Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERKUNJUNG KE DHARMASRAYA
Begitu kakiku menginjak tanah Sumatra, tepatnya di salah satu kota pelabuhan ramai di kawasan pengaruh Sriwijaya, aku mendadak menghentikan langkah.
Langkah cepat "Ajian Saipi Angin" memang berhasil membawaku menyeberangi lautan dalam sekejap mata. Tapi ada satu masalah sepele yang lupa ku perhitungkan aku sama sekali tidak tahu denah wilayah ini.
Pusat pemerintahan Raja Srimat Trailoky di mana, jalan menuju Istana Kerajaan lewat mana, semuanya buta total.
Masa iya aku harus keliling daratan Sumatra yang seluas ini cuma buat nyari satu orang raja
Matahari mulai naik dan perutku memanggil-manggil. Akhirnya, aku melangkah menuju sebuah kedai makan di dekat dermaga. Suasana kedai cukup ramai oleh lalu lalang pedagang, pelaut, dan warga lokal yang asyik berbincang riuh.
Aku duduk di sudut yang agak lengang, memesan semangkuk makanan panas dan segelas minuman penyegar. Ketika pemilik kedai seorang lelaki paruh baya bertubuh agak gempal dengan kain samping terikat rapi mengantarkan pesanan ke mejaku, aku menahannya sebentar.
Aku merogoh kantong kain di pinggang, mengeluarkan beberapa keping uang dan meletakkannya di atas meja. Kepingan logam itu berkilat manis di bawah sinar matahari pagi.
"Paman," panggilku ramah, memasang wajah pendatang baru yang lugu. "Aku pedagang baru dari tanah Jawa. Ada sedikit urusan penting di wilayah ini, tapi aku sama sekali buta arah."
Mata pemilik kedai itu langsung berbinar begitu melihat kepingan uang di meja. Ia menyapu uang itu dengan cekatan lalu tersenyum lebar
"Ah, Anak Muda dari Jawa! Pantas saja logatmu agak berbeda," ujarnya bersemangat. "Mau cari apa di sini? Bumbu, kain, atau minyak?"
"Bukan barang dagangan," jawabku santai sambil menggeser cangkir. "Aku butuh pemandu jalan. Orang lokal yang paham betul seluk-beluk wilayah ini, kenal jalan-jalan besar sampai jalan tikus, dan... kalau bisa, paham juga soal peta kekuasaan para penguasa di sini. Punya rekomendasi kira-kira siapa yang bisa ku sewa?"
Pemilik kedai itu terkekeh pelan sambil mendekatkan wajahnya, setengah berbisik. "Kalau kau butuh yang terbaik, ada satu nama Jalal. Dia mantan pengawal bandar yang sekarang kerja bebas. Orang lokal, ahli silat, dan paham betul tiap jengkal tanah dari pelabuhan sampai ke lingkungan balai kerajaan. Cuma... harganya mahal, Anak Muda. Dia tak mau diupah kepingan murah."
"Harga bukan masalah," jawabku santai.
Jujur saja, di dalam otakku sempat terlintas cara yang jauh lebih praktis dan instan: aku tinggal bikin kekacauan di tengah pasar, merubuhkan beberapa bangunan, lalu menunggu pasukan kerajaan datang mengepungku. Setelah itu tinggal minta diantarkan langsung ke hadapan Raja Srimat Trailoky.
Tapi aku segera menepis ide itu. Tujuanku ke sini adalah melakukan negosiasi dan pertukaran yang saling menguntungkan, bukan mencari musuh atau merusak kawasan orang. Bisnis yang baik dimulai dengan kesan pertama yang baik pula.
Akhirnya, ditemani Jalal yang memang sepadan dengan harganya, aku berkeliling selama dua hari. Dari penjelasannya yang detail mengenai seluk-beluk pelabuhan, jaringan logistik, hingga kebiasaan prajurit patroli, sebuah ide segar mulai terbentuk di kepalaku. Aku tidak bisa datang begitu saja sebagai pedagang biasa yang mengemis tanah. Aku harus datang sebagai figur yang punya bargaining position amat kuat.
Di hari ketiga, waktu yang kupilih akhirnya tiba. Ditemani sang pemandu yang ku pinta menunggu di luar batas wilayah balai kerajaan, aku melangkah mantap menuju balairung utama tempat Raja Srimat Trailoky bertakhta.
