Memiliki pacar kaya merupakan impianku. Mengejar cinta pria kaya, walaupun hanya Om-om gemuk. Ada alasan tersendiri mengapa aku melakukannya, hanya untuk merebut perhatian ayahku dari tiga saudaraku yang berhasil memiliki kekasih direktur, dokter dan pilot.
*
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku, terasa kebas."Dasar pelakor!" teriak seorang wanita paruh baya. Aku yang salah karena menyangka suaminya seorang duda, pria tua gemuk yang menipuku.
Hingga pertolongan itu datang. Tetangga kostku yang paling miskin dan pelit. Seorang pemuda dengan celana pendek dan kaos kutangnya.
"Pelakor?Dia bukan pelakor, kami sudah lama menikah,"dustanya. Pemuda yang hanya tersenyum merangkul bahuku.
"Aku minta makan"
"Aku pinjam uang"
"Boleh pinjam komputer?Aku lupa beli pulsa listrik!"
Benar-benar makhluk pengiritan sejati. Hingga pada malam gelap dia berkata.
"Aku meminta anak darimu,"
Satu yang tidak aku ketahui manusia pengiritan ini, adalah konglomerat irit, posesif yang akan menjeratku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Royal
"Jadi tidak boleh parkir disini? Jika tidak boleh berarti aku arus parkir di depan Coco mart di depan. Tapi parkir tanpa membeli apapun akan memalukan." Ucap Raka berfikir.
"Sebenarnya---" Kata-kata Danu yang ingin menghentikan tindakan gila majikannya disela oleh kepala pabrik.
"Aku akan memberimu uang. Ini! Beli apapun di Coco mart kemudian parkirkan sepedamu disana," ucapnya menyodorkan uang 35 ribu rupiah.
Raka meraihnya kemudian menaiki sepedanya ke Coco mart seberang jalan. Membeli roti tawar dan susu kental manis disana. Sedangkan Danu hanya dapat memijit pelipisnya sendiri.
"Kalau tidak salah anak muda itu pacar salah satu karyawati pabrik. Mungkin hidupnya benar-bebar susah. Lihat saja disaat semua anak muda memakai pakaian bermerek dia memakai pakaian pemilu. Ditambah lagi menaiki sepeda tua, sepertinya itu sepeda bekas..." gumam kepala pabrik iba.
Danu mengenyitkan keningnya, melirik ke arah kepala pabrik yang menatap Raka dengan tatapan menyedihkan. Apalagi rantai sepeda pemuda itu sempat lepas di seberang jalan. Kemudian sang pemuda memasang rantai sepeda kembali, mencuci tangan, baru kembali berjalan ke kedai bakso, setelah meninggalkan sepedanya di depan Coco mart.
"Ayo masuk!" ucap Raka menepuk bahu Danu. Hendak berjalan masuk, setelah Danu mengirimkan berbagai ujaran kebencian tentang Fujiko melalui pesan singkat.
"Tunggu! Investor akan segera datang! Kenapa kamu ikut masuk? Aku tidak tau harus menyambutnya bagaimana. Apalagi kamu mengatakan kedatangannya mendadak tanpa persiapan. Tau begini aku membawanya ke restauran mewah saja," sang kepala pabrik menahan tangan Danu agar tidak masuk bersama Raka.
"Kalian menunggu orang? Ada investor lain? Kenapa tidak mengatakannya padaku? Jadi kita tidak membeli lebih dari setengah sahamnya?" tanya Raka, mengira ada masalah dengan cara kerja Danu.
Sedangkan kepala pabrik menoleh pada Raka tidak mengerti dengan kata-katanya. Pemuda yang memakai baju kebesaran dengan foto calon anggota legislatif serta paku besar lengkap dengan nomor urut calon.
"Aku sudah melakukannya dengan baik. Semua data dan perincian dana sudah aku kirim padamu. Bahkan hingga angka koma juga tertera," tegas Danu.
"Di...dia yang berinvestasi?" tanya sang kepala pabrik membulatkan matanya.
