Putri harus menjadi yatim piatu saat usianya baru 5 tahun. Sesuai amanat papanya, Putri dititipkan pada sahabatnya yang bernama Fadli. Ini disambut baik oleh Fadli dan Kirana yang memang sangat menginginkan anak perempuan. Mereka sendiri telah dikaruniai 2 orang anak laki-laki bernama Fahri dan Farhan.
Kasih sayang ayah, bunda serta kedua kakaknya membuat Putri tumbuh menjadi anak yang pintar dan ceria. Seiring berjalannya waktu perasaan lain mulai tumbuh di hati Putri pada salah satu kakaknya.
Banyak pria yang mengejar-ngejar Putri namun hanya ada satu nama di hatinya. Siapakah yang akan menjadi pelabuhan hati Putri? Apakah dia bisa mendapatkan cinta pertamanya?
Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan
Di saat kita senang, maka akan banyak orang yang mau berteman dengan kita. Namun di saat kita susah, hanya segelintir orang yang mau menemani. Mereka yang mau menemani kita di saat senang atau pun susah adalah teman sejati. Teman sejati tidak bisa dibeli dengan uang. Teman sejati datang dari ketulusan hati seseorang. Seberat apapun masalah yang menerpa, semua akan menjadi mudah dengan adanya teman sejati di sisi kita.
Ini adalah hari terakhir Putri menjalani hukumannya, membersihkan semua toilet yang ada di lantai 1. Keseluruhan kamar mandi di lantai ini ada 2. Masing-masing kamar mandi mempunyai 3 toilet. Jadi seminggu ini, Putri akan membersihkan 6 toilet. Tapi Putri tidak mengerjakannya sendirian. Ada anggota kuartet gesrek yang membantunya setiap hari. Bahkan Zaki menyogok pak Diman, penjaga sekolah yang bertugas mengawasi proses hukuman Putri agar tutup mulut. Sungguh sebuah persahabatan yang manis di antara mereka.
Sehabis membersihkan toilet terakhir, kuartet gesrek ini bersiap-siap pulang. Seperti biasa, Putri akan dijemput oleh mang Yayan, ojek langganannya. Zaki dan Dinda dijemput supir, sedang Ajeng naik angkot. Sebelum berpisah, mereka mengingatkan kembali janji mereka berkumpul di rumah Dinda untuk mengerjakan tugas kelompok.
Putri merebahkan dirinya di atas kasur. Dia lega, akhirnya hukumannya berakhir sudah. Dia sungguh berterima kasih pada para sahabatnya yang dengan setia membantunya menjalani hukumannya.
Setelah membersihkan diri, Putri turun ke bawah langsung menuju meja makan. Cacingnya sedari tadi sudah mengamuk minta jatah. Air liurnya menetes melihat sop buntut yang tersaji di meja. Dengan cepat dia menuangkan nasi dan sop ke dalam piring. Baru saja dia akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Zaki.
“Halo.”
“Halo Put. Lo lagi santai kan? Gue mau curhat nih.”
“Curhat apaan sih Zak?”
“Dinda, Put. Kira-kira kalau gue nembak dia bakal diterima ngga ya?”
“Ya mana gue tau.”
“Ah elo. Korek-korek dikit kek, kira-kira si Dinda punya perasaan ngga sama gue. Atau dia lagi ngeceng siapa gitu.”
“Setahu gue dia belum suka sama siapa pun. Lo kan tau sendiri dia mah orangnya polos. Ada cowo yang suka sama dia aja dia ngga ngeh. Mending elo..”
“Eh bentar Put,” Zaki menyela ucapan Putri.
BRAT BRET BROT
PEREPET PET PET PET
“Zaki!! Bunyi apaan tuh?”
“Hehehe.. gue lagi boker Put.”
“Semprul lo bikin nafsu makan gue hilang aja. Udah ah!!”
Putri segera memutuskan panggilan. Suara alam dari bokong Zaki sungguh merusak nafsu makannya. Yang terbayang di hadapannya sekarang bukanlah potongan buntut sapi, tapi bongkahan berwarna kuning yang biasa mengambang di kali. Putri bergidik melihat makanan di depannya. Hilang sudah selera makannya.
“Zaki kampret, ngerusak nafsu makan gue aja.”
Sambil mendengus kesal dia kembali ke kamarnya. Nasi di piringnya dibiarkan begitu saja tanpa tersentuh. Bi Juju bingung melihat Putri yang tiba-tiba kehilangan selera makan.
🌹🌹🌹
Sesuai janji mereka, hari minggu ini mereka berkumpul di rumah Dinda. Di kelas 11 ini, semua anggota kuartet gesrek disatukan dalam satu kelas. Sudah bisa dibayangkan kehebohan yang kerap ditimbulkan oleh mereka.
Kuartet gesrek ini memilih membentuk satu kelompok untuk tugas mata pelajaran Geologi. Mereka harus membuat makalah sebanyak 20 lembar dengan tema Membangun Ketahanan Pangan di Era Modernisasi. Zaki dan Dinda bertugas mencari bahan, Putri bertugas mengkonsep dan menyusun makalah, Ajeng bertugas mengetik. Berhubung otak Putri yang paling encer, maka dia yang ditugaskan menyusun makalah.
Mereka tampak serius mengerjakan bagiannya masing-masing. Jika mereka fokus, maka semua tugas akan dapat diselesaikan dengan cepat. Sesuai dengan motto mereka selama ini “Pelajaran tidak boleh mengganggu waktu mereka bersenang-senang” yang artinya mereka harus cepat menyelesaikan tugas yang diberikan agar aktivitas bermain mereka tidak terhambat. Sungguh sebuah motto yang luar biasa.
