NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Hari-hari berlalu bagaikan siksaan lambat bagi Roni. Sejak ditendang secara tidak adil dari pabrik kayu, roda ekonomi keluarga kecil itu mendadak macet total. Roni menelusuri tiap sudut kota hingga desa-desa tetangga demi mencari pekerjaan apa saja. Namun pintu rezeki seolah tertutup rapat. Mobil juga sudah terjual.

Ini semua juga ada campur tangan Hana yang sengaja membuat Roni tak di terima kerja di manapun.

Melihat kelelahan dan gurat keputusasaan di wajah suaminya, Nina tidak tinggal diam. Ia mulai mengambil pekerjaan sambilan menjahit pakaian tetangga desa. Di sudut ruangan, mesin jahit tua milik Nek Nilam kembali berderit dari pagi hingga larut malam. Hasilnya memang tak seberapa, hanya cukup untuk membeli sekantong beras dan lauk sederhana untuk Gendis, namun Nina mengerjakannya tanpa sepatah kata pun keluhan.

Sore itu, lembayung jingga menembus celah jendela. Nina masih setia membungkuk di atas mesin jahit. Di atas tikar tak jauh dari sana, Roni memangku Gendis yang sedang meraba-raba mainan kainnya. Pandangan Roni menerawang jauh menembus kaca jendela, memandangi pusaran angin sore yang menerbangkan dedaunan kering. Hatinya teriris melihat istrinya harus membanting tulang akibat kegagalannya.

"Dek..." panggil Roni. Suaranya pelan,ada rasa bersalah yang teramat sangat.

Nina menghentikan kayuhan pedal mesin jahitnya. Ia menoleh, menatap suaminya lembut. "Iya, Mas?"

Roni menunduk, mengelus puncak kepala Gendis yang polos. "Bagaimana kalau kita coba meminjam modal dari Hana saja? Sedikit saja, Dek. Hanya untuk modal Mas membuka usaha mebel atau dagang kayu kecil-kecilan di depan rumah. Mas sudah tidak tahan melihatmu terus-terusan menjahit sampai larut malam begini."

Nina membeku. Kalimat Roni bagai hembusan angin dingin yang menusuk dadanya. Ia teringat jelas wejangan sang nenek tentang bahaya yang dibawa wanita dari seberang jalan tersebut.

Nina bangkit dari kursinya, melangkah mendekat lalu berlutut di samping Roni. Digenggamnya kedua belah tangan suaminya yang kasar. "Mas... tolong jangan. Aku mohon, buang jauh-jauh niat itu. Hana bukan orang baik. Dia datang membawa udang di balik batu. Kita tidak boleh berurusan atau terikat hutang dengan orang seperti dia."

Roni menghembuskan napas berat, matanya memerah menahan penderitaan. "Tapi kita butuh uang, Dek. Tabungan kita menipis, dan Mas tidak tahu lagi harus mencari kerja ke mana..."

"Kita masih punya Tuhan, Mas. Dan kita masih punya tenaga," potong Nina tegas namun penuh kehangatan. Ia mengusap pipi suaminya dengan penuh kasih. "Hasil menjahit cukup untuk makan kita bertiga dan Nenek. Soal modal usaha, kita bisa cari jalan lain yang halal dan bersih. Tolong jangan pernah menyerah pada keadaan, Mas. Kita hadapi cobaan ini bersama-sama."

Menatap mata istrinya yang begitu bening dan teguh, ketegangan di dada Roni perlahan mencair. Pria itu mengangguk pasrah, merengkuh tubuh Nina ke dalam pelukannya. "Maafkan Mas ya, Dek. Mas janji akan berusaha lebih keras lagi."

Sementara itu, dari balik tirai jendela rumah kontrakan cat biru di seberang jalan, Hana berdiri memegang cangkir tehnya sembari menyunggingkan senyum iblis. Melalui pengamatannya setiap hari, ia tahu Roni dan Nina berada di ambang kehancuran ekonomi. Keterpurukan pria itu adalah celah sempurna yang telah ia nantikan.

