun kejadian malam itu ketika dia berniat menolong Rachel, anak dari keluarga pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Namun harus berakhir menjadi tuduhan berdasar dan membuat Arlan mau tidak mau harus menikahi Rachel.
Rachel terkenal cukup bermasalah, disebut pembuat onar dan tingkat kenakalannya diluar batas. Terbukti Rachel berniat menjebak seorang wanita yang sudah beristri agar tidur dengan pria lain yang merupakan orang suruhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Rachel sangat panik saat Arlan menyeretnya ke kamar. Dia tidak bisa melepaskan diri karna Arlan menggenggam erat pergelangan tangannya. Meski sudah berteriak, bahkan memaki Arlan, pria itu tetap tidak mau melepaskan. Sekarang Rachel sudah dibawa ke kamar dengan kondisi pintu yang sengaja di kunci oleh Arlan. Jelas saja Rachel semakin panik, dia khawatir Arlan benar-benar nekat ingin membuatnya telanjang.
“Jangan gila Arlan! Kamu tidak boleh menelanjangi ku!” Teriak Rachel panik. Rachel ingat kejadian semalam, Arlan itu cukup nekat sampai menciumnya. Rachel takut kali ini Arlan benar-benar menelanjanginya.
Arlan tersenyum smirk. Dia tampak tidak memperdulikan ucapan Rachel. Justru Arlan semakin berani dengan mengangkat tubuh Rachel dan me jatuhkannya di ranjang.
“Arlan, kamu benar-benar sudah gila ya?!” Teriak Rachel. Dia memberingsut mundur, berusaha menjauhkan diri dari tatapan singa lapar seperti Arlan.
Arlan tampak santai, dia ikut naik ke atas ranjang untuk mendekati Rachel yang terpojok karena tidak bisa melarikan diri.
Jarak keduanya semakin dekat, Arlan sengaja mengikis jarak diantara mereka dan mendekatkan wajah untuk menakut-nakuti Rachel.
“Arlan stop! Kamu membuatku merinding, dasar mesum!” Rachel berteriak dengan kedua mata terpejam untuk menghindari kontak mata dengan Arlan karna jaraknya terlalu dekat.
“Rachel, ganti baju olahraganya atau kamu benar-benar akan aku telanjangi sekarang.” Bisikan Arlan tepat di telinga Rachel.
Perkataan Arlan membuat Rachel akhirnya bisa bernafas lega. Arlan hanya sedang menggertaknya, sebab menawarkan pilihan.
“Baik, baik!! Aku akan mengganti bajunya, cepat menyingkir dari hadapanku dulu!” Pintanya.
Arlan menurut, dia menarik diri dari hadapan Rachel dan wanita itu segera turun dari ranjang lalu berlari kecil ke walk in closet untuk mengganti baju. Arlan mengulum senyum sambil menggeleng heran melihat Rachel lari ketakutan. Meski harus dengan cara paksaan, setidaknya. Rachel mau mendengarkan ucapannya. Arlan hanya tidak habis pikir karna Rachel sangat keras kepala dan sangat senang berdebat dengan menentang semua perkataannya.
“Anak itu sangat sulit di atur.” Gumam Arlan dengan tarikan nafas berat. Entah sampai kapan dia dan Rachel akan berhenti berdebat mempermasalahkan hal yang sebenarnya sepele. Padahal Rachel hanya perlu mendengarkan semua perkataan Arlan, maka semuanya akan berjalan mulus. Hidup Rachel tidak akan serumit ini dengan masalah yang Rachel ciptakan sendiri.
...******...
Arlan berlari kecil mengikuti Rachel untuk mengawasinya selama Rachel berputar di sekitar taman apartemen. Tadinya Arlan tidak berfikir untuk ikut, tapi dia tiba-tiba mencemaskan Rachel yang sebelumnya tidak pernah datang ke taman ini untuk berolahraga. Jadi Arlan langsung mengganti baju olahraga setelah Rachel memakai baju olahraga yang lebih nyaman dipandang.
“Jaga jarak, jangan terlalu dekat!” Seru Rachel memperingatkan. Wanita itu sempat-sempatnya menoleh ke belakang untuk memastikan Arlan tidak terlalu dekat dengannya. Mungkin Rachel takut jika ada yang mengenalinya dan melihat dia sedang lari pagi bersama seorang pria. Karna Rachel tidak mau teman-temannya tau tentang pernikahannya dengan Arlan.
Arlan menghela nafas. Dia berhenti sejenak dan membiarkan Rachel beberapa langkah lebih jauh darinya. Barulah setelah jarak sekitar 8 meter, Arlan kembali berlari kecil mengikuti Rachel di belakang.
“Dokter Arlan.” Seorang wanita muda yang tengah duduk di kursi rodanya menyapa Arlan saat melintas di depannya. Di belakangnya ada seorang wanita paruh yang mendorong kursi roda wanita muda itu.
