NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Panggilan Menuju Neraka Pasir dan Percakapan Dua Dalang

Hawa panas yang menguar dari sisa-sisa ledakan alkimia di tengah hutan purba Little Garden masih terasa memanggang kulit. Di area terbuka yang kini dipenuhi oleh kawah-kawah kaca akibat pasir yang meleleh dan tanah yang hangus, ketegangan antara kelompok Topi Jerami dan Roy Mustang mencapai titik kulminasi.

​Monkey D. Luffy memiringkan kepalanya, senyum lebarnya perlahan memudar melihat raut wajah Roronoa Zoro yang mengeras bagaikan baja. Sebagai kapten yang digerakkan oleh insting murni, Luffy bisa merasakan bahwa pria berseragam militer di depannya ini bukanlah seseorang yang bisa diajak bersenda gurau. Hawa keberadaannya setajam pedang yang siap diayunkan.

​Zoro mengambil satu langkah ke depan, menempatkan dirinya tepat di antara Luffy dan Mustang. Tangan kirinya menggenggam erat sarung Sandai Kitetsu, sementara tangan kanannya sudah bertumpu pada gagang Wado Ichimonji. Urat-urat halus bermunculan di lengan pendekar pedang berambut hijau itu. Luka tebasan melintang di dadanya—warisan dari Dracule Mihawk—berdenyut nyeri seolah merespons aura mematikan di sekitarnya.

​"Tadi kau bilang kalian sedang membersihkan sampah, Pria Api," suara Zoro terdengar berat, serak, dan dipenuhi oleh kewaspadaan tingkat tinggi. Mata tunggalnya menatap lekat setiap inci pergerakan Mustang. "Tapi melihat kawah yang kau buat dan raksasa yang terluka di sana... gaya 'membersihkanmu' itu lebih mirip dengan pembantaian. Di mana temanmu yang berjubah hitam itu? Dan apa urusan kalian di pulau antah-berantah ini?"

​Usopp yang bersembunyi di balik kaki Zoro menelan ludah dengan keras, kakinya gemetar hebat hingga lututnya saling beradu. "Z-Zoro! J-Jangan memprovokasi dia! K-Kau tidak lihat apa yang dia lakukan di Whiskey Peak?! D-Dia bisa mengeluarkan api dari tangannya! Kita akan dipanggang menjadi sate!"

​Mustang tidak langsung menjawab. Ia berdiri dengan postur tubuh yang sangat rileks, sebelah tangan di dalam saku celana, sementara tangan lainnya yang berbalut sarung tangan pyrotex sibuk merapikan kerah seragam militernya. Ia memandang kelompok bajak laut muda itu dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara keangkuhan seorang komandan dan rasa geli melihat keberanian yang naif.

​"Kau memiliki insting bertahan hidup yang sangat baik, Roronoa," ucap Mustang perlahan, suaranya yang bariton menggema tenang di tengah dengungan serangga purba. "Tapi kau terlalu tegang. Jika aku berniat membakar kalian, kau tidak akan memiliki kesempatan untuk mencabut pedangmu. Oksigen di sekitar kalian sudah kusedot habis sebelum kau bisa berkedip."

​Zoro menyeringai sinis, memperlihatkan deretan giginya. "Heh. Kau boleh mencobanya kalau kau pikir pedangku tidak bisa membelah api."

​"Shishishi!" Luffy tiba-tiba tertawa, memecah ketegangan yang mencekik itu. Pemuda karet itu meninju telapak tangannya sendiri. "Aku tidak tahu apa yang kalian ributkan! Tapi Paman Api ini sangat kuat! Dan jika dia tidak mau menyerang kita, berarti dia bukan musuh saat ini!"

​Mustang menaikkan sebelah alisnya, sedikit takjub pada kesederhanaan logika sang kapten Topi Jerami. Anak ini... kecerdasannya mungkin berada di bawah rata-rata, tapi instingnya untuk membedakan niat membunuh sangatlah tajam. Tuan Muzan benar, mereka adalah variabel yang menarik.

​"Kaptenmu jauh lebih bijaksana darimu, Pendekar Pedang," sahut Mustang, memutar tubuhnya perlahan menyamping. Ia menunjuk ke arah Brogy yang masih berlutut di tanah, meratapi Dorry yang terluka parah. "Kami datang ke sini untuk melenyapkan empat agen Baroque Works yang mencoba membunuh raksasa-raksasa ini demi keuntungan kotor mereka. Dan omong-omong..."

​Mustang menatap langsung ke dalam mata Luffy.

