Kepindahanku yang mendadak ke sekolah yang baru membawa perubahan besar dalam kisah cinta pertamaku. Bertemu Juan dan jatuh cinta padanya adalah hal terbaik selama masa SMAku. Juan mewarnai hariku dengan banyak romansa.
Tetapi datang seorang pria bernama Nandes yang mengaku jatuh cinta padaku saat pandangan pertama. Dengan gayanya yang slengean membuat aku pusing dengan kelakuannya setiap hari. Mengibarkan bendera perang kepada Juan secara terang-terangan.
Apakah mereka musuh lama? Rahasia apa yang Juan dan Nandes sembunyikan dariku? Dan siapa Meggy yang sering Nandes sebut dan membuat Juan seperti kehilangan kesadarannya?
Penuh banyak pertanyaan dan kisah kasih masa remaja yang dipenuhi rasa suka, cemburu dan patah hati, baca terus kelanjutan Merpati Kertas setiap episodenya.
^*^ Terima kasih kepada teman-teman pembaca yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca karyaku. Tolong klik Like, Favorit dan berikan saran yang membangun. ♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kejujuran : Aku Suka Padamu
Saat Juan dan beberapa temannya naik ke atas panggung. Penonton bersorak-sorai dengan ributnya terutama anak kelas 1 dan 2.
Bintang sekolah mereka akan meluncurkan atraksinya dan bintang sekolah itu adalah pacarku sekarang.
Aku senyum-senyum sendiri melihat Juan yang tampak sangat tampan di atas panggung. Pesona anak band itu memang luar biasa.
Elsa berteriak kegirangan melihat Adam yang duduk di balik drummernya. Sedangkan Juan memegang bass, sang vokalis bernama Leo juga berparas cukup menawan. Pantas saja band ini terbentuk, yang memegang piano sepertinya anak kelas 2 aku tidak tahu namanya.
Hal yang membuatku cukup tercengang adalah Junet yang ternyata menjabat sebagai gitaris di band ini. Aku menemukan alasan kenapa Juan cukup akrab dengannya.
Yang menjadi sebuah pertanyaan adalah kenapa Junet tidak tertular kemacoan dari anggota band yang lain. Itu adalah misteri ilahi.
Mereka mulai menebarkan pesonanya di atas panggung. Berdada-dada seperti selebritis, aku yang melihat itu dari lapangan meringis dengan kelakuan para kakak seniorku itu.
Tetapi siswa perempuan lain malah berteriak kegirangan melihat mereka, geng sarah sangat heboh meneriaki nama Juan.
Tentu saja Junet adalah yang paling rusuh. Dengan hebohnya melambai-lambai seperti boneka lentur yang dipasang di pintu masuk pusat perbelanjaan, walaupun tidak ada seorangpun yang meneriaki namanya.
Lagu pertama yang mereka mainkan adalah Your Call dari Secondhand Serenade.
Suara Leo memang mampu mengguncang hati semua kaum hawa. Juan berperan sebagai backing vocal juga cukup menghayati perannya. Semua penonton diam menikmati lagu yang disuguhkan oleh band milik Juan.
Aku juga menikmati lagu itu dalam diam. Menghayati setiap arti dalam liriknya. Memperhatikan Juan yang memainkan bassnya, aku merasa beberapa kali Juan melihat ke arahku.
Cause i'm born to tell you i love you …
Sepenggal lirik yang ku ucapkan mengikuti musik yang dimainkan.
Ketika lagu berakhir tepuk tangan menggema di seantero lapangan ini. Aku melihat berkeliling. Bagaimana para kaum hawa berteriak heboh sambil mendekat ke arah panggung.
Elsa bertepuk tangan ramai sendiri " Gila keren banget … pantesan mereka sampai punya klub penggemar di dalam sama luar sekolah ".
" Memang mereka punya klub penggemar di luar sekolah?" ,aku penasaran.
" Iya, aku gak tau namanya. Tapi yang aku tau band ini nama nya Demeter ", jelas Elsa lagi.
Aku mengerutkan kening " Demeter itu nama dewi bukan dewa".
"Gak paham. Kamu tanya aja sama kak Juan. Kata Adam.. Juan yang memberikan nama Demeter".
Aku mengangguk melihat kembali ke panggung dan menemukan Juan sudah membuka seragamnya hanya memakai kaos tanpa lengan dan membuat jantungku berdebar tak menentu. Ya ampun dia ganteng banget.
" Embun, kenapa pipi kamu merah?", Elsa bertanya sambil melihat wajahku.
" Ha? Kenapa? Karena panas panas ", aku mengipas-ngipas wajahku.
" Di cuaca sore ini kamu kepanasan? Aneh ya", Elsa menggodaku. " Bukan karena kak Juan buka baju kan?", Elsa menambahkan.
" Haha gak lah.. ngapain… apaan sih", aku mendorong Elsa pelan.
Elsa tertawa ngakak " udah sih kalau suka bilang aja".
" Aku jambak kamu ya", aku menarik pelan rambut Elsa karena gemas. Elsa tertawa semakin keras membuat beberapa orang di sekitar kami melihat penasaran.
