Kesempatan hidup kedua yang kudapatkan, akan aku manfaatkan dengan baik.
Aku berpikir siuman dari pingsan, tapi pada kenyataannya aku kembali ke waktu satu tahun sebelumnya.
Akan aku balas mereka yang telah menyakiti ku selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saudara Tiri
Hingga tiba-tiba sebuah mobil sengaja menabrak bagian depan motor yang dikendarai Sean.
Sean turun mendekati pintu kemudi yang masih tertutup rapat.
"Turun!" seru Sean.
"Sudahlah Sean, kita pergi saja. Repot berurusan dengan orang kaya," ajak mama berusaha meredam emosi sang anak.
"Jelas-jelas dia yang cari masalah Mah," kata Sean tak terima meski belum tahu siapa yang berada dalam mobil.
Pintu mobil terbuka dan seseorang keluar dari sana.
Seorang pria muda dengan wajah tak kalah tampan dari Sean.
Dia membuka kacamata hitam nya perlahan, dan menyilangkan tangannya di dada.
"Apa kabar kau?" sapa nya tak sopan.
"Tambah sengsara aja hidup kamu," lanjut nya tertawa mengejek Sean.
Sean menggenggam tangannya erat.
"Ngapain mata kamu, nantangin aku? Ingat, hanya dengan menjentikkan jari saja, aku bisa mengubah hidup kamu," seru nya pongah.
Sean mendekat tapi keburu dihalangin mama nya.
"Sudah Sean, ngapain kita ngeladenin anak gundik macam dia," mama memegang erat lengan sang putra yang tersulut emosi.
"Diam kamu, wanita tua! Siapa yang kamu bilang gundik hah?" pria muda itu mulai terpancing emosi.
"Tentu saja mama kamu," balas Sean.
"Diaammm, mama ku bukan seperti itu!" teriak nya dengan mata nyalang.
"Apa namanya kalau bukan gundik, pelakor, perebut suami orang," kata-kata Sean memprovokatif.
"Mama kamu saja yang tak pandai menjaga, sudah tua, peyot, wajah kumal. Tentu saja tuan Abimanyu, papa ku akan berpaling....ha...ha...," tawanya meledak.
Mendengar nama Abimanyu disebut, membuat darah Sean berdesir. Sudah lama dia ingin menanggalkan nama itu.
Sean mendekat tanpa bisa dihalangi oleh mama nya.
Sebuah bogem mentah mendarat di muka pria yang terkejut dengan serangan Sean.
Belum sempat menghindar, sebuah tendangan dari Sean mendarat di perut membuatnya mengeluarkan isi perut.
"Sialan kau," pria muda itu mengangkat tangan memberi isyarat anak buahnya untuk menghajar Sean.
"Sudah... Berhenti kalian!" kata mama seraya menangis melerai kedua pemuda yang sama-sama emosi itu.
"Biar Mah, aku hadapin mereka!" ucap Sean ngotot.
"Mau sembunyi di balik ketiak mama kamu? Cih, dasar anak mami," provokasi pria muda yang sangat dibenci oleh Sean itu.
Karena dia dan mama nya lah, keluarga kecil Abimanyu porak poranda.
Mama nya yang merupakan wanita sederhana dan setia, ternyata dibalas dengan sebuah perselingkuhan oleh papa nya.
Saat wanita dan putranya itu masuk ke keluarga Abimanyu, mama dan Sean mendapat perlakuan tak layak dari tuan Abimanyu papa nya.
Hingga suatu saat karena hasutan selingkuhannya itu mama diusir dan Sean disuruh memilih tinggal di rumah bersama papa nya atau pergi bersama dengan sang mama. Dan pilihan Sean adalah pergi bersama mama nya.
.
Sean kembali menendang membabi buta karena provokasi pria muda itu.
"Diam kamu, jangan banyak bacot. Kalau berani satu lawan satu," tantang Sean yang sudah babak belur karena ulah anak buah pria muda bernama Kevin itu.
"Ha...ha... Aku tak perlu mengotori tanganku sendiri buat menghabisi kamu, Sean," ucap Kevin sinis.
Mama Sean terus menangis, sementara orang-orang hanya melihat dan segan membantu Sean karena anak buah Kevin terus siaga.
"Nak, kita pergi saja. Jangan ribut dengan mereka," tangisan mama semakin keras hingga menyadarkan Sean untuk tak berbuat lebih jauh.
"Hhmmmm, mau pergi begitu saja? No... No.... ," anak buah Kevin menghadang bahu Sean.
