Emma adalah seorang gadis di sebuah panti asuhan. Ia sangat ingin memiliki kedua orang tua yang menyayanginya sepenuh hati.
Tinggal di panti asuhan sedari bayi, membuatnya selalu bermimpi suatu saat akan ada pasangan suami istri yang mengadopsinya.
Hingga pada suatu hari, impian itu menghampirinya. Dan Emma diadopsi pasangan blasteran yang memiliki 4 orang anak laki-laki yang super tampan.
Akankah Emma bahagia bersama keluarga barunya?
Saya sebagai penulis, ingin sekali mengajak para pembaca yang budiman untuk mengikuti kisah Emma, Si Gadis Panti Asuhan. Berharap para pembaca senang dan terhibur oleh novel ini.
Terima kasih🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAN DUKA
Rimba berlari menghambur kepelukan pak Hamzah. Kembali meraung membuat pak Hamzah tertunduk. Terlihat juga butiran airmatanya disudut matanya yang lelah.
Dibelakang pak Hamzah ada bi Atun yang juga langsung menghambur memeluk Emma dan Excel.
Roman hanya terpekur menangis dilantai. Tapi langsung dirangkul juga oleh pak Hamzah. Suasana begitu menyedihkan meski ramai oleh tangisan mereka.
"Bi Atun! Tolong, segera rapikan pakaian mereka semuanya. Saya akan membawa mereka ketempat peristirahatan terakhir kedua orangtuanya di San Diego Hills di Karawang besok. Diego dan pak Burhan sedang mengurus kepulangan jenazah dari Natuna ke rumah sakit Gatot Subroto."
Mereka menuruti perkataan pak Hamzah. Hanya duduk diam dijok mobil dengan fikiran masing-masing.
Seperti mimpi buruk disiang bolong. Tiba-tiba kabar tak enak itu menghantam mereka membuat mereka terpukul bahkan terpental jauh untuk menerima kenyataan yang ada.
Mereka nyaris tak pernah memikirkan hal ini. Papi mami mereka pergi secepat ini karena musibah kecelakaan pesawat. Seluruh penumpang dan awak kapal meninggal dunia tak bersisa karena sebelum jatuh keperairan dalam Natuna, meledak terlebih dahulu diudara dengan ketinggian diatas rata-rata.
Emma hanya mengikuti langkah kaki keempat kakaknya. Menerima karangan bunga dan meletakkannya diatas pusara kedua orangtua angkatnya.
Meski ia hanya anak adopsi, meski kedua orangtuanya tidak menyayanginya setulus hati, tapi Emma sangat terpukul menerima kenyataan ini. Membuatnya juga limpung kebingungan bagai anak itik tertinggal induk semangnya. Terlebih melihat dan menyaksikan kerapuhan keempat kakak lelakinya yang lebih down daripada dirinya membuatnya lebih sedih.
Pak Hamzah mewakili keluarga mereka menerima ucapan belasungkawa beberapa kerabat dan relasi tuan Karim dan nyonya Farida.
Suasana pemakaman begitu sepi dan menyesakkan bagi Diego dan keempat adiknya.
Mereka hanya mengikuti langkah pak Hamzah. Karena mereka semua sama sekali tidak mengerti apapun. Untuk mengurus melakukan proses pemakaman juga penerimaan santunan maupun asuransi dari pihak penerbangan.
Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan apa saja sepak terjang usaha yang papi mami mereka lakukan saja mereka sama sekali tidak tahu. Karena papi maminya sama sekali tidak memberitahukan pada mereka.
Tugas mereka hanyalah sebagai anak, belajar dengan benar dan turuti kata mereka. Itu saja. Karena mereka memberikan segala fasilitas seperti pangan, sandang dan papan bahkan apapun yang mereka butuhkan.
Selama seminggu mereka tinggal divilla pak Hamzah didaerah Kerawang tak jauh dari pemakaman. Semua keperluan mereka dipenuhi oleh pak Hamzah. Bahkan kamar mereka pun satu persatu lengkap dengan lemari pakaian penuh pakaian baru yang bisa mereka gunakan.
"Untuk seminggu ini, kalian tinggallah disini. Bapak sudah mengurus izin pada pihak kampus dan sekolah kalian. Jangan khawatir,.... bapaklah sekarang orangtua kalian! Anggaplah bapak seperti kalian menganggap papi mami kalian! Jangan sungkan! Bapak tidak punya keluarga juga. Jadi, kalianlah kini keluarga bapak. Jangan takut! Masa depan kalian akan seperti rencana papi mami dan kalian sendiri. Kalian tetap bisa menjalankan rutinitas seperti biasa. Saya akan ada bersama kalian!"
"Terima kasih, pak Hamzah! Saya tidak tahu harus berbuat apa bila tak ada bapak!" Diego menunduk. Matanya sembab karena seringnya menangis.
"Semangat ya, Diego! Kamulah yang akan meneruskan usaha papimu nanti. Karena kamu adalah anak paling besar. Kamulah yang akan menjaga adik-adikmu.
Tapi jangan khawatir, saya akan memberimu waktu hingga 3 tahun kedepan dan kamu jadi sarjana manajemen. Saya akan selalu ada menemanimu selama nafas saya masih dalam ruh."
Diego menangis terharu dalam pelukan hangat pak Hamzah. Sungguh ia tak pernah menyangka menyandang gelar yatim piatu secepat ini. Lalu menjadi pria dewasa mengurus dan merawat keempat adik-adiknya. Untuk mengurus dirinya sendiri saja ia merasa belum mumpuni, apalagi menjadi tulang punggung dan kepala keluarga bagi keempat adik-adiknya.
Diego merasa sangat depresi ketika memikirkan itu.
Semuanya kini ia pasrahkan dan percayakan pada pak Hamzah. Meski tiada ikatan darah, pak Hamzah terlihat tulus mendampingi mereka. Sedang kerabat dekat mereka dari papi di Scotlandia terkesan lepas tangan dan kurang peduli mengingat jarak dan biaya yang harus mereka tempuh.
Diego hanya bisa berharap kehidupannya dan adik-adiknya masih akan tetap sama seperti ketika papi maminya masih ada.
💞Bersambung💞
anak kecil dijadiin babu
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
coba singgah dulu... seperti nya awal yang sedih...