Namun, amarahnya pada Nek Nilam yang telah mempermalukannya kemarin belum sedikit pun padam. Dendam di dadanya kian membara.

Tanpa membuang waktu, hari itu juga Hana kembali mendatangi pinggiran kota, menuju sebuah gubuk terpencil di tengah pepohonan bambu yang rindang. Rumah Mbah Jarwo, dukun langganannya.

Aroma kemenyan, minyak mistis, dan asap dupa langsung menyambut hidung Hana begitu ia melintasi pintu kayu gubuk yang gelap. Di dalam ruangan yang gelap itu, Mbah Jarwo duduk bersila di atas tikar pandan. Pria tua itu mengenakan pakaian serba hitam dengan jimat tulang melingkar di lehernya. Matanya yang merah menyala menatap Hana.

"Apa lagi tujuanmu kemari?" tanya Mbah Jarwo dengan suara parau yang bergetar.

Hana melempar pandangan penuh kebencian. "Aku mau Mbah mengirim teluh ganas pada seorang nenek-nenek tua di desa itu! Dia menjadi penghalang utama rencanaku. Buat dia menderita secara perlahan, kalau perlu, lenyapkan saja nyawanya dari muka bumi ini agar tidak ada lagi yang menghalangi langkahku!"

Mbah Jarwo terkekeh pelan, tawa seraknya bergema memenuhi ruangan yang remang. Pria tua itu menyesap dalam-dalam rokok yang diapit di jemarinya yang hitam. "Mengirim teluh tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada harga mahal yang harus dibayar."

"Aku tidak peduli berapa harganya!" potong Hana tanpa ragu, membusungkan dadanya. "Katakan saja nominalnya!"

Mbah Jarwo menyebutkan angka jutaan rupiah yang amat fantastis. Tanpa menawar sedikit pun, Hana langsung menyanggupi.

Dukun itu menyeringai puas. "Bagus. Pulanglah sekarang. Tapi besok pagi, kau harus membawakan ku dua media penting. Beberapa helai rambut asli milik wanita tua itu, dan foto wajahnya dari jarak dekat. Tanpa itu, teluhku tidak akan bisa menembus kulitnya."

"Siapkan peralatan Mbah. Besok barang-barang itu akan ada di tangan Mbah," sahut Hana mantap sebelum berbalik pergi.

*

Keesokan harinya, matahari baru saja meninggi. Hana melancarkan aksinya dengan mengenakan pakaian yang jauh lebih sopan dari biasanya, sebuah gaun terusan panjang bergaya kalem untuk mengelabui tuan rumah.

Saat Hana melangkah masuk menyeberangi jalan, suasana rumah itu nampak lengang. Di dapur, Nina sedang sibuk mengaduk bubur beras hangat untuk Nek Nilam yang sejak pagi mengeluh kurang enak badan. Sementara di dalam kamar belakang, Roni masih terlelap karena kelelahan setelah berhari-hari mencari kerja.

Hana mengetuk pintu dan melangkah masuk tanpa rasa malu. "Hai, Nina! Apa kabar?" sapa Hana dengan suara manis yang dibuat-buat.

Nina yang sedang berdiri di depan kompor melirik dari balik bahunya. Tangannya tetap sibuk mengaduk bubur. "Ada apa lagi, Mbak Hana?" sahut Nina dingin.

"Ah, cuma mau mampir sebentar. Ngomong-ngomong, ke mana Nek Nilam? Kok tidak kelihatan duduk di teras seperti biasanya?" tanya Hana, matanya bergerilya mencari keberadaan sang nenek.

"Nenek sedang kurang enak badan. Beliau sedang istirahat di kamarnya," jawab Nina singkat, sengaja memunggungi Hana agar wanita itu paham ia tidak ingin diganggu.

Mendengar jawaban itu, senyum culas terukir di bibir Hana. 'Ini dia kesempatannya,' batinnya bersorak.

