Praya Asteria, gadis Muda berumur 22 tahun yang rela menjadi istri kedua karena cinta, Asteria dinikahi pria tampan berwibawa berumur 37 tahun, pria itu menikahi Asteria hanya untuk memuaskan nafsunya saja di karenakan istri tercinta yang sedang sakit dan tidak bisa melayani sebagai seorang istri yang seutuhnya, Praya mencintai dengan tulus suaminya tapi tidak dengan suaminya yang bernama bara, karena sejak awal bara menikahi Praya hanya untuk di jadikan teman tidurnya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daisha.Gw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
haus kasih sayang
Bayang-bayang Dikta saat di supermarket terus mengganggu pikiran Praya, semua usaha Praya yang berusaha menghilang dan pergi jauh dari kehidupan Dikta... terasa sia-sia, empat tahun yang ia habiskan di kota orang sendiri terasa tidak berguna, Jika akhirnya ia di pertemukan lagi dengan masa lalunya.
"Praya" Praya terlonjak kaget saat ayu menyentuh pundaknya, padahal ayu juga tidak berteriak, tapi karena pikirannya yang kemana-mana, jadilah Praya kaget begitu.
"kamu kenapa, pra, Sampai kaget gitu, jangan melamun nggak baik" tegur ayu, Praya terus menggerakkan alat pel nya kesembarang arah, tanpa sengaja alat pel itu mengenai kaki yang beralaskan sepatu hitam mahal.
"maaf, pak, saya tidak sengaja" Praya menunduk dan mengusap-usap punggung sepatu itu, tanpa praya tau siapa pemiliknya.
"CK" decakan kesal si pemilik sepatu membuat Praya mendongak.
"mas..." lirih Praya dengan suara pelan, wajah bara benar-benar tidak bersahabat, dengan kasar bara menyentak kakinya dari pegangan Praya, Praya yang tumbuh kecil dengan sangat mudah terdorong karena kelakuan Bara. tanpa mau melihat kebawah, Bara memembenarkan dasinya yang sama sekali tidak berantakan.
"kerja yang benar" ucap Bara dingin dan berlalu dari sana. cepat-cepat ayu membantu Praya berdiri, di tatapnya wajah sang sahabat yang sudah berkaca-kaca karena ulah atasan mereka.
"jahat Banget" lirih Praya, ayu sungguh tidak tega melihat sahabatnya, tapi apa yang bisa Meraka lakukan, Meraka hanyalah pekerja kebersihan yang sama sekali tidak ada nilainya di mata seorang pemimpin perusahaan seperti bara, ayu memeluk sang sahabat, di usapnya lembut punggung Praya yang mulai bergetar.
"udah nggak papa, anggap semuanya nggak pernah terjadi, ok" Praya Mengangguk di pelukan ayu.
....
"masuk"
"Sibuk Banget, bang" Bara mengangkat kepalanya, pria itu Menyunggingkan senyum, ia tutup berkas di hadapan dan mendekati Dikta, Bara merangkul hangat pria muda berkarisma itu
"apa kabar dik"
"Alhamdulillah sehat bang, Abang sendiri gimana?"
"Alhamdulillah, duduk dik"
"jadi gimana, kamu bakal menetap di sini, atau kembali ke sana"
"kayaknya aku bakalan tetap di sini bang" Bara menepuk pundak Dikta.
"Main kerumah dik, ketemu Mbak Dista"
"siap bang, entar kalau semuanya sudah beres" mengalir lah obrolan di antara dua pria yang berbeda usia itu.
....
Praya tidak langsung pulang, suasana hatinya sedang benar-benar kacau, Praya lebih memilih menghabiskan sisa waktunya dengan menunggu matahari terbenam di pantai. angin yang berhembus menerpa wajah teduh Praya, rambut-rambut halus pun berterbangan tidak beraturan.
Praya tidak pernah memimpikan bisa menjadi wanita kaya bergelimang harta dengan menerima tawaran Bara untuk menjadi istirnya, tidak pernah sekalipun muncul di pikirannya bisa menjadi nyonya rumah di keluarga bara, Praya hanya membutuhkan sosok dewasa yang bisa menyayanginya, sejak kecil Praya kehilangan sosok orang tuanya, Praya mencintai bara tulus dari hatinya, sikap dewasa bara membuat Praya terpikat akan pesonanya, Praya bisa menemukan sosok orang tua pada bara, umur mereka terpaut cukup jauh, tujuh belas tahun perbedaan umur mereka, Praya 17 tahun lebih muda dari Bara, Praya tidak pernah menuntut nafkah sedikitpun pada Bara, cukup di belikan eskrim saja Praya sudah sangat bahagia, karena yang Praya butuhkan cinta juga kasih sayang suaminya.
