Naura Fina Mudya, seorang anak yang diharapkan menjadi cahaya yang bersinar bagi keluarganya, dipandang telah menorehkan noda bagi orang tuanya, keinginan untuk merubah perilaku seseorang menjadi lebih baik ternyata dipandang salah oleh lingkungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Tinggal Kenangan...
HAPPY READING... 🌹🌹🌹
Udara pagi ini terasa begitu dingin, cahaya sang surya yang muncul malu-malu baru saja keluar di ufuk timur terhalang oleh pepohonan dan bangunan-bangunan rumah di kampungku.
Sejak bangun sebelum subuh tadi, aku merasa gelisah karena melihat ekspresi Ibu yang masih saja diam dan dingin terhadapku. Mungkin Ibu tidak mengizinkan, tetapi semalam Paman terus memberi pengertian kepada Ibu, bahwa aku akan baik-baik saja berada di sana, sampai ibu pun terdiam. Beliau tidak melarang, tapi juga tidak mengiyakan. Tapi Pamanku terus meyakinkan aku, bahwa Ibu akan baik-baik saja sepeninggal diriku dari rumah ini.
Selesai mandi dan berpakaian, aku mengambil celengan ayamku di dalam lemari dan meminta Sulis untuk membantuku menghitung tabunganku yang banyak uang recehnya ini.
"Alhamdulillah..., ada 546 ribu, Teh!" ucap Sulis sambil tersenyum memperlihatkan uang receh di tangannya. Aku memang selalu menyisihkan uang jajanku selama ini, dan terakhir yang paling besar adalah pemberian dari orang tua anak-anak les private ku beberapa hari yang lalu.
Aku pun tersenyum dan mengambil uang itu, lantas memasukan uang 446 ribu ke dalam dompetku dan 100 ribu ku berikan kepada Sulis. "Ini untukmu, Dek!" ucapku.
"Kok buat Sulis? Jangan lah, Teh! Teteh kan mau pergi, jauh dari Ibu dan kami semua," Sulis mendorong tanganku yang memegang uang dua lembar 50 ribuan.
"Tak apa, Teteh kan masih ada, biar tidak terlalu merepotkan Ibu. Teteh kan bisa kerja sampingan buat keperluan Teteh nanti."
"Tapi kan Teteh belum tau bagaimana keadaan di sana, Teh...! Simpanlah, Teteh lebih membutuhkan uang itu," Ucap sulis sambil mengepalkan tanganku.
"Oke gini aja, ini kamu simpan satu lembar, dan Teteh bawa satu lembar," Aku kembali memberikan satu lembar uang 50ribu ke tangan Sulis dan mengepalkannya.
"Tap...!"
"Ssssttt... Jangan nolak! sudah ya," Ucapku sambil tersenyum.
"La...! Ayo berangkat! angkotnya sudah datang...!" Ku dengar Paman berteriak dari luar kamar.
"Iya, Paman...! sebentar...!" Jawabku sambil menoleh ke arah pintu. Lantas kembali mengalihkan pandanganku kepada adikku, kulihat dia terdiam memandangku dengan tatapan sendu, seakan tak rela melepas kepergianku. Aku merentangkan tanganku untuk memeluknya, dan adikku pun menghambur ke pelukanku sambil sesenggukan. Beberapa pesan dan nasihat aku berikan padanya, agar dia menjaga Ibu dan Teh Rifa selama aku tidak ada. Dengan berat hati Sulis pun mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"Teteh percaya padamu, Dek!" Ucapku sambil tersenyum meyakinkannya. Sulis mengangguk sambil mengusap air matanya.
Aku keluar dari kamar dengan membawa tas ransel di punggungku yang berisi mukena, Al-qur'an kecil, buku bacaanku, dompet serta keperluan lain yang mungkin akan ku butuhkan selama berada di atas kereta.
Ku lihat Pamanku sudah menjinjing tas besar milikku dan siap membawanya menuju angkot yang akan mengantar kami ke Statsiun Pancasila Tasikmalaya. Mobil angkot itu sudah menunggu di pinggir jalan, tepat di depan rumah kami.
"Sebentar Paman!" ucapku sambil melangkah menghampiri Kakakku yang sedang berdiri memperhatikan gerak gerik ku, wajahnya masih nampak dingin, tak ada setitik pun senyuman di bibir manis nya apalagi keceriaan yang sering ia tunjukan dari wajah cantiknya. "Teh..., Ola pergi dulu ya! Maafkan Ola!" ucapku sambil tertunduk. Ku lihat Teh Rifa hanya mengangguk dan memelukku seperlunya saja.
"Ibu di mana, Teh?" tanyaku kepada Kakakku.
"Di kamar," Jawab Kakakku singkat.
Aku berjalan menuju kamar Ibu dan mengetuk pintu, namun tak ada jawaban, aku pun perlahan mendorong pintu kamar Ibu. Ku lihat Ibu sedang termenung memegangi dompet di tangannya dan langsung menyembunyikannya saat menyadari kehadiranku di sana.
"Bu...," Panggilku pelan, "Ola pamit, mau berangkat sekarang," ucapku.
Ibuku menoleh, "Apa yang harus Ibu berikan untuk biaya hidupmu nanti di sana, La?" tanya Ibu dengan nada dingin.
