Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lupa Gavin
BZZZZT
Pintu ruang observasi terbuka kasar. Dokter Rian berlari masuk bersama dua perawat instan setelah alarm darurat berbunyi. Ia langsung menyambar stetoskop di lehernya, sementara para perawat dengan cekatan langsung memposisikan diri di sisi brankar Keana.
"Dokter Rian! Kondisinya drop tiba-tiba! Sinus tachycardia 145 kali per menit, saturasi oksigen anjlok ke 91%, dan dia mengalami hiperventilasi berat!" seru Elvan dengan suara yang tidak lagi bisa menyembunyikan kepanikannya. Matanya memerah, tangannya masih mencengkeram jemari Keana yang mendingin dan kaku.
"Tenang, Dokter Elvan! Tarik napas, mundur dua langkah dan biarkan tim saya bekerja," perintah Dokter Rian tegas namun terkontrol.
Sebagai sesama dokter, ia tahu Elvan sedang dikuasai insting seorang kakak, bukan seorang profesional.
Dokter Rian segera menempelkan stetoskopnya ke dada Keana, mendengarkan suara napas yang memburu pendek dan cepat.
"Dia terjebak di fase REM sleep dengan night terror yang sangat intens. Otaknya melepaskan adrenalin dalam dosis masif."
"Sus! Naikkan aliran oksigen di Non-Rebreather Mask jadi 12 liter per menit! Pastikan suplai oksigennya maksimal!" instruksi Dokter Rian cepat.
"Baik, Dok!" Perawat dengan sigap memutar knop tabung oksigen.
Dada Keana masih naik turun dengan sangat cepat, namun masker yang terikat erat itu kini mendesis lebih kuat, menyuplai oksigen murni ke paru-parunya.
"Hemodinamiknya tidak stabil, Dok. Tekanan darahnya melonjak ke 150/95 mmHg," lapor perawat satunya yang sedang memperhatikan monitor.
Dokter Rian menatap grafik EKG yang masih berantakan.
"Efek diazepam tadi kalah dengan lonjakan traumanya. Kita harus memutus siklus mimpi buruknya sekarang sebelum memicu gagal napas atau pembebanan jantung yang lebih parah."
"Siapkan injeksi Midazolam 2 miligram intravena. Masukkan lewat IV line sekarang, perlahan-lahan!" perintah dr. Rian.
Midazolam memiliki efek sedasi dan amnesia anterograd yang lebih kuat dan cepat untuk menekan aktivitas berlebih di amigdala otak Keana.
Perawat dengan cepat menusukkan siring ke dalam selang infus Keana, mendorong cairan bening itu masuk ke dalam pembuluh darahnya.
Elvan hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan, meremas kedua tangannya sendiri. Jantungnya berdegup tidak kalah kencang. Ia melihat bagaimana tubuh Keana yang semula kaku dan tegang perlahan-lahan mulai mengendur. Hembusan napas Keana yang tadinya memburu dan terputus-putus, perlahan mulai memanjang dan lebih teratur.
Di layar monitor, angka-angka dramatis itu perlahan bergerak turun. 138... 120... 105... Detak jantung Keana berangsur normal. Angka saturasi oksigennya kembali merangkak naik ke posisi aman, 97%.
Keana melenguh lirih di balik masker oksigennya, kepalanya bergerak sedikit ke samping, dan air mata terakhirnya menetes melewati pelipis, namun kali ini tubuhnya sudah sepenuhnya rileks. Obat penenang yang lebih kuat telah berhasil menariknya menjauh dari kobaran api dan bayangan kedua orang tuanya di alam bawah sadar.
Dokter Rian mengembuskan napas lega, lalu menyimpan kembali stetoskopnya. Ia berbalik menatap Elvan yang wajahnya masih pucat pasi.
"Dia sudah aman, Dokter Elvan. Obatnya sudah bekerja untuk menidurkan sistem sarafnya secara total. Dia tidak akan bermimpi lagi untuk beberapa jam ke depan," ucap dr. Rian sambil menepuk lengan Elvan.
"Tapi jujur... traumanya jauh lebih dalam dari yang kita bayangkan. Kita harus sangat berhati-hati setelah dia bangun nanti."
Elvan tertunduk di samping brankar, menatap nanar ke arah Keana yang kini terbaring pasrah dengan masker oksigen yang berembun pelan. Tangan kekar Elvan yang biasa kokoh saat memegang peralatan medis, kini tampak bergetar saat menyentuh jemari keana.