Arlan menoleh, dia tersenyum tipis membalas sapaan wanita itu. Arlan sangat mengenalnya, dia adalah salah satu pasien di rumah sakit yang setiap 3 kali seminggu datang untuk terapi berjalan setelah mengalami kelumpuhan karna kecelakaan mobil 1 tahun lalu.
“Haura, bagaimana kondisi kakimu?” Tanya Arlan. Dulu dia yang menangani Haura saat kecelakaan hingga Haura diperbolehkan pulang dan sekarang ditangani dokter lain untuk terapinya.
Haura tersenyum tipis dengan sorot mata yang tampak sendu. Dia kemudian menggeleng seolah pasrah pada kondisi kakinya sekarang. “Mungkin aku ditakdirkan lumpuh seumur hidup Dok.” Lirihnya.
Arlan berlutut, dia mensejajarkan tingginya dengan Haura di kursi roda. “Tuhan tidak menyukai orang yang putus asa, Haura. Kamu harus semangat dan yakin suatu saat bisa berjalan normal lagi seperti dulu.” Tuturnya.
Haura tampak tidak terhibur sama sekali dengan ucapan Arlan, dia sudah sangat putus asa dan kehilangan harapan. Selama hampir 1 tahun dia menghabiskan seluruh hidupnya diatas kursi roda dan tempat tidur. Tidak ada kemajuan sama sekali. Haura tidak yakin dia akan segera sembuh, apalagi bisa berjalan normal seperti dulu.
“Terimakasih sudah menghiburku, Dok. Tapi aku sudah pasrah, tidak apa-apa jika harus menghabiskan sisa hidupku seperti ini. Aku hanya sedih karna terus merepotkan semua orang, terutama Bibi.” Kata Haura seraya menoleh ke belakang, menatap wanita paruh baya yang sudah hampir 1 tahun ini bekerja mengurusnya.
“Nona Haura tidak boleh bilang seperti itu, Bibi tidak merasa direpotkan sama sekali. Dokter Arlan benar, Nona Haura harus semangat dan yakin untuk sembuh.” Ucap wanita paruh baya itu yang ikut menyemangati Haura.
Rachel menghampiri Arlan sambil berkacak pinggang. “Ternyata kamu berhenti disini! Pantas saja orang-orang menahan tawa menatapku, ternyata karna mereka melihat ku bicara sendiri seperti orang gila.” Gerutunya kesal. Rachel sudah mengoceh panjang lebar dengan suara lantang, ternyata Arlan tidak ada di belakangnya.
Arlan segera berdiri. Dia tidak merespon ucapan Rachel dan segera pamit pada Haura.
“Haura, saya pergi dulu. Tetap semangat datang terapi, kamu pasti sembuh.” Ujarnya.
“Terimakasih, Dokter.” Lirih Haura dengan senyum tipis.
Rachel sejak tadi memperhatikan kondisi Haura yang hanya duduk di kursi rodanya. “Kakimu lumpuh?” Tanya Rachel penasaran.
Arlan tampak kaget mendengar Rachel asal menodongkan pertanyaan seperti itu pada Haura. “Jangan asal bicara, bisa tidak?” tegur Arlan lirih.
“Asal bicara bagaimana? Dia duduk di kursi roda dan aku hanya bertanya apa kakinya lumpuh, salahnya dimana?” Ujar Rachel malas.
“Tidak apa-apa Dokter, kaki ku memang lumpuh.” Ucap Haura pada Arlan. “Sampai ketemu lagi Dokter, aku pulang dulu.” Pamitnya lalu meminta wanita paruh baya itu mendorong kursi rodanya.
“Ck, kasian sekali masih muda tidak bisa menikmati hidup." Celetuk Rachel.
Haura sempat mendengar ucapan Rachel, namun dia tidak menghiraukannya meski dalam hatinya cukup sedih.
Arlan menarik tangan Rachel dan membawanya pergi. “Lain kali bicara lebih sopan pada orang lain, ucapanmu bisa menyinggung dan melukai perasaannya.” Tegurnya.
Rachel memutar malas bola matanya. “Kenapa? Kamu menyukai wanita lumpuh itu, makanya kamu takut dia sakit hati? Aku rasa dia juga menyukaimu, kenapa tidak menikah dengan dia saja? Kamu lebih cocok dengan wanita tadi.” Ucap Rachel yang tampak mengulum senyum mengejek. Rachel menarik tangannya dari genggaman Arlan dan berlari kecil untuk kembali ke apartemen.
Arlan sudah kehabisan kata-kata melihat tingkah laku Rachel. Sikapnya benar-benar menguji kesabaran.
Udah ditunggu hampir sebulan kak
Kisah David dan Elena 🙏
Udah gak sabar nungguin novel baru nih
udah kutunggu loh😊