NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Tasbih dan Deru Mesin Sport

Pagi di kawasan Pesantren Al-Hikmah selalu memiliki ritmenya sendiri. Langit fajar baru saja menyapukan warna jingga keemasan di balik barisan pohon kelapa dan kubah masjid utama yang menjulang megah. Udara dingin khas pedesaan bercampur dengan aroma gaharu dan wangi halaman basah menyambut siapa saja yang menghirupnya. Di kompleks seluas sepuluh hektare itu, denyut kehidupan dimulai jauh sebelum matahari sepenuhnya muncul di ufuk timur.

Suara gemercik air kolam wudu berpadu harmonis dengan suara santri-santri penghafal Al-Qur'an yang melantunkan ayat-ayat suci dengan suara berirama merdu. Di salah satu sudut ruang dalam rumah induk sebuah bangunan berarsitektur tradisional Jawa berpadu modern milik pengasuh pesantren seorang gadis tengah duduk bersimpuh di atas sajadah tebal berwarna hijau zamrud.

Tangannya menengadah, sementara bibirnya yang ranum melafalkan doa-doa penutup tahajud dengan khusyuk. Air mata bening sempat menetes di sudut matanya, bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang melimpah atas nikmat iman dan perlindungan yang ia rasakan setiap detik dalam hidupnya.

Namanya Nayara Zayna Az-Zahra, usia genap 20 tahun. Ia adalah putri sulung dari K.H. Ahmad Zayna, seorang ulama besar yang kharismatik, disegani, dan menjadi rujukan umat di negeri ini. Sebagai anak seorang kiai terpandang, seluruh gerak-gerik Nayara diatur oleh pagar-pagar syariat yang kokoh, bukan sebagai bentuk pengekangan, melainkan wujud kasih sayang orang tua untuk menjaga mutiara berharga mereka dari kerasnya dunia luar.

Sejak kecil, Nayara dididik untuk tidak mengenal kata pacaran, selalu menjaga pandangan dari lawan jenis yang bukan mahram, serta merawat ibadah wajib maupun sunnah tanpa pernah bolong. Tahajud, dhuha, witir, hingga tilawah harian telah mendarah daging dalam hidupnya. Di balik kesucian dan kesalehannya, Nayara juga dikaruniai fisik yang memukau tanpa dibuat-buat. Kulit putih bersih tanpa noda, mata bulat jernih dengan bulu mata lentik, hidung mancung proporsional, serta senyum manis yang memancarkan keteduhan luar biasa.

Selesai melipat mukena, Nayara bangkit dan berjalan anggun menuju cermin besar berukiran kayu jati khas Jepara di sudut kamarnya. Ia mengenakan gamis harian berwarna sage green berbahan linen lembut yang dipadukan dengan jilbab panjang senada menutupi dada. Penampilannya sangat rapi, bersih, dan elegan dalam kesederhanaan.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kamar diketuk pelan dari luar, disusul oleh suara berat yang sangat ia kenal.

"Kakak... princess-nya Ummi dan Abah, sudah siap belum? Nanti keburu telat lho masuk kuliah pagi!" panggil sebuah suara lelaki remaja dari balik pintu.

Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok remaja berpostur tinggi atletis mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan atribut SMA. Rambutnya sedikit berantakan karena baru bangun tidur, namun ketampanan wajahnya sangat mirip dengan garis keturunan keluarga mereka.

Dia adalah Fathan Al-Faruq, adik kandung kesayangan Nayara yang kini duduk di kelas 11 SMA di yayasan yang sama. Di luar rumah, Fathan dikenal sebagai sosok pelindung yang disegani, bahkan sering ditakuti oleh teman-teman seangkatannya karena posturnya yang tinggi dan pembawaannya yang tenang. Namun, begitu berada di dekat Nayara, seluruh keangkeran itu menguap seketika, berganti dengan sifat manja yang luar biasa.

Tanpa aba-aba, Fathan langsung melangkah masuk dan menyandarkan dagunya di bahu sang kakak yang sedang merapikan buku-buku kedokteran di tas ranselnya.

"Fathan... kebiasaan banget deh. Badannya sudah tinggi hampir nyusul Abah, tapi kalau di dalam rumah masih suka meluk-meluk kakak kayak anak kecil umur lima tahun," protes Nayara lembut, meski bibirnya tidak kuasa menahan senyum geli melihat tingkah adiknya.

Fathan mengeratkan pelukannya sejenak, lalu mendengus manja. "Biarin saja. Di luar sana, Fathan harus pasang badan jadi benteng pelindung Kakak dari cowok-cowok kampus yang centil atau coba-coba mendekat. Tapi kalau di rumah, biarin Fathan manja sama Kakak satu-satunya ini. Emangnya nggak boleh?"

