Ketika kenyataan tak seindah bayangan...
Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.
Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.
"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~
"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu mantan
Radit tersenyum ketika mendapati jawaban Jenna. Lelaki itu masih menggenggam tangan Jenna, namun pandangannya mengarah pada matahari yang mulai turun.
Dan Jenna, hatinya terasa seperti dihinggapi banyak kupu-kupu. Dia tahu pasti wajahnya merona, senyumnya malu-malu, sementara tangan yang berada di genggaman Radit terasa basah karena keringat dingin.
"Mas ...."
"Ya."
"Aku mau minum," ujar Jenna. "Lepasin tangan aku," ujarnya tersenyum.
Radit terkekeh saat ia baru menyadari tangan Jenna masih berada di dalam genggamannya.
"Kan masih ada satu tangan lagi," ujarnya menggoda Jenna.
"Mas ... ih." Jenna melepaskan tangannya.
Jenna turun dari ayunan, melangkah ke sebuah meja kecil yang sudah terhidang pesanannya dan pesanan Radit.
"Mas Radit mau minum?" tanya Jenna, ia memberikan satu botol air mineral pada Radit.
"Kamu pesen makan apa?" tanya Radit menghampiri Jenna.
"Cuma sandwich, mau?"
"Mau." Radit membuka mulutnya.
"Bekas aku, di potong aja ya." Jenna membelah dua roti itu namun di cegah oleh Radit.
"Biar aja ...," ujarnya meraih tangan Jenna lalu menyuapkan sendiri roti itu ke mulutnya.
"Kamu tuh—," ujar Jenna berhenti bicara ketika tangan Radit menyentuh ujung bibir Jenna.
"Saos ... belepotan," ujar Radit santai, Jenna tanpa sadar mengusap ujung bibirnya karena malu.
"Liat pemandangan sore dari atap ini bagus ya Na," kata Radit menghampiri sisi roof top yang mengarah pada alun-alun di seberang jalan.
"Iya, sudah mulai banyak yang olahraga," ujar Jenna memperhatikan beberapa pasangan berlari mengelilingi alun-alun.
"Banyak yang pacaran juga," kata Radit, Jenna mengangguk.
"Kalo mbak Ellen tinggal di sini?" tanya Jenna.
"Ellen nge kost, daerah sini juga, kenapa?"
"Oh aku kira tinggal di sini, aku liat ada dua kamar tadi sebelum ke roof top."
"Iya, satu kamar tempat aku istirahat, satu kamar lagi untuk anak-anak yang lain kalo mau tinggal di sini."
Jenna mengangguk angguk tanda mengerti.
"Mbak Ellen itu sudah berkeluarga?"
"Kamu kayaknya lebih tertarik sama Ellen di banding sama aku." Radit menyandarkan tubuhnya pada tembok pembatas.
"Ya gak papa, salah ya?"
"Gak juga sih ... sekali-sekali gitu tanya tentang aku."
Jenna tertawa, "Mas Radit gak usah di tanya ntar juga cerita sendiri."
"Masih mau di sini, apa mau keluar?"
"Kemana?"
"Kemana aja ... nonton gitu, mau?"
Jenna menggigit bibirnya, berpikir sebentar. Jenna hanya takut jika mereka pergi keluar seperti ke Mall atau menonton ada orang yang mengenalinya dan memberitahukan pada salah satu anggota keluarganya.
"Pengen sih ... tapi," ujar Jenna ragu.
"Takut ada yang liat ya?" tebak Radit.
Jenna mengangkat kedua alisnya, lalu mengangguk.
"Kamu gadis rumahan Na, tapi sekali-kali menikmati waktu muda itu perlu, daripada nyesel." Radit tersenyum. "Gimana?"
"Oke," jawab Jenna, "tapi, kalo semisalnya nanti—" Perkataan Jenna terpotong.
"Tenang aja, aku ngerti harus gimana," kata Radit. "Ayo."
...----------------...
Studio dua di salah satu bioskop di daerah Bangka hari itu tak nampak ramai, Jenna dan Radit sengaja memilih film action untuk mereka nikmati.
Setelah menunggu Radit membelikan beberapa snack untuk menemani mereka menikmati film yang akan di putar, mereka pun masuk ke ruangan gelap berlayar besar itu.
"Kok sepi ya Mas?" tanya Jenna.
"Kalo mau rame kita ke pasar malem lagi aja gimana?" Radit balik bertanya sambil tertawa.
"Rese ah ...." Jenna cemberut.