Penyesalan mendalam menggelayuti benaknya, ia merasa begitu lalai karena tidak menyadari sedalam apa luka masa lalu yang dipendam oleh adik kecilnya ini.
"Dokter Rian," suara Elvan terdengar serak, memecah keheningan ruang observasi yang kini hanya diisi bunyi ritmis monitor jantung.
"Berapa lama... maksimal biasanya seseorang tidak sadarkan diri atau tertidur setelah mengalami serangan PTSD akut dan syok neurogenik seperti ini?"
Dokter Rian yang sedang mencatat perkembangan rekam medis Keana menoleh.
"Dalam kasus syok psikis ekstrem yang memicu sinkop, pingsannya sendiri biasanya berlangsung beberapa menit hingga setengah jam. Namun, karena kita memberikan sedasi intravena yang cukup kuat untuk menekan aktivitas berlebih di otaknya, Keana sengaja kita buat tertidur. Secara klinis, efek induced sleep ini bisa berlangsung antara 4 hingga 8 jam, tergantung seberapa cepat metabolisme tubuhnya menetralisir obat. Ini adalah fase krusial agar sistem saraf pusatnya bisa beristirahat total tanpa interupsi dari memori traumatisnya."
Elvan mengangguk samar mendengarnya.
Setelah memastikan seluruh tanda-tanda vital Keana benar-benar stabil dan berada di ambang aman selama beberapa jam observasi, dokter Rian akhirnya memberikan izin untuk memindahkan Keana dari ruang IGD ke ruang perawatan VVIP agar suasana lebih tenang dan kondusif bagi pemulihannya. Elvan sendiri yang ikut mendorong brankar adiknya menuju kamar rawat baru tersebut.
******
Waktu terus merambat naik. Ketika jarum jam di dinding kamar rawat akhirnya menunjuk tepat pada pukul 4 sore, pintu kayu ruangan itu terbuka perlahan. Papa Arland dan Mama Soraya melangkah masuk bersamaan.
Wajah kedua orang tua itu tampak begitu lelah.
"Bagaimana keadaannya, Elvan?" bisik Mama Soraya lembut sambil berjalan mendekati sisi ranjang, langsung mengusap kening Keana yang kini sudah tidak lagi dibanjiri keringat dingin.
"Sudah jauh lebih baik, Ma. Tanda vitalnya stabil. Detak jantung dan napasnya sudah normal. Sekarang Keana masih tidur tenang karena efek obatnya belum sepenuhnya hilang," jawab Elvan yang setia berjaga di kursi samping ranjang.
Papa Arland menghela napas lega, menyandarkan tubuhnya sejenak pada sofa ruangan sambil menatap putri angkatnya dengan tatapan penuh kasih sayang.
Tiba-tiba, Mama Soraya menepuk dahinya pelan dengan raut wajah cemas yang baru.
"Astaga, Mama baru ingat! Mama benar-benar lupa mengabari Gavin tentang kondisi Keana!"
Papa Arland langsung menegakkan duduknya.
"Benar juga. Anak itu pasti bingung kenapa kita semua belum pulang dan Keana tidak ada kabar."
Mama Soraya segera merogoh tasnya dan mengambil ponsel. "Mama hubungi Gavin sekarang. Kebetulan sekali, sekalian minta dia membawakan beberapa perlengkapan dan pakaian ganti untuk Keana ke rumah sakit"
Mama Soraya pun berjalan sedikit menjauh ke dekat jendela kamar, menempelkan ponselnya ke telinga untuk menghubungi anak keduanya yang masih berada di rumah.
📱"Halo Ma, apa Gea ikut mama ke rumah sakit lagi? soalnya dia belum pulang dan tidak menghubungi Gavin untuk menjemputnya"
Setelah panggilan tersambung, Gavin langsung berbicara panjang menanyakan adiknya.
"Maaf…Mama lupa mengabarimu. Sebenarnya memang Kea ada di rumah sakit, tapi bukan karena ikut dengan Mama……Kea di sini karena sakit__"
📱"ApAA!!" pekik Gavin. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku? sejak kapan Kea di sana?"
"Sejak siang. Sudahlah, cepat ke sini! sekalian kamu bawa pakaian ganti untuk Keana!"
📱"Huffth....iya, Ma. Aku segera kesana. Apa ada lagi yang mama butuhkan? makanan?"
"Sudah tidak ada. Banyak makanan yang dijual di kantin rumah sakit"
.
.