Setelah berkutat selama lima jam, akhirnya tugas mereka selesai sudah. Putri mengecek kembali hasil ketikan Ajeng, kalau-kalau ada typo. Setelah dirasa sempurna, Dinda mengeprint semua lembaran makalah untuk kemudian dijilid dan dikumpulkan esok harinya. Selepas shalat dzuhur, Dinda mengajak ketiganya makan siang. Dinda sengaja memesan makanan cepat saji berupa bento untuk teman-temannya.
Zaki bersendawa keras setelah menghabiskan dua dus bento. Putri menoyor kepalanya. Dinda mencubit perutnya dan Ajeng memukul lengannya. Begitulah nasib Zaki, satu-satunya makhluk berbatang yang ada di tengah-tengah perempuan bar-bar. Dia harus merelakan setiap bagian tubuhnya menjadi pelampiasan teman-teman perempuannya.
“Put, kak Ri belum pulang juga?” tanya Dinda.
“Belom. Sebel gue sama bang Toyib kaga pulang-pulang.”
“Gue kasihan sama kak Han,” sela Zaki.
“Emang kenapa?”, Ajeng penasaran.
“Ya kebayang aja dia pontang panting ke sekolah ngurus nih curut satu yang bikin masalah mulu. Kan bonyoknya dia masih di Makassar. Tar kalo kak Ri pulang baru nyaho loh.”
“Justru gue nungguin dia pulang. Gue mau kerjain abis kak Ri. Mau bales dendam gue!”
“Nih gue bilangin ya. Jangan cari gara-gara sama kak Ri. Kak Han masih bisa dikadalin sama airmata buaya lo, tapi kak Ri ngga akan mempan,” jelas Zaki.
“Sok tau lo!”
“Ngga percaya? Ayo taruhan!”
“Ayo siapa takut? Apa taruhannya?”
“Kalau lo menang, gue bersedia jadi kacung lo sampai kenaikan kelas. Tapi kalau lo kalah, lo harus nurutin semua kemauan gue, gimana?”
“Siapa takut! Deal!!”
“Deal!!”
Putri dan Zaki bersalaman. Dinda dan Ajeng hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka berdua memilih berada di posisi netral saja, menjadi penonton cantik. Takut terkena imbas perjanjian aneh mereka. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sebuah suara.
“Halo kuartet gesrek!”
Semua langsung menoleh ke sumber suara. Di dekat pintu sudah bertengger bule jeprut alias Vano dengan wajah sok gantengnya.
“Kak No, ngapain ke sini?”
“Jemput kamu Putri gesrek! Kakak kamu yang nyuruh.”
“Kak Han?”
"Bukan. Kak Ri!”
“Emang kak Ri udah pulang?”
“Belom. Barusan dia nelpon suruh jemput kamu karena Farhan lagi pergi sama Agam.”
“Masa sih?”
Untuk membuktikan ucapannya, Vano mengambil ponselnya kemudian menelpon sahabatnya. Dia mengaktifkan mode speaker. Tak lama terdengar suara Fahri.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Ri, nih gue udah di rumah Dinda. Tapi adek lo ngga percaya kalau gue disuruh jemput dia sama elo.”
“Mana Putrinya?”
“Udah ngomong aja. Udah di loud speak sama gue.”
“Dek, kamu udah beres belum ngerjain tugasnya?”
“Udah kak.”
“Terus ngapain kamu masih di situ? Udah sana pulang bareng kak No. Nanti sampe rumah jangan kemana-mana. Kak Han mungkin pulangnya malem. Kak No bakalan nungguin kamu sampe kak Han pulang, ngerti?” Putri hanya terdiam. Sebenarnya dia masih ingin berlama-lama bersama genknya.
“Jawab dek!”
“I.. iya kak.”
“Ya udah, cepet pulang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Vano mematikan ponselnya. Zaki tersenyum senang, sepertinya dia benar-benar akan menang taruhan. Dengan sangat terpaksa, Putri mengambil tasnya.
“Jeng, lo mau pulang bareng gue ngga?”
“Emang boleh?” Ajeng memandang ragu pada Vano. Pasalnya rumah Dinda dan Putri berada dalam satu kompleks. Kalau harus mengantar dirinya berarti mereka harus keluar kompleks dan jaraknya lumayan jauh.
“Boleh ya kak No? Anterin Ajeng pulang dulu ngga apa-apa kan?”
“Iya boleh. Ayo cepetan!”
“Zak, lo ngga ikut pulang?”
“Tar aja, tinggal jalan kaki doang.”
“Modus lo!”
Putri, Ajeng dan Vano segera berpamitan, setelah itu ketiganya menaiki BMW Vano yang terparkir di depan rumah Dinda. Sepanjang jalan Ajeng tak henti memandangi Vano. Dadanya berdebar-debar setiap pandangannya beradu dengannya. Sungguh pesona Vano begitu kuat untuk diabaikan oleh Ajeng. Mungkin ini yang namanya jatuh cinta, pikirnya. Cinta pertama Ajeng Kamaratih, murid kelas 11, salah satu anggota kuartet gesrek adalah seorang Devano Kenzie Kencana.
🌹🌹🌹
**Cie.. cie.. ada yang jatuh cinta sama bule jeprut nih. Awas loh dia kan terkenal sebagai playboy kelas kakap, hati2 Jeng.
Yuk tinggalkan jejak kalian ya🤗**