Ignazio Demetrios pria tampan dan beriwabawa, juga seorang pebisnis yang sukses di segala bidang. Di Usianya yang menginjak kepala empat masih saja melajang, bahkan ia mendapat julukan perjaka tua dan pria impoten.
Seumur hidupnya ia baru tertarik pada wanita belia yang berumur dua puluh lima tahun bernama Fiona Havelaar.
Satu hal yang tak pernah Fiona bayangkan, menikah dengan pria tua yang seumuran dengan pamannya membuat ia merasa jijik dan menyembunyikan pernikahannya dari teman kampusnya. Menikah dengan pria tua seperti aib yang harus Fiona tutupi rapat-rapat. Mampukah Fiona menyimpan aib yang ia sembunyikan di tengah gempuran Zio yang ingin menunjukkan bahwa dia pria normal? Yuk ikuti kisah Zio & Fiona
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pengantin
Fiona turun dari taksi yang ia tumpangi, ia kembali ke klinik tersebut. Penjaga klinik tampak tidak berjaga. Fiona naik kembali ke lantai dua. Ia mengetuk pintu ruangan dokter Velisa.
Pintu terbuka perlahan menampilkan wajah tenang Ignazio. Fiona yang terkejut refleks mundur satu langkah saat Ignazio berjalan ke arahnya.
“Ayo pulang,” Ignazio menyambar tangan Fiona dan menariknya.
“Aku tidak mau pulang, lepaskan.” Fiona berusaha menarik tangannya, namun ia tidak mampu mengalahkan kekuatan Ignazio.
“Aku benci kamu, dan aku menyesal telah menikah denganmu.”
Ignazio melepaskan tangan Fiona, ia menatap lekat-lekat wajah istrinya. “Seharusnya aku yang membencimu, bukan hanya aku tapi anak yang ada di rahimmu. Darah dagingku, yang hampir kamu habisi nyawanya!”
Bibir Fiona diam membisu. Tangannya mengepal sangat erat. “Kalian sumber masalah di hidupku.”
“Kamu yang membuat hidupmu lebih runyam, bukan kita!”
Ignazio menarik Fiona untuk turun melewati tangga menuju tempat parkir.
Ignazio membawa Fiona masuk ke dalam mobilnya. Namun Fiona menolak untuk masuk. “Aku tidak mau ikut denganmu.”
Gadis kecilnya ini selalu berhasil membuat Ignazio naik darah. Ignazio menyambar bibir Fiona di depan umum tanpa permisi, ia menghisap lebih liar dari biasanya.
Tangan Fiona berusaha mendorong dada Ignazio agar menjauh, namun tidak berhasil. Ia menginjak kaki Ignazio sekuat tenaga.
Ignazio melepaskan ciu’mannya dan menatap Fiona tajam. Dari sekian wanita, kenapa Ignazio harus mencintai Fiona yang bahkan tidak mencintainya. Gadis kecilnya ini selalu saja memberontak, dan membuatnya naik darah. “Ayo masuk dan pulang, atau a-“
Fiona segera menyela ucapan Ignazio. “Akan mengadukan aku yang jatuh cinta pada Rangga kepada orang tuaku iya? Aku tidak takut, orang tuaku sudah tahu.”
Ignazio cukup terkejut, namun sebisa mungkin ia tetap tampil tenang.
Fiona melirik ke arah kiri kala mobil sport dengan suara yang terdengar berisik mendekat, mobil tanpa penutup membuat Fiona bisa melihat siapa yang mengemudi. Rangga bersama Razita.
Fiona segera masuk ke dalam mobil, ia mengambil alih kunci yang sedang di pegang Ignazio. Fiona duduk di balik kemudi. Tidak ingin ketinggalan Ignazio ikut masuk di kursi penumpang samping Fiona.
Fiona mengendarai mobil cukup kencang. karena takut kehilangan jejak Rangga yang membawa mobilnya cukup kencang.
Jalan berbelok serta persimpangan membuat Fiona kehilangan jejak Rangga.
Fiona memelankan laju mobilnya, ia memutuskan untuk berbelok ke arah kiri. Jalanan yang cukup sempit. Dari kejauhan Fiona melihat mobil yang di Kendarai Rangga terparkir di depan salah satu rumah, beserta kendaraan lainnya.
Fiona keluar dari mobil, ia berjalan menuju rumah tersebut. Tidak ingin ketinggalan Ignazio mengikuti langkah istrinya.
Fiona pergi ke samping rumah, dari luar terdengar kebisingan dari dalam seperti suara orang-orang mengobrol. Ia mengintip dari jendela yang tirainya tidak tertutup rapat.
Fiona merasa sakit hati saat melihat Rangga yang menggandeng tangan Razita di depan semua orang. Bahkan ia mencium kening Razita.
Razita dan Rangga menarik diri dari kerumunan. Mereka duduk di sofa panjang yang berada tepat di samping jendela tempat Fiona bersembunyi. “Kamu dapat dari mana uang untuk kita berpesta?”
“Dari gadis bodoh,” jawab Rangga dengan entengnya.
“Maksudmu siapa gadis bodoh itu sayang?” Suara Razita terdengar mengayun dan sangat manja.
