NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu

KEESOKAN PAGI - JAM 6.30

Notifikasi WhatsApp masuk.

Jayden:

Chey

Gue gak bisa jemput kayak biasa

Demam. Badan ancur

Tapi gue udah pesenin ojol ya. 5 menit lagi nyampe

Platnya *******

Jangan telat kelas ya.

Cheyrin membaca chat itu sambil menghela napas. Dadanya terasa tidak enak.

Ia menatap jaket motor Jayden yang masih tergantung di kursi. Masih ada aroma parfum Jayden yang samar.

Sedikit lucu juga.

Dia demam, harusnya dia mengkhawatirkan dirinya sendiri. Tapi dia malah mengkhawatirkan Cheyrin telat.

Lima menit kemudian ojek online datang.

Sepanjang jalan ke kampus, Cheyrin diam. Ia mengirim satu chat.

Cheyrin:

Makasih ya udah pesenin

Cepet sembuh. Minum obat jangan ngeyel.

Balasannya tidak langsung masuk. Centang dua, tapi tidak dibaca.

Cheyrin menggigit bibir. Rasa bersalahnya makin besar.

ISTIRAHAT SIANG - JAM 12.10

Cheyrin masih duduk di kelas kursi belakang bagian tengah. Ponselnya ada di genggaman.

Ia masih memperhatikan chat yang ia kirim pagi tadi.

Centang dua. Tidak ada tanda biru. Belum dibaca.

Mungkin Jay istirahat. pikir Cheyrin mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara dari kursi sudut sebelah kiri.

"Dara, ke kantin yuk."

Suara itu sangat familiar.

Cheyrin menoleh ke arah sumber suara.

Itu Lisa. Ia sedang bicara pada Dara yang duduk di sudut depan sebelah kanan.

Dara tersenyum dan mengangguk hangat. Selama beberapa detik, ia sempat melirik ke arah Cheyrin.

Cheyrin terdiam.

Sejak awal, Cheyrin memang tidak pernah sekalipun berbicara dengan Dara. Ia tidak punya masalah apa pun dengannya.

Tapi tatapan itu... seakan Dara sudah berhasil merebut sahabat baik Cheyrin, yaitu Lisa.

Cheyrin hanya melihat kedua orang itu keluar kelas bersama. Tawa mereka terdengar pelan dari luar pintu.

Ia kembali fokus pada ponselnya. Layar masih sama. Tidak ada notifikasi baru.

Trtt... trtt...

Ponsel di atas meja bergetar.

Jantung Cheyrin yang sejak tadi menunggu notifikasi langsung berdegup kencang.

Namun ketika melihat nama itu, harapannya perlahan mengempis.

Mama

Cheyrin berdiri. Kursinya berderit pelan. Ia keluar dari kelas tanpa berkata apa-apa, langkahnya cepat tetapi terasa hampa.

Balkon lantai 3 sepi. Angin siang menerpa wajahnya. Aroma semen basah bekas hujan semalam masih tertinggal di udara.

Ia mengangkat ponsel dan menempelkannya ke telinga. Suaranya lirih. "Iya... Ma?"

Suara Mama di seberang terdengar serak. Seperti baru saja menangis, atau kurang tidur.

"Nak... Kamu kerumah mama dong. Sesekali. Di sini... Mama sendiri."

Kata "rumah" itu menggema di kepala Cheyrin.

Dia baru sadar jika. Kedua orang tua nya telah bercerai. Otomatis sekarang akan ada dua rumah yang harus ia kunjungi.

Tenggorokannya tercekat. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

"Iya, Ma..." ucapnya pelan. "Nanti Cheyrin ke sana, ya. Janji."

"Bener, ya?" Nada suara Mama seketika menguat. Ada kelegaan di sana. "Nanti mama masakin soto. Kesukaan kamu. Kuahnya yang banyak."

