Memet dan Bety telah menikah. Dan mereka menikmati kehebohan menjalani bahtera rumah tangga karena menikah muda.
Keduanya kerab kali cek-cok mempermasahkan hobi Memet yang suka main game online.
Sementara Bety, ia sangat kesal diabaikan oleh suaminya itu.
Suatu ketika Bety membuat rencana, memberi obat pada minuman Memet, sehingga lelaki itu mabuk tak sadarkan diri.
Bety memutuskan untuk pergi meninggalkan Memet setelah malam pertama mereka.
Tak ada angin tak ada hujan, di saat Memet pusing memikirkan istrinya, sembilan bulan kemudian tiba-tiba saja orang mengantarkan bayi laki-laki kepadanya. Orang itu mengatakan kalau Bety telah meninggal setelah melahirkan anaknya.
Lima tahun kemudian Bety kembali dari luar negeri. Ia menyamar dengan dua anak kecil berumur lima tahun.
Ia melakukan itu untuk menghindari Memet, ia yakin kalau Memet masih marah kepadanya karena telah berani membohonginya.
Tetapi penyamarannya terbongkar, ia ketahuan oleh Memet, hingga membuat lelaki itu murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kulid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hari pernikahan
Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu telah tiba. Bety yang berada di kamar rias, duduk memasrahkan diri untuk dirias sesuai keahlian MUA. Ia menyerahkan semua hasil akhirnya kepada tangan-tangan ajaib itu untuk membuatnya tampak cantik di acara pernikahannya.
“Luar biasa! Pengantin wanitanya sangat cantik sekali. Dan yang paling mengagetkan, ia masih muda!” MUA tampak heboh mendandani Bety.
Mereka ada tiga orang di ruangan itu. Salah satu dari perias itu tengah mempersiapkan baju pengantin yang akan dipakai oleh Bety, untuk acara nikah pagi ini. Baju yang telah dipasangkan kepada patung itu telah di buka kancingnya untuk di pakaikan ke tubuh ramping Bety.
“Coba berdiri dulu, Mbak. Kita akan memakai baju ini dulu,” kata perias wanita yang kira-kira berumur tiga puluh tahunan itu.
Ia membantu memasangkan baju itu ke badan Bety. Setelah berhasil meloloskan baju itu, ia membenarkan letak kancingnya dan menarik sedikit di bagian pinggang. Baju pengantin itu sangat pas sekali di tubuh Bety. Warna putih gading yang dikombinasikan dengan manik-manik berwarna emas di bagian dada sampai ke bagian pinggang terlihat memukau sekali.
“Bagaimana? Apakah ada yang terasa tidak nyaman, Mbak?”
“Tidak, ini sudah sangat nyaman dan pas,” Bety melihat tampilannya di cermin rias, ia juga memutar tubuhnya untuk melihat ke seluruh body.
“Sebentar! Kita akan pasangkan hiasan kepala dan rambut dulu,” seru perias mengambil hiasan rambut di dalam kotak.
Penampilan Bety tampak sangat cantik dan natural. Make Up Nya tidak terlalu tebal. Mereka memadukan make up sesuai dengan umur pengantin wanita yang masih muda. Tidak perlu berlebihan, karena wajah Bety sudah cantik alami.
“Wah! Kamu sangat cantik sekali, dek. Abang nggak nyangka ini adalah adik abang!” kata Dian yang tiba-tiba masuk kedalam ruang hias.
Bety tersenyum melihat ke arah Dian yang menghampirinya. Ia sudah selesai di dandani.
“Abang!” Bety mendekat dan memeluk Dian.
“Sudah selesai kan? Sekarang kita keluar ya. Semua orang sudah menunggu di aula,” Dian membalas pelukan Bety, ia merasa senang melihat adik perempuannya itu tampak bahagia.
“Iya.”
Di ruangan tempat pernikahan, semua tamu telah hadir. Ada banyak tamu yang hadir di acara itu. Semua orang-orang itu adalah tamu dari kedua belah pihak keluarga pengantin. Sebagai sesama pebisnis, tentu mereka banyak memiliki kenalan. Banyak pejabat dan orang-orang kelas atas yang datang. Bahkan, ada beberapa artis yang ikut aktif dalam pesta ini. Acara yang cukup besar dan mewah.
Dian dan ibu Ida membimbing Bety memasuki ruangan. Dengan hati-hati Bety menggandeng tangan Dian. Ia merasa gugup sekaligus bahagia melihat semua tamu yang datang menatap dirinya dengan tatapan memuji.
Banyak pasang mata langsung menoleh ke arah Bety, saat dia memasuki ruangan. Setiap langkah yang Bety ambil serasa adegan per adegan yang berputar lambat di waktunya. Kepala-kepala menoleh, berdecak kagum melihat kedatangan pengantin wanita yang sangat cantik dan masih muda.
Bety laksana kepompong yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu dewasa yang sangat cantik dan anggun. Cara berjalannya selembut angin dan seanggun tarian dedaunan di musim semi. Banyak kekaguman yang didapatkan. Banyak pasangan mata yang melirik dan memuja.
Dian meraih lengan Bety, ia tersenyum bangga dan berbisik pelan tepat di telinga Bety.
“Lihatlah, banyak orang menatap kita. Aku sangat bangga mempunyai adik perempuan secantikmu. Teruslah menatap kedepan, dan lihat lah pangeranmu sudah menanti di sana,” Dian menagarahkan pandangannya ke depan, di sana Memet telah berdiri menunggu Bety dengan senyuman gugupnya.
“Abang, kenapa tiba-tiba aku gugup begini?” suara Bety nyaris hilang karena saking gugup.
“Jangan khawatir, di sini abang akan menemanimu sampai ke depan. Pegangan yang erat!” Dian berbisik, mencoba memberikan ketenangan kepada Bety.
Jujur saja Dian juga merasa gugup karena ia selaku kakak laki-laki Bety akan betugas menjadi wali, menikahkan adiknya itu. Sambil memantapkan langkahnya, ia menghela nafas perlahan dan mulai menenangkan dirinya agar siap.
Memet yang melihat sosok bidadarinya yang telah berjalan mendekatinya, ia merasa gugup bercampur bahagia. Gadis barbar yang melekat pada diri Bety, sekarang telah berubah menjelma menjadi sosok wanita cantik nan anggun. Ia tak menyangka Bety akan secantik itu. Tiba-tiba saja hati Memet dilanda kebahagiaan yang berbunga-bunga.
“Memet, biasa aja dog! Hapus air liurmu itu!” Dodo yang berada di sampingnya menyikut lengan Memet agar tersadar dari syoknya.
“Hah!” Memet tersadar, ia menatap Bety yang telah duduk di kursinya.
Memet buru-buru ikut duduk di samping Bety. Ia masih dilanda keterkejutan melihat sosok cantik wanita itu. Sambil merapatkan tubuhnya ke arah Bety, Memet berbisik.
“Kamu sangat cantik sekali, sayang.”
Jantung Bety jumpalitan. Ia merasa sangat senang mendapat pujian dari Memet. Senyuman malu-malu terbit di bibir merah mudanya. Ia juga melihat kalau Memet sangat tampan hari ini. Dengan jas pengantin, Memet tampak lebih dewasa. Potongan jas berwarna hitam itu sangat pas sekali di tubuh Memet.
Acara pernikahan berjalan lancar. Memet dan Bety telah resmi menjadi pasangan suami-istri. Mereka telah dibawa ke kamar ganti untuk berganti pakaian. Acara akan berlangsung seharian. Setelah berganti ke pakaian resepsi, mereka kembali di bawa ke pelaminan.
“Selamat ya Bety, semoga kalian selalu bahagia, langgeng, dan… jangan lupa cepat dapat momongan,” itu lah kebanyakan ucapan selamat yang mereka berdua terima.
Banyak tamu-tamu yang memberikan mereka selamat dan bersalaman. Hingga dua jam sudah mereka tak hentinya tersenyum, sampai-sampai Bety merasa kakinya pegal.
“Kamu kenapa?” tanya Memet khawatir melihat Bety yang tampak sudah tak nyaman berdiri.
“Kakiku pegal.”
Memet berjongkok. Ia melepaskan sepatu high heels itu. Sambil menuntun Bety untuk duduk, ia memijat pergelangan kaki Bety dan menekan-menekan telapak kaki Bety pelan. Kejadian itu tak lupa diabadikan oleh sang fotografer. Mereka yang berada di sana sangat antusias memberi cuitan kepada Memet yang tampak romantis.
“Keren, bro!” Dodo berseru riang melihat sahabatnya itu yang masih telaten memijat kaki pengantinnya.
Memet tidak mempedulikan mereka. Yang terpenting kenyamanan Bety tetap aman.
“Memet! Udahan, aku malu. Tuh, lihat mereka semua menatap ke sini!” Bety menarik tangan Memet untuk segera duduk kembali.
“Kenapa? Biarkan saja mereka. Kaki kamu yang lebih penting,” Memet tak menghiraukan tatapan tamu.
“Kamu lepaskan saja sepatu itu. Biar aku minta ganti,” Memet berjongkok dan melepaskan kedua sepatu itu.
Bety menurut saja. Kakinya memang pegal dan sedikit lecet di bagian tumitnya. Hingga orang suruhan Memet datang membawakan sepasang sandal untuknya. Sandal yang lumayan bagus dan nyaman untuk dipakai saat ini.
“Makasih ya,” Bety tersenyum melihat Memet yang memakaikan kembali sandal itu ke kakinya.
“Iya. Kamu jangan paksakan memakai sepatu itu. Kalau kaki kamu sakit, nanti gimana caranya kita mau pergi bulan madu,” kata Memet menggoda Bety.
“Iih. Kamu apaan sih, Memet!”
Mereka tertawa bersama setelah percakapan singkat yang terasa lucu bagi keduanya. Semua tamu yang hadir bisa melihat kalau pasangan itu dilanda bahagia. Tampak sekali keduanya terlihat bercengkrama dengan sesekali tertawa dan tersenyum riang.
Memet dan Bety
ayo promo thor, jangan biarkan karya anda terbengkalai