NovelToon NovelToon
Cinta Anyelir

Cinta Anyelir

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:106.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nopani Dwi Ari

Tahap Revisi

Tak pernah terpikirkan untuk Anyelir, bahwa mencintai seorang Dika akan semenyakitkan ini. Di tambah perbedaan status sosial di antara dirinya dan Dika, awalnya dia bahagia. Namun, saat ke munculan Jenny dan ancamannya membuatnya pergi dari jangkauan Dika.

"Aku takut cinta membuat ku lemah, walau aku tau cinta itu bisa membuat ku kuat."

*Harap membaca Twin's lebih dulu agar tidak ada yang bingung

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.16

Keluarga besar Yumna dan Jimi bersuka cita atas kehamilan Dela, nanti malam mereka akan mengadakan makan malam bersama, di rumah baru milik Auriga sebagai hadiah kehamilan Dela.

Berbeda dengan yang lain, Lula terlihat tak bersemangat menyambut calon adik barunya tersebut, dan itu terlihat oleh Dela.

"Aku keluar dulu," celetuk Lula, dia berlari ke taman belakang.

"Kenapa Lula?" tanya Yumna.

"Aku gak tahu Bunda, aku akan menemuinya dan mengajaknya bicara." Ujar Dela.

"Ya sudah," balas Yumna.

Dela pun melangkah menuju taman belakang, dia menatap Lula yang sedang melamun menatap senja yang mulai muncul.

"Boleh Bunda, duduk?"

Lula hanya mengangguk dan bergeser sedikit, Lula duduk di kursi panjang seperti ayunan.

"Kamu kenapa sayang?" Dela mengusap lembut rambut Lula.

"Aku gak papa, Bun." Lirih Lula.

"Jangan bohong, Ayahmu gak pernah mengajarkan mu bohong, kan?"

Lula kembali menggeleng, dia pun akhirnya menangis. Dan Dela membawa Lula kedalam pelukannya, menepuk punggung anak gadisnya tersebut.

"Aku senang Bunda hamil, aku hanya takut. Jika terjadi sesuatu sama bunda," cerita Lula.

Belajar dari pengalaman, Lula tidak ingin terjadi sesuatu pada Ibu barunya tersebut. Dia tidak ingin membenci kembali sang adik, cukup Ara yang pernah dia benci.

"Ayah janji, gak akan bikin Bunda hamil. Tapi, Ayah ingkar janji," kesal Lula pada Auriga. Dela melirik Auriga yang baru saja datang.

"Maafkan Ayah sayang, tapi adik bayi ini. Adalah rezeki dari Tuhan, sekarang Lula sudah besar, bisa bantu jaga kehamilan Bunda." Jelas Dela.

Lula tampak berpikir, kemudian dia mengangguk saja.

"Kalau begitu ayo kita masuk, kita harus pulang dan bersiap. Mengumumkan kabar baik ini, pada semua orang." Kata Dela.

"Iya."

Dela pun mengajak Lula masuk, Lula menatap sang ayah. Namun langsung memalingkan wajahnya, Lula masih kesal pada Auriga.

****

Sementara itu di Bandung, Anyelir kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Tapi kini dia dibantu oleh Sekar.

"Lebih baik, Ibu istirahat saja."

"Tidak apa, aku akan membantumu. Lagian kalau tiduran terus gak enak." Kata Sekar.

Lilya dan Adam pun bermain di depan kontrakan Anyelir, terdapat anak-anak sebaya dengan Lilya dan Adam.

"Ibu." Panggil Lilya.

"Ya sayang?"

"Aku suka di sini, kita tinggal di sini saja yah! Jangan di rumah kontrakan kita yang jelek," pinta Lilya.

Sebab sebelumnya dia dan sang adik, tinggal di tempat penampungan rongsok. Itu pun rumahnya tak layak dari kata huni, kontrakan mereka terbuat dari bambu, dan beratapkan seng.

"Tapi ini kan rumah, Kak Cinta."

Lilya cemberut menatap sang ibu. "Disini banyak teman bu, di sana kita berteman dengan tumpukan dus dan botol bekas." Lirihnya.

