Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: "Ikuti Dia"
Laras akhirnya tidak mengatakan apa-apa di meja makan.
Bel pergantian posisi berbunyi sebelum rekan-rekannya selesai menebak. Ia menyimpan cincin custom di kotak kecil dalam loker, memastikan band akad yang rata tetap aman di jarinya, lalu masuk ke ruang operasi.
Keputusan menunda pengumuman bukan berarti Laras ingin menyembunyikan Arkan. Ia hanya ingin memilih waktu ketika dirinya bisa menjawab pertanyaan tanpa membagi konsentrasi dengan traffic. Namun, mendengar orang lain membicarakan suaminya seolah identitas istri adalah teka-teki tetap membuat satu kalimat berulang di kepala.
Dia suamiku.
Saat menuju briefing, ponsel Rosa bergetar. Tangkapan layar Story Tiara kembali muncul di grup kecil, kali ini disertai komentar bahwa teman kecil biasanya lebih mengenal seseorang daripada istri yang menikah mendadak.
"Rumornya belum mati," kata Rosa pelan.
Laras membaca sekilas, lalu mengunci layar. "Aku tahu. Arkan sudah lihat bukti aslinya."
"Mau aku luruskan di grup?"
"Belum. Kalau kita jawab tanpa menyebut aku istrinya, mereka akan bikin pertanyaan baru. Kalau aku buka identitas sekarang, lima menit lagi aku harus masuk posisi sambil semua orang mengejar cerita."
Rosa memahami. "Setelah sif, kalau kamu mau bicara, aku berdiri di sebelahmu."
"Terima kasih."
Laras menyimpan tawaran itu. Tiara sudah kehilangan senjata cincin, tetapi kebohongan teman kecil masih hidup karena belum ada orang yang memegangnya pada satu pernyataan yang bisa diuji. Masalah itu menunggu di luar ruang operasi. Di dalam, yang berlaku hanya traffic.
Menjelang sore, cuaca memburuk. Sel cumulonimbus tumbuh terpisah-pisah di sisi arrival, membuat setiap kru meminta heading berbeda untuk menjaga jarak dari echo kuat. Jalur yang aman masih tersedia, tetapi berubah mengikuti perkembangan sel.
Laras mengambil posisi aktif setelah briefing lengkap. Rosa berada di koordinasi, Bagas memantau dari belakang. Dalam sepuluh menit pertama, Laras menurunkan dua pesawat, menahan satu kedatangan pada ketinggian lebih tinggi, dan memberi deviasi kepada penerbangan yang tidak dapat mengikuti rute arrival.
Ia dan Rosa menandai sel yang tumbuh pada display cuaca pendukung, mencocokkannya dengan laporan pilot, lalu menjaga agar dua koridor deviasi tidak saling berpotongan. Setiap persetujuan heading harus memperhitungkan traffic yang belum masuk frekuensi tetapi sudah dikoordinasikan dari sektor sebelah.
Bagas mengingatkan bahwa satu sel di utara bergerak lebih cepat daripada prakiraan. Laras menutup koridor itu untuk kedatangan berikutnya dan memberi tahu sektor upstream agar tidak mengirim pesawat terlalu rapat. Keputusan tersebut menambah beberapa menit pada urutan, tetapi menghindari perubahan mendadak ketika pesawat sudah turun rendah.
"Garuda 624, belok kiri heading 190, pertahankan 7.000 kaki karena ada pesawat lain."
"Belok kiri heading 190, pertahankan 7.000 kaki, Garuda 624."
"Cendrawasih 431, deviasi ke kanan hingga lima belas derajat disetujui karena cuaca. Laporkan jika sudah dapat langsung ke DKI."
"Deviasi ke kanan hingga lima belas derajat, akan melapor, Cendrawasih 431."
Di darat maupun di udara, Laras menjaga bahasa operasional tetap ringkas. Ia mempertahankan callsign, istilah wajib, dan urutan parameter agar kru dari berbagai maskapai menerima instruksi tanpa tafsir ganda.
Nusantara 9981 masuk dari arah timur. Arkan berada di kursi kiri. Dio tidak ikut sektor itu; kopilot lain memantau radar cuaca di sisi kanan.
"Jakarta Approach, Nusantara 9981, sedang turun melewati FL160, informasi Mike."
Laras mengenali suara suaminya, tetapi matanya tetap pada jalur di depan pesawat.
