Anita dijual oleh kekasih juga sahabat baiknya pada seorang pria tua. Hingga suatu hari ia mendapati diri tengah berbadan dua dan terusir dari rumah. Hidup penuh derita dilalui Anita dengan tetap mempertahankan janin dalam rahimnya.
Sampai anak itu tumbuh besar dan menjadi seorang anak jenius yang mampu membawa Anita dalam kehidupan lebih baik. Anak yang dilahirkan itu pula, membawa Anita untuk bertemu lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Bobby dan Maira
"Maaf, Tuan. Nyonya sudah tiba di rumah," ucap Lisa menghampiri Tuannya, berbicara dengan berbisik.
"Nyonya? bukankah istriku memang sudah di rumah? dia sedang tidur dengan putraku," santai Reno menjawab, menyerahkan cairan kimia pada anak buahnya dan beralih.
Lisa tersenyum kecil, mendengar sebutan istri. "Maksud saya, bukan Nyonya Anita. Tapi mama Anda, Tuan. Beli—," terpotong Anita.
"APA?!" kencang suara Reno, mengalihkan perhatian semua anak buahnya. "Ka—katakan lagi!" pintanya, tak percaya dengan telinga sendiri.
"Nyonya dan Tuan baru saja tiba sekitar setengah jam lalu, sekarang ada di rumah utama. Beliau ingin Anda segera menemui," terang Anita.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku?!" melotot Reno.
"Sudah, Tuan. Beberapa hari lalu sudah saya beritahu, dan Anda juga yang mengizinkan." Lisa menjelaskan lagi.
"Ah ...," tampak kebingungan lelaki dengan tangan di pinggang. "Antarkan aku mandi!"
Belum sampai Lisa menjawab, Reno sudah beralih. Sekretaris cantik itu memanggil pengawal dengan ayunan jari, agar ikut menemani Tuannya yang sedang mandi. Walau suka menyiksa orang tanpa ampun, namun dia juga seorang penakut.
Terlebih ketika berada di gudang yang kerap dijadikan tempat penyiksaan, ia tak akan mau tinggal lebih lama dan langsung pergi begitu puas dengan apa dilakukan pada orang-orang memang pantas mendapatkan.
Itu alasan lain ia tidak ingin membunuh secara langsung, takut jika sampai arwahnya gentayangan dan menuntut balas. Padahal, sama saja dengan penyiksaan diberikan dan berakhir kematian.
Namun, bukan Reno namanya jika tak bisa berkilah bahwa dirinya tak melenyapkan, dan kematian bukan karenanya, jadi tidak ada yang boleh menggentayangi atau sekedar menuntut balas.
Darah dari kedua mata yang ia tancapkan pisau, menyembur pada pakaian juga tangan. Lebih dulu membersihkan dan mengganti dengan pakaian baru yang selalu tersedia dalam mobil, Reno selalu membuang pakaian usai ia kenakan untuk penyiksaan, apa lagi jika sudah ada noda darah dan pasti dijadikan abu.
...----------------...
Beberapa jam berlalu, Reno sudah berada di perjalanan kembali usai menyelesaikan mandi lebih cepat. Lebih ingin datang ke kediaman Anita dan tidur bersamanya, tapi juga tak ada pilihan lain ketika kedua orang tuanya ada di rumah.
Memasuki halaman rumahnya, terlihat wajah semakin malas terpasang. Reno menatap ke arah luar jendela, batin serta pikiran hanya mempertanyakan tentang ibu dari anaknya saja. Apakah mencari atau tidak, menyadari dirinya telah pergi atau tidak. Berulang menatap ponsel tak ada apa-apa.
Mobil terhenti di depan teras rumah, hendak dibukakan oleh penjaga namun didahului seorang wanita sengaja menunggu di depan. "Keluar! dasar anak tidak ada gunanya!" kata wanita bernama Maira, seketika menjewer telinga putranya dan menyeret keluar.
"Sakit, sakit! lepaskan telingaku!" protes Reno memegangi tangan sang mama semakin kuat menjewer.
Maira bergeming, tetap saja menjewer putranya. Tersenyum pria dengan buku di pangkuan, menanti di ruang tamu di mana tubuh Reno dihempaskan. "Sakit, Ma!" teriak Reno, mengusap telinga terasa panas.
"Dari mana saja?! kenapa baru pulang?! kamu tahu ini sudah jam berapa?! pantas seorang anak berkeliaran malam-malam?!" maki sang mama.
"Aku bukan anak kecil yang ada jam malam!" jawab Reno memajukan bibir sempurna.