Nayara memutar bola matanya jengah, lalu berbalik dan mencubit pelan hidung adiknya. "Iya, tuan muda Fathan Al-Faruq. Tapi nanti kalau di luar kampus, jangan pasang muka garang terus ke semua orang. Sana sarapan dulu, Ummi sudah siapkan nasi goreng spesial di meja makan."

Suasana sarapan pagi di keluarga K.H. Ahmad Zayna selalu hangat. Sang Abah dan Ummi memberikan nasihat-nasihat penyejuk hati sebelum kedua anak mereka berangkat beraktivitas. Bagi Nayara, keluarga adalah benteng pertahanan terbaik di dunia. Ia tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang, sehingga dunia luar di luar sana—dengan segala gemerlap dan tren anak mudanya—tidak pernah mampu menarik minatnya sedikit pun.

Satu jam kemudian, mobil jemputan keluarga menurunkan Nayara di depan gerbang utama Universitas Airlangga Nusantara, salah satu perguruan tinggi swasta paling bergengsi dan elit di Indonesia.

Begitu Nayara melangkahkan kakinya melewati gerbang kampus, atmosfer langsung terasa berbeda. Koridor-koridor megah dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswi dari berbagai latar belakang sosial mulai dari anak pejabat, pengusaha ternama, hingga selebritis kampus. Namun, kehadiran Nayara selalu berhasil menciptakan ruang tersendiri di tengah keramaian.

Sebagai mahasiswi kedokteran semester lima yang selalu menduduki peringkat pertama di fakultasnya, kecerdasan Nayara sudah diakui oleh para dosen. Ia juga sering memenangkan berbagai kompetisi karya ilmiah tingkat nasional. Ditambah dengan pesona fisiknya yang anggun dan tertutup, Nayara menjadi sosok yang dikagumi banyak orang, sekaligus disegani karena tidak satupun lelaki yang berani mendekatinya secara sembarangan.

"Nayara! Ya ampun, tungguin aku!"

Sebuah suara riang memecah konsentrasi Nayara saat ia berjalan menuju gedung fakultas kedokteran. Seorang gadis berambut sebahu dengan gaya pakaian modis namun sopan berlari kecil menghampirinya.

Dia adalah Alya, sahabat karib Nayara sejak hari pertama ospek kuliah. Alya adalah satu-satunya mahasiswi yang paling memahami Nayara secara utuh mengetahui batasan-batasan syariat yang dipegang teguh sahabatnya itu, sekaligus menjadi pelindung setia jika ada hal-hal usil yang mengganggu Nayara di kampus.

Alya langsung merangkul lengan Nayara begitu berhasil menyusul. "Kamu ini jalannya cepet banget, Nay. Kayak lagi dikejar malaikat maut. Untung aku rajin olahraga, jadi nggak ketinggalan jauh."

Nayara tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipit di kedua pipinya. "Kamu ini ada-ada saja, Alya. Jalan biasa dibilang lari. Makanya, kalau jalan jangan sambil main handphone terus."

"Hehe, iya-iya. Eh, omong-omong soal jalan, kamu sadar nggak kalau dari tadi banyak pasang mata yang ngeliatin kita?" bisik Alya sambil melirik tipis ke arah area parkir basement.

Nayara mengernyitkan dahi. "Memangnya ada apa di parkiran?"

"Bukan di parkiran biasa, tapi 'The Royals' baru saja datang dengan gaya songong mereka," jawab Alya dengan nada setengah berbisik, seolah menyebut nama itu bisa memancing malapetaka.

Mendengar nama The Royals, ekspresi Nayara tetap datar. Ia sama sekali tidak tertarik dengan gosip kampus, terutama yang melibatkan geng mahasiswa paling terkenal dan ditakuti di universitas tersebut.

"Sudahlah, Alya. Biarkan saja mereka dengan dunia mereka. Kita fokus kuliah saja, sebentar lagi ada kuis anatomi kan?" balas Nayara tenang, lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga perpustakaan.

Namun, takdir rupanya memiliki skenario lain yang jauh lebih rumit daripada apa yang ada di dalam buku kedokteran mana pun.

Di sudut lain kampus, tepat di area parkir khusus mobil mewah, suasana mendadak riuh oleh deru mesin mobil sport berharga fantastis. Sebuah lamborghini hitam mengkilap berhenti dengan sempurna di slot utama. Pintu terbuka, dan keluarlah empat orang pemuda yang langsung menarik perhatian seluruh mahasiswi yang berada di sekitar area tersebut.

Mereka dijuluki The Royals geng mahasiswa paling berpengaruh, terkaya, dan paling ditakuti di seluruh penjuru universitas.

Pemuda yang melangkah keluar dari kursi pengemudi adalah Revan Al-Gibran, usia 22 tahun. Revan adalah definisi nyata dari seorang bad boy kelas kakap. Berpostur tinggi sekitar 185 sentimeter dengan bentuk tubuh atletis sempurna hasil latihan fisik rutin, rahang tegas, hidung mancung, serta mata tajam berwarna cokelat gelap yang memancarkan aura dominasi mutlak.

Reputasi Revan di luar ketampanannya jauh lebih legendaris: playboy sejati. Mantan kekasihnya di dalam maupun di luar kampus sudah lebih dari sepuluh orang. Hidupnya dikelilingi oleh kemewahan, dunia malam, balap liar, dan kebebasan mutlak tanpa batasan aturan moral yang mengekang. Meskipun begitu, Revan adalah seorang penganut agama Kristen yang taat beribadah setiap hari Minggu sebuah rutinitas religius yang hampir tidak pernah ia tinggalkan demi menghormati pesan terakhir mendiang ibunya, meskipun dalam kesehariannya ia hidup bebas tanpa mematuhi norma-norma agama secara ketat.

Di sebelah Revan berdiri tiga sahabat setianya: Kevin, pemuda paling cerewet dan hobi menggoda wanita; Dito, si raksasa bertubuh atletis kapten tim basket kampus; serta Satya, pemuda pendiam yang merupakan hacker jenius di balik setiap aksi usil geng mereka.

"Bro, lihat tuh kantin rame banget pagi ini. Kayaknya seru kalau kita nongkrong dulu sebelum kelas," ujar Kevin sambil merangkul pundak Revan dan mengenakan kacamata hitamnya.

Revan tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menyapu area koridor lantai dua, lalu terpaku pada sesosok gadis bergamis sage green yang sedang berjalan bersama temannya menuju perpustakaan. Gadis itu adalah Nayara.

Di saat hampir seluruh mahasiswi di kampus ini selalu histeris, tersenyum centil, atau terang-terangan mencari perhatian setiap kali Revan melintas, gadis berhijab panjang itu justru berjalan dengan pandangan menunduk tenang, melewati kelompok mereka seolah-olah Revan dan kawan-kawan hanyalah seonggok tiang lampu yang tidak bernyawa. Tidak ada lirikkan memuja, tidak ada senyum tersipu. Pure acuh tak acuh.

Revan mengerutkan keningnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring penuh tantangan sebuah ekspresi khas yang selalu muncul setiap kali ia menemukan hal yang sulit didapatkan. Harga diri seorang Revan Al-Gibran terusik secara elegan.

"Siapa gadis itu?" tanya Revan dengan suara baritone rendah, dagunya menunjuk ke arah sosok Nayara yang kini sudah menghilang di balik pintu perpustakaan.

Satya yang sedang memeriksa ponselnya melirik sekilas ke arah yang ditunjuk Revan. "Oh, itu? Namanya Nayara Zayna Az-Zahra. Mahasiswi kedokteran semester lima. Anak kiai besar pemilik Pesantren Al-Hikmah yang terkenal itu. Pintar, galak secara halus, dan yang paling penting... dia anti banget sama cowok model kita, Rev. Jangan coba-coba cari gara-gara sama dia, urusannya bisa panjang kalau bapaknya turun tangan."

Mendengar peringatan Satya, Revan justru tertawa kecil. Tantangan justru adalah makanan sehari-hari bagi seorang pemuda pemberontak sepertinya.

Kevin bertepuk tangan kecil penuh antusias. "Wah, tantangan baru nih buat sang playboy legendaris! Gimana, Rev? Lu kan selalu sesumbar nggak ada cewek yang bisa menolak pesona lu. Kalau dalam waktu sebulan lu bisa bikin Nayara bertekuk lutut dan jadi pacar ke-15 lu, gue traktir kita semua liburan ke New York pakai jet private bokap gue!"

Revan menatap tajam ke arah teman-temannya, lalu menyeringai penuh percaya diri. "Cuma sebulan? Lihat saja nanti. Gadis sok suci itu bakal ngejar-ngejar gue sebelum bulan ini habis."

Tanpa disadari oleh Revan maupun teman-temannya, dari lantai atas gedung Fakultas Ekonomi, sepasang mata sedang mengamati gerak-gerik mereka dengan kobaran api kebencian yang luar biasa. Dia adalah Jessica, ketua geng penindas kampus sekaligus mahasiswi paling populer yang merasa dirinya paling cantik dan yang paling utama: Jessica adalah mantan kekasih Revan ke-14 yang paling tidak terima saat diputuskan begitu saja oleh pemuda itu minggu lalu.

Jessica mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di kulit telapak tangan. "Lihat saja, Nayara... berani sekali kamu menarik perhatian Revan. Aku pastikan hidupmu di kampus ini akan berubah menjadi neraka!" bisik Jessica penuh ancaman kelam.

Hari-hari berikutnya, kampus Universitas Airlangga Nusantara mendadak berubah menjadi arena pertempuran tak kasat mata. Revan mulai menjalankan misi taruhannya dengan penuh strategi.

Awalnya, Nayara mengira kemunculan Revan di sekitar jalurnya hanyalah sebuah kebetulan semata. Namun, ketika pemuda bertubuh tinggi itu tiba-tiba duduk di bangku tepat di sebelah ruang kuliah anatominya padahal Revan adalah mahasiswa Fakultas Bisnis Nayara mulai merasa terusik.

"Mau apa kamu duduk di sini?" tanya Nayara dingin tanpa menoleh sedikit pun saat Revan dengan santai meletakkan segelas caramel macchiato di atas meja belajarnya.

Revan tersenyum miring, menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap wajah cantik Nayara dari jarak dekat. "Cuma mau belajar anatomi tubuh manusia. Kenapa? Takut terpesona sama ketampanan saya?"

Nayara menoleh perlahan. Sorot matanya tajam, memancarkan wibawa yang membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka langsung menahan napas. "Saya tidak punya waktu untuk meladeni permainan anak-anak seperti ini. Tolong ambil minuman kamu dan jangan pernah ganggu saya lagi."

Sikap dingin dan penolakan mentah-mentah itu justru membuat rasa penasaran di dada Revan semakin membara. Selama ini, semakin sulit sebuah mangsa didapatkan, semakin besar pula hasrat Revan untuk menaklukkannya. Hari-hari selanjutnya diisi dengan berbagai usaha gigih dari Revan mulai dari sengaja meminjam buku referensi kedokteran langka di perpustakaan hanya untuk diletakkan di meja Nayara, hingga berdiri di seberang gerbang pesantren saat sore hari hanya untuk melihat sekilas senyum tipis di wajah gadis itu.

Namun, kedekatan yang dipaksakan itu tidak luput dari mata benci Jessica. Rasa cemburu dan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun membuat Jessica merencanakan sebuah tindakan keji untuk mempermalukan Nayara di hadapan seluruh mahasiswa.

Suatu sore menjelang senja, saat Nayara sedang berjalan sendirian menuju gerbang belakang kampus untuk menunggu jemputan Fathan, langkahnya tiba-tiba dicegat di sebuah koridor laboratorium biologi yang sepi oleh Jessica dan tiga orang pengikut setianya.

"Wah, wah... lihat siapa yang berjalan sendirian hari ini," cibir Jessica dengan senyum meremehkan, melangkah maju dan dengan sengaja mendorong bahu Nayara hingga hampir terjatuh.

Nayara tidak melawan secara fisik. Ia mundur selangkah, menegakkan posisinya, lalu menatap Jessica dengan ketenangan yang luar biasa. "Saya tidak punya urusan dengan kamu, Jessica. Tolong beri jalan, saya mau pulang."

"Pulang? Belum boleh sebelum kamu dengar baik-baik!" bentak Jessica murka. Salah satu pengikut Jessica tiba-tiba menarik ujung jilbab Nayara dengan kasar hingga nyaris terlepas, sementara Jessica sendiri menyiramkan sebotol penuh cairan jus berry berwarna merah pekat tepat ke arah gamis sage green bersih yang dikenakan Nayara.

Cairan lengket berwarna merah itu mengotori sebagian besar bagian depan pakaian suci tersebut, menyerupai noda darah. Air mata sempat menggenang di pelupuk mata Nayara, bukan karena rasa takut terhadap ancaman fisik mereka, melainkan karena perlakuan zalim yang ia terima tanpa alasan yang adil. Namun, ia tetap mengingat pesan sang Abah untuk selalu bersabar menghadapi kebodohan manusia.

Tepat saat Jessica mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap melayangkan tamparan keras ke pipi mulus Nayara, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Jessica dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga gadis itu menjerit kesakitan.

Suhu di koridor yang tadinya panas mendadak membeku. Suara langkah sepatu pantofel beradu dengan lantai keramik terdengar menggema dengan cepat.

"Berani sekali tangan kotor kamu menyentuhnya, Jessica?" suara baritone dingin bernada kematian membahana di seluruh sudut koridor.

Revan berdiri tepat di hadapan mereka, matanya menyala menatap Jessica dengan kemurkaan yang belum pernah disaksikan oleh siapapun sebelumnya. Di belakang Revan, Fathan adik kandung Nayara yang kebetulan baru memarkirkan motornya dan berlari mencari sang kakak langsung menerobos maju dengan mata memerah menahan amarah yang meledak-ledak, siap menghancurkan siapa saja yang berani membuat kakaknya menangis.

Babak baru dari benturan dua dunia yang sangat berbeda resmi dimulai, membawa mereka pada pusaran takdir yang tidak bisa lagi dihindari oleh siapapun.

1
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!