NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan Dari Alya

Malam sudah cukup larut ketika Arga meninggalkan apartemen Alya. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya masih tertuju pada percakapan mereka. Ia tidak menyesali kedatangannya, tetapi perkataan Alya membuatnya memahami bahwa perempuan itu benar-benar memiliki batasan yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.

Gadis itu terlihat santun dan lembut, tetapi juga tegas jika sudah memutuskan sesuatu. Arga pun merasa tidak berdaya untuk protes dengan keputusan Alya, karena bagaimana pun semua ini adalah kesalahannya.

Jika sejak awal dia tidak berbohong, mungkin cerita pernikahan mereka akan berbeda. Ah, tidak. Pernikahan mereka mungkin tidak akan pernah terjadi jika dia jujur tentang keberadaan Nadira.

Arga mengusap rambutnya kasar. Alya memang tidak meminta dirinya segera memilih. Perempuan itu bahkan bersedia menjalani kehidupan pernikahan mereka seperti dua orang teman yang saling menghormati. Namun, jika Arga menginginkan pernikahan yang utuh, Alya hanya bersedia menjalaninya tanpa kehadiran perempuan lain.

Arga mengembuskan napas panjang. Ia belum sanggup mengambil keputusan itu.

Ketika tiba di apartemen Nadira, perempuan yang dicintainya tersebut sudah menunggu di ruang tengah. Begitu melihat Arga masuk, Nadira menghampirinya dengan senyum lega.

“Ga, akhirnya pulang juga.”

Arga membalas senyumnya, kemudian meletakkan tas kerja di sofa.

“Kenapa belum tidur? Ini sudah larut.” Arga mendekat, lalu ikut duduk di sofa di mana Nadira berada.

“Belum ngantuk. Lagi pula aku memang menunggu mu.” Nadira memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Arga dengan erat. “Enggak enak tidur tanpa kamu.” Lanjutnya sambil menghirup dalam aroma tubuh Arga.

Arga tidak bisa mengatakan apapun lagi. Ada rasa bersalah, tapi tidak bisa melakukan apapun tentang semua kebohongannya.

Seperti malam-malam sebelumnya, Nadira selalu menyiapkan hal terbaik. Keduanya hanyut dalam kehangatan. Ciuman panjang yang candu. Dan sentuhan-sentuhan penuh gairah.

“Jangan di sini.” Arga mendorong tubuh Nadira pelan. Merapikan rambut istrinya yang sudah berantakan karena ulahnya itu sebentar, laku beranjak dari sofa.

“Aku siapkan makan malam.” Nadira ikut beranjak dengan wajah yang masih merona.

“Tidak perlu, aku sudah makan malam di kantor bersama staf.” Jawab Arga. “Tapi kamu sudah makan malam, kan?” Tanya Arga.

Nadira mengangguk. “Sudah. Aku pikir malam ini kamu tidak akan pulang, jadi aku sudah makan malam lebih dulu. Tapi aku sudah menyisihkan makan malam untuk mu, tinggal dipanasin aja.”

“Enggak perlu, aku sudah makan. Malam ini aku mau makan kamu aja.” Goda Arga membuat wajah Nadira semakin memerah menahan malu.

Arga tertawa kecil, lalu menarik tangan Nadira masuk ke dalam kamar mereka. Jangan nungguin adegan di kamar, itu tidak akan pernah ada disini 😜

***

Pagi kembali menyapa setelah malam yang panjang. Suara gemercik air dari dalam kamar mandi perlahan membangunkan Nadira dari tidurnya.

Arga masih berada di dalam kamar mandi ketika ponsel di atas nakas berbunyi. Sebuah pesan masuk, membuat layar ponsel itu menyala sesaat.

Mas, tadi Ibu menghubungiku. Beliau akan berkunjung dan makan siang di apartemen kita.

Nadira yang baru membuka mata menoleh ke arah nakas. Ia sempat melirik pintu kamar mandi, lalu kembali merebahkan kepalanya ke bantal.

Beberapa menit kemudian, ponsel itu kembali berbunyi.

Sebelum ke kantor, Mas mampir dulu ke apartemen. Aku tidak mampu memindahkan barang-barang pribadi Mas ke kamar utama seorang diri.

Kali ini, Nadira mengernyit kecil. Ia beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati nakas. Awalnya ia hanya berniat mengambil gelas air di sana. Namun, saat melewati ponsel Arga, matanya tanpa sengaja menangkap nama pengirim pesan tersebut.

Alya? Nadira terdiam. Nama itu terasa tidak asing. Ia pernah mendengarnya beberapa waktu lalu, ketika Arga meneleponnya dari suatu tempat. Saat itu, Arga sempat menyebut nama Alya sebelum panggilan mereka berakhir.

Nadira memang sempat bertanya-tanya, tetapi kemudian menganggapnya sebagai seseorang yang berhubungan dengan urusan keluarga Arga.

Sekarang, nama yang sama muncul lagi di ponsel laki-laki itu. Ia kembali teringat isi pesan yang baru saja dibacanya. Ada sebuah apartemen, kamar utama, dan barang-barang pribadi Arga yang harus dipindahkan.

Apa hubungan Arga dengan perempuan bernama Alya itu?

