Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekilas melihatmu
" sayang ,papah pamit ya " Ucap Rio terhadap putri kecilnya.
" papah mau kemana ? " Ucap zahra bertanya dengan raut wajah sedikit muram.
"Sayang , papah mau kembali ke Kota A, Papah punya kerjaan disana.Tapi karena papah rindu zahra , makanya papah mampir kerumah Nenek " Ucap Rio dengan nada lembut.
Rio yang tahu bahwa davina tidak semudah itu untuk di luluhkan.Sehingga dia merasa lebih baik mengalah untuk saat ini.
Rio tahu davina, sedang tidak bisa di ajak kompromi bahkan melihat mukanya saja, Davina tidak mahu selalu berpaling kalo dia lihat.
" Segitu bencinya kamu samaku dav " Gumam Rio dalam hati.
" sayang kamu jadi anak baik ya, nurut sama mamah.Papah akan sangat bahagia kalo zahra jadi anak baik dan patuh sama mamah disini, nanti kalo ada lain waktu , papah akan sesering mungkin mengunjungi zahra, mengajak zahra main ! " Ucap Rio dengan lembut.
" baik pah, zahra janji bakalan jadi anak baik ! tapi papah juga harus janji mampir kesini lagi liat zahra ya " ucap zahra dengan penuh harapan.
Rio pamit untuk pulang, Rio tahu kehadirannya disini tidak akan membuat davina nyaman.Rio memutuskan untuk kembali lagi ke Kota A.Davina juga sepakat agak sedikit melunak bahwa Rio boleh kapan saja melihat putrinya jika ia rindu.
" saya pamit ya ayah ,bu " ucap Rio menyalam kedua mertuanya." aku pamit ya " Ucap Rio
"Hmmm " ucap davina sarkas, Rio membuka pintu mobil , duduk di kursi depan.Rio meninggalkan kediaman davina dengan hati yang sangat berat.Davina tidak juga mau rujuk dengannya.Namun dia menghargai keputusan Davina mantan istrinya itu.
Tiga Hari Kemudian
Kota C kembali pada rutinitasnya. Davina merasa lega setelah kepergian Rio. Beban di pundaknya sedikit berkurang. Ia bisa fokus kembali pada pekerjaannya dan kebahagiaan Zahra.
Sore itu, Davina memutuskan untuk berbelanja kebutuhan harian di supermarket besar dekat pusat kota. Ia membawa Zahra kali ini, karena Ibu Rani sedang ada acara arisan dan tidak bisa menjaga Zahra.
"Mamah, Zahra mau permen cokelat!" rengek Zahra sambil menunjuk rak permen.
"Nanti saja ya, Sayang. Kita beli susu dan roti dulu," jawab Davina sambil mendorong keranjang belanja.
Sementara itu, di sisi lain supermarket, seorang pria tinggi besar dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku sedang berjalan tergesa-gesa. Keringat tipis membasahi dahinya. Itu adalah Adit.
Hari itu sangat melelahkan bagi Adit. Ia baru saja menyelesaikan rapat maraton dengan investor dari luar negeri selama enam jam tanpa jeda. Tenggorokannya kering, dan kepalanya pening. Ia butuh minuman dingin dan udara segar sejenak sebelum melanjutkan pekerjaan di kantor cabang kota.
Adit masuk ke area minimarket di dalam supermarket tersebut. Matanya langsung tertuju pada lemari pendingin. Ia mengambil dua botol air mineral dingin dan satu bungkus rokok—kebiasaan buruk yang kembali ia lakukan saat stres melanda.
Saat ia berjalan menuju kasir minimarket, matanya secara tidak sengaja menyapu area lorong utama supermarket yang lebih besar di sebelahnya.
Dan waktu seolah berhenti.
Di antara deretan rak sereal dan susu, terlihat seorang wanita sedang membungkuk, mengambil sebuah kotak susu formula dari rak bawah. Wanita itu mengenakan kaus oversized berwarna krem dan celana jeans sederhana. Rambutnya diikat asal-asalan, beberapa helai rambut lepas menutupi lehernya.
Jantung Adit berhenti berdetak sesaat.
Postur tubuh itu. Cara wanita itu menunduk. Bahkan cara jari-jarinya memegang kotak susu... semuanya begitu akrab. Begitu familiar.
Davina?
Batin Adit berteriak. Tidak mungkin. Sudah tujuh tahun. Tapi instingnya, hatinya, seluruh sel tubuhnya berteriak bahwa itu adalah dia.