Danu mengangguk."Dialah anak tunggal dari Patra, salah satu kandidat pewaris R.U Company. Memiliki saham di beberapa hotel di luar negeri, memiliki sebuah villa pribadi yang juga disewakan. Berinvestasi pada tiga perusahaan dengan nilai saham yang merangkak naik. Tapi sayangnya memiliki syndrom kikir," cibirnya.
"Yang penting gajimu setiap bulan aku bayar." Ucap Raka penuh kebanggaan, satu-satunya kewajiban yang dijalankannya dengan baik memberi gaji. Karena tanpa karyawan dirinya harus sibuk setiap saat tidak dapat menggunakan kaos kutang dan celana pendek, tidak bisa menikmati sepoi-sepoi angin yang menerpa kulitnya.
Danu hanya dapat menghela napas kasar, sudah mengikuti keturunan konglomerat ini dari pria muda yang hanya memiliki modal 1 miliar dari kakeknya. Membuka beberapa minimarket, hingga pada akhirnya merambah pada invetasi properti. Menjual semua minimarketnya yang telah berkembang. Keturunan konglomerat yang hanya lulusan SMU bekerja keras selama bertahun-tahun, hingga pada tahun ke 8 barulah pemuda itu lebih memilih investasi dan hidup tenang di kontrakan murah. Terhitung sudah dua tahun Raka tinggal di tempat kost yang bahkan tidak ada showernya.
"Ta...tapi rantai sepedamu lepas. U...uang yang aku beri---" Kata-kata sang kepala pabrik terbata-bata sedangkan Raka hanya menepuk bahunya kemudian berlalu berjalan masuk.
Sang kepala pabrik tertunduk, jemari tangannya gemetar, beberapa kali pemuda itu mengantar staf dari bagian penyortiran. Apa staf itu pacarnya? Jadi dia mau berinvestasi karena ada pacarnya di perusahaan ini? Mungkin itulah yang ada di benaknya.
Padahal hanya satu kebetulan saja, perusahaan yang diajukan Danu akan menguntungkan adalah perusahaan tersebut. Tidak ada istilah KKN sama sekali.
*
"Kenapa!? Merasa salah bicara!? Wanita penghibur! Menggoda pria mana saja! Berikutnya pria mana lagi yang kamu goda? Tanda di lehermu sebagai buktinya!" bentak Tita yang kali ini menemukan kelemahan Fujiko.
"Kalau aku punya tanda ini kenapa? Itu tidak membuktikan aku gampang untuk ditiduri! Sudah aku bilang ayo kita berdua tes perawan! Jika aku terbukti masih perawan aku akan membawa ini ke jalur hukum! Menuntutmu atas pencemaran nama baik!" bentak Fujiko.
"Kalian membuat malu saja!" tiba-tiba sang kepala pabrik berlari masuk mendengar keributan. Diikuti Danu dan Raka.
"Saling menghujat! Mengatakan kata-kata tidak pantas!" bentak kepala pabrik mendorong dua orang wanita yang beradu mulut agar berpisah.
Tita mulai tersenyum, benar-benar menjengkelkan melihat karyawan senior yang menggoda Nolan. Karena itu inilah kesempatan untuk menjatuhkan, mempermalukan, dan membuatnya dipecat.
"Maaf, saya sebagai junior hanya menasehatinya saja. Tapi Fujiko membentak dan mengancam akan menuntut saya atas pencemaran nama baik. Semua karyawan disini tau dia itu menggoda Nolan dan pak Danu. Ditambah sering memasuki mobil mewah milik pria gemuk. Saya tidak asal menuduh, tapi ini mempengaruhi citra perusahaan. Saya hanya mengkhawatirkan perusahaan tapi malah membuat kakak senior (Fujiko) tersinggung," ucapnya berakting bagaikan ketakutan, hendak berlindung di belakang kepala pabrik.
"Aku memang materialis! Tapi aku tidak menjual diri. Sudah aku bilang ayo kita berdua tes perawan, agar tau siapa yang wanita murahan!" Fujiko tidak mau kalah, menjadi lebih galak lagi.
Dalam hal ini mungkin orang yang tidak menyaksikan akan membela Tita. Tapi orang yang menyaksikan pastilah ada di kedua kubu. Ada yang percaya pada Fujiko yang sudah lama mereka kenal ada juga yang membela Tita, mengingat memang semua mengarah pada Fujiko yang menjual diri.
