Harap bijak dalam memilih bacaan⚠️
Area 21++
Nadiyya Anita Putri seorang gadis yatim piatu yang kini hidup bersama ibu tirinya yang bernama Ibu Naya dan adik tirinya yang bernama Natasya Amora Silvia dirumah lantai dua peninggalan ayahnya.
Suatu hari ada seorang Nyonya besar dari keluarga Gonz'alez datang. Keluarga kaya raya dan sangat berkuasa di london - inggris.
Kedatangannya ke kediaman mereka karena ingin melamar seorang gadis untuk menjadikannya sebagai menantunya dan itu artinya dia akan menjadi istri dari putranya - Rahim Aditya Gonz'alez seorang yang berwajah dingin datar namun tampan dan sangat kaya raya.
Lantas siapakah yang dipilih oleh Nyonya besar untuk menjadi menantunya? apakah Natasya Amora Silvia atau kah Nadiyya Anita Putri?.
Dan bagaimana kah cerita perjalanan kisah pernikahan mereka yang tanpa adanya cinta sama sekali?.
Apakah ditengah tengah perjalanan pernikahan mereka nanti akan tumbuh benih-benih cinta? ataukah perceraian menjadi jalan terbaik?.
Yukkk ikuti cerita kisah mereka hanya di My Cold Husband
SLOW UPDATE 🙏🏻
NOVEL PERTAMA, MOHON DUKUNGANNYA ♥️
JANGAN LUPA KLIK FAVORIT ❤️, LIKE👍🏻, TINGGALKAN JEJAK 👣.
Tanpa kalian author bagaikan burung tak bersayap💔.
شكرا جزيلا♥️
Terimakasih banyak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15 - After Married
Setelah Akad nikah selesai tidak terdengar lagi Rahim berbicara. Tercipta kecanggungan di antara Rahim dan Nita saat makan malam. mereka tidak terlibat pembicaraan apapun. Hanya para keluarga yang terlibat pembicaraan ringan.
"Di mana Rahman?" tanya Nyonya besar di sela-sela acara makan malam.
"Dia pergi keluar kota kakak, katanya ada pekerjaan jadi tidak bisa hadir di acara pernikahan Rahim" jelas Dhifya.
"Oh... pantas saja tidak ada kehebohan nya" seloroh Nyonya besar.
"Kau benar" timpal adik sepupu Nyonya besar. Dan mereka tertawa bersama
***
Di dalam mobil
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku lusi!" bentak Rahman pada sekretarisnya.
"Maaf tuan, bukankah dua minggu yang lalu tuan yang menetapkan kalau hari ini adalah kunjungan kita ke proyek?"
"Ahhh sial! bagaimana aku bisa lupa. Aku jadi tidak bisa menghadiri pernikahan Rahim." Rahman mengusap wajahnya kasar.
***
Acara makan malam selesai. Nita sangat bersyukur sekali dia di perlakukan dengan sangat baik oleh keluarga suaminya. Nita merasa kalau tubuhnya sudah merasa letih sekali, mungkin karena dia terlalu gugup jadi menguras energinya, atau ntahlah, dia hanya ingin beristirahat. Di antarkan oleh Liyya dan dua orang pelayan ke kamar, karena tidak mungkin Nita sendirian masuk ke kamarnya dengan gaun yang sangat panjang. Dia bahkan melepas High heels nya.
"Nona kenapa anda melepas High heels nya?" tanya Liyya. "Bagaimana anda nanti berjalan?"
"Ahhh... tidak apa Liyya, kaki ku ini sakit memakainya... Ini" memberikan High heels nya pada Liyya dan kembali berjalan tanpa alas kaki
"Kenapa aku merasa gaunnya semakin berat saja?" gerutuNita terus melangkah masuk ke mansion.
Liyya tidak menjawab gerutuan Nita. Dia hanya tersenyum dan membantu Nona mudanya mengangkat gaunnya.
"Akhirnya sampai juga... "
"Apa ini Liyya?" tanya Nita dengan nafas yang tersengal-sengal seraya menerima paper bag yang diberikan Liyya. "Huuh aku cape sekali, seperti berjalan lima kilometer saja!"
"Itu pakaian Nona, Nyonya besar yang memberikan nya untuk anda" jawab Liyya sambil membukakan pintu kamar.
"Benarkah?". "Ahhh Ibu kau itu baik sekali, tahu saja kalau aku tidak punya pakaian ganti, gara-gara Agam!"
"Iya Nona... Sepertinya anda sangat lelah? Silahkan masuk Nona di sebelah kiri ada kamar mandi kalau anda ingin mandi dulu dan di sebelah kanan ruang ganti bajunya Nona. Silahkan anda beristirahat."
