Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.
Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vanessa Diadopsi
Bab 1
Rumah keluarga Maheswari selalu terasa hangat dan penuh tawa setiap harinya terutama saat aku ada di tengah-tengah mereka. Namaku Maya Anindya Pratama dan aku adalah anak bungsu sekaligus satu satunya anak perempuan di rumah ini. Ayahku Bima Pratama adalah orang yang dihormati banyak orang dan di matanya aku selalu menjadi harta paling berharga yang pernah dimilikinya. Ibuku Ratna selalu memelukku dengan lembut dan tidak pernah melepaskan tanganku terlalu jauh darinya. Di depanku ada tiga kakak laki laki yang selalu melindungiku dari apa pun Kakak Dika yang paling tua selalu menjadi pelindung yang tegas Kakak Rizky yang kedua selalu ada untuk mendengarkan ceritaku dan Kakak Arka yang paling muda di antara ketiganya adalah sahabat sekaligus kakak yang paling sering tertawa bersamaku. Tidak ada satu hal pun yang kurang dalam hidupku setiap keinginan selalu dipenuhi setiap langkah selalu dijaga dan setiap senyum selalu disambut dengan senyum yang sama tulusnya. Aku tumbuh dengan percaya bahwa semua orang pada dasarnya baik dan kasih sayang itu adalah hal yang tidak akan pernah berubah.
Hingga suatu hari yang mengubah segalanya Ayah dan Ibu pulang membawa seseorang yang baru ke dalam rumah kami. Saat itu sore hari langit berwarna jingga keemasan dan cahaya matahari masuk lewat jendela besar di ruang tamu menyinari sosok gadis kecil yang berdiri di samping Ibu dengan wajah yang tampak malu malu namun tersenyum manis. Namanya Vanessa katanya dia seumuran denganku dan mulai hari ini dia akan tinggal bersama kami sebagai anak yang diadopsi oleh Ayah dan Ibu. Aku berdiri terpaku di tempatku berdiri menatap gadis asing itu dengan perasaan bingung yang tiba tiba muncul di hatiku. Tidak ada yang memberitahuku sebelumnya tidak ada yang bertanya apakah aku setuju atau tidak semuanya sudah diputuskan dan disampaikan kepadaku sebagai sesuatu yang sudah pasti terjadi.
Ayah meletakkan tangannya di atas bahu Vanessa dengan senyum yang hangat persis seperti senyum yang dulu sering ia berikan kepadaku dan berkata kepada kami semua bahwa mulai hari ini Vanessa adalah bagian dari keluarga kami dan harus diperlakukan seperti saudara kandung sendiri. Ibu langsung menggenggam tangan Vanessa dan membawanya berkeliling mengenalkan setiap sudut rumah yang selama ini menjadi tempatku bermain dan tumbuh besar. Ketiga kakakku menyambutnya dengan sopan karena itu yang diharapkan dari mereka dan karena mereka percaya pada keputusan Ayah dan Ibu. Hanya saja aku melihat sesuatu di balik senyum manis Vanessa saat ia menoleh ke arahku sejenak tatapannya terasa tajam dan penuh perhitungan meski seketika itu juga berubah kembali menjadi tatapan yang lemah dan polos seolah olah aku hanya membayangkannya saja.
Hari hari pertama kehadirannya berjalan dengan baik atau setidaknya terlihat seperti itu. Vanessa selalu bersikap sangat sopan kepada semua orang ia selalu menundukkan kepala saat berbicara ia selalu menawarkan bantuan kepada siapa pun dan ia selalu tahu hal apa yang harus dikatakan agar orang lain merasa nyaman di dekatnya. Ayah memujinya sebagai gadis yang sangat baik hati dan penuh perhatian Ibu sering membandingkan sifatnya yang tenang dengan sifatku yang kadang terlalu ceria dan berisik. Ketiga kakakku pun perlahan mulai merasa nyaman dengannya karena Vanessa selalu bisa mendengarkan dengan sabar dan memberikan pujian di setiap hal kecil yang mereka lakukan. Aku berusaha menjadi saudara yang baik aku mengajaknya bermain aku mengajaknya berkeliling dan aku berusaha berbagi segala hal yang aku miliki. Namun setiap kali aku mendekat aku selalu merasakan ada jarak yang tidak terlihat yang menjaga dirinya tetap terpisah dariku seolah olah aku bukanlah saudaraku melainkan sesuatu yang harus disingkirkan perlahan lahan.
Semakin lama aku mulai menyadari bahwa segala sesuatu yang dilakukan Vanessa selalu memiliki tujuan tersendiri. Ia selalu membantu Ibu di dapur tepat pada saat Ayah pulang bekerja sehingga Ayah selalu melihatnya sedang berbuat baik. Ia selalu membawakan minuman kesukaan Kakak Dika tepat saat ia sedang lelah sehingga Kakak Dika selalu memujinya sebagai gadis yang sangat perhatian. Ia selalu bertanya kepada Kakak Rizky tentang hal hal yang ia ketahui Kakak Rizky sukai sehingga Kakak Rizky merasa bahwa Vanessa adalah orang yang sangat memahaminya. Dan kepada Kakak Arka ia selalu tertawa pada setiap lelucon yang diucapkannya bahkan saat lelucon itu tidak lucu sama sekali sehingga Kakak Arka merasa bahwa tidak ada orang yang bisa mengerti dan menghargainya sebaik Vanessa. Sementara aku yang tumbuh bersama mereka sejak kecil perlahan lahan terasa tersisih di sudut ruangan yang sama yang dulu selalu penuh dengan kehadiranku.
