WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Pertengkaran hebat antara Winda dan Anwar kembali terjadi. Adu mulut yang membuat seisi rumah menjadi gaduh. Weni tidak bisa menjadi penengah antara suami dan anaknya. Anwar keras kepala, mau menang sendiri tidak memikirkan mental anaknya.
Winda hanya ingin bercerai dari Tama, tapi Anwar malah mengancamnya.
Huft,....
Winda menghela nafas panjang, lagi-lagi ia harus mengalah demi nama baik keluarganya.
"Sabar ya nak, mamah tahu ini sangat menyakitkan untuk mu," ucap Weni dengan isak tangisnya.
"Sudahlah mah, jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja, mamah jangan kepikiran, nanti jantungnya kumat."
Weni mengusap air matanya, suaranya parau terasa sesak.
"Kamu nginap di rumah mamah kan?"
Winda tersenyum lalu menjawab, "sepertinya gak mah. Winda akan pulang, Tama pasti sudah menunggu ku di rumah."
"Yang sabar nak, mana tahu suatu saat suami mu bisa berubah. Mamah selalu mendoakan yang terbaik untuk mu!"
"Terimakasih mah, semoga doa mamah di kabulkan!"
Winda pamit pulang, fisik dan hatinya begitu lelah. Setibanya di rumah, Winda mencium aroma masakan yang sungguh menggugah selera. Tama sedang memasak rupanya.
Masalah Tama menemui Tania, Winda sudah tidak mau ambil pusing lagi.
seakan tidak terjadi apa-apa, Tama bersikap biasa saja. Menyapa istrinya dengan begitu lembut.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan susu dan potongan buah untuk mu," ujar Tama.
Winda hanya diam saja, berlalu masuk kedalam kamar. Hatinya kaku tak terasa, sikap Tama sejak menikah memang sangat perhatian padanya. Tapi, entah kenapa Winda tidak bisa melupakan luka yang di tancapkan oleh suaminya ini.
Selesai mandi, Winda menyusul Tama yang duduk di teras rumah. Tidak lagi ada gurau dan canda, obrolan mereka garing hanya seputar kehamilan Winda.
"Besok aku akan membongkar kamar depan," kata Tama memberitahu.
"Untuk apa di bongkar?" tanya Winda datar.
"Untuk kamar anak kita," jawab Tama, "coba deh kamu pilih barang-barang yang mau di beli, sesuaikan aja."
Tama memberikan ponselnya pada Winda, mereka memilih beberapa perabotan khusus untuk anak mereka.
Winda menurut saja, memilih barang yang ia suka. Sebenarnya Tama ingin seperti ini, tapi entah kenapa setiap harinya rumah tangga mereka hambar terasa.
Adem lihatnya, sore ini Tama dan Winda duduk berdua. Padahal dalam hati keduanya saling membisik bingung mencari kata-kata.
"Sudah mau gelap, ayo masuk!" ajak Tama dengan mengulurkan tangannya pada Winda.
Winda tersenyum tipis lalu menerima uluran tangan suaminya.
Winda duduk di meja makan, menunggu suaminya yang sedang menghangatkan makanan. Mereka makan malam bersama seperti biasa.
"Aku hanya ingin rumah tangga kita hangat seperti ini Win. Aku tidak mau kita berpura-pura bahagia di depan orang lain."
"Maafkan aku mas, luka yang kau tanam begitu dalam. Di tambah lagi keluarga ku dan keluarga mu terus berada di pihak mu. Kau tidak tahu rasanya jadi aku, sakit!"
Tama menarik nafas panjang, "aku benar-benar minta maaf. Masalah Tania, dia memang sengaja menjebak ku."
"Berhenti menyebut wanita itu!" seru Winda.
"Dan ku mohon, jauhi laki-laki yang saat ini sedang dekat dengan mu," pinta Tama dengan sorot mata memohon.
"Maaf, aku tidak bisa. Jika suami dan keluarga tidak bisa memberi ku sebuah kebahagiaan, lalu apa salahnya aku mencari kebahagiaan ku sendiri?"