Para penjaga gerbang dengan zirah berkilat dan tombak terangkat sudah bersiap mencegat ku. Sebelum bibir mereka sempat terbuka untuk membentak atau menanyakan surat izin masuk, aku berhenti lima langkah di depan mereka.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan segel aura yang selama ini ku sembunyikan rapat-rapat.
Hawa keberadaan yang begitu pekat, dingin, dan menindas meledak seketika dari tubuhku. Udara di sekitar balairung mendadak terasa begitu berat dan pekat, seolah gravitasi bertambah berkali-kali lipat. Para prajurit penjaga yang tadi berwajah garang langsung pucat pasi lutut mereka gemetar hebat hingga gemerincing zirah mereka terdengar saling beradu, sebelum akhirnya beberapa dari mereka ambruk berlutut, menahan napas yang terasa sesak.
Aku tidak niat merusak. Aku hanya ingin menunjukkan pada sang penguasa Dharmasrayabahwa sosok yang baru saja menginjakkan kaki di istananya ini bukanlah sekadar pengembara biasa yang bisa diremehkan.
Melihat bawahan-bawahannya sudah berlutut dan kewalahan bernapas di atas ubin batu, seorang pria berbadan tegap dengan zirah besi yang lebih megah melangkah keluar dari pintu utama balairung.
Dari lambang emas di dadanya, jelas dia seorang panglima atau perwira tinggi di istana ini.
Wajahnya pucat, dahinya dibasahi keringat dingin sewaktu mencoba bertahan menembus hawa penindas yang kulepaskan. Setiap langkahnya terasa berat, tapi dia tetap memaksakan diri mendekat, lalu membungkuk dalam-dalam dengan sangat hormat.
"Ampun, Gusti... Harap mengampuni ketidaksopanan para prajurit di gerbang ini," ucap sang panglima dengan suara agak bergetar, berusaha keras menata napasnya yang terengah-engah. "Hamba yang akan mengantarkan Gusti langsung menemui Paduka Raja Srimat Trailoky."
Aku menyeringai tipis. Reaksi yang sangat bijak.
Tanpa bersuara, aku menarik kembali seluruh aura pekat itu masuk ke dalam tubuhku dalam satu tarikan napas. Seketika, tekanan mencekik di area pintu masuk itu lenyap tak berbekas.
Para prajurit yang tadinya tersungkur langsung menghembuskan napas lega, meraup udara sebanyak-banyaknya seolah baru saja terbebas dari siksaan tenggelam di dasar laut.
"Terima kasih. Pimpin jalannya," jawabku santai sambil mengibaskan jubahku.
Sang panglima mengangguk cepat, menyapu keringat di pelipisnya, lalu berjalan di depanku menelusuri lorong-lorong megah istana Sriwijaya. Keramahan yang dipaksakan oleh rasa takut memang jauh lebih efisien ketimbang membuang-buang waktu mengurus surat izin masuk.
Tak butuh waktu lama, pintu jati berukir di ujung lorong terbuka lebar. Di atas singgasananya, Raja Srimat Trailoky sedang duduk dikelilingi para penasihat kerajaan.
Sang penguasa maritim itu menatapku dengan mata membelalak, rupanya ia juga sempat merasakan getaran aura dahsyat yang baru saja menyapu halaman istananya beberapa saat lalu.
Aku berhenti tepat di tengah balairung, berdiri tegak tanpa rasa gentar sedikit pun di hadapan sang raja.
Aku merapatkan kedua telapak tangan di dada, menyatukan jemari lalu membungkuk sedikit memberikan salam penghormatan yang proporsional cukup sopan untuk seorang raja, namun tetap menunjukkan bahwa kedudukanku setara.
"Hamba menyampaikan salam hormat kepada Paduka Raja Srimat Trailoky," buka suara bersahaja milikku, menggema tenang di ruang balairung yang mendadak hening.
"Nama agung Paduka dan kejayaan Dharmasrayatelah lama terdengar hingga ke seberang lautan. Dan selama dua hari kemarin, hamba menyaksikan sendiri keindahan negeri ini. Penataan wilayah yang begitu rapi, kedamaian rakyat di bandar, serta ketertiban pasar... sungguh membuktikan betapa bijaksananya kepemimpinan Paduka."
Jujur saja, itu cuma sedikit bumbu manis diplomatik. Aku hanya menyuarakan hal-hal bagus yang kulihat selama berkeliling bersama Jalal, sembari menutupi bagian-bagian kumuh atau jalan tikus yang sempat ku lewati. Tapi seperti biasa, pujian yang dikemas rapi selalu berhasil melunakkan keangkuhan seorang penguasa.
