Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 35
Kicau burung betet yang kelaparan menjadi irama paling berisik di pagi hari, matahari masih mengintip di balik bukit, memancarkan semburat kuning gading yang hangat.
Di balik lembaran koran yang berdesir tipis wajah pucat Anne tampak lesu, hidung memerah sesekali menarik napas berat, rambut masih setengah basah dibiarkan tergerai, tertimpa sinar surya.
Dari dalam dapur, Wulan keluar membawa nampan berisi wedang jahe panas, beberapa potong rebusan ubi jalar dan biskuit khas Eropa yang tersusun rapi di piring keramik bercorak kincir angin biru muda.
“Mau mbak Wulan kerokin, nduk? Atau mau di panggilkan dukun pijat sekalian?” tawarnya.
“Ndak usah, Mbak, ini cuma pilek biasa, besok juga sudah sembuh,” tolak Anne, ia memang anti melakukan perawatan badan sebelum masa panen selesai, sebab sekali saja badannya di manjakan, maka lelah telah bertumpuk akan mulai berdatangan, bukannya sembuh malah semakin meriang.
Wulan menghela napas panjang, tatapannya nanar pada sang juragan. “Kamu itu masuk angin, Nduk, tengah malam masih saja keliling sawah, pulang dalam keadaan setengah basah. Ini pagi-pagi sudah bangun langsung mengecek panenan yang datang. Badan kita itu juga perlu beristirahat, Anne.”
Anne meraih cangkir wedang jahe masih mengepulkan uap panas, menyesapnya pelan, lalu mengambil sepotong ubi jalar hasil panenan di kebun belakang lapak miliknya.
“Ya ini aku sedang beristirahat, Mbak. Minum wedang jahe sama makan ubi rebus, baca koran. Perempuan mana yang pagi buta begitu santai seperti diriku, tak sibuk dengan urusan rumah dan dapur,” sahut Anne dengan senyum manis yang mengembang.
Wulan turut tersenyum, tangan sedari tadi memijat tengkuk berpindah mengusap rambut yang mulai kering. “Kamu itu kalau dibilangin pasti ada saja jawabannya.”
Ia kemudian menunduk sejenak, mengulum bibir terasa kering sambil kembali berucap.
“Ibu kemarin menelpon lagi, Nduk, menanyakan kabarmu. Katanya kalau sudah senggang suruh menelpon ke Sumatera, mbak Wulan juga sempat mendengar Tuan nyeletuk akan pulang jika kau tak juga menghubungi mereka.”
“Besok aku akan menghubungi ibu dan papa, hari ini suara ku sedang bindeng, bisa-bisa papa menyewa helikopter dan langsung pulang kemari kalau tau aku meriang,” sahut Anne seraya melipat koran di tangan, berganti mengambil wedang jahe dan sepotong ubi.
Wulan menghela napas pelan, kepala dengan rambut di ikat karet gelang melongok ke arah pelataran depan saat mendengar deru mobil datang, ujung matanya melirik Anne yang menikmati ubi.
“Noni Maria datang, Nduk,” ucapnya kemudian.
Sudut bibir Anne melengkung samar, ada kilat licik di sorot matanya yang tenang. “Kembalilah ke dapur, Mbak, siapkan punten pecel untuk makan siang. Aku rindu sekali makan punten pecel dengan kerupuk gendar seperti bikinan mbok'e.”
Wulan mengangguk paham, buru-buru beranjak dari kursi sofa teras belakang. Semenjak kecurangan Maria terbongkar, orang-orang Anne selalu menghindar tiap kali Maria datang, mereka turut geram dengan apa yang dilakukan gadis sudah seperti saudara kandung untuk ndoro kecil mereka.
Di pelataran depan, Maria melenggang dengan senyum tersungging, tangan menenteng buah tangan, kebiasaan yang selalu ia lakukan tiap kali berkunjung ke kediaman siapa saja. Rambut coklat keemasannya di kuncir ekor kuda.
“Anne.” Suaranya begitu riang, tangan membawa buah tangan diangkat hingga depan dada. “Aku membawa roti manis isi coklat kesukaanmu. Sengaja ku beli dari toko roti di kota, masih hangat, aku sampai menunggu toko nya buka untuk mendapatkannya.”
“Darimana kau pagi buta sudah di kota?” sambut Anne, jari menggamit kretek di ketukkan pada asbak kaca.
“Kemarin aku menghadiri pemberkatan seorang teman, karena kemalaman aku memilih menginap di kota. Ini baru kembali dan langsung kemari. Rindu sekali telah berhari-hari tak bertemu denganmu,” jelas Maria seraya memeluk tubuh mungil sang sahabat. Plastik di tangan sudah diletakkan di meja.
Alis gadis berwajah Eropa itu mengerut begitu kulit pucatnya menyentuh kulit Anne, buru-buru ia menyentuh kening sahabat kecilnya dengan punggung tangan, mata seketika terbelalak, bibir sedikit terbuka.
“Kau demam, Anne?”
