NovelToon NovelToon
The Abandoned Wife'S Revenge

The Abandoned Wife'S Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Transmigrasi / Single Mom / Mata-mata/Agen / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.

Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.

Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.

Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Mobil BMW putih milik Aurora berhenti tepat di depan pekarangan kediaman Alverez, dia menatap rumah bercat putih dengan air mancur di tengah-tengah halaman serta taman mawar yang berada di pinggiran rumah itu.

Semua benar-benar indah dan terawat, tidak ada daun kering berserakan atau pun ranting pohon yang jatuh di sana.

"Rumahnya bagus," Aurora mengalihkan pandangannya ke arah Arjuna dan Riven yang duduk di kursi penumpang belakang. "Bagaimana menurut kalian?"

"Bagus," jawab kedua serempak.

Seulas senyum tipis muncul di bibir Aurora, "Ayo keluar. Banyak yang harus kita kerjakan mulai sekarang."

Aurora membuka pintu mobil lebih dulu. Begitu kakinya menginjak rumput di halaman rumah orang tuanya, udara dingin khas pagi hari langsung menyambutnya. Aroma mawar yang tertata rapi di sepanjang sisi taman terasa samar, bercampur dengan wangi rumput yang baru saja dipangkas.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama begitu netranya melihat sosok dua orang sedang berdiri sambil melemparkan tatapan sinis padanya.

Di teras rumah utama, dua sosok berdiri berdampingan bahkan terlalu dekat untuk sekadar pasangan suami istri yang sopan. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan dengan setelan rumah mahal dan senyum tipis penuh perhitungan, serta seorang wanita bergaun elegan yang melingkarkan lengannya di lengan pria itu dengan posesif.

Jeremi Vander.

Dan istrinya, Selena Vander.

Tatapan Jeremi langsung mengunci Aurora, menyusuri wajah hingga ke kedua anak di belakangnya. Senyum di bibir pria itu mengembang, tapi tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.

"Wah, lihat siapa yang akhirnya pulang," ujar Jeremi santai. "Keponakanku tercinta."

Aurora membantu Arjuna dan Riven turun dari mobil. Dia berdiri di depan mereka, tubuhnya secara naluriah menjadi perisai.

"Wah, coba lihat. Rupanya Pamanku tersayang sudah menungguku, aku sangat terharu." Ujar Aurora sinis.

Selena terkekeh pelan, jemarinya mencengkeram lengan Jeremi lebih erat. "Jangan terlalu kaku, Aurora. Ini rumahmu juga, bukan?"

"Bukan juga," balas Aurora dingin. "Ini rumah orang tuaku."

Senyum Selena menegang sesaat sebelum kembali terpasang. Sementara Jeremi melangkah turun satu anak tangga, pandangannya kini tertuju pada Arjuna dan Riven.

"Ini anak-anakmu?" tanyanya, nada suaranya terdengar ramah, namun matanya meneliti seperti menilai barang.

Aurora menarik kedua anak itu sedikit lebih dekat. "Jangan menatapnya tajam seperti itu, mereka bisa takut."

Jeremi mengangkat kedua tangannya. "Tenang saja. Aku hanya terkejut. Waktu benar-benar berjalan cepat, anak-anakmu sudah besar rupanya."

"Tidak secepat keserakahan," balas Aurora.

Udara di antara mereka mengeras. Air mancur di tengah halaman tetap mengalir tenang, seolah mengejek ketegangan yang membeku di antara darah daging keluarga itu sendiri.

Aurora menatap rumah besar itu sekali lagi. Indah. Megah. Dan penuh rahasia.

"Ayo masuk," ucap Jeremi akhirnya. "Kita punya banyak hal untuk dibicarakan."

Aurora menunduk sedikit pada Arjuna dan Riven. "Jangan takut, Mommy selalu melindungi kalian."

Kedua anak itu menurut.

Dengan langkah mantap, Aurora melangkah melewati pamannya dan istrinya, memasuki kediaman Alverez bukan sebagai tamu yang tersisih, melainkan sebagai pewaris yang telah kembali untuk merebut segalanya.

***

Di ruang tengah dengan nuansa modern serta sofa yang terbuat dari kulit dengan harga fantastis menyambut Aurora dan kedua anaknya, Aurora melangkah masuk dengan langkah tenang. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan, menciptakan kesan mewah namun dingin.

Dinding berwarna abu terang dihiasi lukisan abstrak bernilai tinggi, sementara lantai marmer mengilap memantulkan bayangan langkah kaki mereka.

Arjuna dan Riven berdiri di sisi Aurora, pandangan mereka berkeliling waspada. Jari-jari kecil Riven mencengkeram ujung mantel Aurora, seolah takut tersesat di ruang seluas itu.

"Silakan duduk," ujar Jeremi sambil memberi isyarat ke sofa beludru berwarna coklat muda

Aurora tidak langsung menurut. Dia menatap ruangan itu sejenak, mengingat samar-samar potongan memori Aurora yang lama ruang ini dulu terasa hangat, dipenuhi tawa dan aroma teh sore. Kini, semuanya terasa seperti rumah yang kehilangan jiwa.

"Terima kasih," kata Aurora lalu duduk di sofa.

Selena mengangkat alis, senyumnya tipis. "Ternyata kau masih sama."

Aurora tidak menanggapi. Dia menurunkan pandangan ke arah Arjuna dan Riven, lalu menggeser posisinya sedikit. "Duduk di dekat Mommy. Jangan jauh-jauh."

