Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Matahari bersinar cerah sekali pagi ini. Tak seperti hati dan pikiran Hawa yang rumit. karena sejak diberitahukan perjodohan seminggu yang lalu, Hawa terus memikirkannya. Beliau memberi waktu Hawa untuk memikirkannya lagi. Hampir setiap hari Ibu juga membujuk Hawa.
Hawa melangkahkan kaki menuju kelas dengan pelannya. Tak menyadari seseorang yang memandangnya dengan lekat. Hasby. Melihat Hawa dan menghela nafas pelan. Sama seperti Hawa yang terus memikirkan perjodohan itu. Tapi Hasby selama seminggu ini sudah memutuskan. Tinggal menunggu Hawa.
Bel berdering dengan nyaringnya keseluruh penjuru sekolah. Membuat bahagia semua siswa, karena mereka ingin cepat-cepat menyerbu kantin. Karena cacing-cacing didalam perut mereka sudah demo. Asrina dan Hawa juga berjalan pelan ke kantin. Karena Hawa tadi belum sempat sarapan. Mereka membeli nasi soto ayam dan es teh manis.
"Alhamdulillah akhirnya bisa makan nasi soto yang sangat sangat nikmat" seru Asrina terlewat semangat. Seperti tidak pernah memakannya, padahal hampir setiap hari mereka ke kantin. Hawa hanya tersenyum melihat tingkah temannya itu.
Baru setengah menikmati sotonya dari pintu terlihat Hasby dengan anggota OSIS memasuki kantin dan membuat suasananya bertambah ramai. Hawa ingin segera menghabiskan makannya dan ingin cepat pergi dari sana."kenapa aku seperti ini setiap melihat kak Hasby?" batin Hawa mengaduk-aduk nasi sotonya. "Kenapa kamu Wa?" tanya Asrina heran melihat Hawa memainkan makanannya. Padahal tadi semangat menikmatinya.
"Kenyang" jawabnya tak bersemangat. "Habiskan,jangan membuang-buang rejeki!"
"Iya As, aku tahu"
Akhirnya mereka selesai dan berjalan kekelas, karena waktu istirahat hanya tersisa 5 menit. Mereka berjalan santai tanpa tahu dibelakangnya ada ketua Osis dan anggotanya. Yang berjarak lumayan dekat. "Mau menghindariku" batin Hasby datar. Hawa berbelok masuk ke kelasnya tanpa sengaja melihat kebelakang.
Deg...
"Kak Hasby" bisiknya didalam hati. Hawa langsung berbalik dan segera duduk dibangkunya. Hasby hanya melihatnya sekilas, tapi bagi Hawa tatapannya sangat tajam.
Hawa mencoba menetralkan detak jantungnya sebentar. Sampai terdengar suara guru yang akan memulai pelajaran selanjutnya. Dia menghela nafas pelan dan mulai menyimak pelajarannya.
"Panasnya" seru Asrina memicingkan mata karena silau matahari. Hawa mengulum senyumnya. Tiba-tiba handphonenya bergetar disaku roknya. Hawa berhenti dibawah pohon dan membukanya.
ketaman belakang sekolah bentar
Deg...
Hawa melihat sekitar dan tatapannya bertubrukan dengan tatapan datar Hasby dilantai bawah. "hey Hawa ayooo, kenapa berhenti?" seru Asrina didekat motornya. Siap untuk pulang. "duluan As" Hawa nyengir sambil melambaikan tangannya. Setelah temannya pergi dengan motornya, Hawa memutar langkahnya ke taman belakang sekolah.
Suasana sekolah mulai lengang, karena sudah banyak yang pulang. Hanya tersisa anak-anak yang mengikuti ekstra kurikuler. Sesampainya ditaman belakang, Hawa menahan nafasnya bentar. Melihat Hasby duduk dikursi taman sambil memainkan Smartphonenya. Hawa mulai mendekat perlahan. Merasa ada yang mendekat Hasby mendongak dan melihat Hawa berjalan pelan. Hasby hanya mengawasinya dan menghela nafas.
Seperti orang yang akan dijatuhi hukuman mati saja. Jalannya pelan dan sangat kaku. pandangannya menunduk. "ehemm" Hasby menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hawa. "Apa kak?" tanya Hawa memandang Hasby sebentar. "Ayo jalani perjodohan itu"jawab Hasby datar melihat rumput dibawahnya. Hawa mengerutkan keningnya. "Gak kak, aku gak mau, aku masih sekolah dan masih ingin menggapai cita-citaku." ungkapnya pelan sambil meremas tangannya. Gugup kalau harus berbicara dengan Ketua Osisnya itu.
"Setidaknya kita tidak mengecewakan orang tua kita, jalani perjodohan ini, tapi selama kita masih sekolah. Kita Harus rahasiakan hubungan ini. " papar Hasby. Hawa mendongak menatap Hasby tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. "Apa kakak serius dengan itu?" gumam Hawa pelan. "ehem,iya" menganggukkan kepala perlahan. Karena merasa yakin dengan keputusan yang dibuatnya. Tinggal menanti jawaban Hawa.
"Tapi kak,, "
"Apa? Cepat waktu sudah semakin sore. Kamu mau atau tidak?" ucap Hasby dengan tidak sabar.
Sunggu dilema buat Hawa, sebenarnya Hawa juga ingin bersama Hasby, tapi,,sebagai ketua Osis yang tentu saja banyak penggemarnya dan jadi panutan banyak siswa,, Banyak kebimbangan yang dipikirkannya. Antara iya atau tidak.
Bismillah
Menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. "Iya kak, aku mau tapi janji HARUS DIRAHASIAKAN!" ucap Hawa pelan tapi tegas. "Alhamdulillah, oke. Nanti aku akan bilang papah dan mamah,, kamu tunggu kabar dariku!" ucapnya datar. 'Hmm selalu saja datar'ucap hawa dalam hati. Sempat hening sebentar dan Hawa memutuskan untuk pulang. Karena sudah kesorean. Hasby pun pulang juga.
***
Hasby makan malam dengan orang tuanya. Setelah selesai Hasby mengajak orang tuanya ke ruang keluarga karena ada yang mau dibicarakannya. Setelah papah mamah duduk dan menatap Hasby dengan wajah bingung, anaknya itu menghela nafas pelan.
"Pah Mah,, aku dan Hawa bersedia melakukan perjodohan ini. Mengingat kita masih sekolah kami ingin perjodohan ini dirahasiakan dari semuanya." jelas Hasby dengan tenang. Menatap kedua orang tuanya itu. Mamah dan Papah saling pandang dan tersenyum penuh arti.
"ok, kapan kita kerumah Hawa dan memberi cincin tanda buktinya" ucap Mamah penuh semangat. Papah pun menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum.
"secepatnya mah"
"oke kalau begitu"
mengingat percakapannya dengan Hawa tadi membuat tersenyum singkat. Tanpa Papah Mamah sadari. Mungkin keputusan ini awal dari hubungan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.