"Adik pun suka disini," Lilya menunjuk Adam yang bermain dengan riang.

"Sudah bu tidak apa-apa, kalian boleh tinggal di sini. Toh aku hanya sendiri," sahur Anyelir.

"Beneran kak?" tanya Lilya antusias.

"Iya."

"Hore!" pekik Lilya.

Lilya pun kembali bermain dengan teman-temannya, di sekitaran kontrakan Anyelir anak-anaknya memang ramah.

"Nanti aku bantu beresin barang-barang kalian," cetus Anyelir.

"Terima kasih Cinta, Ibu gak tau lagi. Harus berterima kasih dengan apa, kamu baik sekali." Papar Sekar.

Anyelir hanya tersenyum, dia merasakan sendiri sejak kecil. Dia bersama sang ibu, lalu saat lulus SMP sang ibu meninggal dunia. Dia harus kerja untuk kebutuhan sehari-hari, sampai bayar uang sekolah.

***

Malam pun tiba, semua orang telah berkumpul di rumah baru Auriga. Jimi, Zea, Keanu dan Manda pun sudah tiba. Tak lupa keluarga besar Mario dan Wina pun hadir.

"Uncle Dika kemana, Mai?" tanya Dela.

"Katanya mau jemput Jenny, biar terbiasa sama keluarga kita." Balas Maira.

Dela pun berdecak kesal, kenapa Dika menerima Jenny. Dika sendiri sudah sampai di rumah Jenny, dia belum tahu jika Jenny tak pulang ke rumah Alderik.

Saat akan mengucapkan salam, dia mendengar suara Alderik yang meninggi. Tapi nama Jenny di bawa-bawa, membuatnya dia menduga bahwa Alderik tengah memarahi Jenny.

"Daddy berharap kamu dan adikmu itu, tiada dari dunia ini! Adikmu menyebabkan istri ku pergi." Teriak Alderik.

Di samping Alderik, Linda mencoba menenangkan tapi dalam hati dia tersenyum menang.

Dika pun bergegas pergi dari sana, dan menuju rumah Tara. Dengan kecepatan tinggi, Dika menuju rumah Tara.

Berpuluh menit kemudian Dika sudah sampai, dia mendengar teriakan Tara. Dan suara pecahan barang.

Di dalam rumah.

"Tara tenang sayang, daddy marahin aku. Bukan kamu," ujar Jenny, matanya memerah menahan tangis.

Tadi saat dia mendapat panggilan dari Alderik, tak sengaja Tara yang menjawabnya tanpa bersuara. Tiba-tiba Alderik langsung membentak Tara.

"Da-daddy benci aku, dia mau a-aku mati." Pekik Tara.

"Tara tenang." Pinta Jenny.

Kebetulan suster yang selalu menenangkan Tara, sedang berada di luar bersama bibi Maura. Tiba-tiba piring kecil mengenai kening Jenny.

"Akhh.. Tara," lirih Jenny memegang keningnya, yang berdarah.

"Jenny." Panggil Dika, dia baru sampai ke dalam rumah dan tak sempat mencegah Tara.

"Dika."

Dika menghampiri Tara lalu memeluknya dengan erat.

"Tenang Tara, ada aku. Aku kakak mu yang akan melindungi mu," ucap Dika menenangkan.

Tara pun terisak dia menatap kening Jenny yang terluka, Dika terus membelai punggung Tara agar tenang.

"Maaf." Lirih Tara.

"Dimana obatnya?"

"Di kamarnya dekat nakas," jawab Jenny menahan rasa sakit.

Dika pun mendudukkan Tara, dan berlari membawa obat. Setelah mendapatkan obat, dia membawa minum lalu memberikannya pada Tara.

Tara pun sudah mulai tenang, dengan nafas teratur. Dika sendiri melirik Jenny, dia lalu membawa kotak obat. Yang selalu berada di dapur, mengobati luka di kening Jenny.

"Dia tidak pernah hilang kendali seperti tadi," cerita Jenny, Dika pun fokus mengobati lukanya.

"Apakah Ayahmu selalu menyuruh, adikmu mati?" tanya Dika.

"Iya begitulah dia, dia pun ingin aku mati." Kata Jenny lirih.