Raut tegang di wajah Srimat Trailoky perlahan mengendur, digantikan oleh rasa penasaran yang membuncah.
"Hamba datang bukan tanpa alasan," lanjut ku dengan nada lugas, langsung menusuk ke inti.
"Hamba mendengar kabar bahwa Paduka sedang mengumpulkan kekuatan besar untuk melakukan ekspansi militer.
Sebuah rencana agung yang tentu membutuhkan pasokan logistik dan persenjataan dalam jumlah yang tak main-main. Hamba di sini untuk menawarkan bantuan memasok seluruh kebutuhan senjata terbaik untuk armada Paduka. Tentu saja... ini bukan bantuan gratis."
Raja Srimat Trailoky menyipitkan matanya. Ia menyandarkan tubuh di sandaran singgasana batu, menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.
"Siapa kau sebenarnya, Anak Muda?" tanya Srimat Trailoky, nadanya berat dan sarat kekuasaan. "Berani sekali kau melangkah ke balairung ku dan menawarkan transaksi sebesar ini?"
Aku tersenyum tipis, berdiri tegak tanpa goyah. "Hamba adalah Arya Sena dari Tugaran," jawabku mantap. "Hamba adalah murid dari Mpu Parwa, dan juga Mpu Ranajaya penerus trah Mpu Bharada yang namanya sudah sangat masyhur di tanah Jawa. Selain itu, hamba juga merupakan ipar dari Raja Singhasari yang bertakhta saat ini."
Mendengar nama Mpu Bharada, beberapa penasihat dan resi kerajaan yang berdiri di samping singgasana langsung berbisik-bisik geger.
Nama sang Mpu legendaris yang membelah Kerajaan Kahuripan itu punya bobot magis yang sangat dihormati di seluruh Nusantara.
Sebelum mereka berspekulasi lebih jauh mengenai ancaman politik dari Jawa, aku dengan cepat menambahi, "Namun, keberadaan hamba di sini murni secara pribadi untuk berbisnis, bukan sebagai utusan resmi atau mewakili Kerajaan Singhasari."
Srimat Trailoky menaikkan sebelah alisnya, raut wajahnya makin penuh selidik. "Apakah Singhasari tidak bisa memenuhi permintaanmu, hingga kau harus jauh-jauh menyeberangi lautan menuju Sriwijaya?"
"Bukan tidak bisa, Paduka," jawabku tenang, menatap lurus ke matanya. "Tapi apa yang hamba cari, hanya ada pada kekuasaan Sriwijaya."
"Apa yang kau inginkan dari kami?" tanya Srimat Trailoky cepat.
"Wilayah ujung medini."
Mendengar nama itu, Srimat Trailoky sempat mengernyitkan dahi. Ia tampak asing dengan nama yang ku sebutkan.
Sang Raja memiringkan tubuhnya, berbisik pelan kepada perwira senior yang berdiri di sebelah kanan singgasananya.
"ujung medini? Di mana itu?" bisik Srimat Trailoky kebingungan.
Perwira itu sempat terdiam, memutar otaknya mengingat-ingat peta wilayah kekuasaan maritim mereka yang sangat luas. Setelah beberapa detik menyisir ingatan, matanya membelalak pelan lalu berbisik balik ke telinga sang Raja.
"Ampun, Paduka... ujung medini itu adalah pulau kecil penuh rawa dan hutan bakau di ujung selatan Semenanjung. Tempat singgah sementara para nelayan, wilayahnya sepi dan hampir tak bernilai dibanding bandar-bandar besar kita..."
Srimat Trailoky kembali menegakkan tubuhnya. Di matanya, meminta pulau terpencil tak berpenghuni yang bahkan lupa ia miliki demi imbalan pasokan senjata perang skala besar adalah sebuah penawaran gila yang sangat menguntungkan.
Namun, nama besar trah Mpu Bharada membuat ia tak mau terburu-buru bersikap arogan.
"Sebuah penawaran yang menarik, Arya Sena," ucap Srimat Trailoky akhirnya, diiringi senyum lebar.
"Namun transaksi besar seperti ini tidak bisa diputuskan dalam satu tarikan napas. Istana ini akan menjamu mu malam ini sebagai wujud rasa hormat kami kepada keturunan dan murid trah Resi Bharada. Istirahatlah, besok kita bicarakan detailnya."