"Ya aku gak tau Na, kenapa sepi ... mungkin yang tertarik sama film ini juga sedikit."
"Padahal kan ini cerita sekuel dan dulu rame kan," ujar Jenna yang masih penasaran.
"Mungkin juga kita yang telat nontonnya, jadi di saat rilis beberapa minggu udah rame nah kita baru bisa nonton sekarang jadi ya kayak sekarang udah gak gitu rame lagi."
"Iya juga sih ... eh Mas."
"Apa Na," Radit yang sudah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi menoleh pada Jenna.
"Aku gak mau ya, kalo nonton Mas Radit malah tidur ... aku tinggalin loh."
"Haha ... aku gak tidur."
"Boong, itu matanya aja udah kriyip-kriyip gitu," ujar Jenna.
"Gak ... aku gak tidur," kata Radit melempar satu buah popcorn pada Jenna.
"Bener ya ... kalo tidur aku tinggal."
"Bawel," ujar Radit membekap mulut Jenna dengan tangannya.
"Mas ... ih, mau aku gak napas," kata Jenna dengan mata membelalak dan tangan yang masih memegang tangan Radit.
"Kalo kamu gak napas, ntar aku kasih napas buatan, mau?"
"Ogah," Jenna menjawab cepat lalu melempar pandangannya ke depan layar sambil mengulum senyum lalu mengembalikan tangan Radit ke tempat yang seharusnya.
Radit hanya bisa tersenyum, sepanjang film di putar celoteh Jenna tak berhenti, bukan hanya membicarakan jalan ceritanya bahkan pembahasan tokoh di film itu pun dia kupas tuntas. Rasanya Radit geram ingin membungkam mulut gadis itu, namun sekali lagi Radit adalah pendengar setia. Dari sini Radit semakin tahu sebenernya Jenna adalah gadis yang ceria, mempunyai pengetahuan yang luas dan selalu bisa mengimbangi setiap pembicaraan mereka.
"Mas ... aku mau ke toilet," bisik Jenna.
"Tapi sebentar lagi kelar filmnya."
"Sebentar ya ... aku keluar dulu, aku titip tas aku," ujar gadis itu.
"Gak pake lama ya ... kalo lama aku tinggal," ujar Radit bercanda.
"Coba aja tinggalin," sungut Jenna beranjak dari duduknya.
"Udah sana buruan ... keburu abis filmnya, aku gak mau nyeritain ulang," kata Radit memasukan popcorn ke mulutnya.
Keluar dari toilet, Jenna tak sengaja menangkap sosok yang ia kenal. Sedang berdiri dengan seorang gadis yang juga ia kenal. Mata mereka saling berpandang, Jenna melemparkan senyum dan berjalan ke arah dua sosok kakak beradik itu.
"Kak Jenna," sapa Wita adik Raka.
"Wita, apa kabar?" Jenna menautkan pipinya pada gadis yang usianya tiga tahun lebih muda darinya.
"Baik, Kak Jenna apa kabar?"
"Baik, kapan Wita pulang?" tanya Jenna, Wita adik Raka kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta.
"Kemarin, bareng Kakak," ujar Wita.
Jenna melirik Raka, lelaki itu terlihat sedikit kurus walau penampilannya masih sangat keren, masih seperti Raka yang dulu.
"Sama siapa ke sini?" tanya Raka.
"Sama temen," jawab Jenna.
"Kak, aku ke toilet sebentar ya ...."Wita undur diri seakan memberi ruang pada Raka dan Jenna.
"Aku baru mau ngabarin kamu, sepulang dari nemenin Wita," ujar Raka.
"Oh ... Raka, aku masuk dulu ya, tadi gak enak ninggalin temen di dalem," ujar Jenna menutupi rona wajah yang terlihat tak enak.
"Balik bareng aku, Na," kata Raka meraih tangan Jenna.
"Em ... aku—" Jenna tergagap.
"Kenapa? temen-temen kamu bisa pulang dengan yang lain kan?" tanya Raka sedikit curiga. "Kita antar Wita pulang dulu lalu aku antar kamu pulang," ujar Raka lagi masih dengan tangannya yang belum melepaskan tangan Jenna
"Na," ujar suara itu dari belakang tubuh Jenna.
enjoy reading 😘
dua part hari ini ya ... besok lagi, tahan harap di tahan rasa di hatinya yaaaah 😂 jangan lupa like sama komen Chida selalu menanti 😊
dalem banget artinya
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba