~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
***
Sejak hukum adat baru ditetapkan secara resmi oleh Rangga Wira dan Mbah Karsa, ketenangan yang hakiki akhirnya menaungi Pustu Hulu Rawa. Tak ada lagi rasa cemas, prasangka buruk, atau tatapan penuh kebencian yang harus Melani hadapi saat melangkah keluar dari tempat tinggalnya. Bidan muda berparas manis itu kini dapat menjalankan tugas kemanusiaannya dengan lapang dada dan penuh rasa sukacita.
Dampak dari pengakuan terbuka para tetua sungguh luar biasa. Saban pagi, sebelum embun mengering di atas daun-daun jati, teras panggung Pustu sudah diramaikan oleh antrean para ibu. Mulai dari ibu-ibu muda yang merasakan mual kehamilan pertama, hingga para ibu dengan usia kandungan tua yang hendak memastikan posisi bayi mereka, semuanya datang berbondong-bondong untuk memeriksakan diri kepada Bidan Melani.
"Bidan Melani, perut saya belakangan ini sering terasa kencang kalau malam," ujar seorang ibu hamil sambil mengelus perut besarnya.
Melani tersenyum hangat seraya mencatat di buku rekam medis. "Itu kontraksi palsu yang wajar, Bu. Tapi tetap harus rajin istirahat dan banyak minum air putih yang sudah direbus mendidih, ya."
Namun, lonjakan jumlah pasien yang meningkat berkali-kali lipat membuat Melani mulai kewalahan. Sebagai satu-satunya tenaga medis di desa terpencil tersebut, ia harus memeriksa puluhan pasien, menyiapkan resep, mencatat rekam medis, hingga merawat bayi-bayi yang datang berobat. Tubuhnya yang mungil tak jarang kelelahan hingga larut malam.
Sadar dirinya tak mungkin bekerja seorang diri tanpa menurunkan kualitas pelayanan, Melani memutar otak. Ia tak ingin menolak satu pun warga yang butuh bantuan. Sebuah gagasan bijak dan inklusif muncul di kepalanya: ia tidak akan menyingkirkan para dukun beranak tradisional, melainkan merangkul mereka untuk berjalan berdampingan.
Sore harinya, Melani mengumpulkan tiga dukun beranak senior di desa tersebut di teras Pustu. Mbah Salma—dukun tua yang dulu sempat memvonis cucu Mbah Karsa—duduk paling depan di atas tikar pandan bersama dua dukun beranak lainnya, Nek Timah dan Mak Senah.
Ketiga perempuan tua itu tampak agak canggung dan serba salah. Mereka memegangi selendang tenun masing-masing dengan pandangan tertunduk.
"Mbah Salma, Nek Timah, Mak Senah..." sapa Melani lembut, memecah keheningan seraya menyuguhkan teh hangat manis dan pisang rebus. "Terima kasih banyak sudah berkenan hadir sore ini."
Mbah Salma menghela napas pelan, menatap Melani dengan raut penuh rasa sungkan. "Bidan Melani... apakah kami berbuat kesalahan lagi hingga Bidan memanggil kami ke sini?"
Melani menggeleng cepat, lalu menyunggingkan senyum manisnya yang menenangkan. "Sama sekali tidak, Mbah. Justru sebaliknya. Saya memanggil Mbah dan Mak sekalian karena saya membutuhkan bantuan."
"Bantuan?" Nek Timah menyela bingung, membelalakkan matanya yang keriput. "Bantuan apa dari kami orang tua yang tak paham ilmu kota ini, Bidan?"
"Saya ingin mengajak Mbah Salma, Nek Timah, dan Mak Senah untuk menjadi mitra resmi Pustu—menjadi asisten persalinan saya," jelas Melani dengan mata berbinar jujur. "Pasien di Pustu makin hari makin banyak. Saya tidak sanggup jika harus menangani semuanya sendirian. Mbah dan Mak sekalian punya pengalaman puluhan tahun menenangkan ibu hamil dan sangat dipercaya oleh warga. Jika pengalaman itu dipadukan dengan teknik medis yang bersih dan steril, kita bisa menyelamatkan jauh lebih banyak ibu dan bayi di desa ini."
Mbah Salma tersentak, air mata menetes perlahan di pipinya yang keriput. "Bidan... Bidan tidak dendam pada kami yang dulu sering menyudutkan Bidan? Bidan sungguh mau mengajari kami?"
Melani memegang jemari keriput Mbah Salma dengan kedua tangannya, mengusapnya penuh kehangatan. "Ilmu medis ini bukan milik saya pribadi, Mbah, tapi milik keselamatan warga kita. Saya tidak punya dendam sedikit pun. Mau ya, Mbah, bantu saya?"