Maira melepaskan alas kaki, diangkat dan ingin memukul putranya tapi diurungkan. Reno menggunakan kedua tangan untuk berlindung, Maira menurunkan alas kaki dan memakai lalu duduk. "Bukankah kalian harus menikah lebih dulu sebelum tinggal bersama?!" ucap Maira, menoleh putranya terkejut.
"Si—siapa? maksudnya apa? aku tidak mengerti," berwajah polos dan bodoh Reno, berulang kali menggelengkan kepala.
"Kamu pikir, kami tidak tahu apa-apa?! kamu punya anak sebesar itu dan kelakuan masih seperti anak kecil?! tidak tahu malu!" cecar Maira.
"Mama memata-mataiku?!" terlihat tak suka Reno.
"Untuk apa? mereka ada di sini," santai Maira, membingungkan putranya. Kedua alis Reno mengernyit, ada tanya di balik ekspresi kebingungannya kini. Beralih menatap papanya, Reno melihat kemana arah mata pria berkacamata di depannya bergerak.
"Oh, ya Tuhan!" terkejut Reno, melihat Anita juga Arga di ruangan sama dengannya. Kedua kaki terangkat ke sofa, menandakan seberapa kaget dirinya.
Arga menggelengkan kepala melihat ekspresi dari lelaki selalu marah-marah, terlihat seperti orang berkepribadian ganda. Bobby tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat putranya, yang bahkan tak sadar jika ada orang lain di ruang tamu miliknya.
"Ka—kalian kenapa di sini?!" tanya Reno.
"Mama! mama yang bawa mereka kemari!" sela Maira, sengaja memerintah pengawal untuk membawa Arga dan Anita datang sewaktu di perjalanan, agar putranya tak bisa mengelak.
Tetap dengan pakaian tidur sama, Anita tidak diberikan kesempatan untuk mengganti pakaian. Perempuan itu bahkan terlihat masih sangat mengantuk bersama putranya, walau sempat kaget ketika harus diseret datang tanpa kejelasan.
Perlahan Reno menurunkan kedua kaki, dia menarik Anita untuk dekat bersamanya dan langsung mengisi sela-sela jari. "Aku mencintainya, aku tidak ingin berpisah darinya!" kata Reno cepat. "Aku akan menikahinya, setelah mendapat restu dari orang tuanya lebih dulu."
"Kamu yakin? kalau papa jadi orang tua Anita, papa tidak akan memberi restu. Kenapa kalian tidak menikah lebih dulu, lalu datang meminta restu? itu akan lebih mudah," santai Bobby.
"Ah, kenapa aku tidak terpikirkan hal itu?" sahut Reno, seolah ada ide cemerlang tiba-tiba datang.
"Tidak, saya akan menikah se—," susul Anita, terhenti akan selaan dari ibunda Reno.
"Kamu yakin akan menunggu restu lebih dulu? kamu tidak ingin punya anak lagi kan? lihatlah mukanya, sudah ...." Maira tak melanjutkan dan hanya bergidik.
"Kenapa dengan wajahku?" lirih Reno tak ada rasa aneh.
"Mesum," singkat Arga. Reno menoleh kesal pada putranya, justru mengukir senyum kedua orang tua yang memang tahu banyak hal tentang ibu dan anak itu.
"Benar kan? papa bahkan bilang kalau aku harus tutup telinga dan berpegangan, siapa tahu ada gempa saat kalian tidur satu kamar. Apa itu bukan mesum?" terang Arga, langsung dibungkam mulutnya.
"Kamu ingin membunuhku?!" pelan Reno dalam mata peringatan diberikan.
Anita bersemu, menatap kedua orang tua Reno yang melongo usai mendengar perkataan bocah kini melepaskan paksa tangan sang papa dari mulutnya. "Mesum," kata Arga.
"Siapa? aku bukan mesum, hanya ingin panjang umur saja. Kamu tau, perempuan cantik dan seksi itu membuat laki-laki panjang umur dan sehat! dasar anak kecil!" kilah Reno.
"Mama cantik?" tanya Arga.
"Hehehe, cantik. Dia juga seksi, jadi wajar kan?" sahut Reno tanpa dosa, mendapat pukulan keras di punggung oleh dua tangan bersamaan. Reno menegakkan tubuh, memekik kesakitan pada punggung terasa lebih panas dari jeweran telinga ia dapat.
"Pantas bicara seperti itu pada anak kecil?!" protes Anita dan Maira bersamaan, suara terdengar kencang hingga Bobby dan Arga menutup telinga.
ap ms ad seosean 2 ny