Bentuk tubuhku lebar ke samping, rambut gaya kuno dan wajahku tidak sebening kaca.
Sepotong blus potongan sederhana dan padanan rok menutup dengkul, hampir ketinggalan jaman. Gaya busana itu yang kupakai jika mengikuti ekskul di sekolah. Cuma tinggi badanku yang sedikit menolong walaupun tidak bisa dibilang tinggi seperti model.
Kebanyakan temanku lebih sering menggunakan jeans dan kaos saat mejngikuti ekskul. Berbeda dengan mereka, potongan pakaianku selalu sama dengan Minggu lalu. Rok di bawah dengkul dengan blus potongan biasa. Kata mereka aku ketinggalan jaman. Manusia purba dan langka.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya mendatangkan malu untuk keluarga ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Mimi over thinking.
Class meeting berlangsung sehari lagi. Acara penutupan dilaksanakan esok dan aku tak bisa menyaksikan berhubung mengikuti final lomba antar sekolah di sekolah lain.
"Siap-siap besok kamu gantiin mimi ya." Lion mengatakan itu siang ini.
"Loh kok aku? Acara apa sih?" Tanyaku tak mengerti.
Perlombaan melukis di SMA Great besok. Kamu gantikan Mimi karena Mimi sakit."
"Apa Li? Serius aku yang gantikan?"
"Iya nggak ada orang lain lagi selain kamu Cha. Besok ya jam 09.00 pagi sudah di sana." Aku termangu. Aku sedang berpikir apa aku layak ikut tapi permintaan Lion ini tentu sudah dipikirkan oleh panitia Class meeting. Mereka tahu aku senang melukis dan mendesain pakaian.
"Sakit apa Li?" Aku tak percaya.
Tiga hari lalu masih melihat Mimi.
"Mimi sakit panas sudah 2 hari ini. Belum turun juga panasnya dan sekarang dibawa ke rumah sakit. Menginap di sana."
"Oke, oke aku akan temani Icha," Nai yang semangat.
"Semangat sekali Nai." aku melirik dengan ekor mataku. Nai senyum.
"Tentu saja. Menemani sahabatku ini mengikuti lomba. Siapa tahu kita dapat kenalan teman cowok kan?"
"Pikir itu juga? Ayang kamu mau di kemanakan beib?"
"Di sini Cha hahaha." Nai menunjuk saku rok seragam miliknya.
"Apa aku bisa ya Nai? Aku sudah tidak berpikir untuk lomba lagi. Justru pikiranku, sebentar lagi kita mulai periode pelajaran baru." Tatapanku ke langit biru. Cerah.
"Bisa, bisa saja. Aku percaya kamu akan menang. Kamu tuh punya bakat gambar yang gak diragukan lagi Cha."
"Terlalu berlebihan Nai sayang. Nyatanya aku tidak pernah menjadi juara satu kan."
"Tapi kamu mendapatkan juara meskipun bukan juara satu Cha."
"Bukan nomor satu dan teman-teman serta guru pasti mengharapkan kita mendapatkan yang terbaik, pulang bawa piala paling besar."
"Setidaknya kita bisa ikut berpartisipasi dalam ajang lomba antar sekolah, Icha."
"Iya itulah penghiburan andai aku tidak mendapatkan juara apapun."
"Itu anggapanmu saja Cha, yang penting kamu ikut dulu lombanya. Menang atau kalah ya urusan nanti. Aku jemput kamu besok, kita perginya bareng ya," tegas Nai.
"Semangat sekali."
"Dari awal aku sudah mengira kamu yang mewakili sekolah bukan Mimi. Memang sih kamu tuh sakit nggak bisa ikut seleksi di sekolah kemarin tapi jika hari itu kamu datang, aku percaya kamu yang bakalan mengalahkan Mimi dan jadi wakil lomba besok."
"Setiap lomba niatku cuma mewakili sekolah saja. Sudah itu saja karena tidak punya target harus menang. Aku melakukan yang aku bisa. Terus gimana nanti kalau gak menang?" Galaunya aku.
"Ya gak apa-apa sih, gak dapat juara. kamu kan sudah berusaha."
"Aku takut mengecewakan mereka Nai, guru-guru dan teman-teman."
"Semangat! Semangat! Jangan banyak mikir, bikin kamu pusing nanti."
"Baiklah Oma," kataku ringan. Kata-kata Nai tak salah juga.
"Nah cucu yang baik itu mengikuti kata Oma haha."
"Oma bawel weee!" Aku ejek Nai.
"Oma sayang cucu. Sini cu, peluk!
Dua tangannya hendak memelukku. Aku lari menjauh dengan tetap memandang Nai.
"Ooh tidaaak!"
"Hahahaha. Sini cu...."
Buuuukkk.
"Aduuuh! Apaan....?" Sesuatu menghantam wajahku. Aku mengusap hidung. Walaupun tak mancung, hidungku terasa sakit.
"Waaoow! Ma'afkan aku. Icha ada apa ini? Icha, Nai...." Elang tak kalah terkejut karena aku menabraknya tepat di bagian dada. Aduh ma.
"Ma'afkan, ma'afkan aku Elang. Aku tak sengaja." Malu rasanya. Aku cepat berdiri normal di depan Elang. Merenggangkan tubuhku yang menubruk Elang. Tadinya bagian depan kami sempat bersentuhan.
"Asyiiiik!"Celetuk Nai. Dia cengar cengir.
"Nai, suka ya!!"Aku melirik dan melotot. Aku rasakan pipiku menghangat.
"Memang asyik. Ulang lagi Cha," pinta Elang sambil senyum tipis. Menyadari hal yang telah terjadi.
"Kok enak. Gak dua kali ya." Sungguh aku malu. Mau diletakkan di mana wajahku ini.
"Sayang sekali. Kenapa sebentar ya? Kenapa Icha gak menubruk aku dengan keras lalu aku dan Icha jatuh bersamaan seperti di film-film."
"Haaaa?? Aku tidak dikejar hantu Lang hingga harus lari cepat dan menabrak kamu."
"Itulah makanya. Seandainya saja... aku bilang."
"Heeeeh?" Aku melirik.
"Hahahahaha."
"Sudah, sudah. Lanjut besok saja ngobrolnya. Omong berdua atau ku tinggal pulang nih." Nai meninggalkan kami. Aku mengejar Nai.
"Aku pulang ya Lang!" Aku melambai.
"Aku juga mau pulang Cha!"
"Ciiiieeee kompak nih ye!!"
"Apaan sih Nai? Jangan sampai Elang tahu." Heran Nai semakin sering menggodaku.
"Biar saja tahu. Ee tahu apa sih?"
"Tahu isi! Tahu kalau kamu itu suka menggodaku. Sebut nama Elang dan dihubungkan dengan aku."
"Biar saja dia tahu Cha. Ku lihat cinta di matanya."
"Ngawur kamu Nai."
"Hehe Cha aku duluan ya. Kamu ikut Elang saja. Elang... titip Icha ya!"
"Oke Nai. Hati-hati ya!" Balas Elang.
Dan Elang mengajakku pulang bareng. Aku tak bisa menolak karena rumah kami satu arah. Elang memaksaku duduk di motornya.
Elang bertanya setelah motor berjalan, "Kamu pergi dengan siapa besok pagi?"
"Dengan Nai. Aku berangkat dari rumah saja Lang, jadi gak ke sekolah dulu," jawabku.
"Ya atur saja mana yang enak. Kita tidak belajar lagi. Besok hari terakhir kita masuk, lusa sudah libur."
Hidungku mencium harum kemeja seragam Elang. Angin yang mengantarkan sekilas wangi itu.
"Waah kamu pasti pulang ya, kumpul sama keluarga." Apa aku sok akrab ya? Entahlah aku tak tahu. Sering bertemu Elang membuat pertemanan semakin akrab.
"Tentu Icha. Jika tidak mama akan bertanya terus. Kapan pulang? Kenapa tidak pulang?"
"Sayang banget ya mama kamu?"
"Ya begitulah. Aku lihat mama kamu juga sayang sama kamu."
"Biasa saja, sayang mama kepada anaknya. Elang aku sudah sampai. Kamu mau pulang?"
"Oiya aku pulang dulu Icha. Jumpa lagi."
...ΩΩΩΩ...
Aku hampir kehabisan waktu dalam lomba ini tapi syukur bisa terkejar.
"Selesai Cha. Kamu baru saja mengikuti lomba sekolah," ucap Nai sesaat aku keluar dari ruang lomba.
"Begitulah Nai. Aku jadi tidak yakin menang."
"Loooh jangan begitu, kamu harus yakin jadi juara biarpun saingan kamu bagus-bagus." Nai selalu pintar bikin aku semangat.
"Semoga saja aku tidak mengecewakan ya Nai," harapku.
"Sudah tenang saja, jangan terlalu dipikirin. Menang syukur, gak menang anggap saja latihan."
Aku membetulkan letak ranselku di pundak. Tali sebelah kiri sering bergeser hingga menjadi tak kencang di bahu kiri.
