"Lah? Kalo nggak mau bunuh diri ngapain duduk di situ?"
"Emang kalo duduk disini harus orang yang mau bunuh diri?"
"Iyalah, orang yang duduk disini tuh artinya pengen didorong setan biar jatoh, jadi alesannya meninggal bukan karna bunuh diri, tapi karena didorong setan terus mati"
"Gila Lo!! Jaman gini masih percaya sama tahayul..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Setan?
Ila merasa ada yang berdiri tepat disampingnya, ia menoleh untuk memastikan siapa orangnya.
"Lo?"
Fedri membalas Ila dengan dengan senyuman, eh bukan lebih tepatnya senyum smirk. Ila terkejut dengan respon Fedri, bukankah mereka sudah pernah bertemu? Kenapa respon seperti ini yang dia berikan kepada Ila?
"Muka Lo tuh dah pucat banget kek vampir"
"Anjir, emang muka Gw seseram itu apa?"
"HEH ANAK BEASISWA!! Sini kamu, berdiri disamping saya!"
Ila dan Fedri celingukan mencari siapa yang dipanggil oleh Pak Citro - Guru kesiswaan, ia tidak menyukai Ila karena putrinya sering mengadu jika nilainya selalu dibawah Ila.
Dalam pikirannya, bagaimana mungkin hanya anak beasiswa bisa mengalahkan kecerdasan putrinya. Orang yang memiliki penyakit iri hati memang sangat susah ditaklukkan. Bukankah seharusnya wajar jika Ila memang lebih cerdas dari putrinya Karena Ila adalah anak beasiswa jadi kecerdasannya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Sedangkan putrinya adalah anak dari orang berada yang mampu membayar semua biaya investasi sekolah tanpa hambatan disekolah elit ini.
"KAMILA HILYA KHALISA!!!"
Ila berjalan menuju ketempat Pak Citro berdiri. Ia juga merasakan aura tidak senang dari Pak Citro, namun ia berusaha tetap kalem dan nggak punya dosa.
"Kamu ini anak beasiswa!! Kenapa kamu bisa melanggar peraturan sekolah? Kamu mau beasiswa kamu dicabut?"
"Tapi ini pertama kali saya lupa membawa atribut lengkap Pak"
"Sebagai anak beasiswa, kamu itu harus menaati semua peraturan sekolah, serta menjadi contoh yang baik bagi anak yang lain!"
"Muhammad Rafkha Alfedri, berdiri disini!!"
"Kalian ini sedang dihukum!! Ngobrolin apa tadi kalian berdua, coba ulangi disini!!"
"JAWAB!! KENAPA KALIAN DIAM SAJA?"
"Nggak ngobrol"
Fedri menjawab dengan kalem ditambah wajah lempengnya membuat Pak Citro naik daun, eh naik pitam.
"Fedri!! Jangan menjawab saya, nggak sopan sekali kamu"
"Tadi Bapak tanya, saya jawab salah, saya diem juga salah"
"Kalian berdua saya hukum bersihkan halaman belakang sekolah setelah pulang nanti!!"
Apa? Berdua? Yang membuat Bapak ini emosi kan si cowo itu, kenapa ia ikut dihukum?
"Loh Pak? Kok saya?"
"Salah sendiri kamu membantah ucapan saya tadi!"
"Saya diem dari tadi loh Pak"
"Oke halaman belakang dan lapangan basket"
"Pak!!"
"Kalian berdua kembali ke kelas masing-masing"
Ila dan Fedri berlari agar cepat sampai ke kelas masing-masing.
Matahari pagi ini sangat terik, bahkan panasnya sudah seperti terik matahari saat siang hari.
Ada yang aneh, Ila merasa Fedri ini terus saja mengikutinya langkahnya sejak di lapangan tadi.
"Lo ngikutin Gw ya?"
"Menurut Lo?"
Fedri berjalan lebih dulu dan berbelok tepat di ruang kelas sebelah kelas Ila. Ila melotot dan merutuki betapa PD nya dia.
"Anjir anjir, malu banget Gw"
Ila lanjur berjalan dengan cepat menuju ke kelasnya. Disana, ia membanting bokongnya dikursi tempat duduknya, Cinta yang masih menikmati suasana pagi dengan tidur menunduk dimeja itu terlonjak kaget saat mendengar grasak-grusuk Ila.
"Lo ngapain sih anjir ngagetin Gw aja"
Setelah mengucapkan itu, Cinta kembali ke posisi awal, yaitu tidur.
"Idih, merem mulu tuh mata, melek!!"
Ucap Ila kesal dengan membuka mata Cinta secara paksa, alias memelototkan mata Cinta yang sedang terpejam.
Ila dengan cepat memasang headset ditelinga nya karena tau Cinta pasti akan meledak.
"Gw congkel juga ye mata Lo, ANJIR!!"
Horangi Power Yeah Yeah
Horangi Power Yeah Yeah
Nonaememm...
"Ila anj"
Swaaaa Turn Right
Swaaaa Turn Left...
"Ooo anak setan Lo emang"
Cinta sangat kesal dengan Ila, sudah mengganggu waktu tidurnya dan malah mengabaikan ocehannya dengan cara mendengarkan lagu Ochi.
"Lo baru sadar? Kan Bapak Gw emang udah mati, makanya sekarang udah jadi setan, HAHAHA"
"Dark banget joke Lo La"
"Lo juga anak setan NJIR"
"Eh iya, berarti kita sama-sama anak setan La"
Mereka saling berpelukan dan menguatkan sebagai sesama anak setan.
"Eh La, kan Ibu Lo sendiri, Bapak gw juga sendiri, gimana kalo kita jadi sodara aja La?"
Ila menempeleng kepala Cinta yang sudah kehilangan sebagian besar fungsi otaknya.
"Gila aja, Gw nggak mau sodaraan sama Lo anak setan!!"
Bersambung...
Yuk bantu dukung karya aku dengan cara like, komen, dan vote, terimakasih:)