Jenny menatap Dika yang tengah mengobati keningnya, lalu dia teringat akan gadis yang dia jahati saat gadis itu berada di kontrakannya.

"Maafkan aku Dik, karena aku kamu harus pisah sama orang yang kamu cinta." Bisik Jenny dalam hati.

Dia berjanji akan membantu mencari Anyelir, jika sisa usianya cukup.

Dika pun selesai mengobati luka di kening Jenny.

"Kenapa kamu ada disini?"

"Tadinya aku ingin mengajakmu, ke tempat Dela. Dia ingin merayakan kehamilannya," papar Dika.

Jenny pun mengangguk, tak lama Bibi Maura dan perawat khusus Tara sudah kembali. Dan terkejut mendapati rumah berantakan.

"Nona, ada apa ini? Lalu kenapa kening anda?" tanya Bibi Maura khawatir.

"Tara ngamuk Bi, karena daddy." Lirihnya.

"Maafkan saya nona, saya dan bibi Maura terlalu lama." Sesal perawat tersebut.

"Tidak apa-apa, untung ada Dika yang menolong. Kalian juga berhak memiliki me time," cetus Jenny.

Bibi Maura dan perawat tersebut membereskan kekacauan yang disebabkan oleh Tara, sementara dia dan Dika akan memindahkan Tara ke kamar.

"Makasih Dika," ucap Jenny setelah menyelimuti sang adik.

"Sama-sama, jadi kamu mau ikut aku? Atau beristirahat?"

"Aku di sini aja dulu, lagian aku canggung sama Dela. Aku tahu Dela gak suka sama aku."

"Baiklah kalau begitu, aku pamit."

"Ya hati-hati, maaf tidak bisa mengantarmu."

"Tidak apa-apa."

Dika pun beranjak dari duduknya, dan melangkah keluar dari kamar Tara. Setelah kepergian Dika, Jenny menghembuskan nafasnya dengan berat. Sebab sakit kepalanya kambuh karena hantaman piring kecil, yang di sebabkan oleh Tara.

Bersambung…

Maaf typo

Kalian pasti bertanya kenapa dominan Dika dan Jenny? sedangkan judulnya Cinta Anyelir. Sabar nanti ada part Anyelir dan Dika, jadi jangan pernah bosen baca ceritanya Anyelir dan Dika yah! 💜💜💜

1
Eva Nietha✌🏻
Terimakasih thor karya mu keren
Eva Nietha✌🏻
Luar biasa bnyk tokoh d cerita mu thor
Eva Nietha✌🏻
Ameera hatinya julid ga bersyukur banget
Eva Nietha✌🏻
Ameera kelakuannya buruk sih
Eva Nietha✌🏻
Keren
Eva Nietha✌🏻
Semoga mereka menjadi keluarga
Eva Nietha✌🏻
Seru
Eva Nietha✌🏻
Klo ga hafal2 banget bingung bnyk banget tokohnya .. scara kluarga besar ya 😁😁 terimakasih ya thor bagus ceritanya
AriNovani: Heheh
aku pun kadang bingung kakk, mampir di karya ku yg lain 100 Hari Mengejar Cinta suami mohon dukungannya ya kak 🙏
total 1 replies
Eva Nietha✌🏻
Dela merajuk 😁
Eva Nietha✌🏻
Bapak pecundang tuh alderik
Eva Nietha✌🏻
Baba jimi lg puber Shay
Eva Nietha✌🏻
Ckkk murahan banget Riana
Eva Nietha✌🏻
Ehmm baba jimi jodoh bu sekar
Eva Nietha✌🏻
Lanjut lagi
Eva Nietha✌🏻
Wah dela mulai tanda2 hamidun
Eva Nietha✌🏻
Anye pergi uncle Dika galau
Eva Nietha✌🏻
Seru banget
Eva Nietha✌🏻
Msh stay
Eva Nietha✌🏻
Dari twins menclok kemari 😀😀
wily andriani
apa cuma aku aja yg agak bingung dengan tokoh dalam novel ini.

apakah ada novel sebelumnya yg berhubungan novel ini??
AriNovani: ada Twins judulnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!