"Mau, Bidan! Kami sangat mau!" sahut Mak Senah penuh semangat, diikuti anggukan haru dari Mbah Salma dan Nek Timah.
Sejak hari itu, Melani secara rutin menggelar "Kelas Kemitraan Medis" di teras Pustu setiap sore. Dengan kesabaran tingkat tinggi, Melani mengajari para dukun tua tersebut langkah-langkah medis dasar. Ia mengajarkan standar mencuci tangan tujuh langkah memakai sabun antiseptik, cara mensterilkan kain dan peralatan, mengenali tanda-tanda bahaya persalinan seperti pendarahan atau panggul sempit, hingga cara mengukur tekanan darah sederhana.
"Nah, Mbah Salma, gosok sela-sela jarinya sampai bersih seperti ini sebelum menyentuh pasien," bimbing Melani seraya memeragakan gerakan cuci tangan.
Mbah Salma tertawa terkekeh melihat tangannya yang penuh busa sabun. "Wah, ternyata cuci tangan saja ada aturan resminya ya, Bidan! Pantas saja dulu tangan kotor kita sering bikin ibu hamil demam!"
"Betul, Mbah. Kebersihan adalah kunci utama mencegah kuman masuk," balas Melani ceria.
Para dukun tua itu sangat antusias dan bangga menerima ilmu baru. Mereka merasa dihargai dan diakui peran sosialnya tanpa harus merasa tersisih oleh kemajuan zaman.
Di tengah proses pelatihan yang hangat itu, langkah kaki tegap yang sangat dikenali Melani terdengar menaiki tangga kayu Pustu.
Rangga Wira melangkah masuk. Sang Ketua Adat mengenakan kemeja kain kasar berwarna gelap dengan lengan digulung hingga siku. Di kedua tangannya, ia membawa dua rantang kayu berisi nasi hangat, lauk pauk, dan potongan buah segar.
"Wah, Ki Rangga datang membawa perbekalan!" goda Nek Timah terkekeh, membuat ibu-ibu dan dukun tua di teras tersenyum-senyum.
Pipi Melani seketika merona merah muda. Ia berdiri merapikan rok tenunnya. " Pak Rangga... anda membawa apa?"
"Makan siang untukmu dan para asistenmu," jawab Rangga Wira datar dengan suara baritonnya yang berat, namun matanya memancarkan kelembutan yang sangat jelas saat menatap Melani. Ia meletakkan rantang kayu itu di atas meja. "Saya lihat dari tadi pagi kamu belum sempat menyentuh makanan. Jangan sampai Bidan Pelindung kita ini justru yang ambruk karena lupa makan."
"Duh, perhatian sekali Ketua Adat kita ini ya," bisik Mak Senah pada Mbah Salma, memicu tawa halus para dukun tua yang membuat suasana Pustu makin ceria dan riuh.
Melani makin salah tingkah, menunduk seraya memegangi batu hitam pada kalung tenun di dadanya. "Terima kasih banyak... Pak Rangga. Bapak selalu repot-repot memperhatikan saya."
"Menjaga keselamatan dan kenyamananmu di desa ini adalah tugas utama saya, Melani," balas Rangga pelan, berdiri cukup dekat hingga Melani dapat menghirup aroma kayu cendana yang khas dari tubuh tegap pria itu.
**
Beberapa minggu kemudian, kabar tentang kolaborasi indah dan keteraturan sistem kesehatan di Hulu Rawa akhirnya terdengar hingga ke tingkat kabupaten.
Suatu pagi yang cerah, gema deru mesin mobil pikap dan ambulans lapang menggetarkan jalan berbatu di batas perbatasan desa. Sebuah rombongan kendaraan medis resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten berhasil menembus jalanan terisolasi Hulu Rawa.
Seno dan para pemuda desa menyambut rombongan tersebut dengan ramah, membimbing mereka langsung menuju pelataran Pustu.
Seorang pria paruh baya berkacamata dengan seragam dinas kesehatan turun dari mobil pertama. Ia adalah Dr. Aris, Kepala Tim Pelayanan Kesehatan Daerah yang dulu sempat meremehkan ketahanan Pustu Hulu Rawa. Di belakangnya, beberapa perawat mengangkut boks-boks pendingin berisi vaksin imunisasi, kotak obat-obatan antibiotik lengkap, vitamin, serta set peralatan melahirkan steril yang baru.
Rangga Wira, Melani, bersama Mbah Karsa dan para dukun beranak berdiri menyambut mereka di halaman Pustu.