Cheyrin tersenyum kecil. Namun senyum itu terasa pahit. "Iya ma. Kuah yang banyak."

Tut.

Panggilan berakhir.

Cheyrin masih berdiri di tempat. Tangannya menggenggam pagar besi balkon hingga buku-buku jarinya memucat.

JAM 15.30 - GERBANG UTAMA KAMPUS

Langkah Cheyrin gontai. Pikirannya berisik.

Ada suara Mama. Ada chat Jayden yang belum dibalas. Ada tawa Lisa dan Dara di kantin tadi.

Saking lamunnya, ia lupa. Hari ini Jayden tidak masuk. Seharusnya ia tidak berjalan ke arah parkiran.

Tanpa sadar, kakinya justru berhenti di gerbang utama kampus.

Di sana mahasiswa berlalu lalang. Suara motor, klakson, dan tawa bercampur menjadi satu.

Cheyrin berdiri di tepi trotoar. Angin sore mengacak-acak rambutnya yang terurai.

Ia mengeluarkan ponsel. Niatnya ingin memesan ojek online.

Namun jarinya berkhianat. Ia malah membuka WhatsApp.

Membuka chat yang sama. Yang centangnya masih dua. Belum berwarna biru.

Cheyrin diam cukup lama di tempat itu.

Dia baik-baik aja kan? batinnya.

"Chey."

Suara itu mengejutkannya.

Cheyrin menoleh.

Juno sudah berdiri di hadapannya. Menggunakan motor Ninja. Helm di satu tangan, senyum lebar di wajahnya. Jaket basketnya masih setengah terbuka.

"Nungguin pacar gelap ya? Jay kan nggak masuk hari ini?" tanya Juno sambil kedip nakal.

Cheyrin masih terpaku. "Eh... iya. Dia..."

Juno memotong sambil menepuk jok belakang motornya. "Naik. Gue antar. Mumpung gue nganggur dan Ninja gue butuh penumpang biar gak kesepian."

Cheyrin terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka Juno akan menawarkan hal itu.

"Oh... nggak usah, Jun. Gue bisa pesan ojek. Tadi mau pesan juga," jawabnya cepat. Ia buru-buru membuka ponsel, mencari aplikasi ojek online.

Juno mendecak, "Apaan sih ojek-ojekan. Lama. Naik aja. Kita searah kok." Juno motong, langsung nyodorin helm. "Nih. Pake. Daripada lo nungguin jodoh di sini sampe jamuran."

Rasanya tidak enak untuk menolak.

Dengan ragu, Cheyrin menerima helm itu. Dingin dan berat. Ia memasangnya perlahan.

Sebelum menaiki boncengan, Cheyrin sempat mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa.

Padahal ia dan Jayden tidak memiliki hubungan apa-apa.

Namun entah mengapa, saat itu Cheyrin merasa seperti sedang berselingkuh.

"Apalagi sih? Udah kayak mau maling." Juno ngomel tapi tetep nyalain mesin. "Udah naik."

Mesin Ninja meraung.

Mesin Ninja meraung. Dan Cheyrin pun pergi, di bonceng oleh orang yang bukan dia tunggu.

Di sepanjang jalan Juno masih sempat-sempatnya mengeluarkan candaan.

"Gimana? Aman kan di bonceng Ninja gue? Lain kali bayar pake cilok ya."

Cheyrin hanya tersenyum kecil.

Sepanjang perjalanan, Cheyrin hanya bisa menatap punggung Juno dan berpikir:

Kapan terakhir kali gue diantar pulang oleh orang selain Jay...

 ---

L'EVANNE - PUKUL 17.03

Cheyrin tiba di L'Evanne tepat waktu. Ia baru saja turun dari ojek online karena terburu-buru. Meskipun demikian, ia tidak terlambat. Setelah melepaskan helm dan berganti seragam, Cheyrin langsung mengikuti pengarahan singkat sebelum jam kerja dimulai.