Adit lupa pada hausnya. Lupa pada rokok di tangannya. Ia melangkah cepat mendekati lorong tersebut, matanya terkunci pada sosok wanita itu.
Namun, tepat saat Adit hendak memanggil, wanita itu berdiri tegak, memasukkan kotak susu ke dalam keranjang belanjanya, dan berbalik arah—menuju ke arah kasir self-service yang berada di sudut berbeda, jauh dari pandangan Adit saat ini.
"Tunggu..." bisik Adit.
Ia mempercepat langkahnya, hampir berlari kecil, mendobrak sopan santunnya sebagai pengusaha sukses. Ia harus memastikan. Ia harus melihat wajahnya.
Adit menyusuri lorong, melewati beberapa pembeli lain yang memandangnya aneh karena terburu-buru. Saat ia sampai di tikungan lorong tempat wanita itu terakhir terlihat, koridor itu kosong. Hanya ada beberapa ibu-ibu lain yang sedang memilih sayuran.
Wanita itu sudah hilang.
Adit bernapas berat, dadanya naik turun. Ia menoleh ke kiri dan kanan, mencari-cari. Apakah dia salah? Apakah itu hanya ilusi karena kelelahan?
Tidak. Ada sesuatu yang berbeda. Aura wanita itu... itu adalah aura Davina.
"Davina..." gumam Adit, suaranya parau.
Ia segera keluar dari area minimarket, lari kecil menuju pintu keluar supermarket, berharap wanita itu belum jauh. Hujan rintik-rintik mulai turun di luar. Area parkir dipenuhi mobil dan orang-orang yang membuka payung.
Adit menyapu pandangannya ke segala arah. Matanya tajam, mencari sosok wanita dengan kaus krem dan ikatan kuda.
Tidak ada.
Atau mungkin ada, tapi tertutup oleh lautan payung dan kerumunan orang.
Adit berdiri terpaku di depan pintu kaca otomatis, air hujan membasahi bahu jasnya yang ia kenakan tadi pagi. Kekecewaan yang mendalam merayap di hatinya. Ia begitu dekat. Begitu dekat dengan jawaban atas pencarian tujuh tahunnya.
"Tuan Adit?"
Suara asistennya, Rangga, terdengar dari belakang. Rangga datang membawa tas belanjaan Adit yang tadi sempat tertinggal di konter minimarket.
"Ada apa, Tuan? Anda kelihatan... bingung," tanya Rangga.
Adit tidak menjawab. Ia masih menatap kerumunan di luar. "Rangga... kamu lihat seorang wanita tadi? Pakai kaus krem, rambut diikat asal ?"
Dimas mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Wanita? Di dalam supermarket? Banyak sekali, Tuan. Saya tidak memperhatikan spesifik."
Adit menghela napas panjang, rasa frustrasi mencampuri keputus asaan. "Sudah. Ayo pulang."
Di Dalam Mobil Davina
Davina duduk di kursi pengemudi mobil hatchback miliknya. Zahra sudah tertidur pulas di kursi belakang, kelelahan setelah berkeliling supermarket.
Davina menghela napas lega. Belanjaan sudah selesai. Ia menyalakan mesin mobil, mengatur AC agar tidak terlalu dingin untuk Zahra, dan perlahan mengeluarkan mobil dari slot parkir.
Saat mobilnya melewati pintu keluar supermarket, Davina melirik spion samping. Ia melihat sekilas seorang pria tinggi berdiri di dekat pintu masuk, tampak termenung menatap hujan. Pria itu mengenakan kemeja putih dan terlihat sangat tampan, meski wajahnya tampak samar karena jarak dan kaca mobil yang mulai berembun.
Davina hanya melirik sekilas, tidak merasa kenal. Baginya, itu hanya orang asing yang mungkin sedang menunggu seseorang atau sekadar menikmati hujan.
"Pelankan sedikit, Dav. Hati-hati licin," gumamnya pada diri sendiri, fokus pada jalan di depannya.
Mobil Davina melaju lancar menembus hujan, menjauh dari pusat perbelanjaan, menjauh dari Adit yang masih berdiri terpaku di sana.
Davina tidak tahu bahwa pria yang baru saja ia lewati adalah mantan kekasihnya, pria yang selama tujuh tahun terakhir terus mencari jejaknya. Dan Adit pun tidak tahu bahwa wanita yang baru saja ia lewatkan adalah cinta sejatinya yang kini sedang di mobil beberapa meter di depannya.
Dunia seolah memainkan permainan kucing-kucingan yang kejam, mempertemukan mereka dalam jarak yang sangat dekat, namun memisahkan mereka dengan tembok ketidaktahuan.