​"...Tuan Putri berambut biru yang membonceng di kapal kalian, Vivi. Dia saat ini sedang menikmati teh hangat dengan aman di atas geladak kapal kami. Kami telah mengambil alih kontrak untuk mengantarkannya pulang ke Alabasta dan menyelesaikan masalah kudeta di kerajaannya."

​Mata Luffy membelalak lebar. "Eh?! Vivi ada di kapal kalian?! Kenapa kalian membawanya pergi?!"

​"Bukan membawa pergi," koreksi Mustang dengan nada elegan. "Kami memberikan perlindungan yang tidak bisa kalian berikan. Musuh yang mengincar kerajaannya adalah Sir Crocodile, salah satu dari Tujuh Dewa Lautan (Shichibukai). Sekelompok bajak laut amatir dengan satu kapal karavel kecil tidak akan pernah bisa menembus markas besarnya hidup-hidup. Kami mengambil alih beban itu, karena kepala Crocodile memiliki nilai yang jauh lebih tinggi di mata kami."

​Zoro mengerutkan keningnya, mencerna informasi tersebut. "Jadi kalian pemburu bayaran? Menargetkan Shichibukai? Kalian benar-benar sekelompok orang gila yang mencari mati."

​"Mungkin," balas Mustang santai, senyum arogannya kembali terukir. "Tapi kami adalah orang-orang gila yang memegang kendali atas takdir. Jika kalian memang peduli pada teman putri kalian itu, datanglah ke Alabasta. Kami akan meninggalkan remah-remah Crocodile untuk kalian bersihkan. Sampai jumpa di neraka pasir, Topi Jerami."

​Tanpa memberikan kesempatan bagi Luffy atau Zoro untuk membalas, tubuh Roy Mustang tiba-tiba diselimuti oleh partikel cahaya ungu yang berpendar terang. Dalam sekejap mata, sosok sang Kolonel menguap ke udara, ditarik kembali secara paksa ke dalam dimensi Puppet Storage oleh sistem Muzan.

​Luffy, Zoro, dan Usopp ternganga menatap udara kosong di tempat Mustang baru saja berdiri.

​"D-D-Dia menghilang!" jerit Usopp sambil memegangi kepalanya. "Sihir! Itu pasti sihir hitam! Aku sudah bilang pulau ini dikutuk!"

​Zoro menyarungkan kembali pedangnya perlahan, wajahnya masih tegang. "Dia tidak menghilang dengan sendirinya. Dalang berjubah hitam itu... dia yang menariknya kembali dari jarak jauh. Kekuatan mereka benar-benar tidak masuk akal."

​Luffy menekan topi jeraminya ke bawah, bayangan menutupi sebagian wajahnya. Tiba-tiba, ia menyeringai lebar, sebuah senyuman yang dipenuhi oleh semangat kompetitif yang membara.

​"Shishishi! Mereka mengambil Vivi dan ingin mengalahkan bos buaya itu sendirian? Jangan bercanda!" Luffy meninju udara dengan penuh semangat. "Kita akan pergi ke Alabasta! Aku yang akan menendang pantat buaya itu dan merebut Vivi kembali! Zoro, Usopp, ayo kembali ke kapal! Sanji dan Nami pasti sedang menunggu!"

​Zoro tersenyum tipis, rasa sakit di dadanya seolah menguap oleh semangat kaptennya. "Dasar kapten bodoh yang merepotkan. Baiklah, mari kita tunjukkan pada kelompok bayangan itu siapa yang sebenarnya menguasai lautan ini."

​Sementara kelompok Topi Jerami mengumpulkan tekad mereka, jauh di kedalaman hutan purba Little Garden, sesosok bayangan hitam melesat membelah vegetasi yang lebat dengan kecepatan yang nyaris tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang.

​Muzan Kibutsi berlari menembus hutan. Jubah hitamnya berkibar lurus ke belakang. Dengan 105 Poin Kecepatan, ia bergerak layaknya hembusan angin hantu. Akar-akar pohon raksasa, rawa berlumpur, dan semak berduri dilewatinya tanpa sedikit pun mengurangi momentumnya.

​Di dalam ruang mentalnya, radar Mantra dari Enel yang melayang di langit terus memberikan panduan titik koordinat yang presisi.

​"Mereka bergerak ke arah utara, Pencipta. Sekitar dua kilometer dari posisimu," suara Enel menggema dengan nada bosan. "Seekor burung hering bodoh yang memakai kacamata penerbang dan seekor berang-berang yang membawa senjata api. Apakah Kau benar-benar ingin aku membiarkan makhluk-makhluk konyol ini hidup? Satu sambaran petirku akan mengubah mereka menjadi ayam panggang."

