Lian Az Zahra putri
Gadis mungil lulusan akuntansi universitas negeri ternama mulai meniti kariernya di ibukota seorang diri. Mempunyai karier yang cemerlang, ia menduduki jabatan penting di usia muda.
Keberhasilan kariernya tak membuatnya lepas begitu saja dari belenggu masa lalu. Trauma menjalin kasih dengan perbedaan status sosial membuatnya berada di situasi terendah dalam hidupnya.
Dapatkah Lian bangkit dari ujian yang datang bertubi-tubi di tengah kariernya yang menjulang tinggi.
Novel perdana saya, menceritakan kehidupan seorang Lian di ibukota. Karier dan kehidupan cintanya merubah banyak hal dalam dirinya.
Follow juga akun media sosial
FB : YoejaLove
Instagram : YoejaLove
Happy reading guys 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoejaLove, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Don't Like Monday
Hari Senin adalah hari ribet sedunia bagi lian. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya hari ini. Laporan bulanan, outstanding pekerjaan dari kasus Stella yang harus dia bereskan segera membuatnya hampir tidak berselera makan. Makan siang pun dia terpaksa karena ingin mengisi perutnya dengan benar. Dia butuh banyak asupan makanan untuk menghadapi hari ini.
"Aku butuh kesegaran." Lian membuka kulkas mencari minuman dingin atau sejenisnya. Jangan tanya yang lain, mereka tidak berani mengusik Lian bahkan hanya sekedar bertanya basa-basi. Hari ini setelah meeting internal antar manager keceriaan Lian menghilang entah kemana. Baru kali ini anak buahnya melihat aura dingin di wajah imut Lian yang membuat mereka segan.
-- Flashback On --
"Lian, meeting internal 10 menit lagi ya." Pak Dicky, GM menghubungi Lian melalui sambungan telepon kantor.
"Baik pak."
Diruang meeting sudah ada beberapa manager bagian. Karena posisi manager FAT yang kosong, sementara diambil alih oleh Dicky. Meeting kali ini membahas evaluasi di beberapa divisi dan pembahasan anggaran tahun depan. Kali ini Lian mempresentasikan data yang dimilikinya.
"Berdasarkan data ini bisa kita liat, ada biaya yang perlu dipangkas dan dihilangkan. Mungkin bertahap karena beberapa bagian masih membutuhkan dana pak. Sementara di divisi saya, nilai piutang masih cukup besar ditambah beberapa sumber dana lain harusnya perusahaan tidak sampai kekurangan dana. Saya memerlukan meeting dengan divisi marketing untuk mencapai angka piutang yang diinginkan pak William, sepertinya perlu pendekatan lebih kepada customer-customer ekslusif."
"Apa hubungannya dengan marketing Lian?" candra manager marketing.
"Maaf pak, sangat berhubungan karena marketing adalah jembatan utama antara perusahaan dengan customer kita. Anggaran dana di divisi marketing juga perlu ditinjau ulang pak."
"Apa-apaan kamu, berani kamu mengacak- acak anggaran saya. Tau apa kamu, anak baru kemaren juga!!" Candra tersulut emosi mendengar ucapan Lian.
"Candra kendalikan dirimu. Teruskan Lian!!" Dicky kesal menatapnya tajam. Sementara Lian hanya menghembuskan nafasnya perlahan.
"Point yang sudah saya tandai ini menurut saya perlu dikaji ulang pak. Saya rasa bisa dialihkan ke point lain yang lebih menunjang kepentingan marketing. Mungkin pak Candra dan pak Dicky ada solusi yang lebih baik?" Candra tampak membatu melihat data yang disampaikan Lian nyaris membuka kedoknya. Batinnya memaki-maki gadis mungil di depannya. Lalu dia terkejut mendengar pertanyaan Lian.
"Nan-nanti kita meeting internal saja biar lebih fokus!" Candra sedikit tergagap menanggapi Lian dan menatap tidak suka gadis itu.
"Oke, nanti dijadwalkan." Dicky memberikan keputusan.
Sementara di divisi purchasing pun tak luput dari perhatian Lian. Dia cukup jeli melihat ada ketidakberesan di divisi itu. Karena Mellisa (manager) tidak ditempat, ada staff nya yang mewakili. Dia sedikit cemas melihat Lian mempresentasikan datanya.
"****** lah kau Bu Mellisa. Bisa tamat riwayat kita." Batin Wawan menyesal mewakili Mellisa di meeting kali ini.
Terjadi perdebatan cukup sengit antara Lian da Wawan. Dia masih berusaha menutupi bobroknya divisi pimpinan Mellisa itu.
"Jangan konyol Lian, sistem barumu itu membuat repot!" Wawan.
"Maaf pak, itu bukan dari saya tapi dari management. Bapak bisa baca berkas keputusan meeting manajemen Winata group." Lian mempersilakan Wawan memastikan ucapannya.
"Kamu ikut meeting tapi otak mu dimana?!? Kemana berkas keputusan Winata group. Apa kamu membuangnya!!" Dicky emosi menanggapi pertanyaan tidak berbobot dari Wawan.
"Sial kenapa aku lupakan berkas itu!" Batin Wawan memaki dirinya sendiri." Maaf pak sa- saya..." Tidak selesai ucapan Wawan karena dia terkejut dengan lemparan berkas yang ditujukan kepadanya dari Dicky.
"Saya berbaik hati memberikan salinan untukmu karena harusnya Mellisa yang duduk di kursimu!" Dicky menatap tajam Wawan yang tak bergeming." Ada lagi Lian?"