"Baiklah, terimakasih..."
"Liyya... kau mau kemana?" melihat Liya yang ikut masuk ke dalam kamar.
"Iya Nona..." berbalik menghadap Nita. "Saya ingin meletakkan High heels anda kedalam rak sepatu Nona"
"Tidak usah, itu untuk kau saja!" ucap Nita.
"APA!" pekik Liyya dan dua pelayan secara bersamaan.Sontak membuat mereka bertiga kaget berjamaah!.
Nita yang kelelahan sedang menyenderkan tubuhnya ke dinding kamar sambil menutup matanya yang terasa sangat mengantuk tapi kantuk itu seketika hilang saat mendengar teriakan para pelayan.
Nita yang juga terkejut langsung membangunkan tubuhnya dari dinding dan membuka matanya lebar-lebar. Sudah tidak terasa lagi kantuk yang tadi melanda. "Kenapa-kenapa?." Menatap satu persatu wajah pelayan yang sedang menemaninya dengan tatapan bingung "Kenapa mereka berteriak?"
"Aku tidak salah dengarkan!" batin Liyya.
"Apa Nona mengingau? ingin memberikan High heelsnya pada pelayan!" . tentu saja mereka tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Nita. High heels itu adalah High heels khusus yang di pesan oleh Nyonya besar hanya untuk calon menantunya pakai di saat pernikahan. "Harganya pasti sangat mahal!"
"Apa Nona sungguhan?"
"I-iya..." jawab Nita terbata sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena bingung.
"Nona, apa Nona serius?!" pekik Susi dengan suara yang nyaring. Susi adalah salah satu dari dua pelayan.
Nita, Liyya, dan satu pelayan lainnya yang berada di kamar menutup telinga mereka dengan tangan karena suara susi yang nyaring dan cempreng. Untung saja kamar kedap suara.
"Plak!" satu tamparan mengenai tangan Susi. "Kau ingin membuat Nona tuli!" bentak Liyya dengan tatapam tajam nya.
"Astaga!". Nita sempat terbengong melihat Liyya yang berani menampar dan membentak pelayan lain hanya untuk dirinya.
Merasakan tangannya panas dan kebal akibat tamparan Liyya, tapi Susi tidak berani meraba atau mengusapnya setelah kembali mendapatkan tatapan tajam dari Liyya. Susi hanya bisa menelan salivanya susah. Tentu saja Susi tidak berani melawan Liyya karena Liyya adalah pelayan wanita senior, bisa bisa Susi di pecat kalau Liyya mengadu pada kepala pelayan tentang ketidaksopanan nya pada Nona muda.
"Maafkan saya Nona" ucap Susi sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa... tapi lain kali kau tidak perlu berteriak oke?"
"Sudahlah Liyya berhenti menatapnya tajam seperti itu"
Mendengar Nona mudanya yang sudah menegur, Liyya berhenti menatap tajam pada Susi, dan itu membuat Susi bisa bernafas lega.
"Baiklah kalian boleh pergi, aku ingin beristirahat."
"Tapi Nona... " menyodorkan High heels kedepan Nita. 'Bagimana dengan High heels ini?' begitu yang Nita tafsirkan.
"Kau ambil saja Liyya". Susi yang mendengarkan pembicaraan dari tadi, menatap tak percaya pada apa yang di katakan oleh Nita. "Mudah sekali Nona memberikan barang pada orang lain, apa dia tidak tahu kalau itu mahal! main berikan berikan saja"
"Tapi No ---- "
"Apa kau tidak bisa melihat keseriusan di wajahku?" potong Nita sebelum Liyya kembali protes.
"Baiklah Nona" pasrah. "Terimakasih, Kami permisi"
"Hemmm.... tunggu, kau jangan memarahi nya lagi" menunjuk kearah Susi. Yang di balas anggukan kepala oleh Liyya.
"Ahhh.... Nona kau itu baik sekaliii" puji Susi dalam hati.
Setelah para pelayan keluar, Nita melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan berwudhu untuk melaksanakan sholat isya. "Kamar mandinya luas sekali" gumamnya dengan tatapan kagum.
Selesai sholat Nita tidak melihat Rahim masuk ke dalam kamar. "Kenapa dia tidak masuk?". Menatap pintu kamar yang tidak juga terbuka. "Ah... sudahlah" tidak mau ambil pusing, bangkit dan merapikan perlengkapan sholat nya Nita masuk ke dalam kamar mandi lagi. "Lebih baik aku berendam, karena rasanya tubuh ku ini lelah sekali".
Dua puluh lima menit berendam dengan air hangat bisa membuat Nita segar kembali. Memakai handuk mandinya, dia masuk ke dalam ruang ganti baju. Membuka paper bag yang di berikan Liyya padanya.