"Mau apa kalian?" Sean berontak.
Kevin mengeluarkan sebuah kertas dari saku jas nya.
"Tanda tangani itu, maka kalian akan kubiarkan pergi," kertas diserahkan ke Sean dengan tangan kiri oleh Kevin.
"Cih!" Sean meludah mengenai jas mahal Kevin.
"Hajar dia!" perintah Kevin. Serangan anak buah Kevin berhenti ketika wajah Sean penuh lebam.
Kevin membungkuk mendekati wajah Sean yang jatuh terduduk.
"Tanpa kamu tanda tangani pun, semua aset kamu akan otomatis berubah kepemilikan Sean. Jadi jangan banyak tingkah. Mumpung aku baik hati, maka tanda tangani berkas ini. Akan aku sisihkan sedikit buat kamu dan wanita tua itu," ucap Kevin licik.
"Sampai kapan pun aku tak akan tanda tangan," tukas Sean menimpali.
"Oke fine!" Kevin kembali berdiri
"Bawa wanita tua itu. Kita lihat, apa dia akan tanda tangan," tegas Kevin memerintahkan anak buah nya.
Mama Sean dipegang paksa oleh empat orang anak buah Kevin.
"Mau kamu apain mama ku?" Sean meronta ingin melepaskan diri.
"Sudahlah, jangan banyak gaya. Cepet tuh tanda tangani," bilang Kevin tergesa.
Sean kembali meludahi Kevin, dan kini tepat mengenai wajah Kevin. Bagi Kevin itu adalah suatu penghinaan besar baginya.
Karena kesal dia menendang Sean yang dipegang oleh para anak buahnya.
Amukan Kevin lebih kuat daripada sebelumnya.
Sementara mama Sean telah dibawa pergi oleh anak buah Kevin yang lain tanpa Sean sadari.
Kevin memberi isyarat anak buah nya untuk mendekat ke arah Sean yang lunglai tak berdaya.
"Rekam sidik jari nya, suatu saat aku pasti butuh semua itu," suruh Kevin.
Kevin membisikkan sesuatu di telinga Sean hingga Sean menahan kuat bahu Kevin.
"Wanita mu bahkan kini menjadi wanita ku. Ha... Ha... Ha....," Kevin tertawa sarkas.
"Apa kamu marah? Cemburu?" ledek Kevin.
"Kamu tak layak merasakan itu semua Sean," lanjut Kevin.
Sean mau berontak lagi, tapi empat pria dengan badan kekar itu menahan dengan kuat, hingga ruang gerak Sean terbatas.
Tangan Sean menggenggam erat saat anak buah Kevin memaksanya untuk tanda tangan.
"Terus saja menolak, entah apa yang akan terjadi pada mama mu saat ini," Sean menoleh kanan kiri dan tak mendapati mama nya.
"Bebasin mama ku," teriak Sean.
"Ini..." Kevin menyerahkan kembali kertas ke arah Sean.
"Oke, aku tanda tangani. Dasar serakah! Kembalikan mama ku," balas Sean.
"Kalau setuju dari awal, pasti tak akan terjadi hal-hal seperti ini. Kakak ku!!!" kata Kevin sinis.
"Serahkan wanita tua itu kembali ke tangan yang tepat," kata Kevin memerintah.
Mama Sean didorong dengan kuat oleh dua anak buah Kevin.
"Sialan kalian," umpat Sean sembari menangkap mama nya yang terhuyung.
Iring-iringan mobil menjauhi Sean
"Ini baru proyek timur... Saat proyek di ibukota dengan omset triliunan dimulai, pasti dia akan merongrong ku kembali," gumam Sean.
Belum satu menit berlalu, mobil mewah yang ditumpangi Kevin kembali di depan Sean.
"Apalagi?"
"Nggak ada, aku cuman bilang jangan mendekat lagi ke keluarga Abimanyu. Aku muak padamu," meski lirih tapi nada bicara Kevin membuat kesal bagi orang yang mendengar.
"Oke, asal ada jaminan kalau keluarga kamu tak akan menganggu aku dan mama ku," tegas Sean.
"Deal," jemari Kevin gatal ingin bersalaman dan Sean melenggang pergi tanpa menghiraukan Kevin sambil menggandeng mama nya.
"Cih, miskin aja belagu" ucap Kevin karena telah mendapatkan apa yang dia mau.
atau pling gk nendang bpk nya biar miskin kl miskin yola pasti gk mau kn. 🤣.
pdhl Dr segi umur Sean sdh dewasa.