"Disini sepertinya perlu dilakukan hal yang sama dengan di divisi pak Candra. Hanya saja, saya belum mendapatkan data yang lebih detail pak." Lian menjelaskan datanya kepada Dicky panjang lebar.
Suasana di meeting itu berakhir mencekam. Beberapa kali Dicky menggebrak meja karena perdebatan antar anak buahnya. Sepertinya Lian harus membiasakan dirinya dengan hal semacam ini. Tapi yang membuat Lian cemas karena dia mendapatkan ancaman dari Candra dan Wawan. Dugaan Lian semakin melebar kemana-mana dengan perlakukan 2 orang itu.
-- Flashback Off --
"Alhamdulillah." Lian meneguk habis minuman dingin ditangannya. Minuman itu sedikit membantu mood Lian menjelang sore.
"Li, udah di email." Bu citra membuyarkan lamunannya.
"Ehh, iya Bu." Kembali ke mejanya dia membuka email dan melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan di ruangan Fery, Dicky menyerahkan hasil meetingnya dengan bawahannya tadi dan berdiskusi. "Sepertinya kandidat kuat manager FAT ada pada Lian, pak William tidak salah menilai anak kecil itu." Dicky terkekeh mengingat kejadian di meeting tadi, bagaimana paniknya Wawan dan Candra mendengar presentasi Lian.
"Kamu menertawakan kebodohan bawahanmu?"
"Lian benar-benar membuka kedok mereka dengan cara halus tapi menohok pak, bagaimana tidak membuat panik. Seperti serangan mendadak." Dicky menjelaskan bagaimana meeting itu berjalan dan berakhir dengan suasana tidak menyenangkan.
"Baiklah, tolong bimbing Lian. Anak itu banyak yang tidak suka. Kau khan tahu pak William menyukai pekerjaan anak itu!" Fery.
"Baik pak." Dicky.
Waktu terasa cepat berlalu, sejak tadi Lian terlihat membisu di meja nya. Dia terlihat serius dan fokus menatap layar laptopnya. Beberapa kali mengurut dadanya tidak percaya ternyata korupsi di anak perusahaan Winata group serumit ini. "Terstruktur dan terorganisasi." Batin Lian tidak menyangka. Bunyi telepon mengejutkan gadis itu.
"Lian, ke ruangan saya sekarang." Fery.
" Baik pak." Lian meninggalkan ruangannya menuju ruangan fery.
"Permisi pak." Lian masuk dan duduk di depan Fery. Disitu sudah ada Dicky GM nya.
"Lian, saya sudah membaca hasil meeting tadi. Saya akan naikkan ke management. Nanti kamu saya email salinan berkasnya jika sudah final. Lalu outstanding pekerjaan Stella, tim audit sudah menyatakan close dan tidak perlu direvisi lagi. Kamu bisa bukukan dan kirim aslinya ke kantor pusat Winata Group. Untuk tanda tangan Stella biar saya yang urus. Kamu cetak saja dulu 10 kali ya." Dicky.
"Baik pak, ada lagi?"
"Meeting dengan divisi Candra besok pagi dan setelah makan siang dengan wawan. Kamu sudah siap khan? Pak William meminta kita gerak cepat. Sebentar lagi akhir tahun dan akan banyak event di Winata group. Jadi beliau minta urusan internal diselesaikan secepatnya."
"Baik pak, oiya saya perlu koordinasi dengan divisi pajak. Tapiii... " Lian ragu meneruskan ucapannya.
"Apa Lian, ada apa ?" Dicky dan Fery bertanya bersamaan.
"Sepertinya saya mendapatkan data mentah dari pak Aska. Ada bagian yang kepotong pak. Saya sendiri sudah konfirmasi ke pak Aska tapi nihil."
"Apa maksudmu yang ini." Dicky meminta Lian membaca berkas yang diberikannya.
"Aaahh iya ini pak yang saya cari-cari." Mata Lian berbinar mendapatkan apa yang dicarinya sekaligus meringankan beban berat di kepalanya.
"Yasudah, besok lusa tolong usahakan dokumen Stella selesai dibukukan. Kalau bisa antar ke kantor pusat. Kamu bisa temui pak Dimas disana. Aaahh aku lupa, dia kakakmu bukan?" Fery memberi perintah sekaligus meledek anak buahnya itu.
"Hehehe baiklah, siap pak."
Jam kerja pun berakhir, Lian memutuskan untuk pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Sesampainya di apartemen pun dia langsung mandi lalu menghampiri Wati duduk manis di depan TV.
"Segaarrrnyaaa."
"Ciieeee yang habis jadi trending topik di kantor."
"Trending topik apaan, mbak tahu khan ada apa sebenarnya."
"Hahahaha.. iya iya, mbak tau kok. Udah makan?"
"Udah mbak tadi sebelum pulang diajak pak Dicky sama pak Anggi."
"Di cafe depan itu?"
"He em."
Obrolan malam itu berlanjut membahas pekerjaan Lian, Wati pun tidak menduga jika Lian memiliki kemampuan sejauh itu. Bersyukur sekaligus khawatir dirasakan Wati dan Dimas tentunya.
a world full of zombies hadir lagi menceritakan tentang, Teen, Romantis, dan petualangan 👍😆
Salam kenal dari (Calon Istri vs Mantan Istri) 👋
Semangat terus yaa💪
salam sukses selalu buat thornya dari a world full of zombies hadir lagi 💚🙂
Jangan lupa mampir juga ya di ceritaku 😉
Like sama favorit juga biar bisa saling like tiap update baru 🙂