"Oh begitu... Ya sudah kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya, Nin," ujar Hana berpura-pura pamit.

Nina hanya mengangguk samar tanpa niat memutar badan, benar-benar muak dengan kehadiran wanita itu.

Namun, alih-alih melangkah keluar menuju pintu depan, Hana justru berjinjit pelan menuju kamar Nek Nilam yang pintunya sedikit terbuka. Dengan sangat hati-hati, Hana mengintip ke dalam. Tampak Nek Nilam terbaring lemah di atas ranjang kayu, memejamkan mata dan terlelap dalam tidurnya.

Mengatur napasnya agar tak terdengar, Hana menyusup masuk ke dalam kamar yang remang. Matanya menyapu meja tua di sudut ruangan. Beruntung! Di atas meja tergeletak sebuah sisir. Hana bergegas meraih sisir tersebut dan memeriksanya di bawah cahaya jendela. Ada lima helai rambut putih panjang yang tersangkut di antara gigi-gigi sisir.

Dengan cepat Hana mencabut helai-helai rambut putih itu lalu memasukannya ke dalam kantong kresek.

"Sekarang tinggal fotonya" gumam Hana berbisik.

Ia merogoh ponsel, mematikan seluruh suara pada benda itu. Dengan melangkah pelan, Hana mendekati sisi ranjang Nek Nilam. Diarahkannya lensa kamera ponselnya persis ke wajah tua yang sedang tertidur lelap itu, lalu menekan tombol pemotret.

Gambar wajah Nek Nilam berhasil ditangkap dengan sangat jelas. Hana tersenyum puas.

Namun, saat ia berbalik dan baru saja hendak melangkah melewati ambang pintu kamar Nek Nilam, derap langkah kaki yang terdengar mendekat. Hana panik setengah mati. Dengan cepat keluar dari pintu kamar dan berdiri canggung di dekat pintu keluar utama, berpura-pura baru saja hendak melangkah keluar.

"Hana? Sedang apa kamu berdiri di situ?"

Suara serak Roni menegurnya. Pria itu baru saja keluar dari kamarnya dengan wajah bantal.

Hana terkejut, namun dengan lihai menguasai raut wajahnya. Ia tertawa canggung sembari membetulkan posisi tasnya. "O-oh... Roni! Baru bangun ya? Ini aku tadi cuma mau pamit pulang sama Nina.

Roni menatap Hana dengan dahi berkerut curiga. Aura wanita ini selalu membuatnya merasa tidak nyaman. "Ya sudah, kalau mau pulang."

"Iya, aku pulang dulu ya, Ron." sahut Hana cepat, lalu melangkah setengah berlari keluar dari pekarangan rumah.

Tak lama kemudian, Nina keluar dari dapur membawa mangkuk bubur hangat. "Ada apa, Mas? Tadi dengar suara orang berbincang?"

"Itu, tadi Hana berdiri di dekat pintu. Tidak tahu sedang apa," ujar Roni heran.

Dahi Nina berkerut dalam. "Lho? Bukannya dari tadi dia sudah pamit pulang?"

Roni hanya mengedikkan bahunya.

*

Siang menjelang sore, di gubuk gelap Mbah Jarwo, ritual ilmu hitam dimulai.

Asap kemenyan membumbung tinggi, bergulung-gulung memenuhi langit-langit gubuk, menguarkan bunga dan kemenyan yang menusuk indera penciuman. Di atas kain hitam, Mbah Jarwo meletakkan sebuah boneka jerami kecil. Helai-helai rambut putih milik Nek Nilam dililitkan rapat pada leher boneka tersebut, sementara foto wajah nek Nilam yang telah di cetak Hana,ditusukkan persis di bagian kepala boneka menggunakan jarum tembaga.

Mbah Jarwo mulai meracik mantra berbahasa kuno yang kelam. Suaranya bergumam bagaikan desisan ular dari dalam tanah.

Hana yang duduk menyaksikan di hadapannya merasakan bulu kuduknya berdiri. Ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin, diiringi hembusan angin gaib yang memadamkan beberapa lampu minyak di sekeliling mereka. Kepala Hana sedikit pening dihantam aura mistis yang begitu pekat.

"Selesai..." desis Mbah Jarwo tiba-tiba, menancapkan jarum tembaga kedua tepat di bagian dada boneka jerami itu. "Rasakan bagaimana perihnya jarum ini merobek organ dalamnya dari jauh!"

*

Malam harinya, keheningan merayap di rumah kayu Nek Nilam. Seluruh penghuni rumah telah lelap dalam peraduan masing-masing.

Namun, tepat saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nek Nilam mendadak terbangun.

Wanita tua itu membelalakkan matanya di dalam kegelapan kamar. Tubuhnya seketika dibasahi oleh keringat dingin yang mengucur deras dari dahi hingga ke lehernya. Rasa panas yang membakar, seolah-olah darahnya mendidih dari dalam, menyebar cepat dari dada hingga ke seluruh persendiannya.

Nek Nilam berusaha mengerang, namun tenggorokannya terasa begitu kering dan tercekik. Ia mencoba menggerakkan kakinya untuk bangkit, tetapi tubuhnya terasa sangat berat, seakan-akan ada bongkahan batu raksasa yang menindih dadanya. Kekuatan gaib yang tidak terlihat sedang mencengkeram jiwanya.

Di dalam kesadarannya yang makin mengabur dihantam rasa sakit yang hebat.

'Gusti Allah... apakah ini ulah wanita dari kota itu?' batin Nek Nilam merintih. Ia mencoba merapalkan doa-doa dan ayat suci di dalam hatinya, namun setiap kali ia memejamkan mata untuk fokus, bayangan wajah Hana yang tersenyum iblis muncul di kegelapan, diiringi rasa sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum di bagian dadanya.

Aaghh...

Rintihan parau yang lolos dari bibir Nek Nilam memecah kesunyian malam.

Di kamar sebelah, Nina yang memang memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan neneknya seketika terbangun dari tidurnya.

Nina bergegas menyingkap selimut dan berlari menuju kamar Nek Nilam.

"Nenek! Nenek kenapa?!" seru Nina panik saat menyalakan lampu teplok minyak.

Di atas ranjang, Nek Nilam terbaring meliuk-liuk menahan sakit. Wajah rentanya pucat pasi bagai mayat, dan seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin.

Nina berlutut di samping ranjang, merangkul bahu neneknya. Saat jemari Nina menyentuh kulit Nek Nilam, Nina terperanjat hebat. Kulit neneknya terasa begitu panas menyengat, namun di saat yang sama tubuh tua itu menggigil kedinginan.

"Nenek demam tinggi ini! Mas! Mas Roni!" teriak Nina memanggil suaminya dari lorong.

Nina hendak beranjak berdiri untuk mengambil kompres air hangat di dapur, namun tangan keriput Nek Nilam mendadak mencengkeram lengan Nina dengan cengkeraman yang amat kuat.

"Jangan, jangan pergi, Nduk." bisik Nek Nilam dengan suara yang sangat lemah dan serak. Mata sang nenek menatap langit-langit kamar dengan pandangan penuh ketakutan.

Roni berlari masuk ke dalam kamar dengan mata terbelalak. "Ada apa, Nin?!"

"Nenek mendadak sakit parah, Mas! Tubuhnya panas sekali tapi menggigil!" tangis Nina pecah.

Nina kembali memeluk tubuh neneknya, mengusap dahinya yang basah. Namun, rasa panas di tubuh Nek Nilam terasa begitu janggal, panas yang membawa aura hawa dingin yang mencekam di dalam kamar.

Nek Nilam menatap cucu kesayangannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, memegang erat jemari Nina. "Awas, Nduk. Jaga suamimu, jaga Gendis.. Jangan sampai keluarga kecilmu dihancurkan oleh orang-orang berhati iblis. Ada yang sedang berusaha memisahkan kalian."

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!