"Apa ini?" Mengkerutkan keningnya seraya membolak-balikkan pakaian yang sedang dia pegang.
Lingerie merek Sorex yang berwarna merah terang terbuat dari Renda dengan motif jejaring.
"Pakaian apa ini!" Nita menatap geli pada lingerie yang sedang dia pegang. "Kenapa Ibu membeli pakaian yang kekurangan bahan dan sangat tipis seperti ini!"
"Padahalkan dia sangat kaya raya".
"Seram sekali!" pekik Nita menutup wajahnya saat melihat dirinya di pantulan cermin. Semua tubuhnya terekspose dengan sangat jelas. Dengan sangat terpaksa dia harus memakai lingerie yang diberikan oleh Nyonya besar. Karena tidak mungkin baginya memakai One set yang sudah basah dia bawa berendam.
Membuka pintu ruang ganti baju sedikit. Mengeluarkan kepala dari balik pintu dengan jantung yang berdegup degup dan tangan yang dingin "Kenapa aku tegang sekali." Lalu menyapu seluruh kamar dan tidak mendapati Rahim. "Huuuh" Nita menghela nafasnya lega. Debaran jantungnya yang berdetak lebih kencang tadi karena gugup, mulai teratur berirama kembali.
Keluar dari ruang ganti baju dan berjalan cepat menuju tempat tidur. Mengambil bantal dan selimut kemudian membawanya ke karpet, tepat berada di depan tempat tidur. Kemudian mematikan lampu kamar. Karena di kamar Rahim tidak ada sofa, yang ada malah dua buah kursi besar seperti kursi ruang tamu plus meja kaca kecil. Nita yang memang sudah terbiasa tidur di lantai, tidak terlalu mempermasalahkan nya.
Manaruh bantalnya dan melilit seluruh tubuhnya dengan selimut lalu menjatuhkan tubuhnya ke karpet. Tidak sampai lima menit Nita sudah terlelap tidur mungkin karena tubuhnya yang sangat lelah.
Hampir tengah malam Rahim masuk ke dalam kamar. Dia lebih memilih menghabiskan waktu bersama Vans di dalam ruang kerja. Hingga Vans tertidur di sofa ruang kerja, Rahim masih saja berkutik dengan laptopnya. Sampai puluhan kali Nyonya besar mengetuk pintu ruang kerjanya dan memaksa Rahim untuk masuk ke dalam kamar. Dengan sangat terpaksa dia harus menurut pada Ibunya kalau tidak, Ibunya akan terus saja mengganggu nya.
Membuka pintu kamar, mendapati kamar yang gelap hanya satu lampu tidur samping tempat tidur yang menyala. Meraba saklar di dinding kamar dekat pintu lalu menyalakannya. Matanya langsung menatap pada tempat tidur tapi tidak mendapati Nita. "Dimana gadis itu?" mengerutkan keningnya.
Menyapu seluruh kamar, matanya terhenti pada seseorang yang sedang tertidur pulas di karpet. Berjalan mendekati Nita "Kenapa dia memilih tidur di lantai? dan kenapa dia melilit tubuhnya seperti itu? apa dia kedinginan?."
Membuka laci meja samping tempat tidur Rahim mengambil Remote Ac dan mematikannya.
Setelah mematikan Ac, Rahim kembali menatap wajah Nita dengan sangat intens, wajah yang bisa membuat hati tenang saat memandangi nya. Rahim tersenyum samar, tatapannya terhenti pada bibir Nita, Apalagi lipstik pink yang Nita pakai waktu acara Akad nikah masih berbekas. Membuat bibir ranum itu terlihat begitu menggoda.
Rahim terus saja menatap pada bibir mungil nan tipis milik Nita. Dan tanpa dia sadari ada sesuatu yang menegang. Rahim segera berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. "Shit!" umpat nya. "Bagaimana bisa hanya dengan menatap bibirnya membuat milikku menegang!."
Terpaksa Rahim mandi dengan air dingin untuk menidurkan kembali miliknya yang menegang akibat memandangi wajah Nita. Keluar dari ruang ganti baju dengan membawa selimut baru karena selimutnya sudah di pakai oleh Nita. Rahim langsung menuju tempat tidur, mengambil Remote lalu mematikan lampu, menyelimuti tubuhnya dan ikut menyusul Nita ke alam mimpi.
.
Babang Rahim belum liat tuch kalau Nita pake lingerie hihihi
.
Jangan lupa like, vote, komen tinggalkan jejak 👣 dan share ♥️
Vote yang banyak biar aku makin rajin up nya!♥️