​"Tahan dirimu, Enel," balas Muzan melalui telepati, matanya fokus menatap ke depan. "Mereka membawa benda yang sangat kita butuhkan. Jika kau membakar mereka, kau juga akan membakar barang bawaannya."

​Muzan terus melesat. Tak lama kemudian, pendengarannya yang tajam menangkap kepakan sayap yang berat dan suara decitan kecil dari atas kanopi hutan.

​Muzan menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, memanfaatkan otot kakinya yang setara manusia super untuk meredam momentum dalam jarak kurang dari setengah meter. Ia mendongak ke atas, menatap celah di antara daun-daun raksasa.

​Di sana, terbang rendah menghindari ranting-ranting pohon, adalah Miss Friday (burung hering raksasa) dan Mr. 13 (berang-berang laut) yang duduk di punggung burung tersebut. Mereka adalah The Unluckies, agen penyampai pesan dan eksekutor rahasia milik Crocodile. Di leher Miss Friday tergantung sebuah kantong kulit kecil.

​Muzan tidak membuang waktu. Ia merendahkan kuda-kudanya, memompa tenaga ke kedua tungkainya.

​BAM!

​Tanah di bawah kaki Muzan meledak, menciptakan kawah kecil. Tubuhnya melesat ke udara seperti peluru meriam, memotong jarak puluhan meter ke udara hanya dalam satu lompatan murni.

​Miss Friday dan Mr. 13 yang sedang terbang santai tiba-tiba merasakan hawa kematian yang luar biasa pekat mendekat dari arah bawah. Mr. 13 panik, mencabut pistol dari balik cangkangnya dan mencoba membidik ke arah bawah.

​Namun, sebelum berang-berang itu bisa menarik pelatuk, Muzan sudah berada tepat di depan wajah mereka di udara.

​Mata hitam Muzan menatap kedua hewan agen tersebut. Tidak ada gerakan fisik, tidak ada pukulan. Ia hanya melepaskan sepersekian persen dari Haoshoku Haki yang kini tertanam di dalam jiwanya.

​Sebuah tekanan mental yang sangat pekat, seperti godam baja yang menghantam langsung ke dalam sistem saraf, meledak di udara.

​Miss Friday dan Mr. 13 membelalakkan mata mereka. Busa putih keluar dari mulut mereka. Sayap raksasa Miss Friday berhenti mengepak seketika. Keduanya kehilangan kesadaran secara instan dan mulai jatuh bebas ke arah tanah seperti batu.

​Muzan, dengan keanggunan seorang akrobatik elit, merampas kantong kulit dari leher burung tersebut di tengah udara, menendang batang pohon di dekatnya untuk mengubah momentum jatuhnya, lalu mendarat dengan mulus di atas dahan raksasa tanpa suara. Sementara itu, kedua agen hewan malang itu jatuh menghantam semak belukar di bawah dengan bunyi debuman keras.

​Muzan membuka kantong kulit tersebut. Di dalamnya, terdapat sebuah Eternal Pose yang menunjuk ke arah Alabasta, dan sebuah Den Den Mushi komunikasi khusus dengan cangkang berwarna emas dan hitam.

​Muzan tersenyum dingin. Ini adalah jalur langsung ke singgasana sang Shichibukai. Di alur asli cerita, Sanji-lah yang secara tidak sengaja mengangkat telepon ini dan berpura-pura menjadi Mr. 3 untuk mengelabui Crocodile.

​Namun hari ini, tidak akan ada penipuan. Tidak akan ada tipu muslihat murahan. Hari ini, sang Dalang akan secara resmi mendeklarasikan perangnya.

​Puru puru puru puru... Puru puru puru puru...

​Seolah merespons niat Muzan, Den Den Mushi di tangannya tiba-tiba berdering nyaring. Siput komunikasi itu terbangun, matanya berkedut, siap untuk menghubungkan dua titik yang berjarak ribuan mil laut.

​Muzan duduk dengan santai di atas dahan pohon, merapikan jubahnya. Ia menatap wajah Den Den Mushi itu yang perlahan berubah, meniru wajah sang penelpon. Kelopak matanya menyipit angkuh, dan sebuah benjolan yang menyerupai cerutu tebal muncul di mulut siput tersebut.

​Muzan menekan tombol penerima.

​Clack.

​Kesunyian yang berat mengalir dari balik sambungan telepon itu selama beberapa detik. Hanya terdengar suara hembusan asap cerutu yang tenang namun dipenuhi otoritas mematikan.