"Tidak perlu memikirkan itu, Bu! Ola kan dapat beasiswa, dapat living kost juga, terus nanti Ola akan cari kerja sampingan di sana untuk biaya hidup Ola,"
"Ya sudah, pergilah!" ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
Aku terdiam menatap Ibu yang berusaha menyembunyikan sesuatu di wajahnya, entah mengapa dia menghindari bersitatap denganku, membuat aku maju menghampirinya yang masih duduk membelakangi ku. Ku raih tangan dinginnya yang tersimpan di atas pangkuannya, lantas menciumnya, aku mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya, tapi Ibu segara memalingkannya. Ku rasakan tangan ibu sedikit gemetar dalam genggamanku, entah apa yang Ibu rasakan saat ini, apa Beliau masih marah padaku? atau kan sedih dengan kepergianku.
"Ola berangkat, Bu!" ucapku lagi sambil menarik tanganku dari pangkuannya dan hendak berdiri. Namun langkahku terhenti karena Ibu memegang erat tanganku. Aku segera menolehnya. Ku lihat wajahnya sangat sembab dengan mata yang basah.
"Mana mungkin tidak Ibu pikirkan, La? Bagaimanapun kamu adalah anak Ibu," Ucapnya sambil menarik ku ke dalam pelukannya, dan menciumi wajahku.
Aku pun tak sanggup lagi menahan rasa sedih dan bahagiaku mendengar ucapan Ibu. Aku mencurahkan semua sesak ku di pelukan Ibuku sambil menangis tersedu-sedu. Ku rasakan sentuhan lembut tangan Ibu di pucuk kepalaku juga kecupan panjang di sana.
"Pergilah!" Ucapnya, sesaat setelah melepas pelukan kami.
Aku mengangguk dan kembali mencium tangannya. Aku hendak keluar dari kamar, namun langkahku terhenti saat mendengar Ibu kembali menghentikan ku.
"Tunggu, La!" ucapnya.
"Iya, Bu?" tanyaku.
"Ibu minta tolong padamu, jagalah perasaan Kakakmu!" ucapnya kemudian membuat jantungku berhenti berdetak untuk sesaat. Apa mungkin perubahan sikap Ibu kemarin karena Kakakku sudah mengatakan semua perasaannya kepada Ibu?
Aku kembali menghampiri Ibu, lalu memegang tangan Ibu perlahan. "Jangan khawatir, Bu! Ola akan lakukan apapun untuk kebahagiaan Teh Rifa," Ucapku yakin.
"Terimakasih, La!" Ibu menangkupkan kedua tangannya di pipiku, lantas tersenyum, aku membalas senyumannya meskipun senyuman ketir yang kurasakan.
Kami pun keluar dari kamar, barang-barang ku sudah masuk semua ke dalam angkot, aku pun berjalan menuju halaman rumah beriringan dengan Ibu di ikuti oleh kedua Saudariku, sekilas aku melihat seseorang sedang memperhatikanku dari balik pagar pembatas rumah kami dan tetangga sebelah, namun aku tidak memperdulikannya, kembali ku ayunkan kakiku menuju Paman yang sudah menungguku di depan pintu angkot itu.
"Assalamualaikum," Ucap serombongan Ibu-ibu yang datang menghampiriku, mereka adalah orang tua dari anak-anak les private ku,
"Waalaikum salam," Jawabku dan keluargaku.
"Ola mau berangkat sekarang?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya, Tante," ucapku.
"Hati-hati di jalan ya! ini ada bekal dari kami, semoga bisa bermanfaat untukmu nanti." ucap salah seorang Ibu yang bertubuh gempal sambil meraih tanganku dan mengepalkan satu amplop putih di sana.
"Lo? apa ini, Tante?" tanyaku setelah ku lihat amplop di tanganku.
"Anggap saja itu tanda terimakasih kami karena kamu sudah mengajari putra-putri kami selama ini."
"Tapi, Tan? kemarin kan sudah..."
"Mohon jangan di tolak, La! kami akan sangat sedih kalau kamu menolaknya, terimalah! uang itu tak seberapa di banding jasamu."
"MasyaAlloh..., terimakasih banyak, Tante, Ola sama sekali tidak mengharapkan imbalan apapun dari apa yang Ola lakukan untuk Adik-adik."
"Itu bukan imbalan, tapi rasa terimakasih kami," Ucap Ibu itu sambil tersenyum.
"Terimakasih, Tante! Ola pergi ya, Bu, Teh, Dek dan Tante-tante semua!" Ucapku sambil menatap mereka bergantian. Semuanya mengangguk dan aku pun masuk ke dalam angkot setelah menyalami mereka.
Angkot itu mulai bergerak meninggalkan mereka yang masih berdiri di pinggir jalan memperhatikan kepergianku. Ku lambaikan tanganku ke arah mereka. Selamat tinggal rumahku, selamat tinggal tanah kelahiranku, dan selamat tinggal semua kenangan yang sudah terjadi disini.
*************
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat Jalan Ola 🤗
Tetap like, vote, komentar ya Readers 🤗
I LOVE YOU ALL...😘😘😘❤❤❤⚘⚘⚘
By : Rahma Husnul
ya.... siapa jodoh sesungguhnya yg baik utk Naura. jika niat Galih utk memantaskan dirinya, maka disaat sdh pantas Allah pasti mempertemukan mrk ber dua😷
nduk kali ya thor? , tp ini utk sebutan anak perempuan,
kalau laki² itu kan Le😁