Arjuna mengangguk kaku, sementara Riven menurut tanpa suara. Mereka duduk berdampingan di ujung sofa, tubuh kecil mereka tampak tenggelam di antara bantalan beludru yang empuk.

Jeremi mengambil posisi di kursi seberang, menyilangkan kaki dengan santai. "Aku dengar kau bertemu notaris keluarga."

Aurora mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam, waspada. "Kabar menyebar cepat rupanya."

"Rumah ini punya telinga," balas Jeremi ringan. "Dan aku bertanggung jawab atas perusahaan sejak kakakku meninggal."

"Diambil alih sementara," koreksi Aurora dingin.

Selena terkekeh pelan. "Kau masih terlalu emosional, Aurora. Semua yang Jeremi lakukan demi menyelamatkan Alverez Group."

Aurora tersenyum tipis, tanpa kehangatan. "Lucu. Menyelamatkan, tapi saham keluarga inti menguap begitu saja."

Ruangan itu kembali sunyi. Hanya detak jam dinding modern yang terdengar, menghitung waktu dengan dingin dan kejam.

Aurora merapatkan bahunya, lalu berkata dengan suara mantap, "Aku datang bukan untuk bernostalgia. Aku datang untuk mengambil kembali hakku."

Jeremi menatapnya lama, senyum tipis itu kembali muncul. "Kalau begitu, pembicaraan kita akan sangat menarik."

Aurora menyandarkan punggungnya sedikit, namun sorot matanya tidak goyah. Di dalam ruang tengah yang megah itu, dia tahu perang sesungguhnya baru saja dimulai.

"Aku sangat menantikannya, Paman." Aurora merogoh tasnya dan mengeluarkan map coklat yang dia dapat dari notaris keluarganya.

Dia meletakan map itu di atas meja, lalu menatap wajah Jeremi yang terlihat terkejut. "Pewaris keluarga Alverez sudah kembali, Paman."

"Apa maksudmu?"

"Aku rasa Paman tidak bodoh, mulai detik ini aku resmi kembali sebagai pewaris keluarga ini untuk meneruskan semua bisnis yang ayahku tinggalkan."

Jeremi terdiam sesaat. Sorot matanya yang semula santai berubah tajam, jelas tidak menyangka Aurora akan bergerak secepat itu. Jari-jarinya yang bertumpu di sandaran kursi mengeras, sementara Selena menegakkan punggungnya, ekspresi di wajahnya mengeras.

"Pewaris?" Jeremi terkekeh kecil, tawa yang dipaksakan. "Aurora, jangan terburu-buru menyimpulkan."

Aurora tetap tenang. Dia menyilangkan kakinya perlahan, sikapnya kontras dengan ketegangan yang mulai merambat di udara. "Aku hanya menyampaikan fakta."

Jeremi menghela napas, lalu menggeleng pelan, seolah sedang menghadapi anak kecil yang keras kepala. "Kau memang anak kakakku, itu tidak terbantahkan. Tapi soal bisnis, itu hal yang berbeda."

"Apa maksud Paman?" tanya Aurora datar.

Jeremi mencondongkan tubuh ke depan. "Kau tidak pernah benar-benar belajar bisnis. Kau tidak pernah duduk di ruang rapat. Tidak pernah memimpin divisi. Bahkan laporan keuangan pun—"

"Ayahku tidak pernah membiarkanku masuk ke dalam perusahaan," potong Aurora dingin. "Bukan karena aku tidak mampu, tapi karena beliau ingin melindungiku."

Selena menyela dengan nada halus namun menusuk, "Dan hasilnya terlihat sekarang. Kau datang tanpa pengalaman, membawa dua anak kecil, lalu ingin mengambil alih konglomerasi sebesar Alverez Group?"

1
shabiru Al
pendek amat thor,, nungguin nya lama... baru scroll sekali langsung abis aja
shabiru Al
aurora sendiri masih belum bisa menebak siapa mereka,,, apa mungkin pamanya..
Heni Mulyani
lanjut💪
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
siapa yang menyerang aurora,, apa black spider ?
Warni: Kayaknya suruhan si mantan
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
bintang⭐⭐⭐⭐⭐ biar lebih semangat up bab nya karena penasaran 🫶
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
idih selain pengen muntah 🤮
shabiru Al
memang benar laki2 spt delvin tdk layak untuk d kenang tpi d buang ke tempat sampah
shabiru Al
akhirnya sidelvin muncul juga,, tpi kok udah mulai muncul lagi pria lain hhhmmm makin menarik...
mustika ikha
uh, siapakah dia, laki2 arogan, dingin, jgn benci2 amatlah mas arogan nnt kamu kepincut ma aurora, buci loh 🤣🤣semangaaaat 💪💪💪
shabiru Al
tdk mudah membuktikan diri bahwa aurora sudah berubah terutama pada riven
Zee✨: udh kepalang sakit hati makanya susah🤭
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
kenapa ya anak-anak aurora g sekolah
Zee✨: hooh sampe lupa tanggung jawab
total 3 replies
shabiru Al
seru x ya kalo aldric ketemj sama aurora...
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semangat rora
shabiru Al
ternyata bukan hanya calix tpi aldric pun sama misterius malah berbahaya....
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
jadi makin penasaran siapa calix sebenarnya ?
Zee✨: ya kan, masih abu2 pokoknya
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
aurora suka karakter nya
shabiru Al
apa aurora mengenal siapa calix... ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!