"Nusantara 9981, Jakarta Approach, kontak radar. Turun ke 11.000 kaki. Bersiap untuk pendekatan ILS runway 25R."
"Turun ke 11.000 kaki, bersiap untuk ILS runway 25R, Nusantara 9981."
Sebuah sel berkembang tepat di sisi kiri rute. Arkan meminta heading ke kanan dengan margin yang cukup sebelum echo merah mendekat.
"Nusantara 9981 meminta heading 240 ke kanan karena cuaca."
Laras memeriksa traffic. Ruang di kanan tersedia jika satu pesawat di belakang ditahan pada heading offset.
"Nusantara 9981, belok kanan heading 240 disetujui, pertahankan 11.000 kaki."
"Belok kanan heading 240, pertahankan 11.000 kaki, Nusantara 9981."
Kopilot Arkan melihat jalur pada navigation display. "Approach hari ini baik hati. Heading yang kita minta langsung dikasih."
"Karena jalurnya tersedia," jawab Arkan.
Ia tahu Laras tidak akan memberi heading hanya karena mengenali callsign. Justru itu yang membuat kepercayaannya penuh. Kalau Laras berkata tidak bisa, Arkan akan mengikuti tanpa berdebat.
Beberapa mil di belakang, Khatulistiwa 6112 masuk sektor. B777 itu berada sedikit lebih tinggi dan mengejar dengan kecepatan lebih besar.
"Jakarta Approach, Khatulistiwa 6112, berada di FL170, meminta heading 220 karena cuaca."
Suara Reyhan terdengar di frekuensi. Laras mengenalinya, tetapi tidak membiarkan pengenalan itu mengubah tempo.
Heading 220 akan memotong jalur Nusantara 9981. Laras menolak permintaan pertama dan memberi alternatif.
"Khatulistiwa 6112, heading 220 tidak dapat disetujui karena ada pesawat lain. Belok kanan heading 230, turun ke 13.000 kaki, kurangi kecepatan menjadi 230 knot."
"Belok kanan heading 230, turun ke 13.000 kaki, kecepatan 230 knot, Khatulistiwa 6112."
Offset tersebut membawa Khatulistiwa ke koridor yang sama di belakang Nusantara tanpa memasuki echo kuat. Laras menjaga radar separation sambil memperbarui jarak. Setelah keduanya keluar dari sisi sel, jarak pandang di koridor menuju final membaik.
Ia memberikan informasi traffic, bukan langsung menyerahkan tanggung jawab pemisahan.
"Khatulistiwa 6112, ada Airbus A330 di arah pukul dua belas, jarak enam mil, sedang turun melewati 11.000 kaki. Laporkan jika terlihat."
Di kokpit B777, Reyhan melihat lampu dan siluet Nusantara di depan, berada di jalur yang bersih dari awan.
"Pesawat terlihat, Khatulistiwa 6112."
Laras memastikan kondisi visual dapat dipertahankan dan spacing memenuhi persyaratan sebelum memberi instruksi berikutnya.
"Khatulistiwa 6112, pertahankan separasi visual dan ikuti pesawat di depan. Diizinkan melakukan pendekatan visual runway 25R."
"Pertahankan separasi visual, ikuti pesawat di depan, diizinkan melakukan pendekatan visual runway 25R, Khatulistiwa 6112."
Nusantara 9981 kini berada tepat di depan. Secara profesional, Khatulistiwa hanya mengikuti traffic dalam urutan. Namun, satu bagian kecil dalam diri Laras menangkap ironi yang terlalu tepat: Mas Rey mengikuti Arkan.
"Makasih, Approach. Kerja bagus," tambah Reyhan setelah readback selesai.
Laras tidak membalas pujian pribadi. Sudut bibirnya hanya bergerak sedikit sebelum ia memberi instruksi kepada pesawat lain.
Rosa melihatnya dan menahan senyum.
Di kokpit Nusantara, Arkan mendengar ucapan tersebut. Ia tidak mengenali laki-laki itu, tetapi nada akrab pada `makasih` membuat perhatiannya tertahan. Laras tetap menjawab semua pesawat dengan suara profesional yang sama, sehingga ia tidak punya dasar untuk menduga apa pun.
Kedua pesawat mendarat berurutan dengan jarak aman. Nusantara keluar runway lebih dulu, Khatulistiwa menyusul setelahnya.