​"Mr. 3," suara bariton yang sangat berat, serak, dan mengintimidasi akhirnya terdengar dari siput tersebut. Sir Crocodile, Mr. 0, berbicara dari dalam kasinonya di Rainbase. "Laporanmu terlambat. Apakah kau sudah menyelesaikan tugas pembersihan di Little Garden? Putri Vivi harus dieliminasi tanpa sisa."

​Muzan Kibutsi tidak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan mengambil alih, membiarkan pikirannya menyusun setiap kata menjadi pedang psikologis yang akan mengoyak kesombongan sang penguasa padang pasir.

​"Aku khawatir, Crocodile," suara Muzan akhirnya mengalun, rendah, dingin, dan benar-benar asing bagi telinga Crocodile. "Mr. 3 saat ini sedang mengambil cuti panjang yang sangat panas di dalam dimensiku. Bersama dengan Mr. 5, Miss Valentine, dan rekan ciliknya. Kurasa... mereka tidak akan pernah bisa menyelesaikan laporan mereka padamu."

​Di seberang sana, di ruang VIP kasino Rain Dinners di Alabasta, Sir Crocodile menghentikan isapan cerutunya. Cangkang Den Den Mushi di tangan Muzan meniru ekspresi terkejut Crocodile yang mengerutkan keningnya tajam.

​"Siapa kau?" geram Crocodile, nadanya turun beberapa oktaf menjadi geraman mematikan. "Berani sekali kau menyentuh agen-agen Baroque Works dan mengangkat saluran komunikasi pribadiku. Siapa yang membayarmu, bajingan? Angkatan Laut? Atau kau hanyalah pemburu bayaran bodoh yang bosan hidup?"

​Muzan tertawa pelan. Tawa yang sangat meremehkan, seolah-olah ia sedang berbicara dengan seorang anak kecil yang marah karena mainannya direbut.

​"Membayar kami?" Muzan menghela napas teaterikal. "Kau terlalu mengagungkan dirimu sendiri, Buaya Pasir. Kami tidak dibayar oleh siapa pun. Kami adalah pihak yang memungut bayaran dari dunia ini. Namaku adalah Pemimpin Erebus."

​"Erebus..." Crocodile mengulang nama itu. Otaknya bekerja cepat, mencoba mencari referensi nama tersebut di pasar gelap Grand Line. "Organisasi antah-berantah. Dengar baik-baik, tikus kecil. Kau mungkin merasa hebat karena mengalahkan sampah seperti Mr. 3. Tapi kau baru saja meletakkan lehermu di bawah guillotine. Aku akan memastikan pasir menelan—"

​"Menelan apa, Crocodile?" potong Muzan dengan tajam, suaranya kini dipenuhi dominasi absolut. "Menelan rencana Operasi Utopia-mu? Menelan usahamu yang menyedihkan untuk memicu pemberontakan Koza melawan Raja Cobra? Atau..."

​Muzan sengaja memberi jeda dramatis, membiarkan keheningan mencekik udara di seberang sana.

​"...Atau kau berencana menelanku bersama dengan senjata kuno Pluton yang kau cari mati-matian di bawah makam Kerajaan Alabasta?"

​CRAAAAK!

​Suara kaca tebal yang hancur berkeping-keping terdengar keras dari Den Den Mushi, diikuti oleh suara kayu meja yang patah. Di Rainbase, Crocodile baru saja meremukkan gelas kristal di tangannya, matanya membelalak lebar dengan urat-urat kemarahan dan teror yang meledak di pelipisnya.

​"D-Dari mana kau..." Suara Crocodile bergetar untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun. "Siapa kau sebenarnya?! Darimana kau mengetahui informasi itu?!"

​Rahasia tentang Pluton dan konspirasi Alabasta adalah sesuatu yang hanya diketahui olehnya dan Nico Robin. Mengetahui bahwa ada entitas bayangan lain di Grand Line yang mengetahui seluruh rencana besarnya dari A hingga Z adalah sebuah mimpi buruk intelijen.

​"Aku mengetahui segalanya, Crocodile," bisik Muzan, menikmati setiap detik kepanikan sang Shichibukai. "Kami mengawasi dunia dari balik layar yang tidak bisa kau sentuh. Dan saat ini, kau telah menjadi target kami. Nico Robin telah pergi. Putri Vivi ada di tangan kami. Peta permainan ini telah berubah."