"Sebelum pulang kita makan dulu ya Nai. Aku lapar nih. Kantinnya masih ramai tadi. Aku tak jadi mau beli air es di sana."
"Pas tadi aku ke toilet ya. Oh iya iya ramai, karena belum habis jam sekolah. Kamu tunggu di sini aku yang akan beli jajan di kantin. Kamu mau apa?" Tanya Nai.
"Aku pempek saja, kalau ada es Milo boleh juga."
"Kalau dua-duanya nggak ada, sembarang ya dan harus kamu makan."
"Oke Nai. Suka-suka kamu saja pilihnya. Cepetan ya Oma haha."
"Baik cu. Ingat, harus dimakan dan habiskan, jika tidak_"
"Oma... cucu lapar nih! Hahah."
Nai pergi setengah berlari. Aku menunggu di sini. Ku lihat setiap bangku yang tersedia di bawah pohon sudah diduduki oleh siswa atau siswi.
"Hai! Tunggu siapa?" Aku terkesiap. Suara siapa ini? Aku tidak mengenal dia yang barusan menyapaku.
"Hai juga."
"Kamu kok gak jawab pertanyaan yang satu lagi." Aku tetap diam.
"Sombong amat. SMA Adi Jaya," lanjutnya lagi. Anak itu membaca nama sekolah yang ada di lengan bajuku.
"Icha, ada masalah?" Tiba-tiba saja Elang telah berdiri di antara kami.
"Tidak ada Elang. Dia hanya menegurku."
"Oh begitu sudah kenal bukan? Mau apa lagi?"
"Aku menyapa dia. Mau kenalan saja dengannya . Kamu ikut lomba tadi. Siapa nama kamu?"
"Aku Kalisha." Berharap anak ini segera pergi dari sini. Aku melirik Elang, ternyata dia lakukan hal yang sama denganku.
"Kamu sudah tahu namanya. Silahkan. Ada hal penting yang mau saya bicarakan dengan dia." Elang dominan. Tak pernah kulihat sebelumnya seperti ini.
Aku tak mengerti hal apa yang akan Elang bicarakan padaku. Dia mengusir anak itu secara halus.
"Baiklah aku pergi," ucap siswa tadi. Kini aku dan Elang saja.
"Kamu di sini juga?" Tanyaku.
"Laah iya, ini tugasku mengawal setiap siswa yang ikut lomba antar sekolah. Mana Nai?"
"Nai ke kantin. Itu dia!" Aku menunjuk Nai yang sedang jalan ke arah kami.
"Oh ada Elang. Ma'af nih cuma dua makanannya." Aku menerima jajanan dari tangan Nai.
"Tak apa Nai. Aku tidak usah."
"Hmmm sedap. Elang mau?" Aku menawarkan. Sedikit basa-basi.
"Buat kamu saja. Nai...Icha hampir diganggu siswa lain."
"Eee bukan. Bukan begitu. Anak tadi tidak menggangguku." Aku ralat ucapan Elang.
"Oya? Mana yang betul nih?" Nai menatap aku dan Elang bergantian.
"Aku!" Suara Elang dan aku bersamaan.
"Yaaaileee...barengan lagi ngomongnya. Ini tanda-tanda apa ya?"
Elang menjawab, "Huuusshh. Ya gak ada apa-apa."
Yah memang bukan apa-apa tapi kenapa Elang sewot melihat aku disapa siswa lain.
Class meeting telah selesai dilaksanakan. Lomba-lomba telah diakhiri. Pelajaran mulai normal lagi. Aku bersyukur aku dan Nai masih berada dalam kelas yang sama.
"Kita di kelas yang sama Nai. Horeee!"
"Hore!! Toast Cha."
Aku dan Nai menempelkan kedua telapak tangan. Kelima jari Nai bertemu dengan milikku. Suka cita.
"Eh tunggu Nai. Belum kenaikan kelas jadi belum ada pemisahan."
"Asyyiiik," kata Nai.
"Icha selamat ya menang lomba!"
"Hai Li. Terima kasih ya Li." Lion dan Elang sering terlibat jika ada perlombaan antar sekolah. Tidak sebagai peserta tapi mengawasi mereka yang mewakili sekolah. Jika Elang diutus sekolah, Lion dan kawan-kawan lebih sering menonton lomba.
Lion mendekat dan menyalami aku. Ucapannya tulus diiringi senyum.
"Hebat sekali Icha. Ternyata kamu memang berbakat." Puji Lion. Bagiku hal biasa. Kalah pun pernah kurasakan. Saat tak menang hadapi Arin.