Fiona melihat Rangga yang menc’ium bibir Razita dengan penuh nafsu. “Adik iparmu.”
Bibir Razita tersenyum, kali ini ia menyambar bibi Rangga lebih dulu.
Fiona pergi dengan hati yang teramat sakit. Ignazio sedikit bersorak, kini kebusukan pria itu sudah terbongkar.
Fiona masuk ke dalam mobil, ia melajukan mobilnya setelah memastikan Ignazio duduk. Fiona menginjak pedal gas dalam-dalam hingga mobil melaju dengan cepat.
Ignazio bersandar, duduk dengan santai memandang jalanan.
Beruntung malam itu jalanan cukup lenggang. Fiona memukul-mukul setir. “Sialan ... Sialan kamu Rangga!”
Mata Ignazio menyipit, bibirnya meringis kala mendengar teriakan Fiona yang melengking.
Ignazio terkejut saat Fiona membanting setir hingga mobil mereka menabrak pohon.
Fiona keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah lebarnya menuju mini market.
Ignazio keluar dari mobil, saat melihat asap tebal yang keluar dari kap mobilnya. Ia memandang bagian depannya yang penyok terkena pohon. “Mobil kesayanganku,” cicit Ignazio sembari memandangi mobilnya yang bernasib nahas di tangan Fiona.
Dengan langkah lesu Ignazio berjalan menghampiri Fiona yang duduk di salah satu meja yang terdapat di pelataran mini market. Kelopak Ignazio membulat kala melihat setumpuk makanan berada di atas meja, beberapa botol minuman dingin berjejer dengan rapi.
Tangan Ignazio hendak mengambil salah satu minuman dingin milik Fiona. Baru saja tangannya menempel pada botol sudah di pukul oleh telapak tangan Fiona.
“Jangan di ambil itu milikku!”
Ignazio mengurungkan niatnya, ia memilih masuk ke dalam mini market untuk memesan es kopi.
Ignazio kembali ke meja Fiona dengan satu gelas es kopi. Ia memandangi wajah istrinya yang tampak sedih, sementara mulutnya mencabik-cabik roti dan memasukkannya ke dalam mulut hingga mulutnya penuh. Ignazio menahan tawanya melihat wajah Fiona yang menggemaskan dengan mulut penuh dan wajah sedih.
“Jangan menertawaiku!” Fiona memukul bahu Ignazio dengan salah satu botol minumannya.
Satu jam berlalu Fiona masih sibuk mengunyah makanan miliknya, pandangannya kosong ke depan tapi tidak mengeluarkan air mata setetes pun.
“Pulang yuk,” ajak Ignazio.
“Aku tidak mau pulang, kamu saja duluan.” Fiona memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya.
Ignazio masih sabar menunggu Fiona. Ia duduk dan memesan kopi keduanya.
Tiga jam setengah Ignazio menemani Fiona yang menghabiskan setumpuk makanannya. Ignazio memandang lima gelas kopi yang isinya sudah kosong.
Fiona masih mengunyah biskuit coklat terakhirnya. “Ayok pulang.”
Fiona mengangguk dengan pasrah karena perutnya sudah begah dan kepalanya sedikit berdenyut.
Ignazio berdiri, ia menunggu Fiona berdiri untuk berjalan beriringan. Bukannya berdiri Fiona malah merentangkan kedua tangannya. “Gendong aku tidak bisa berjalan, perutku begah.”
Saat Ignazio berjongkok di depan Fiona, ia segera naik ke punggung suaminya. Tangan Fiona melingkar di leher Ignazio, sementara kepalanya bersandar ke kepala Ignazio.
Ignazio berjalan menuju mobil mereka. “Ah sial aku lupa kalau mobil kita rusak.”
“Ke hotel saja,” usul Fiona. Perutnya sudah sangat begah dan Fiona ingin segera melentangkan tubuhnya.
Ignazio menyetujui keinginan Fiona, apalagi ini hal yang sangat menguntungkan ia bisa mengok calon anaknya.
Sampai di depan kamar Fiona masih di gendong di punggung Ignazio. Pandangannya tertuju pada kamar hotel yang di dekor untuk pengantin baru dengan hiasan mawar merah.
Ignazio menurunkan tubuh Fiona di pinggiran tempat tidur. Nafasnya cukup terengah, ternyata bobot Fiona tidak senteng perkiraannya.
Tubuh Ignazio berbalik menghadap Fiona. Kali ini Fiona baru menyadari Ignazio yang tampil rapi menggunakan tuksedo lengkap dengan dasi.
Jemari lentik Fiona melilit dasi Ignazio dan menariknya hingga tubuh Ignazio condong ke arahnya. Fiona terdiam sebentar memandangi wajah suaminya. Ignazio memang cukup tampan, meskipun usianya sudah tak muda lagi.
Ignazio cukup terkejut saat tiba-tiba Fiona menc’iumnya lebih dulu. Ignazio tidak akan menyia-nyiakan waktu, ia segera membalas ciu’man Fiona dengan penuh hasrat.
mksh kak bonusan Babnya lope lope sekebon cabe 💜💜💜💜