Bertemu setelah berpisah selama bertahun-tahun. Sahabat yang pernah mengisi ruang di hatinya. Pertemuan yang tak di sangka akan membuat jalan baru dalam kehidupannya yang kelam.
Sosok pria inilah yang dulunya membuat Rindu Nyaman.
Setelah mereka bertemu lagi, kini Ardian ingin mendapatkan Cinta Rindu secara utuh. Setelah dia terlambat menyadari cinta itu. Ardian berusaha untuk membuat Rindu kembali jatuh cinta padanya.
Status dan masalah yang berat, membuat Rindu ragu untuk membuka hatinya kembali.
Akankah persahabatan mereka berubah menjadi hubungan Asmara yang indah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat baik
***
Prosesi belajar di hari pertama masih belum dimulai. Biasanya akan ada tahap perkenalan antara sesama murid dan guru. Wali kelas 1-5 masih berada di dalam kelas. Para siswa sedang memperkenalkan diri secara bergantian. Rindu mengetuk pintu kelas.
"Selamat pagi, Bu Maaf saya terlambat."
"Masuk, langsung perkenalkan diri kamu."
Rindu masuk dan berdiri di depan kelas. Lalu mulai memperkenalkan diri. Rindu memandangi seisi kelasnya. Beberapa anak menatapnya intens. Tatapan kagum dengan kecantikan Rindu.
"Ok, karena terlambat gimana kalau Rindu kita hukum menyanyi. Setuju …" Bu Yani bertanya ke semua murid. Karena dia seorang guru kesenian, tentu hukuman ini yang akan diberi.
"Setuju ...!" jawab mereka serentak.
"Silahkan Rindu," ucap Bu Yani tersenyum.
"Ermm, lagu apa, Bu?" Rindu yang masih gugup merasa bingung.
"Terserah apa aja," jawab Bu Yani.
Rindu memejamkan mata sejenak. Memikirkan lagu yang tepat untuk dinyanyikan. Rindu menarik napas pelan. Para siswa mulai bertepuk tangan memberinya semangat.
"Erm ... Erm ...."
Di atas bumi ini ku berpijak
pada jiwa yang tenang di hariku
tak pernah ada duka yang terlintas
ku bahagia
ingin ku lukis semua hidup ini
dengan cinta dan cita yang terindah
masa muda yang tak pernah kan mendung
ku bahagia
dalam hidup ini
arungi semua cerita indah ku
saat-saat remaja yang terindah
tak bisa terulang
ku ingin nikmati
segala jalan yang ada dihadapku
kan kutanamkan cinta tuk kasihku
agar ku bahagia
Ku bahagia - Melly Goeslow
Tepukan tangan bergemuruh, semua mata terkesima dengan nyanyian Rindu. Suaranya yang merdu membuat membuat semua orang takjub. Anak-anak bersorak gembira. Beberapa anak cowok sampai bersiul. Rindu tersenyum senang dengan sambutan semuanya.
"Rindu, bagus suara kamu, kamu berbakat jadi penyanyi."
"Terima kasih, Bu. Saya cuma hobi aja."
"Baiklah, silahkan duduk di bangku yang kosong."
"Iya, Bu."
Rindu berjalan ke arah belakang. Hanya satu bangku yang masih kosong di dekat jendela. Di sebelahnya ada anak yang tadi juga terlambat. Rindu pasrah, tidak ada pilihan lain terpaksa harus duduk dengan anak laki-laki itu. Beberapa pasang mata mengekor Rindu berjalan. Rindu membuat mereka terpesona.
"Hai … aku Dimas." Anak itu memperkenalkan diri setelah Rindu duduk di bangkunya.
"Ah, ha i… aku Rindu." Dia menyambut jabatan tangan Dimas sesaat.
"Suara kamu bagus, aku suka."
"Makasih," jawab Rindu canggung.
"Kita temenan ya."
Rindu tersenyum kaku membalas Dimas. Senyuman dengan lesung pipi di kiri yang membuat Dimas ikut senyum.
***
Jam istirahat di kantin
"Dim ...!"
"Mmm ... apa?"
"Di kelas lo ada cewek yang namanya Rindu?" tanya Ardian sambil menikmati nasi goreng.
"Erm, yang tadi pagi telat juga?" Dimas balas bertanya dan menyeruput jus alpukatnya.
"Iya!"
"Ada, sebangku sama gue. Emang kenapa?"
"Hah, enak lo bisa deket-deket cewek. Eh, anaknya asyik kayanya, kenalin ke gue."
"Woiii ... apaan dia aja dingin gitu. Nggak banyak ngomong. Eh, tapi, tadi dia nyanyi di depan kelas."
"Hah? Trus gimana?"
"Suaranya ... beee ... bagus banget. Anak-anak pada bengong denger dia nyanyi," jawab Dimas seraya mengeluarkan kedua jempol tangan.
"Jadi penasaran gue."
"Haha ... apa? jangan bilang lo naksir? Gue saranin jangan deh ... galak!"
"Hahaha gak lah ... gak lah, gue penasaran sama suaranya."
"Errmmm ... Lo tau, tadi gue gak sengaja menyenggol siku dia. Tiba-tiba gue dipelototi, tapi nggak ngomong apa-apa."