Setelah menyelesaikan prosedur pascapenerbangan, Arkan berjalan menuju area kendaraan kru. Beberapa meter di depan, kru Khatulistiwa juga menunggu transportasi. Seorang petugas datang membawa daftar hotel.
"Kapten Reyhan, mobil kru Khatulistiwa di jalur dua."
Laki-laki yang menoleh memiliki suara yang sama dengan Khatulistiwa 6112.
Arkan memperlambat langkah.
Reyhan.
Mas Rey.
Kapten yang barusan berterima kasih kepada Laras dengan nada terlalu hangat, setelah mengikuti pesawat Arkan menuju runway.
Reyhan tidak melihatnya. Ia masuk ke kendaraan bersama kru dan pergi.
Arkan mengambil ponsel, memeriksa jadwal Laras, lalu mengirim pesan.
Arkan:
Jam berapa selesai?
Laras baru melihat pesan setelah keluar dari posisi hampir satu jam kemudian.
Laras:
Masih ada briefing. Mungkin satu jam lagi.
Arkan:
Aku tunggu.
Itu bukan tawaran yang memberinya ruang untuk menolak.
Ketika Laras akhirnya keluar dari gedung JATSC, malam sudah turun. Land Rover Arkan masih berada di titik jemput. Ia berdiri di samping mobil dengan lengan kemeja digulung, seolah menunggu lebih dari satu jam bukan hal penting.
Seorang kapten dari maskapai lain yang juga menunggu kendaraan sempat mengenalinya.
"Kapten Wibisana belum pulang?" tanyanya.
"Menunggu orang."
"Kru?"
"Bukan."
Laki-laki itu melihat ke pintu JATSC, lalu tersenyum mengerti. "Wah, saya baru tahu Kapten bisa menunggu selama ini."
Arkan tidak menanggapi. Ia hanya memeriksa pintu setiap kali terbuka. Ketika Laras akhirnya muncul, seluruh perhatian yang sejak tadi ia bagi dengan ponsel dan lalu lintas kendaraan langsung tertuju kepadanya.
"Kamu benar-benar menunggu?" tanya Laras.
"Aku sudah bilang."
"Bisa pulang dulu. Rumah nggak jauh."
"Lalu kembali lagi? Buang waktu."
Padahal Arkan pernah memutar tiga kilometer hanya untuk menjemputnya dari restoran. Laras tidak membongkar alasan itu. Ia masuk ke mobil dengan senyum yang membuat rasa lelahnya berkurang.
Dalam perjalanan, Arkan menanyakan traffic dan cuaca. Laras menjelaskan bahwa beberapa heading harus diubah karena sel tumbuh cepat. Ia tidak menyebut Reyhan karena baginya Khatulistiwa 6112 hanya satu dari banyak pesawat yang ditangani.
Arkan juga tidak bertanya. Belum.
Sesampainya di rumah, Laras mandi dan berganti pakaian tidur. Ketika keluar dari kamar mandi utama, Arkan tidak ada di ranjang. Ia menemukannya berdiri dekat lemari, masih mengenakan kaus gelap dan celana rumah.
"Kenapa berdiri di situ?" tanya Laras.
"Menunggu."
"Menunggu apa?"
Arkan mengangkat satu lengan dan meletakkan telapak tangannya pada pintu lemari di samping kepala Laras. Ia tidak menyentuh tubuhnya, tetapi posisi itu membuat jalan Laras tertutup.
"Khatulistiwa 6112," katanya.
Jantung Laras berdetak lebih cepat. "Kenapa dengan dia?"
"Kaptennya berterima kasih kepadamu."
"Banyak pilot bilang terima kasih."
"Nadanya beda."
"Kamu bisa menilai nada orang dari frekuensi sekarang?"
Arkan menunduk sedikit. Jarak wajah mereka menyempit.
"Aku dengar petugas memanggil namanya setelah landing."
Laras akhirnya memahami. "Oh. Mas Rey."
Dua suku kata itu kembali keluar dengan lembut.
Tatapan Arkan turun ke bibirnya.
"Jadi..." Ia menarik kata itu pelan, bergerak lebih dekat sampai napas mereka bertemu. "Yang di frekuensi tadi itu Mas Rey kamu?"
Laras menempel pada pintu lemari. Bibir Arkan berhenti hanya sejauh satu tarikan napas dari bibirnya.