"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
*** Satu jam sebelumnya. ***
"Jenny, bukalah mata mu! Kami sudah selesai mengompres dan mengoleskan salep pada area mata mu itu!" ujar salah satu perawat.
Dengan perlahan, Jenny terlihat berusaha untuk membuka kelopak matanya.
Tiba tiba Jenny terlihat menyunggingkan senyuman manis, kala merasa ke dua kelopak matanya itu tidak seberat dan juga tidak seperti tadi.
"Gimana? Udah gak sakit kan?" tanya perawat yang tadi mengobati Jenny.
Reflek Jenny pun terlihat mengangguk anggukkan kepalanya.
"Iya, sekarang udah gak sakit dan juga tidak seperih tadi," sahut Jenny.
"Kalau begitu minum obat pereda nyeri dan antibiotik ini saja dulu! Takutnya kalau nanti itu sampai infeksi," timpal perawat yang lain sembari menyerahkan obat beserta air minum.
"Jenny, kalau begitu kami tinggal dulu ke kantin ya! Soalnya kami semua tadi pagi belum sarapan," pamit para perawat itu.
Jenny pun terlihat menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis.
Tak lama pintu unit kesehatan sekolah kembali di buka, Jenny terus menatap ke arah pintu ruangan itu. Ia berharap jika yang masuk ke dalam ruangan ini adalah Tuannya. Untuk sekarang ia merasa tidak mampu berjalan kembali ke ruang kepala sekolah. Karena sekarang ia merasa sakit dan perih di sebagian tubuhnya yang terkena bubuk caba, iya sebenarnya Jenny alergi dengan bubuk cabai.
Karena sebelumnya Kamila dan juga Tiara orang yang paling dekat dengan Jenny, jadi ke duanya tahu semuanya tentang Jenny.
"Galen!" gumam Jenny pelan.
"Kamu tidak apa apa Jenny? Dari tadi aku itu menunggu mu di depan ruangan ini," ucap Galen khawatir, lalu ia terlihat berjalan dengan langkah kaki pelan menuju ke arah Jenny yang masih duduk di atas brangkar.
Galen terlihat terus menatap Jenny, bahkan ke dua bola mata Galen terlihat tidak berkedip sama sekali kala melihat Jenny.
"Aku tidak apa apa Galen! Perih maupun rasa panas di tubuh dan juga wajah ku juga sudah berkurang. Tapi, kenapa kamu menatap ku dengan tatapan seperti itu? Apakah masih terlihat seperti kepiting rebus?" tanya Jenny dengan wajah bingung.
Galen nampak menggelengkan kepalanya, lalu dengan suara berat dan juga ngebass nya. Galen berkata, "kalau dari jarak segini sama sekali tidak kelihatan Jenny. Sebentar biar aku lihat dari jarak dekat."
Galen terlihat semakin mendekat ke arah Jenny. "Ini bagian wajahmu ada bintik bintik yang belum terkena salep, biarkan aku mengoleskan salep itu di wajahmu."
Jenny hanya bisa patuh, karena ia berharap Tuan dan juga Nyonya nya itu tidak tahu perihal air bubuk cabai yang di siram di tubuhnya. Membuat kulitnya merah seperti luka bakar, tapi untungnya segera mendapatkan perawatan jadi gak sampai melepuh.
Dengan penuh kelembutan dan juga perhatian, Galen mengoleskan salep ke area wajah Jenny.
Saking dekatnya jarak antara wajah Jenny dan juga wajah Galen, membuat hembusan nafas ke duanya saling beradu.
Galen sendiri nampak menelan ludahnya yang kelu, kala melihat bibir manis Jenny. Sekarang nalurinya memaksa dirinya untuk mencium bibir manis itu.
"Galen, kok berhenti! Apakah sudah selesai kamu mengoleskan salepnya?" tanya Jenny dengan suara risih, karena dari tadi Galen hanya diam mematung sembari memegang pipinya.
Jujur hal yang di lakukan oleh Galen sekarang ini benar benar membuat dirinya tidak nyaman.
Tak berselang lama ponsel dalam saku celaan Galen pun berbunyi. Ia pun buru buru mengangkat telepon dan memilih untuk berjalan ke arah pintu. Tanpa menjawab pertanyaan yang baru saja di ajukan peluh Jenny.
"Jenny, sebentar ya!" Galen terlihat pamit sebelum keluar dari ruangan itu.
Jenny pun hanya menjawab ucapan Galen dengan anggukan kepala.
*****
**
Beberapa puluh menit pun berlalu, Galen pun terlihat kembali masuk ke dalam ruang unit kesehatan sekolah.
Sementara Jenny masih duduk di atas brangkar sembari mengoleskan salep ke area tubuhnya.
Deg
Jantung Galen sekarang ini terasa berhenti berdetak, apalagi saat pandangan matanya itu tidak sengaja melihat ke arah wajah Jenny yang cantik.
Sekarang pakaian Jenny sudah berganti menjadi seragam dengan ukuran pada umumnya, sudah tidak menggunakan seragam yang kekecilan. Karena stok seragam di unit kesehatan sekolah itu adanya ukuran normal. Malah sedikit kebesaran, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan Jenny.
Tiba tiba sudut mata Galen menangkap, jika sekarang Jenny sedang mencari sesuatu di meja yang ada di samping brangkar.
"Apa yang kamu cari Jenny?" tanya Galen penasaran sembari berjalan mendekat ke arah brangkar Jenny.
"Aku sedang mencari kaca," sahut Jenny.
"Kaca? Untuk apa?" tanya Galen penasaran.
"Aku mau mengoleskan salep ke wajahku."
"Oh, biar aku membantumu untuk mengoleskan salep itu." Galen terlihat mengambil salep yang ada di tangan Jenny.
kalo berkenan mampir juga ya😉