Nadira belum sempat memikirkan lebih jauh ketika suara pintu kamar mandi terdengar. Ia segera mengambil gelas air dan kembali duduk di tepi ranjang, berusaha bersikap biasa.

Arga keluar dengan rambut yang masih sedikit basah. Setelah mengeringkannya dengan handuk, ia berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian kerja.

“Kamu sudah bangun?” tanyanya.

“Iya, baru saja.”

Arga mengangguk tanpa menaruh curiga. Ia mengenakan kemejanya, lalu mengambil ponsel di atas nakas untuk memeriksa waktu. Setelah membaca pesan Alya, ia menghela napas pelan.

Hari ini ia memang harus kembali ke apartemen tempatnya tinggal bersama Alya. Ibunya berencana datang untuk makan siang, dan ia tidak bisa membiarkan Alya menghadapi situasi itu sendirian.

Namun, persoalan sebenarnya bukan hanya memindahkan barang-barangnya ke kamar utama. Ia harus menghadapi kebohongan yang semakin hari semakin sulit ditutupi.

“Mas, kamu buru-buru?” tanya Nadira ketika melihat Arga mulai merapikan tas kerjanya.

“Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan sebelum ke kantor.”

Nadira mengangguk. Ia ingin menanyakan siapa Alya, tetapi urung melakukannya. Ia tidak ingin terlihat seperti sedang memeriksa setiap urusan Arga hanya karena sebuah pesan.

Lagi pula, selama ini Arga memang memiliki banyak urusan keluarga dan pekerjaan yang tidak selalu ia ceritakan secara terperinci.

“Aku sudah menyiapkan sarapan,” kata Nadira. “Makan dulu sebelum berangkat.”

Arga sempat menoleh. Ia merasa tidak enak karena baru saja kembali setelah beberapa hari tidak menemuinya, tetapi pagi ini ia harus pergi lagi.

“Iya. Kita makan bersama sebentar.”

Mereka sarapan seperti biasa. Nadira sesekali bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi selama Arga tidak berada di apartemen. Arga mendengarkan dan menanggapi seperlunya, tetapi pikirannya beberapa kali kembali pada pesan Alya dan kunjungan ibunya nanti siang.

Nadira menyadari bahwa Arga tampak terburu-buru. Namun, ia tidak tahu apakah itu karena pekerjaan atau hal lain.

Setelah selesai makan, Arga mengambil tasnya dan bersiap pergi.

“Aku berangkat dulu, ya,” katanya sambil menghampiri Nadira.

Nadira berdiri, lalu merapikan sedikit bagian kerah kemeja Arga yang terlipat. “Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang.”

“Iya. Nanti aku kabari.” Arga mengecup keningnya sebelum melangkah menuju pintu. Nadira mengantarnya sampai ke depan apartemen, kemudian berdiri sebentar untuk melihat laki-laki itu pergi.

Seharusnya semuanya terasa biasa saja. Arga memang sering pergi untuk bekerja, dan Nadira sudah terbiasa menunggu kepulangannya.

Namun, pagi itu pikirannya sulit tenang. Nama Alya terus terlintas di benaknya. Terlebih lagi, Arga tampak terburu-buru setelah menerima pesan dari perempuan itu.

Nadira kembali masuk ke apartemen, tetapi ia tidak bisa langsung melanjutkan kegiatannya. Ia duduk di sofa sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum berani ia simpulkan.

Ia tidak ingin menuduh Arga tanpa alasan. Selama ini, ia percaya kepada laki-laki itu. Meski begitu, bukankah wajar jika ia ingin mengetahui sesuatu yang tampaknya sengaja tidak diceritakan kepadanya?

Akhirnya, Nadira mengambil tas dan ponselnya. Ia belum tahu apa yang sedang disembunyikan Arga. Ia hanya ingin memastikan bahwa rasa penasaran yang muncul sejak pagi bukan sesuatu yang seharusnya ia abaikan.

Nadira turun ke lobi dan melihat mobil Arga baru saja meninggalkan area apartemen. Ia segera menghampiri petugas yang membantu memanggilkan taksi.

Setelah sebuah taksi berhenti di depan lobi, Nadira masuk dan menyebutkan arah yang hendak dituju. Ia meminta sopir mengikuti mobil Arga dari kejauhan, tanpa membuat pengemudinya curiga. Mobil taksi itu mulai bergerak meninggalkan apartemen.

Dari balik jendela, Nadira melihat mobil Arga di antara kendaraan lain. Ia menggenggam tasnya sedikit lebih erat, sementara pikirannya dipenuhi pertanyaan yang belum memiliki jawaban.

Untuk pertama kalinya, Nadira memilih tidak sekadar menunggu Arga pulang. Pagi itu, ia memutuskan untuk mengikuti laki-laki yang selama ini dipercayainya.

1
Setyowati Setyowati
dari kemarin ngintip trs sy kira keman Thor ...tp syukurnya up juga ..jangan Hiatus Thor 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kalau bisa jangan simpan semua sendiri Nadira...karena kamu akan banyak pikiran jadi akan berimbas pada janinmu dan dirimu ..bagi bebanmu pada Arga juga ..biar sama " mencari solusinya
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!