Saling selingkuh, mewarnai kehidupan rumahtangga Dave, dan Alana.
Hingga keduanya menyadari adanya cinta pada diri masing-masing, disaat rumahtangga yang mereka jalani, berada diujung tanduk. Dan cinta itu semakin kuat, dengan kehadiran sikembar Louis, dan Louisa.
Ikuti kisah cinta Alana, dan Dave yang merupakan saudara tiri.
IG. Popy_yanni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyangkal.
Dave: Hallo laura?
L:aura: Dave, apakah kau sedang berada dicambrigge?! tadi aku pergi kehotel untuk menemuimu, tapi pihak hotel mengatakan kalau kau sudah tidak menginap dihotel itu lagi."
Dave: Maafkan aku, karena sebelumnya tidak mengabarimu. Tapi aku memutuskan untuk menyewa Vila dikota ini, sebab lebih memudahkan aku, untuk mengecek proyek pembangunan hotel.
laura:Tapi seandainya kalau aku rindu padamu, bagaimana?" Dengan nada manja, yang terdengar diseberang sana.
Dave hanya tertawa kecil< saat mendengar rajukan CEO cantik itu.
Dave: Kalau kau merindukanku, kau bisa datang menemuiku disini, laura?!
Laura: Tentu Dave, pasti aku akan datang menemuimu, bahkan sering menemuimu.
Dave: Baiklah Laura, kalau begitu aku tutup teleponnya, aku akan keminimarket membeli beberapa perlengkapan sabun mandi.
Laura: Bukankah ada pelayan, yang kau bisa meminta mereka untuk membelinya, Dave?!
Dave: Aku memang sengaja ingin membelinya langsung, sebab aku ingin berjalan-jalan untuk menikmati udara malam hari, dikota ini.
Laura: Baiklah Dave, kalau begitu aku tutup teleponenya. Dan sampai jumpa lagi.
Dave: Sampai jumpa lagi, Laura?" Dengan mengakhiri, percakapan teleponenya.
"Laura, laura?" Serunya tersenym kecil, dan segera berlalu menuju lantai bawa.
Menapaki kakinyan menuju lantai bawa, melewati setiap barisan anak tangga. Saat dia akan berlalu mlelewati pintu utama, Daven memanggilnya.
"Anda mau kemana, Tuan?!" Tanya sekretaris itu, seraya menghampiri Tuanmudanya.
"Aku akan keminimarket, untuk membeli beberapa perlengkapan mandi."
"Biar saya saja, Tuan?! atau saya akan meminta para pelayan divila ini."
" Biar ku sendiri yang ingin membelinya langsung, sekalian aku mau ingin melihat pemandangan kota ini dmalam hari."
"Anda serius, Tuan?!" Tanya Daven, memastikan.
"Tentu saja aku serius, apakah aku seperti orang yang sedang berbohong?!" Dengan tatapan kesal,menatap sekretarisnya.
"kalau begitu, saya minta maaf Tuan?" Dengan senyuman kecil, pada Dave.
****
Alana tampak begitu sibuk, saat menyiapkan beberapa beberapa bahan, untuk membuat kue muffin yang merupakan kudapan khas London. Saat akan mulai mencampuri adonan, tepung terigunyapun berkurang. Mendecak kesal, sebab dia melupakan persediaan terigu, yang ternyata yang tinggal sedikit dan tak dapat mencukupi lagi untuk membuat adonan kue itu.
"Kenapa aku bisa melupakan, kalau terigunya sudah hampir habis? mau tidak mau, aku harus pergi keminimarket sekarang, kalau tidak para pelanggan pasti akan marah." Ucapnya, dengan segera berlalu kekamarnya.
Meraih dompet kecil yang diletakkan diatas lemari kecil, dan dengan segera dia menghampiri kedua anaknya, yang tengah bermain bersama Rose.
"Louisa, Louis, kalian berdua sama Bibi Rose sebentar, Mama akan pergi kemini market."
Rose?! kau jaga mereka berdua, aku akan keminimarket, dan tidak akan lama."
"Apa yang akan kau beli, Alana?!" Tatapan intens, menatap sahabat baiknya.
"Aku akan membeli terigu, untuk membuat Muffin. karena ada beberapa pelanggan, yang memesannya."