"Dia datang lagi...huuu." Ku dengar Nai menggerutu.
"Siapa Nai?" Tanyaku belum melihat siapa yang datang.
"Itu nenek sihir." Nai menjawabku.
"Mimi...wajahnya masih pucat ya," kataku.
"Mau apa dia jalan ke sini," Nai tak suka. Aku maklum mengingat Mimi tidak pernah ramah denganku. Nai tak suka pada teman-teman yang melecehkan ku.
"Sudah sembuh dia, Nai."
"Ya Cha dan siap menerkam kamu," kata Nai.
"Hhhh sudah biasa, aku gak kaget."
Dan saat Mimi tiba berdiri di hadapan kami, Nay langsung bertanya sengit, "Mau apa lagi kamu?! Tak terima kalau Icha yang menang lomba?"
Dengan cepat Mimi menjawab, "Ingat! Karena tidak ada aku, kamu bisa ikut lomba dan juga menang. Jika aku ada, aku yang jadi wakil sekolah bukan kamu. Jadi kamu harus ucapkan terima kasih padaku."
Tentu saja aku tak setuju dengan ucapan Mimi. Aku jawab, "Tidak bisa ikut lomba karena sakit adalah ketentuan untuk kamu, tapi menang lomba adalah takdir dan usahaku."
"Cepat ucapkan terima kasih." Mimi memaksaku.
Lion mencegah, "Mimi kamu jangan paksa Icha."
"Kamu lagi Lion, bela Icha terus. Kalian pacaran ya?!"
"Apaan sih kamu?" Aku semakin heran dengan Mimi. Kata-katanya tak sesuai kenyataan.
"Aku dan Lion tak pernah jadian pacaran, tahu!!" Aku mulai marah.
"Betul. Mau jadi ini." Heh apalagi yang Lion katakan ini. Ya Tuhan. Ucapan Lion akan membuat Mimi semakin benci padaku.
"Salah. Gak tahu kapan mau jadi." Aku tak mengiyakan perkataan Lion.
"Pantas di mana ada Lion di situ kamu nempel." Mimi bicara seenak perut.
"Mimi! Kamu jangan fitnah, Lion yang suka cari aku untuk keperluan adiknya. Sudah, kalian berdua selesaikan saja urusan kalian. Pergi dari sini. Lion tolong pergi dari sini."
"Aku gak ada urusan sama Mimi. Mimi, tolonglah terima kemenangan Icha. Kamu memang gak bisa ikut lomba, Icha yang jadi utusan sekolah dan menang. Terima kenyataan ini." Lion berikan pengertian kepada Mimi namun Mimi tak begitu saja menerima. Wajahnya menyiratkan ketidaksukaan yang amat sangat padaku.
"Mana bisa seperti itu. Aku tidak terima, aku tidak suka." Mimi mengibaskan tangannya.
"Tak terima ya sudah. Pergi aja sana! Sudah terjadi ini. Sekarang Kenyataannya Icha yang juara dan kamu tidak mengikuti lomba." Nai menambahkan.
"Huuuhh Dasar! Cari muka!" Mimi pergi.
"Siapa yang cari muka...?!" Suaraku keras.
"Dia sudah pergi," ucap Lion.
"Kamu lihat sendiri Li, Mimi tidak suka kalau kita bicara seperti ini. Aku musuh bagi Mimi. Aku dianggap Mimi, akan ambil kamu dari dia. Sebaiknya kita tak bertemu dan bicara." Meskipun punya banyak teman adalah anugerah tetapi untuk yang satu ini aku benar-benar mikir. Aku tidak mau berurusan dengan Mimi karena berdekatan dengan Lion.
"Tidak begitu Icha. Kita ini satu sekolah. Wajar kita saling interaksi sebab kita kenal satu sama lain. Aku dan Mimi tak ada hubungan apa-apa kok."
"Ada tak ada hubungan kita jaga jarak!" Aku tegas.
"Loh gak begitu Icha. Kita berteman seperti biasa." Lion menolak keputusanku.
"Bisa saja. Nai... Ibu Alia ada gak?" Tanyaku pada Nai.
"Ada. Masuk kok orangnya."
"Kalau begitu ayo masuk kelas sebelum beliau masuk duluan."
"Daaa Lion. Jaga tuan puteri kamu ya." Nai pamit pada Lion sedangkan aku segera jalan ke kelasku. Pagi ini aku bersikap kasar dengan teman-temanku. Mimi dan Lion.
...ΩΩ bersambung ΩΩ...
semamgat
Semangat kaka
Terima kasih do'anya author Neyna.😘😘