Suatu sore aku sedang duduk sendirian di beranda belakang menatap ke arah taman yang luas tempat aku sering bermain sejak kecil. Tiba tiba aku mendengar suara percakapan dari balik dinding dekat gudang tua yang jarang dikunjungi siapa pun. Itu suara Vanessa dan ia sepertinya sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon suaranya terdengar berbeda dari biasanya tidak lembut tidak sopan melainkan tegas dan penuh ketegasan yang dingin. Ia berkata bahwa semuanya berjalan sesuai rencana dan bahwa mereka semua sudah mulai tertipu oleh sikap baik yang ia pura pura tunjukkan. Ia juga berkata bahwa aku adalah satu satunya penghalang yang tersisa dan aku harus dibuat terlihat buruk di mata mereka semua sebelum aku sempat menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Jantungku berdegup kencang sekali saat mendengar kata kata itu dan bulu kudukku berdiri seketika. Ternyata dugaan yang selama ini aku simpan sendirian di dalam hatiku bukanlah ketakutan yang berlebihan Vanessa memang tidak datang ke sini untuk menjadi saudara kami ia datang untuk mengambil sesuatu yang milikku.
Aku berusaha memberanikan diri dan berniat menceritakan hal ini kepada Ayah dan Ibu saat makan malam nanti. Namun sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun Vanessa tiba tiba menangis tersedu sedu di hadapan mereka semua sambil menunjukkan luka kecil di pergelangan tangannya yang katanya didapat karena aku mendorongnya saat kami sedang bermain di halaman belakang. Aku terkejut sekali dan segera membela diri dengan mengatakan bahwa aku tidak pernah menyentuhnya sedikit pun dan bahwa aku melihatnya berbicara sendirian di dekat gudang dengan wajah yang tidak pernah ia tunjukkan kepada kami. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mendengarkan penjelasanku. Ayah justru menatapku dengan wajah yang kecewa dan berkata bahwa seharusnya aku yang menjadi kakak yang baik dan bukan sebaliknya. Ibu langsung memeluk Vanessa dengan lembut dan menegurku agar tidak pernah menyakiti adik baruku lagi. Ketiga kakakku pun menatapku dengan tatapan yang tidak setuju seolah olah aku adalah orang yang telah melakukan kesalahan yang sangat besar.
Saat itu aku menyadari sesuatu yang sangat menyakitkan kebenaran saja tidak cukup untuk dipercaya kalau tidak ada satu orang pun yang mau mendengarkannya. Vanessa sudah membangun benteng kepercayaan yang begitu kuat di antara mereka sehingga setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu dianggap benar sementara setiap kata yang keluar dari mulutku mulai dianggap sebagai kebohongan belaka. Malam itu aku kembali ke kamarku dengan perasaan yang hancur dan kesepian meskipun aku tinggal di rumah yang penuh dengan orang orang yang dulu sangat menyayangiku. Aku duduk di tepi tempat tidurku dan memandang ke arah jendela yang menampilkan langit malam yang penuh bintang. Di luar sana terasa sunyi namun di dalam hatiku terasa jauh lebih sunyi dari itu semua. Sejak hari pertama Vanessa datang ia sudah mulai menyusun rencananya satu per satu langkahnya begitu halus dan begitu terencana sehingga tidak ada satu orang pun yang menyadari bahwa mereka sedang dimainkan oleh seorang gadis yang berwajah malaikat namun berhati lain.
Aku tahu bahwa pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai dan aku tahu bahwa aku tidak akan mendapat dukungan dari siapa pun di dalam rumah ini. Namun aku juga tahu satu hal yang belum diketahui oleh Vanessa aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan tetap memperhatikan setiap gerak geriknya aku akan mengingat setiap kata yang keluar dari mulutnya dan aku akan mencatat setiap hal yang tidak beres yang terjadi di hadapanku. Karena aku yakin bahwa kebohongan tidak akan pernah bisa bertahan selamanya dan semakin lama kebohongan itu disimpan semakin besar kemungkinannya untuk terungkap dengan sendirinya. Mungkin hari ini mereka semua membelanya mungkin hari ini mereka semua memalingkan wajah dariku tapi aku akan tetap bertahan sampai hari di mana kebenaran akhirnya terungkap di hadapan mata mereka sendiri.
Malam semakin larut dan rumah perlahan menjadi sunyi. Dari balik pintu kamarku yang tertutup rapat aku masih bisa mendengar suara tawa yang sayup sayup terdengar dari ruang tengah di lantai bawah. Itu suara tawa Ayah Ibu ketiga kakakku dan di antara suara suara itu terdengar suara tawa Vanessa yang paling nyaring dan paling terdengar bahagia. Mereka tertawa bersama seolah olah tidak ada yang hilang dari kumpulan mereka padahal sebenarnya ada satu kursi yang kosong di meja makan dan ada satu tempat di hati mereka yang perlahan lahan mulai ditinggalkan. Aku menarik selimut hingga menutupi sebagian pipiku yang terasa dingin karena air mata yang jatuh tanpa terasa. Aku berjanji di dalam hatiku sendiri bahwa aku akan menjadi saksi bisu dari segala sesuatu yang sedang terjadi dan suatu hari nanti saat semua kebohongan itu runtuh aku akan berdiri tegak di hadapan mereka semua tanpa perlu mengucapkan satu kata pun karena kenyataan sendiri yang akan berbicara jauh lebih keras daripada teriakan apa pun.
Besok pagi akan datang dan Vanessa pasti akan kembali tersenyum seolah tidak ada apa apa yang terjadi. Ia akan kembali bersikap lembut kembali memberikan pujian kembali menangis setiap kali ia membutuhkan simpati. Dan aku akan kembali berdiri di tempatku mengamati mencatat dan bertahan. Karena aku adalah Maya Anindya Pratama dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil tempatku di keluargaku sendiri tanpa memberikan perlawanan yang seharusnya aku berikan.
Bersambung...