"Baiklah, dan cepatlah pulang?!"
"Tentu, memang aku akan kemana?! apakah kau mengirah aku akan menemui Jhon?!" Dengan menyunggingkan senyuman, disudut bibirnya.
"Memang, karena aku sangat berharap kau menemui Jhon. Bukankah begitu Louis, Louisa?!"
'Tidak lagi, Bibi? sekarang kami sangat berharap, kalau Paman tampan yang menjadi Papa kami." Ucap Louis, yang menjawab pertanyaan Rose.
"Paman tampan?! siapa Paman tampan itu?!" Tanya Rose, yang terlihat begitu penasaran.
"Ntahlah, akupun tak tau siapa yang mereka maksud." Jawab Alana, seraya mengangkat kedua pundaknya.
"Kau tau Bibi Rose, Paman tampan itu sangat tampan, dan juga mempunyai uang yang sangat banyak, dan kami sangat menyukainya." Jelas louisa, pada sahabat Ibunya.
"Begitu yaa? Bibi jadi penasaran, ingin bertemu dengan Paman tampanmu itu, mungkin saja dia bisa menjadi milik BIbi," Kelakar Rose, dengan tawa kecilnya.
Alana hanya menggelengkan kepalanya, seraya tersenyum saat melihat candaan Rose, bersama putra, putrinya.
"Baiklah kalian bertiga lanjutkan ceritanya mengenai Paman tampan itu, aku harus segera pergi," Ucap Alana, dengan berlalu pergi dari rumahnya.
****
Setelah mendapatkan apa yang sudah dibutuhkannya, Dave segera berlalu kekasir untuk melakukan pembayaran.
Menunggu antrian, hingga tiba gilirannya. Tatapannya beralih kearah pintu minimarket, dan dia begitu terkejut saat mendapati sosok wanita yang selama ini dicarinya.
"Alana...?!" Ucapnya, dengan tatapan intens menatap wanita cantik itu.
Mengalihkan tatapan matanya, saat mendengar seseorang menyebut namannya. Dan sangat terkejutnya dia, ketika mendapati keberadaan Dave, laki-laki yang begitu dibencinya.
"Dave..?" Gumamnya pelan, dan segera berlalu pergi tempat itu.
Melihat Alana meninggalkan minimarket tersebut, Dave dengan segera mengejarnya.
"Tuan...? Tuan....? ini belanjaan anda?!" Teriak kasir tersebut, tapi tidak diindahkan oleh lelaki tampan itu.
"Alana.....?! Alana.....?! tunggu Alana?!" Teriaknya, dengan berlari mengejar, wanita itu.
Alana berjalan dengan sedikit berlari, bertahun-tahun menyembunyikan diri dari lelaki itu, dan dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan ayah biologis dari kedua anaknya.
"Alana...Tunggu Alana... Tunggu....?!" Dengan terus mengejar,, dan berhasil meraih tangan wanita itu.
"Lepaskan tanganku, Tuan?! lepaskan tanganku?! aku bukan Alana?!" Sangkalnya, dengan berusaha menyembunyikan wajah pada rambutnya yang tergerai, yang sebagian menutupi wajahnya.
"Aku yakin kau adalah Alana, aku sangat yakin," Dengan terus memegang tangan wanita itu, dan menepikan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.
"Lepaskan aku...?! Lepaskan aku....?! aku bukan Alana, yang anda maksud?!" Sangkalnya, yang tetap kekeh menyagkal jatih dirinya.
"Aku tidak salah lagi, kau adalah Alana. Dan aku sangat yakin."
"Lepaskan aku, Tuan?! lepaskan aku, kau salah orang?!" Dengan berusaha melepaskan pegangan tangan Dave, yang begitu kuat.
Alana terlihat begitu takut, apalagi bagaimana mengingat kembali Dave yang begitu membencinya. Dan tiba-tiba saja muncul ide cemerlang dalam dirinya, untuk menggigit tangan pria itu, agar bisa lolos.
Alana mendekatkan mulutnya ketangan pria itu, dan dengan segera dia menggigit, yang membut Dave meringis kesakitan
"Aaahhh..." Rintihnya, hingga cekalan tangan itu terlepas, dan Alana segera berlari.
"Alana....Alana....?!" Panggilnya, seraya menahan sakit pada tangannya.