"Gini ya, hidup tanpa kasih sayang orang tua, haus Cinta" monolog Praya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum mengenaskan, kepalanya bertumpu pada lututnya yang terlipat di depan dada, sudut matanya mulai mengeluarkan airnya, ponsel di dalam tas tidak lagi Praya hiraukan, entah siapa yang sejak tadi menghubunginya, Praya tidak peduli sama sekali, yang ia butuhkan sekarang adalah ketenangan.
matahari terbenam benar-benar terlihat cantik, warna jingga terang bercampur kuning begitu menyejukkan pandangan. Praya tetap duduk di posisi yang sama sampai langit berubah menjadi gelap, bukan gelap malam saja, tapi sepertinya hujan deras sebenar lagi akan turun juga, petir menyambar membuat Praya tersentak ketakutan, Praya benci berada di situasi ini, Praya benar-benar tenggelam dalam perasaan kacaunya, sampai tidak lagi memperhatikan kondisi langit yang sebenarnya Sudah mendung sejak tadi.
Jedar!!!!
silih berganti Sambaran petir terdengar memekikkan pendengaran. Dengan tergesa Praya pasang lagi tas ranselnya dan bergerak kembali pulang, tapi naas, hujan deras mulai turun, tidak Ada tempat yang Praya lewati untuk di jadikan tempat bernaung, Praya terus berlari di tengah guyuran hujan, tanpa memperhatikan jalan
"aaakh" Praya tersungkur karena kakinya tersandung batu besar di tengah jalan, air mata wanita itu tersamarkan dengan derasnya air hujan.
area lututnya terluka, celana jeans yang ia kenakan bahkan sampai robek.
"akkh, perih" rintih Praya.
dari arah depannya, ada mobil yang lampunya menyorot kearahnya, Praya berangsur mundur saat mobil itu mulai mendekat.
"Mas Bara" monolog Praya, benar saja dugaannya, mobil hitam mewah itu milik Bara, Praya meneguk salivanya saat pria berwajah tegas itu turun dari dalam mobilnya. Mata pria itu menyorot tajam, ia tarik secara paksa Praya untuk masuk ke dalam mobilnya.
"mas! lepas, sakit mas" Praya memberontak, tapi apalah daya, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Bara.
Brak!!! dentuman pintu mobil membuat Praya tersentak.
"Pasang sabuk nya" perintah Bara dengan tegas, Praya tidak bergeming, tidak ia hiraukan ucapan Bara.
"PASANG, SAYANG BILANG PASANG!" akhirnya Bara sendiri yang memasangkan secara paksa sabuk pengaman Praya. Dengan kecepatan tinggi, Bara lajukan mobilnya tanpa peduli dengan pengguna jalan lain, Praya hanya bisa berdoa untuk keselamatan mereka, Praya tidak berani menegur saat Bara dalam mode marah.
Bara melirik luka di lutut sang istri, pria itu berdecak kesal.
"Banyak tingkah" ucap Bara yang kembali melukai hati Praya.
Bara turun lebih dulu saat mobilnya sudah terparkir di pekarangan rumah Praya, takut-takut Praya mengekori di belakang. keduanya hanya diam, tidak ada yang ingin memulai obrolan, Praya lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. di dalam kamar mandi Praya duduk bersandar di dinding kamar mandi, sudah sejak tadi sebenarnya ia selesai mandi, tapi Praya takut keluar dan menemui bara.
"Praya! keluar dari sana atau saya dobrak pintu kumuh itu" Praya memeluk tubuhnya erat, terserah Jika memang Bara ingin mendobrak pintunya. sepertinya Bara tidak main-main dengan ucapannya,pria itu sungguh mendobrak pintu kamar mandinya, hanya butuh satu kali tendangan, pintu lusuh itu berhasil di dobrak.
Praya berangsur mundur saat ia lihat pria itu berdiri dengan wajah tidak bersahabat di ambang pintu.
"mas..." Dengan langkah besar, Bara mendekati Praya, ia tarik kasar pergelangan istrinya tanpa memperdulikan tangisan sang istri.
"mas, sakit mas... lepas" Praya berusaha melepaskan cengkraman tangan bara dari pergelangan tangannya, pria itu mendorong kuat tubuh kecil Praya ke atas kasur