"Ta...tanda di lehermu." Tita kali ini berakting menjadi wanita tidak berdaya, menunjuk ke arah leher Fujiko kelemahan terbesarnya.
Fujiko terdiam sesaat bingung harus bagaimana.
"Pinjam jasmu!" ucap Raka pada Danu.
"Dasar tidak modal!" Danu melepaskan jasnya, memberikan pada Raka.
Pemuda itu menembus kerumunan, memakaikan jas milik Danu pada Fujiko."Nanti kamu sakit, udaranya dingin,"
Gadis itu tertegun sahabatnya tiba-tiba muncul entah dari mana untuk membelanya. Bukan hanya kali ini tapi sudah berkali-kali pemuda itu datang. Inilah yang dinamakan persahabatan sejati.
"Kamu siapa?" bentak Tita.
"Aku? Aku yang membuat tanda di lehernya. Aku lihat-lihat kamu mengindari taruhan dengan pacarku. Apa kamu yang tidak perawan? Apa ini yang disebut maling teriak maling?" Ucap Raka.
"Aku masih perawan!" Ucap Tita terlihat lantang, mengepalkan tangannya namun bibirnya bergetar.
Inilah jawaban yang ditunggu Raka."Sebenarnya tidak masalah seorang wanita masih perawan atau tidak. Karena itu adalah bagian tubuh mereka, hak mereka. Hanya ikhlas atau tidaknya saja orang yang menikahinya. Jika tidak ikhlas, itu bukan cinta, jadi entah perawan atau tidak aku akan menerima Fujiko sebagai calon istriku."
Sang kepala pabrik malah tersenyum dan bertepuk tangan, mendapatkan tatapan aneh dari orang-orang. Tapi, hanya satu prinsip dalam dirinya, asal bos senang.
"Omong-ngomong kamu menghina pacarku menjual diri kan? Lalu mengatakan dirimu sendiri masih perawan. Bagaimana jika kita buktikan saja mana handphone second dan mana original. Semua orang juga ingin tau kan?" ucap Raka memprovokasi, semua karyawan pabrik setuju, benar-benar dipenuhi rasa ingin tahu.
"A...aku---" Tita mulai terbata-bata.
"Agar lebih seru, aku akan membuat taruhan. Jika pacarku masih perawan dan kamu juga masih perawan maka dianggap seri. Tapi jika salah satu tidak perawan maka harus membayar denda 20 juta rupiah pada yang perawan. Ini menguntungkan bagimu kan? Antara seri dan menang saja, karena kamu sudah pasti perawan," ucap Raka, membuat wanita di hadapannya semakin ketakutan.
"A...aku tidak perlu sampai mengadakan tes, jadi---" Kata-kata Tita disela.
"Menyebut seorang gadis sebagai wanita penghibur. Prilaku yang benar-benar beradab. Karena itu aku berniat memberikanmu 20 juta sebagai imbalan. Takut? Apa sebenarnya kamu yang wanita murahan?" tanyanya.
"Kalau begitu besok aku akan membawa kalian ke rumah sakit! Jika pacarku perawan aku akan menyeretmu ke pengadilan!" tegasnya merangkul Fujiko pergi, beberapa orang memberi jalan pada mereka.
Sebenarnya sampai saat ini Raka tidak mengetahui wanita di sampingnya masih perawan atau tidak. Menurutnya itu tidak penting. Mengeluarkan uang 20 juta, juga tidak masalah untuknya yang terpenting, tidak ada orang yang boleh merendahkan Fujiko. Sifat tidak mau kalah yang sejatinya menurun dari ayahnya.
"Rantai sepedamu rusak! Biar aku antar!" teriak kepala pabrik berlari menyusul mereka.
"Tita! Besok setelah pemeriksaan kamu ke ruangan saya!" kepala pabrik menatap sinis, sebelum keluar dari restauran.
Sedangkan Tita mencoba meyakinkan dirinya sendiri semua akan berakhir seri. Hingga dirinya tidak perlu membayar 20 juta, atau dituntut atas pencemaran nama baik.