Pekerjaan berjalan seperti biasa. Mengambil pesanan, melayani dengan ramah, dan mengantar makanan ke meja tamu.

Hingga tiba giliran Cheyrin mengantar pesanan ke Meja Nomor 14.

Di atas nampan terdapat Steak Wagyu setengah matang dan satu gelas Red Wine, sesuai dengan struk pesanan. Cheyrin berhenti di sisi meja, tersenyum, lalu menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.

"Selamat sore, Ibu. Pesanan Ibu sudah saya antar."

Dengan hati-hati, ia meletakkan piring dan gelas di atas meja dengan rapi.

Namun, wanita yang duduk di kursi itu, berusia sekitar 40 tahun dan mengenakan blazer berwarna krem, langsung mengerutkan dahi.

"Loh. Ini apa? Saya nggak memesan ini. Pesanan saya salah."

Seketika jantung Cheyrin berdegup lebih cepat. Ia merasa gugup dan sedikit panik. Akan tetapi, ia berusaha tetap tenang dan menjaga sikap profesional.

"Em... baik, Ibu. Saya mohon maaf. Saya akan memeriksa kembali pesanan ibu ya. Mohon untuk tunggu sebentar." jawab Cheyrin pelan, sopan.

Wanita itu justru meninggikan suaranya. Beberapa pengunjung di meja sekitar menoleh ke arah mereka.

"Nggak. Saya mau diganti sekarang juga. Waktu saya gak banyak. Dengan kamu pergi ke dalam buat nanya-nanya lagi, itu udah buang-buang waktu saya."

Tangan Cheyrin yang memegang nampan kosong terasa dingin. Wajahnya memanas karena malu.

Namun ia tetap tersenyum dan menundukkan kepala.

"Baik, Ibu. Pesanan akan segera saya ganti."

Dari arah dapur, manajer tampak memperhatikan kejadian tersebut dari kejauhan.

Cheyrin segera berlari kecil menuju dapur dengan nampan kosong di tangan. Wajahnya tetap tenang, tetapi langkahnya tergesa.

Ia langsung menghampiri koki yang bertugas di grill.

"Chef, permisi. Pesanan steak untuk Meja Nomor 14 harus diganti. Tamunya minta Wagyu Well Done, bukan Medium Rare."

Koki itu yang sedang membalik daging langsung menghentikan tangannya. Ia menatap Cheyrin dengan kesal.

"Lho? Tadi kamu sendiri yang bilang Medium Rare. Saya sudah masak sesuai omongan kamu."

Cheyrin terkejut. Ia menggeleng cepat.

"Enggak, Chef. Saya sudah menulis catatannya dengan jelas di struk. Di situ tertulis Well Done. Mungkin tadi ada kekeliruan."

Wajah koki itu memerah. Suaranya meninggi sehingga terdengar sampai ke area plating.

"Kamu ini gimana sih? Jangan nyalahin saya. Kalau dari awal catatannya benar, nggak akan kejadian begini. Sekarang malah nyuruh buat lagi. Dapur lagi sibuk!"

Beberapa staf lain ikut menoleh. Suasana dapur yang biasanya ramai menjadi tegang.

Cheyrin mengepalkan tangan di balik nampan. Dadanya sesak karena malu dan takut.

Tetapi ia tahu, berdebat tidak akan menyelesaikan masalah. Tamu di luar masih menunggu.

Akhirnya Cheyrin menunduk dalam-dalam.

"Oke maaf, Chef. Saya yang salah. Boleh saya minta tolong dibuatkan satu lagi Wagyu Well Done untuk Meja Nomor 14? Saya tanggung jawab penuh."

Koki itu mendengus. Setelah terdiam beberapa detik, ia akhirnya mengambil daging baru dan melemparkannya ke atas grill dengan kasar.

"Lain kali jangan salah catat lagi."

Cheyrin mengangguk. Ia menahan air mata dan segera kembali ke area plating untuk menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!