Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Kembali ke Jakarta
"Bagaimana, Yah?"
Tanya Azam saat tiba-tiba Ayah Niko menghubunginya lewat telepon. Saat itu, dia dan Aira sedang bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta setelah menghabiskan waktu romantis mereka di Surabaya.
"Akhirnya Fikri berhasil. Orang itu Vito dari dulu memang tidak pernah menyukai Kinan. Maka dari itu, mereka mau membujuk Vito untuk pulang ke Indonesia,"
Kata Ayah Niko di seberang telepon.
"Lalu bagaimana, Yah? Apa Fikri sekarang masih di desa tempat orang tua Om Vito?"
"Ya, mungkin siang nanti mereka sudah tiba di Jakarta lagi."
Azam menghela napas dalam, lalu mengangguk mengerti.
"Syukurlah. Semoga mereka selamat sampai tujuan dan tidak ada halangan apa pun,"
Kata Azam.
"What kamu sudah memberi tahu Aira?"
Tanya Ayah Niko.
"Belum, Yah,"
Jawab Azam cepat.
"Ya sudah, Ayah matikan dulu teleponnya. Jangan beri tahu Aira dulu,"
Kata Ayah Niko lalu mematikan sambungan telepon tersebut.
"AZAM!!!"
Teriak Aira tiba-tiba dari arah kamar.
Azam tersentak. Dia bergegas berlari menghampiri sang istri saat mendengar suara teriakan Aira yang panik.
"Ken...?"
"In... ini...?"
Ucap Aira terbata-bata sambil menyodorkan selembar kertas tagihan pembangunan vila mewah mereka.
Azam mengambil kertas yang ada di tangan Aira, lalu membacanya sekilas.
"Hanya 200 miliar, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan,"
Kekeh Azam geli lalu mencium lembut kening Aira.
Aira mendongak. Mata bulatnya seketika berkaca-kaca menatap suaminya.
"Tapi, Mas..."
"Ya sudah, kita ke bandara sekarang, ya. Kamu siap-siap,"
Potong Azam lalu keluar dari kamar hotel untuk menyelesaikan beberapa urusan administrasi.
Aira cemberut di dalam kamar.
"Dua ratus miliar? Sedangkan aku? Aku belum ada kasih dia apa-apa,"
Gumam Aira lalu mempercepat gerakannya untuk merapikan barang-barang miliknya ke dalam koper.
***
Di tempat lain di area hotel, Azam berdiri tegap di dalam salah satu ruangan. Di sana ada Deni dan empat karyawan hotel lainnya yang baru saja direkrut.
"Biarkan mereka tinggal di vila istri saya. Ada uang bulanan dari saya dengan gaji 10 juta satu bulan, fasilitas lengkap, dan uang masak sudah tersedia. Nanti kamu carikan juga dua tukang kebun dan dua satpam, mengerti Den?"
Tanya Azam kepada Deni.
"Mengerti, Tuan,"
Kata Deni cepat.
"Sama satu lagi."
Azam membalikkan badannya, lalu menatap tegas keempat perempuan muda di depannya.
"Kamu? Siapa nama kamu?"
Tanya Azam ke salah satu karyawan hotel.
"Nama saya Susi, Tuan,"
Kata perempuan bernama Susi itu.
Azam hanya diam lalu kembali menatap keluar jendela.
"Tugas kamu hanya fokus di lantai tiga. Selain kamu, tidak ada yang boleh ke lantai tiga, siapa pun itu. Mengerti?"
"Baik, Tuan,"
Jawab Susi tegas.
"Ambillah satu-satu. Ini gaji awal kalian,"
Kata Azam sembari trenunjuk lima amplop cokelat yang sangat tebal di atas meja.
***
Dengan kecepatan stabil, Deni mengendarai mobil mewah Azam menerobos jalanan Kota Surabaya menuju bandara. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 sore.
"Sayang, kamu suka gak liburan di sini?"
Tanya Azam sembari menggenggam erat tangan halus Aira di kursi belakang.
"Suka banget dong, hehe. Apalagi sama suami sendiri, kan,"
Kata Aira senang.
"Alhamdulillah kalau kamu senang,"
Kata Azam lega.
Keduanya terus bergandengan tangan dengan mesra, bahkan saat mereka sudah berada di dalam pesawat terbang yang lepas landas menuju Jakarta.
Di dalam pesawat, Aira menyandarkan kepalanya di bahu tegap Azam. Perempuan cantik itu benar-benar tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi akibat kelelahan. Sembari mengusap lembut punggung tangan Aira, Azam menatap teduh wajah cantik istrinya yang mulai pulas dalam tidurnya.
Namun, di balik rasa bahagia beberapa hari ini, ada rasa cemas yang menggelayuti benak Azam. Ucapan Ayah Niko lewat telepon tadi kembali terngiang-ngiang di kepalanya.
"Fikri berhasil membuat Vito kembali ke Indonesia karena paksaan orang tuanya, yang ternyata dari dulu tidak menyukai Kinan."
Azam mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Laki-laki itu bertekad di dalam hati untuk selalu melindungi istrinya. Meskipun dia tahu, Aira sebenarnya jauh lebih aman jika menetap di Surabaya, karena Vito pasti tidak akan tinggal diam begitu saja setelah pulang nanti.
***
Setibanya mereka di Jakarta, mereka langsung melanjutkan perjalanan pulang ke rumah menggunakan mobil jemputan pribadi.
"Mas, aku ada hadiah sesuatu buat kamu,"
Kata Aira tiba-tiba saat mereka masih berada di dalam mobil yang sedang berjalan membelah jalanan ibu kota.
Azam menoleh ke arah istrinya.
"Apa, Sayang?"
Tanya Azam lembut.
Aira menghela napas dalam-dalam, lalu menyodorkan dua kotak beludru mewah ke hadapan suaminya.
"Mas, ini kado dari aku. Mungkin gak seberapa dibanding sama semua yang udah kamu kasih ke aku,"
Bisik Aira malu-malu.
Azam tersenyum hangat lalu membuka kotak tersebut. Dia menatap takjub pada sebuah jam tangan Rolex GMT-Master senilai seratus lima puluh juta rupiah dan sebotol Roja Parfums seharga dua puluh juta rupiah yang kini ada di genggamannya.
"Makasih, Sayang. Aku suka banget,"
Bisik Azam lembut dengan mata berbinar penuh penghargaan.
Aira mengangguk lega.
"Sama-sama, Mas. Maaf ya, kadonya cuma itu. Udah gitu ngasihnya telat lagi,"
Kata Aira merasa agak tidak enak hati.
Azam terkekeh pelan lalu mengacak gemas rambut panjang Aira.
"Gak apa-apa, Sayang. Tolong jangan salahin diri kamu terus, okey? Dan kado ini? Aku benar-benar sangat menyukainya."
Mendengar penuturan suaminya, wajah Aira langsung merona merah karena tersipu malu.
"Tuan, Nyonya, kita sudah sampai,"
Kata sopir pribadi Azam yang memecah suasana manis tersebut.
Azam bergegas keluar mobil terlebih dahulu, lalu membukakan pintu mobil untuk Aira dengan sikap yang sangat pria sejati.
"Makasih, Mas."
"Sama-sama, Istriku."
Azam dan Aira kemudian berjalan beriringan dengan mesra memasuki rumah megah mereka.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