​"JANGAN BERMAIN-MAIN DENGANKU, KEPARAT!" raung Crocodile, murkanya meledak. "KAU PIKIR AKU AKAN TAKUT PADA ANCAMAN KOSONG?! DATANGLAH KE ALABASTA! AKU AKAN MENGUBAHMU MENJADI MASEMI KERING!"

​"Kami pasti datang," jawab Muzan tenang, matanya menatap tajam ke arah langit Little Garden. "Dan saat kami tiba di Rainbase... pastikan lehermu sudah bersih. Karena Erebus akan mencabut gelar Shichibukai-mu dan mengambil alih seluruh kerajaanmu. Tunggu kami."

​Clack.

​Muzan menekan tombol pemutus, memutuskan sambungan secara sepihak. Ia melempar Den Den Mushi yang sudah tertidur itu ke udara, menangkapnya kembali dengan santai, lalu memasukkannya ke dalam saku jubahnya beserta Eternal Pose menuju Alabasta.

​Perang urat saraf telah dimenangkan. Muzan berhasil menanamkan benih parnoia terdalam ke dalam jiwa sang ahli strategi Baroque Works. Crocodile kini tidak akan fokus pada pemberontakan; ia akan membuang seluruh sumber dayanya untuk mencari tahu siapa Erebus dan mempersiapkan pertahanan di Rainbase, membuat celah besar yang bisa dieksploitasi oleh kelompok Topi Jerami dan Muzan sendiri.

​"Panggung telah ditata," gumam Muzan, melompat turun dari pohon.

​Ia bergerak cepat kembali ke bibir pantai tempat kapal Tartarus berlabuh. Di atas geladak, Vivi dan Mr. 9 masih meringkuk ketakutan, diawasi oleh Roy Mustang.

​Muzan melangkah naik ke atas geladak, jubahnya berkibar dihembus angin laut yang mulai kencang. Ia berjalan menuju ruang kemudi, mengeluarkan Eternal Pose Alabasta, dan menancapkannya ke dalam slot navigasi otomatis kapal Shadow-Wood tersebut.

​Bola kaca itu bersinar redup, jarumnya mengunci secara permanen ke arah satu titik di konstelasi magnetik Grand Line.

​"Kita berangkat," perintah Muzan. "Tujuan akhir: Kerajaan Pasir Alabasta."

​Namun, tepat sebelum kapal Tartarus mulai bergerak, awan hitam tebal di atas Little Garden tiba-tiba berputar liar, membentuk pusaran raksasa yang menutupi cahaya matahari sepenuhnya. Hawa statis yang sangat luar biasa pekat menyelimuti udara, membuat rambut Vivi berdiri dan insting Mr. 9 menjerit ketakutan.

​Dari tengah pusaran awan mendung tersebut, sebuah pilar petir raksasa menyambar turun, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mendarat tepat di atas anjungan kapal Tartarus.

​KRAK-THOOM!

​Cahaya menyilaukan mereda, menyisakan sosok Enel yang berdiri dengan penuh keangkuhan. Tongkat emasnya bertumpu di bahu, dan cincin di punggungnya berderak pelan mengeluarkan sisa-sisa listrik. Ia menatap daratan Little Garden yang perlahan menjauh dengan tatapan merendahkan.

​"Tempat yang membosankan," dengus Enel, melirik ke arah Muzan. "Apakah mainan selanjutnya akan sedikit lebih menghibur, Pencipta? Aku belum sempat menguji kekuatan 'Hukuman Ilahi'-ku secara maksimal."

​Vivi dan Mr. 9 mematung di sudut geladak. Mata mereka melebar seukuran piring menatap Enel. Mereka merasakan tekanan energi yang jauh lebih mengerikan daripada Roy Mustang. Orang ini tidak menggunakan sihir atau alkimia; orang ini terbuat dari petir murni.

​Muzan menatap Enel, lalu menatap Eternal Pose di kemudi. Senyum sang Dalang mengembang dalam kegelapan.

​"Oh, kau akan mendapatkannya, Enel," jawab Muzan. "Di padang pasir yang akan kita tuju, tidak ada hujan yang turun selama bertahun-tahun. Mari kita lihat, apa jadinya jika Sang Dewa Petir menurunkan badai kehancurannya di atas ibu kota kerajaan itu."

​Kapal Tartarus berbalik arah, layarnya yang hitam legam membengkak menahan angin Grand Line. Meninggalkan sisa-sisa pertempuran sejarah para raksasa dan Topi Jerami di Little Garden, sang Dalang kini meluncur lurus menuju pusaran konflik terdahsyat di paruh pertama Grand Line. Alabasta menanti kedatangan malam yang panjang.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!