Dr. Aris melangkah mendekati Melani, matanya menyapu sekeliling bangunan Pustu. Ia terpaku takjub melihat kondisi Pustu panggung yang begitu bersih, papan informasi rekam medis yang tertata rapi di dinding, serta antrean warga yang tertib didampingi oleh para dukun beranak berpakaian bersih.
"Luar biasa..." gumam Dr. Aris dengan nada tak percaya. Ia menjabat tangan Melani dengan erat. "Bidan Melani! Laporan yang masuk ke meja kami ternyata bukan isapan jempol belaka. Kami dengar di sini terjadi penolakan berat terhadap medis, tapi apa yang saya lihat hari ini sungguh sebuah keajaiban!"
Melani tersenyum rendah hati. "Ini bukan keajaiban, Dok. Ini adalah hasil kerja keras dan keterbukaan hati seluruh warga Hulu Rawa, terutama berkat kepemimpinan Ketua Adat kami, Pak Rangga Wira, serta kesediaan para tetua untuk saling merangkul."
Rangga Wira melangkah ke samping Melani, berdiri tegap bagaikan benteng yang kokoh. "Masyarakat kami tidak pernah membenci kesehatan, Dokter. Kami hanya butuh rasa saling menghormati antara ilmu modern dan jiwa tanah kami. Bidan Melani telah membuktikan hal itu."
Mbah Karsa menopang tongkat kayunya seraya tersenyum bangga. "Benar, Dokter! Bidan Melani ini bukan cuma medis biasa, dia ini Bidan Pelindung Generasi Hulu Rawa! Dukun-dukun kami sekarang sudah pintar dan jadi asisten resminya!"
Dr. Aris terkekeh mengagumi ikatan kuat yang terjalin di desa tersebut. "Sungguh hal yang sangat langka dan patut menjadi contoh untuk seluruh desa terpencil di kabupaten ini!"
Dr. Aris memberi isyarat kepada timnya untuk menurunkan seluruh logistik medis. "Kami membawa pasokan obat-obatan lengkap, cairan antiseptik, alat bedah minor steril, serta vaksin polio, DPT, dan imunisasi dasar untuk seluruh anak di Hulu Rawa. Semua ini adalah hak desa ini atas pencapaian luar biasa kalian!"
Sorak gembira dan tepuk tangan meriah pecah dari warga desa yang menyaksikan momen tersebut. Anak-anak bersorak gembira melihat mobil medis membawa barang-barang baru.
Hari itu, program imunisasi masal pertama dalam sejarah Hulu Rawa berhasil dilaksanakan dengan damai, aman, dan penuh sukacita. Ibu-ibu membawa bayi mereka tanpa ada rasa takut sedikit pun, didampingi oleh Mbah Salma dan kawan-kawan yang membantu menenangkan para bayi saat disuntik.
Saat fajar mulai condong ke ufuk barat dan rombongan tim kabupaten berpamitan pulang, suasana Pustu kembali hening dan tenteram. Boks-boks obat baru telah tersusun rapi di lemari medis Melani.
Melani berdiri di tepi teras Pustu, menatap pemandangan desa di bawah pendar senja yang keemasan. Rasa lelah di tubuhnya sirnah digantikan oleh kebahagiaan dan rasa syukur yang tak membendung.
Sebuah pijakan langkah berat mendekat. Rangga Wira berdiri di samping Melani, menyandarkan tubuh tegapnya pada tiang kayu Pustu.
"Melani..." panggil Rangga dengan suara beratnya yang lembut.
Melani berpaling, menatap garis rahang tegas dan mata hitam tajam milik pria di sebelahnya. "Iya, Pak Rangga?"
Rangga memandangi mahkota bunga dan kalung tenun yang masih melekat anggun pada tubuh Melani, lalu menatap lurus ke dalam manik mata jernih gadis itu.
"Hari ini... kamu telah membawa cahaya baru yang tak akan pernah padam di tanah ini," bisik Rangga penuh ketulusan mendalam. "Terima kasih... karena tidak pernah menyerah pada kami."
Melani merasakan hatinya berdesir hebat. Senyum manis terukir indah di bibirnya seraya menatap Rangga tanpa ragu lagi. "Saya tidak akan pernah menyerah, Pak Rangga... karena di tanah ini, saya menemukan arti rumah yang sesungguhnya."
Di bawah pendar jingga senja Hulu Rawa, tatapan mata mereka saling mengunci—menyimpan ikatan cinta, keadilan, dan harapan baru yang tak tergoyahkan oleh apa pun di masa depan.
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