"Hahaha … iya, lo lihat tadi pas gue juga gak sengaja nabrak dia, matanya itu seperti mau keluar. Cewek yang model gitu susah ditangani."
"Hahaha ... bener, bener, salah dikit aja bisa KO," ucap Dimas masih dengan tawanya. "Tapi, lo belum lihat pas dia senyum Ardi, lesung pipinya cantik, gue yakin lo bakalan naksir juga," batin Dimas, lalu pandangannya beralih ke arah pintu masuk kantin.
"Ardi ... itu orangnya, lagi jalan ke sini sama Dian."
Ardian menoleh ke belakang. Lalu memberi isyarat ke Dimas dengan menggoyangkan dagunya ke depan dan ke samping. Dimas langsung paham dengan isyarat Ardian.
"Dian ...!" Dimas memanggil Dian agar ikut duduk dengan mereka. Dian yang langsung menoleh mengajak Rindu bergabung.
"Hai ... Ardi, Dimas," sapa Dian saat sampai di depan meja.
"Gabung di sini aja!" ajak Dimas.
Dian pun mengangguk dan duduk di sebelah Dimas, Sedangkan Rindu di sebelahnya. Ardian menunduk menikmati makanannya, lalu melirik sebentar ke arah Rindu dan Dian yang baru saja ikut bergabung.
"Kalian kelihatannya dekat?" tanya Rindu heran dengan sikap mereka seperti sudah lama kenal.
"Erm, kita satu SMP. ini Dimas, kamu udah kenal, kan. Ini Ardian anak kelas 1-3."
Rindu tersenyum tipis. "Dia yang nabrak aku tadi pagi, ternyata temenan sama Dian, huh!" batin Rindu.
Ardian melihat Rindu meliriknya. Mereka saling pandang, sedetik kemudian Rindu mengalihkan pandangannya ke deretan makanan yang ada di kantin.
"Dian, aku beli makanan dulu, kamu nitip apa?"
"Aku pesan jus jeruk aja, makasih ya, Rindu."
Rindu mengangguk dan memberi tanda OK di tangannya. Ardian, Dimas dan Dian mengekori langkah Rindu hingga menjauh dengan mata mereka.
"Dian, lo kelihatanya udah dekat sama Rindu, kok bisa?" tanya Dimas penasaran.
"Kita pertama kali ketemu pas OSPEK kemaren. Gue satu kelompok sama Rindu, orangnya ternyata asyik kalau ngobrol, akhirnya kita dekat."
Dimas dan Ardian mengangguk-anguk mendengarkan.
"Tapi sama gue kok galak dianya?" tanya Ardian.
"Ermm? Ooo itu ... Rindu bilang dia memang nggak suka sama cowok yang pegang-pegang seenaknya. Mode galaknya bisa keluar, lo tadi pagi pegang bahu dia, kan?" Dian balik bertanya.
"Itu karna gue reflek, soalnya ketabrak gue tadi pas lari."
"Ermm, lo minta maaf aja lagi. Dia pasti maafin lo, anaknya baik kok!"
Ardian mengangguk tanda mengerti. Pandangannya beralih ke Rindu yang jalan mendekat.
"Dian, ini jus kamu." Rindu meletakkan jus pesanan Dian dan air mineral serta Roti isi coklatnya di meja.
"Rindu, kamu cuma makan Roti sama minum air mineral aja?" tanya Dian.
"Iya ... aku nggak begitu suka minuman dingin, kecuali yang rasa coklat. Minuman coklat di kantin habis jadi aku cuma beli ini." Rindu menggoyangkan roti isi coklatnya lalu tersenyum.
"Tuhh kan, senyumannya manis. Duhh jantung gue deg deg serrrr...," batin Dimas.
Ardian juga tersenyum mendengar cerita Rindu. Dimas melihat itu. "Ardi, kan, lo pasti naksir juga ...," batin Dimas lagi.
"Rindu." Panggil Ardian, sontak membuat Rindu menoleh padanya. "Aku minta maaf ... soal yang tadi pagi. Aku benar-benar nggak sengaja."
Rindu berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Iya, lupain aja. Udah lewat juga," jawab Rindu tersenyum manis dan membatin, "Untung kamu temannya Dian, kalau gak udah aku cuekin. Huuhhh."
"Aku, aku ... Rindu, sudah dimaafkan juga?" Dimas ikut menyela.
"Iya ... kita temenan sekarang."
Mereka semua tersenyum senang.
"Ok, kalau gitu kita berempat sahabatan ya. Sahabat baik!" kata Dian memberi ide.
Kemudian ide itu disambut Dimas dengan meletakkan tangannya di meja. Ardian, Dian dan Rindu menumpuk tangan mereka di atas tangan Dimas. Dan mereka bersorak mengangkat tangan ke atas.
"Yyeeahhhh ...."
Persahabatan itu pun dimulai. Semakin hari mereka semakin dekat. Tertawa bercanda di manapun mereka berkumpul.
***
aku tunggu kelanjutannya....
☺️
Bagus.. mudah di pahami...
juga menyentuh...
. selalu semangat untuk kakak author....
semoga karyamu semakin berjaya,...
💪💪💪💪☺️☺️
..