Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Pukul 07.00 pagi.
Langit tampak cerah. Matahari mulai memancarkan sinarnya, menyinari halaman SMA yang sudah dipenuhi para siswa. Suara obrolan terdengar di berbagai sudut sekolah, sementara beberapa guru mulai berjalan menuju ruang kelas masing-masing.
Lay melangkah pelan melewati gerbang sekolah. Wajahnya terlihat biasa saja, tetapi kedua matanya menyimpan rasa lelah karena semalaman sulit memejamkan mata.
Bayangan Ahber dan Eskay yang ia lihat semalam terus berputar di dalam kepalanya.
"Huh..."
Lay menghela napas pelan.
"Semoga hari ini lo mau jujur, Berr."
Belum sempat ia melangkah lebih jauh, seseorang memanggilnya dari belakang.
"Lay!"
Lay berhenti.
Ia menoleh perlahan.
Ahber berlari kecil menghampirinya sambil tersenyum.
"Selamat pagi."
Lay hanya mengangguk pelan.
"Pagi."
"Lay..."
"Hm?"
"Kenapa chat gue semalam nggak lo bales?"
Lay menjawab dengan nada datar.
"Gue udah tidur."
"Oh..."
Ahber mengangguk pelan.
Ia sama sekali tidak menyadari perubahan sikap Lay.
Mereka kembali berjalan berdampingan menuju gedung sekolah.
Beberapa saat kemudian, Lay membuka suara.
"Gue mau nanya."
"Tanya aja."
"Cewek yang pulang sama lo kemarin..."
"Itu siapa?"
Langkah Ahber langsung terhenti.
Ia menatap Lay beberapa detik.
"Hah?"
"Dia..."
"Cuma teman kok."
Lay ikut menghentikan langkahnya.
Tatapannya lurus menatap Ahber.
"Teman?"
"Iya."
"Terus..."
"Kenapa malamnya kalian ketemuan?"
Ahber kembali terdiam.
Ia tidak tahu harus menjelaskan dari mana.
Pertemuannya dengan Eskay memang bukan sesuatu yang salah.
Namun jika dijelaskan sekarang, ia takut Lay justru semakin salah paham.
Melihat Ahber hanya diam, Lay tersenyum tipis.
Senyuman yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.
"Kenapa diam?"
"Lay..."
"Dia cuma teman."
"Nggak lebih."
Lay menghela napas pelan.
"Ck."
"Masih bohong?"
Ahber langsung menggeleng.
"Gue nggak bohong."
"Oh ya?"
Lay kembali menatap mata Ahber.
"Lo ada nyembunyiin sesuatu dari gue, kan?"
Pertanyaan itu membuat Ahber membisu.
Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.
Ia memang menyimpan masa lalu bersama Eskay.
Namun itu sudah lama berakhir.
Ia hanya belum siap menceritakannya.
Melihat Ahber tetap diam, Lay mengepalkan kedua tangannya.
"Oke."
"Gue kasih lo kesempatan."
Ahber mengangkat kepalanya.
"Empat hari."
"Kalau dalam empat hari lo masih nggak jujur..."
Lay menarik napas panjang.
"Gue bakal ambil keputusan sendiri."
"Lay..."
panggil Ahber.
"Percaya sama gue."
"Eskay cuma teman."
Lay tidak menjawab.
Ia langsung melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Meninggalkan Ahber yang masih berdiri mematung di tempat.
Pukul 10.10 siang.
Jam istirahat pertama.
Kantin sekolah tampak ramai oleh para siswa.
Namun Lay memilih duduk di taman kecil belakang kantin bersama Andkay.
Suasana di sana jauh lebih tenang.
"Ada apa?"
tanya Andkay.
Lay menatap langit sebentar sebelum menjawab.
"Dia tetap nggak mau jujur."
Andkay terdiam.
"Padahal..."
"Gue cuma pengen dia ngomong yang sebenarnya."
Lay menghela napas.
"Gue udah kasih dia kesempatan."
"Empat hari."
"Kalau dia tetap bohong..."
"Gue selesai."
Andkay menatap Lay cukup lama.
Ia tahu Ahber bukan orang jahat.
Namun ia juga tidak berniat membela Ahber.
"Itu keputusan lo."
"Tapi..."
"Lo yakin kuat?"
Lay tersenyum tipis.
"Gue kecewa."
"Tapi gue nggak selemah itu."
Andkay mengangguk pelan.
"Itu Lay yang gue kenal."
Mereka kembali terdiam.
Hingga tiba-tiba...
"Lay!!"
Suara seorang perempuan terdengar dari kejauhan.
Lay menoleh.
Fenny berlari kecil ke arah mereka dengan wajah panik.
"Lay!"
"Ada apa?"
tanya Lay.
Fenny tampak sedikit kehabisan napas.
"Lo..."
"Lo udah lihat berita baru belum?"
"Berita?"
"Iya."
"Di Instagram sekolah."
Lay mengernyit.
"Kenapa memangnya?"
"Lihat dulu deh."
Lay hendak mengambil ponselnya.
Namun sebelum sempat membuka saku rok...
"Lay."
Suara Andkay menghentikannya.
Cowok itu berjalan mendekat sambil membawa ponselnya sendiri.
"Lo lihat ini."
Lay menatap layar ponsel Andkay.
Detik berikutnya...
Wajahnya langsung membeku.
Di layar ponsel terpampang unggahan dari akun Instagram sekolah.
INFORMASI TERBARU
Ahber (1.B) dan Eskay (1.A).
Dipergoki berduaan di sebuah gudang kecil di belakang sekolah.
Kedua siswa diduga melakukan tindakan yang tidak pantas sehingga mencoreng nama baik sekolah.
Pihak sekolah sedang melakukan penyelidikan dan mempertimbangkan sanksi terhadap keduanya.
Mata Lay membelalak.
Tangannya perlahan bergetar.
Ponsel Andkay hampir terlepas dari tangannya karena genggaman Lay yang semakin kuat.
"Ck..."
gumam Lay lirih.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Jadi..."
"Ini yang lo sembunyiin?"
Suara Lay begitu pelan.
Namun terdengar penuh luka.
"Lay..."
Andkay mencoba memanggilnya.
Namun Lay sama sekali tidak mendengar.
Pandangannya masih terpaku pada layar ponsel.
"Gue..."
"Gue nggak nyangka."
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Selama ini...
Ia masih berusaha percaya kepada Ahber.
Namun berita itu membuat semua kepercayaannya mulai runtuh.
"Lay."
Andkay berdiri di sampingnya.
Ia ingin menenangkan Lay.
Tetapi ia tahu...
Saat ini, kata-kata apa pun tidak akan mampu menghapus rasa sakit yang sedang dirasakan gadis itu.
Lay mengusap air matanya pelan.
Kemudian menarik napas panjang.
"Gue benci ini."
Suara bel masuk kembali berbunyi.
Namun Lay sama sekali tidak memedulikannya.
Pandangannya masih kosong.
Di dalam hatinya...
Ia hanya memiliki satu keinginan.
Mendengar Ahber mengakui semuanya dengan jujur.
like + bunga biar semangat deh/Smile/