Lagu berikut yang Demeter mainkan adalah Stand By Me dari Oasis. Aku suka pilihan musik yang mereka mainkan. Lagu yang sering aku dengar di radio, bahkan ada di list mp3ku.
Ketika musik berakhir Leo berbicara di mikrofonnya.
" Terima kasih teman-teman.. sebenarnya kita diminta membawakan 2 lagu saja. Tapi.. karena ini penampilan terakhir kita sebelum kelulusan, jadi kita menambahkan 1 lagu lagi… dan … lagu itu akan dinyanyikan oleh Juan ", Leo menunjuk ke arah Juan.
" Yaaaa... kok cuma 1 saja sih ", seseorang berteriak dari bawah panggung. Lapangan penuh dengan ocehan protes karena panitia membatasi penampilan Demeter.
Leo berbicara lagi " Maaf ya teman-teman. waktu kita terbatas, masih banyak teman-teman kita yang akan tampil. Jadi kita dengarkan Mas Juan bernyanyi saja ya. Siapa tau habis ini ada yang jatuh cinta sama dia hahaha", Leo masih sempat bercanda.
Juan tertawa mendengar ocehan Leo. Banyak yang bertepuk tangan, terutama para kaum hawa.
Aku melihat Juan dengan seksama, di mataku dia tampak bersinar. Aku yang jatuh cinta padanya yang lain tidak boleh. Juan melihat ke arahku, aku memberikan kode 2 jari menunjuk ke arahnya seolah-olah mengawasi.
Juan yang melihat itu tersenyum. " Ehem.. tes... terima kasih teman-teman. Lagu ini dipersembahkan untuk wanita yang punya lesung pipi dan senyum yang mengalihkan dunia setiap pria", Juan berbicara di mikrofon.
Mendengar kata-kata Juan, semua kaum hawa berteriak heboh merasa mempunyai lesung pipi. Ada yang dengan nekat berteriak " Halalin adek kak Juan", membuat lapangan itu menjadi gaduh.
Aku si pemilik lesung pipi berusaha biasa saja dan tidak terlihat heboh. Tapi wajahku tidak bisa menutupi rasa bahagia karena kata-kata Juan barusan. Aku pernah mendengar Juan menyanyi di rumahku. Apa aku akan tersipu seperti sebelumnya? aku tidak tahu.
Leo mengambil alih peran Juan memainkan bass.
" Oke, semoga teman-teman senang dengan penampilan kami. Lagu berikutnya mungkin lebih selow jadi selamat mendengarkan", kata Juan.
Musik mengalun tenang Juan mulai menyanyikan setiap lirik dengan penuh penghayatan.
Sometimes I wonder
How I'd ever make it through,
Through this world without having you
I just wouldn't have a clue
'Cause sometimes it seems
Like this world's closing in on me,
And there's no way of breaking free
And then I see you reach for me
Sometimes I want to give up
I want to give in, I want to quit the fight
And then I see you, baby
And everything's alright, everything's alright
When I see you smile
I can face the world,
Oh oh, you know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light,
Oh oh, I see it shining right through the rain
When I see you smile
Oh yeah, baby when I see you smile at me……
Juan melihat ke arahku. Dia benar-benar menyanyikan setiap bait sambil melihatku.
Aku merasa seolah-olah suasana di lapangan menjadi sunyi senyap. Hanya ada aku dan Juan di sana. Seperti setiap lirik dari lagu itu dia tujukan hanya untukku.
Juan seperti menceritakan perasaannya saat ini terhadapku. Aku diam terpaku hanya membalas melihat Juan, setelah itu aku tersenyum padanya menunjukan bahwa aku memahami apa yang ingin dia katakan padaku.
Aku sadar saat itu betapa aku menyukai Juan. Aku menyukai senyumnya, tawanya, suaranya dan caranya saat bersamaku. Juan berhasil membuatku menyukainya, merobohkan semua tameng yang aku bangun agar dia menjauhiku. Juan berhasil menyelinap ke dalam hatiku dengan caranya. Caranya yang berbeda.
Tepuk tangan meriah memenuhi lapangan. Membuatku teringat tempat dan waktu ku saat ini. Juan melambaikan tangannya kepadaku dengan sumringah. Aku Balas dengan sebuah senyuman yang paling manis yang ku punya. Akan aku sampaikan padanya betapa aku menyukainya, bahwa aku jatuh hati padanya dan aku ingin dia bersamaku.
Saat band berikutnya akan tampil, aku lihat Juan berjalan cepat menghampiriku dengan keringat yang membasahi kening dan lehernya. Baju seragamnya terselip di saku celana belakang miliknya. Juan tersenyum padaku dan meraih sebelah tanganku " aku sayang kamu", dia berbisik padaku.
Aku tersenyum, membalas genggaman hangat tangannya " terima kasih Juan. Aku suka kamu", balasku berbisik di bahunya. Juan tersenyum lalu mengelus sayang kepala ku. Melupakan berapa banyak pasang mata yang memperhatikan interaksi kami yang berbeda.
***