"Ini akan membuat mu berada di dalam lingkaran dosa."
"Bukan ingin ku seperti ini, kau dan semua keluarga yang memulai. Jangan salahkan aku!" ucap Winda yang sudah kehilangan selera makan.
Huft,....
Tama hanya bisa mengalah, sampai saat ini juga Tama masih merahasiakan dari keluarga besar jika Winda berselingkuh darinya.
Bulan berganti bulan, perut Winda semakin membesar itu tandanya sebentar lagi akan segera melahirkan. Tama semakin menunjukkan perhatian yang lebih pada Winda, meskipun Winda tahu jika sampai detik ini Tama masih suka datang menemui Tania.
Sedangkan Winda, ia sudah mengakhiri hubungannya dengan Jimmy sejak satu bulan yang lalu.
Bagi Winda sekarang, tidak masalah Tama berselingkuh darinya yang terpenting hidupnya terjamin apa lagi Tama memberikan jatah bulanan sangat besar pada istrinya.
"Di mana suami mu itu hah, istri mau melahirkan kok gak pulang-pulang?" Weni mengomel.
"Ya kerjalah, memangnya ngapain lagi?" Diana membela anaknya.
"Mah, berhenti membela mas Tama. Tante Weni benar, kak Winda mau melahirkan tapi gak ingat pulang ponselnya juga mati." Cindy kesal dengan mamahnya sendiri.
Baru saja Diana ingin menyahut omongan anaknya, pintu ruang rawat terbuka. Tama datang dengan wajah panik.
"Maafkan aku, aku harus mengurus klien tadi," ucap Tama pada istrinya.
"Ngurus klien kok ponselnya mati. Klien yang mana nih?" singgung Weni.
"Mah,...!" Winda menarik tangan mamahnya, meminta sang mamah untuk diam saja.
Rasa sakit hendak melahirkan seakan lewat dengan rasa sakit saat Winda mendengar ucapan dari mertuanya saat Weni pulang untuk mengambil beberapa barang.
"Dasar keluarga tidak tahu diri, keluarga ku sudah habis banyak untuk papah mu tapi mulut mamah mu itu seperti comberan. Manusia tidak tahu terimakasih!" cibir Diana sungguh membuat hati Winda sakit.
"Mah, dari pada mamah bikin ribut mending mamah pulang saja!" usir Tama sendiri.
Lebih baik begitu, Diana benar-benar pulang sama sekali tidak mengkhawatirkan keadaan menantunya.
"Kak, omongan mamah jangan di masukan ke hati ya...!" ucap Cindy merasa tidak enak hati pada kakak iparnya.
"Sudah biasa di hina keluarga mu. Jadi kau tidak usah khawatir pada ku!" sahut Winda dingin.
Tama hanya diam saja, kepalanya terasa berat jika harus menghadapi sang mamah dan istrinya.
"Lagian mas Tama ini bodoh. Istri di hina bukannya membela tapi malah dia saja!" ketua Cindy.
"Sudahlah Cin, mas juga pusing!"
Winda sungguh tersiksa, merasakan kesakitan seorang diri. Tama juga bingung mau melakukan apa, ini untuk pertama kalinya ia berhadapan dengan orang yang akan melahirkan.
Hampir tiga jam merasakan sakit yang sangat luar biasa, pada akhirnya Winda melahirkan juga. Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki, wajahnya sama persis dengan Tama.
Weni sangat berharap jika kelahiran anak ini bisa mengubah rumah tangga Tama dan Winda menjadi lebih baik lagi.
Kedua belah pihak keluarga langsung mempublish kelahiran anak Winda dan Tama. Sungguh handal dalam bermain drama, semua orang berdoa dan memuji ke kompak kan kedua keluarga.
Winda benar-benar muak melihat drama semua ini. Melahirkan anak pertama yang seharusnya menjadi momen penuh bahagia nyatanya hanya di penuhi dengan kemunafikan saja.
Tidak ada yang peduli pada Winda selain mamahnya. Di ruangan ini semua orang sibuk pada anaknya yang baru saja lahir, saling membanggakan nama besar keluarga.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi