Merasakan jatuh cinta diusianya yang menginjak 17 tahun, adalah sesuatu yang wajar. Namun yang tidak wajar adalah jika lelaki yang ia cintai adalah ayah sahabatnya sendiri.
Akankah persahabatan antara Alena dan Angel hancur karena Alena mencintai ayah sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon requeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada yang beda
Malam ini Alena bermalam di rumah Angel, sebetulnya keadaan Angel sudah mulai membaik,demamnya sudah turun, tapi Angel sepertinya masih rindu pada sahabatnya itu dan tidak memperbolehkan Alena pulang.
Doni masuk ke kamar Angel untuk mengecek keadaan putrinya. Doni lega melihat Angel sudah tidak demam lagi.
"malam ini mau makan apa? biar papih beliin " ucap Doni.
"aku mau bubur ayam yang deket sekolah aku pih " jawab Angel. Doni menautkan alisnya
"papih tidak tau tempatnya " ucap Doni. Ia memang belum pernah makan bubur ayam disana.
"ya udah biar Alen saja yang beli " Alena menawarkan diri.
"ini sudah malam Al " Doni tidak setuju. Angel langsung cemberut. "ya sudah sama om beli buburnya " akhirnya Doni mengalah. wajah Angel langsung berbinar.
"kamu gapapa kan ditinggal ? " tanya Doni kepada Angel
"gapapa pih " jawab Angel.
Doni dan Alena pun keluar, Doni mengambil kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja
"tukang bubur yang Angel maksud tidak masuk mobil om " Alena memberi tau.Doni tampak bingung.
"ya sudah pake motor kamu saja ya " Doni menyimpan kembali kunci mobilnya. Alena memberikan kunci motornya kepada Doni.
Doni pun melajukan motor Alena ke arah sekolah putrinya.Doni mengambil tangan Alena untuk memeluk pinggangnya "pegangan Al " titah Doni.
Alena melingkarkan tangannya dipinggang Doni. Detak jantungnya seketika menjadi lebih cepat dari biasanya. Alena merasakan gelayar aneh ketika tubuhnya nyaris menempel rapat dipunggung Doni. Alena dapat mencium aroma tubuh Doni yang begitu menenangkan.
"masuk gang Sana om " Alena memberi petunjuk, Doni mengarahkan motor mengikuti petunjuk Alena. Setelah melalui gang kecil akhirnya mereka sampai di tukang bubur yang Angel maksud.
Doni pun memesan tiga porsi untuk dibawa pulang. Tak butuh waktu lama mereka pun mendapatkan pesanannya.Setelah mendapatkan pesanannya, mereka pun pulang.
Dijalan, lagi-lagi Doni menyuruh Alena untuk memeluk pinggangnya. Entah mengapa Doni merasakan begitu nyaman ketika Alena merapatkan tubuhnya dipunggungnya.Rasa yang tidak pernah Ia rasakan ketika bersama Widia sekalipun.
"kamu kedinginan Al? " Doni menggenggam jemari Alena yang melingkar dipinggangnya.Alena tak kuasa menjawab, lidahnya seperti kelu. Ia terlalu sibuk untuk menetralkan debar jantungnya yang semakin tidak beraturan.Genggaman lembut dijemarinya kali ini berbeda dari biasanya. Dan Alena begitu susah untuk mendefinisikan perasaan yang Ia rasakan saat ini.
Genggaman jemari Doni dijarinya mau tidak mau membuat tubuh Alena semakin rapat menempel dipunggung Doni. Doni menurunkan kecepatan motornya karena Ia hanya menggunakan tangan kanannya saja untuk mengemudikan motor Alena, sedangkan tangan kirinya tetap menggenggam jemari Alena.
Alena turun ketika motor sudah berhenti sempurna di halaman rumah Angel. Doni membantu Alena membuka pengait helm nya. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Alena tak berani menatap Doni.
Alena masuk dengan membawa kantong plastik berisi bubur, kemudian Ia ke dapur dan mengambil tiga buah mangkuk. Bubur dalam plastik pun berpindah ke dalam mangkuk.
"nah ini bubur yang aku mau " mata Angel berbinar melihat bubur pavoritnya sudah terhidang di meja
"untung papih anter Alena, kasian loh kalau dia harus ke Sana sendiri pake motor apalagi malam " ujar Doni sambil memasukan satu sendok bubur ke mulutnya.
"iya maaf pih " ucap Angel
"minta maaf ya ke Alena " ujar Doni.
"maaf ya Al, gue udah repotin lu " ucap Angel tulus.
"gapapa.. apa sih yang ga bisa gue lakuin buat lu " Alena memeluk Angel
Melihat kedekatan kedua gadis itu, Doni menarik tipis ujung bibirnya.
Setelah menghabiskan buburnya, Alena memaksa Angel untuk menelan obat demamnya. Tentu nya dengan ancaman yang sama seperti tadi. PULANG!
Malam semakin larut, Angel sudah terlelap, sepertinya obat yang dia telan sudah mulai bereaksi.Alena beberapa kali mencari posisi ternyamamnya untuk tidur, namun matanya tetap tak bisa terpejam.Kejadian saat Doni menggenggam tangannya selalu menari-nari di pelupuk matanya.Rasa senang, bingung dan malu bercampur jadi satu. Namun yang pasti Alena begitu menikmatinya.
Keesokannya Doni sudah siap dengan setelan jasnya. Hari ini Ia mulai ke kantor setelah seminggu libur. Alena pun sudah siap untuk pulang karena akan membantu bundanya di butik. Selain itu kondisi Angel pun sudah membaik.
"makasih ya Al sudah mau menemani Angel " ucap Doni ketika mereka tengah menikmati sarapan dimeja makan.
"sama-sama om " jawab Alena.
"pih nanti siang aku mau ke butik bunda ya " ucap Angel.
"boleh, nanti pulangnya papih jemput "
Setelah sarapan selesai Doni pergi ke kantor, dan Alena pulang dengan motornya, tinggalah Angel kembali masuk ke kamarnya kemudian merebahkan dirinya dikasur. kembali ber istirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
Sementara Alena langsung pergi ke butik untuk membantu bundanya disana.