"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cepat Kembali
"Jadi, jika memang nyawa saya tidak berharga sedikitpun bagi anda. Maka anda berhak mengambil Marsha dari saya. Jika memang nanti Marsha sembuh karena bantuan anda. Saya rela memberikan Marsha pada anda."
Sejenak, situasi di ruang kerja itu mendadak hening.
Dua insan itu tampak bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.
Alina sadar, tak sepantasnya ia bernegosiasi pada laki-laki yang jelas-jelas sangat membencinya itu. Semua yang ia ucapkan mungkin akan dianggap angin lalu. Ia tak seberharga itu untuk mendapatkan atensi dari laki-laki itu.
"Bangunlah." Suara Leon menggema. Dingin, tegas, dan sarat akan intimidasi.
Alina menatap sosok itu penuh raut putus asa. "Saya tidak akan berdiri, sebelum anda menyanggupi permintaan saya."
Leon berdecak, menatap kesal pada Alina yang begitu keras kepala. "Bangun! Ganti bajumu, lalu kita ke rumah sakit."
Kalimat itu sukses membuat Alina seketika melonjak tak percaya. "Anda serius? Anda mau membantu saya?" Serunya, histeris.
"Aku tidak pernah mengulangi kalimatku." Gertak Leon, dingin. "Cepat, aku tidak punya banyak waktu."
Laki-laki itu berbalik dan menghilang di balik pintu, meninggalkan Alina yang kini masih mematung tak percaya.
Benarkah itu?
Ia tidak sedang bermimpi kan? Laki-laki itu benar akan membantunya, kan?
Pertahanan Alina seketika runtuh. Isak akhirnya luruh.
Akhirnya semuan pengorbanan juga rasa sakit atas penghinaan yang selama ini ia pikul mati-matian itu membuahkan hasil.
Akhirnya Marsha bisa diselamatkan.
Persetan jika pada akhirnya ia harus kehilangan gadis kecil itu. Ia akan berusaha merelakannya, asalkan Marsha dapat di selamatkan.
Tak lama, pintu ruangan itu terdengar di ketuk dari luar sebelum akhirnya terbuka, menampilkan sosok pelayan yang tadi menyambutnya.
"Nona, mari... Saya sudah menyiapkan baju ganti untuk anda."
Alina mengekor di belakang saat pelayan itu melangkah menuju sebuah ruangan yang tak jauh dari ruang kerja itu. Disana, sudah ada sebuah papper bag yang berisi baju ganti. Lengkap dengan dalammannya.
Sejak kapan mereka mempersiapkannya?
"Ini baju ganti untuk anda, nona. Tuan sudah menunggu di bawah."
"Emmm... Terimakasih." Ucapnya, sedikit sungkan karena telah merepotkan.
Mobil mewah itu perlahan bergerak membelah jalanan yang lengang. Sisa hujan masih membasahi aspal, menyisakan genangan air di sisi kiri kanan jalan.
Di dalam kabin yang hening, Alina duduk membisu di samping kemudi. Sementara Leon duduk di baris belakang—tenggelam dalam kesibukan pekerjaan yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Alina.
Hingga satu notifikasi itu akhirnya memecah keheningan.
Sebuah pesan dari ummi Hannah.
"Lin, cepat kembali. Marsha mencarimu."
Pesan singkat itu sukses membuat jantung Alina melonjak seketika.
Marsha. Gadis kecil itu akhirnya telah melewati masa kritisnya. Marsha telah sadarkan dan kini tengah mencari keberadaannya.
Sedang perjalanan itu... masih lumayan jauh.
Alina meremaas jemarinya yang kini gemetar luar biasa.
Tidak.
Ia tidak bisa membuat gadis kecil itu menunggunya terlalu lama. Marsha mungkin sangat membutuhkannya. Dan... ia pun teramat merindukannya.
"Tuan Max, bisakah lebih cepat sedikit?"
Dari ekor matanya, Alina dapat menangkap aura penuh intimidasi dari tatapan leon yang kini menatapnya nyalang. Namun Alina tidak perduli. Marsha sedang menunggunya. Ia tidak ingin membuat gadis kecil itu kecewa di tengah rasa sakitnya.
"Ada apa, Nona?" Tanya Max, melirik Alina sekali lalu kembali fokus mengemudi.
"Itu, putri saya mencari saya. Tadi... dia sempat kritis."
Mendengar hal itu, mendadak jantung Leon berdebar hebat. Ada ketakutan yang tiba-tiba menyerangnya tanpa aba-aba. Membuat dadanya sesak hingga sulit untuk bernafas.
"Percepat, Max." Suara dingin nan kelam itu datang menginterupsi. Membuat Max mengangguk dan menekan pedal gas lebih dalam.
Sesampainya di rumah sakit. Alina gegas melangkah cepat, meninggalkan Leon dan Max yang kini tertinggal di belakang.
"Bagaimana. Kamu sudah menyelidikinya?" Leon angkat bicara, saat Alina kini telah menghilang di persimpangan.
"Beri saya waktu sampai awal pekan depan, Tuan. Saya akan melaporkannya pada anda."
"Tidak. Tiga hari lagi kamu sudah harus melaporkannya." Seru Leon, telak.
Max menghela nafas dalam saat tak memiliki pilihan lain selain mengangguk mengiyakan. "Baik tuan... ."
☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong chingu
Happy reading
Saranghaja
tapi tunggu up nya harus bersabar