“Tid—”
“Iya. Kemarin hujan-hujanan denganku,” potong Hans Williams, berjalan santai sambil mengetukkan tusuk konde kuningan di telapak tangan. “Milikmu, kemarin terjatuh di lantai mobilku.”
Anne dengan tangkas menangkap tusuk konde yang dilemparkan Hans, sembari terbatuk pelan, lalu kembali menyandarkan kepala mulai terasa berdenyut pada sandaran kursi.
Tatapan Marian berpindah-pindah, dahi mulusnya mengernyit samar, merasakan perbedaan sikap kedua sahabatnya. “Kalian …?”
“Kami tak sengaja bertemu di sawah, hujan mulai turun saat aku mau pulang. Jadi kuputuskan ikut di mobilnya. Kau tau sendiri, ‘kan aku tak bisa kehujanan,” potong Anne dengan suara sengau.
Maria menarik napas pelan, wajahnya tertunduk sesaat, menyembunyikan ekspresi lega, jemari semula tegang perlahan mengendur, namun seketika kembali mengepal saat mendengar cerita dari Hans.
“Setelahnya kami berkeliling hutan jati. Kapanlagi bocah sombong itu mau berada satu mobil denganku, kebetulan hujan petir juga, sekalian saja ku manfaatkan untuk berlama-lama dengannya. Kau tau Maria … lenganku dibuat kram semalaman olehnya.”
“Kenapa bisa begitu?” sela Maria.
“Dia ketakutan melihat petir sampai tertidur di pundakku. Karena tak tega, kubiarkan saja sampai bulan pergi dari peraduan berganti fajar menjelang,” lanjut Hans.
“Kalian berdua tidur bersama di dalam mobil?” tanya Maria seolah tak percaya.
“Begitulah,” jawab Hans, singkat.
Dada Maria bagai dihantam godam, hatinya mencelos, tangan tersembunyi di balik gaun lebar mengepal kencang sampai buku-buku jarinya memutih. Bibir terkatup rapat sebelum kembali terbuka bersamaan hembusan napas perlahan, lalu memasang senyum tipis.
“Aku banyak tertinggal dengan kebersamaan kalian sepertinya,” ia kemudian bergumam pelan, nyaris seperti bisikan.
“Kau sih, terlalu asik dengan racun buatan, sampai tak tau ada racun cin—”
“Berhenti membual, Hans. Kepalaku semakin pusing kau buat,” sergah Anne seraya beranjak dari duduknya. “Kalian pulanglah, aku ingin beristirahat hari ini.”
“Tak bisa begitu, Nona, kau harus bertanggung jawab dengan lenganku,” cegah Hans sambil mencengkram pelan tangan Anne.
“Kau tak melihat wajahku telah memerah? Pergilah dulu, nanti akan ku beri upah yang sepadan dengan bantuan yang kau berikan, setelah pusingku sedikit berkurang,” ucap Anne, sorot matanya sayu, nada bicara terdengar lemah.
“Beloofd?” tahan Hans. (Janji?)
“Ja. Ik beloff het,” sahut Anne. (Ya. Aku berjanji)
Mendengar Anne menimpali ucapan Hans dengan bahasa Belanda, hati Maria kembali mencelos. Rahang mengeras, hidung kembang-kempis menahan amarah bergejolak di dada. Ia tahu, jika Anne sudah memakai bahasa Belanda itu artinya apa yang dibicarakan adalah hal serius, terlebih melihat wajah Hans yang langsung sumringah.
Netra dengan manik biru muda itu berkedip cepat, senyum tipis perlahan terbit saat wajah Anne berpaling ke arahnya.
“Maaf Maria, kepalaku benar-benar sedang pusing saat ini, kau pulanglah dulu, nanti aku akan datang ke tempatmu. Terima kasih untuk rotinya,” lanjut Anne.
Ia lalu berjalan gontai masuk kedalam rumah, meninggalkan Maria yang masih terpaku di tempatnya sedang Hans sudah masuk ke dapur, mengganggu Wulan yang tengah menumbuk sambel pecel.
Sementara itu di tempat yang berbeda, suara raungan menyusup di antara gribik bambu yang kusam dimakan usia. Segala sumpah serapah tumpah bersama air mata yang mengucur deras.
“Bune yang tahu cerita sebenarnya, Argono. Bune!”
Bersambung
tp balik lg k ndoro
Anne menikah dgn hans tdk
bagaimana sikap seorang valakoorr
jgn smpe kelelahan ndoro (inget ini hanya cerita y menghibur) jgn d dalami...
InsyaAllah ndoro lembut hati nya...
🙏
semangat💪
papa petter ,
selamat tdk yaa
balik klw sudah dapat wangsit 😆😆😆
selamat kan dokter
Anne blm menikah
dan Kasman tak boleh mati cepatt
kena sepak tendang kog masih bangkit
itu sisa tenaga , Kasman
nasib Anne gmn,
peter knp lama
katanya mau datang ke rumah Maria
pastii sdh di antisipasi juga
kena jebakan kau kasmann
oh apa argono
sekian lama , mengendap sekian th berteman dgn Anne ,
jgn berhenti di tengah jalan
pamalii 😅