Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANEH
Suasana ruang kerja cukup sibuk. Tumpukan berkas memenuhi meja, beberapa dokumen perkara terbuka di hadapan Elma, dan sesekali terdengar suara pegawai yang berlalu-lalang di luar ruangan. Elma duduk dengan serius, membaca dokumen yang harus diselesaikannya sebelum sidang berikutnya dimulai. Keningnya berkerut ketika ia menemukan bagian yang perlu diperiksa kembali. Di seberang meja, Karin sedang mengetik laporan sambil sesekali melirik sahabatnya.
"Elma, kau sudah menyelesaikan berkas perkara yang tadi?" tanya Karin.
"Hampir. Aku hanya perlu memeriksa beberapa bukti tambahan."
"Kau yakin tidak mau makan siang dulu? Sejak pagi kau hanya minum kopi."
Elma tidak mengalihkan pandangan dari dokumennya. "Nanti saja. Aku ingin menyelesaikan ini terlebih dahulu."
Karin menggeleng. "Kau dan suamimu ternyata sama saja. Sama-sama keras kepala."
Elma langsung mengangkat wajah. "Jangan membawa-bawa Maxime ke tempat kerja."
"Aku hanya mengatakan fakta."
"Fakta yang tidak perlu dibicarakan."
Karin terkekeh, lalu kembali bekerja.
Elma baru saja hendak mengambil dokumen berikutnya ketika ponsel di samping tangannya bergetar. Sebuah pesan masuk. Nama yang muncul di layar membuatnya mengembuskan napas panjang.
Maxime Sinclair.
Elma menatap layar selama beberapa detik sebelum membuka pesannya.
Maxime: Sudah makan?
Elma terdiam.
Ia membaca pesan itu sekali lagi, seolah berharap ada kalimat tambahan yang menjelaskan alasan suaminya menghubunginya di tengah kesibukan. Namun, hanya dua kata.
Sudah makan?
Elma mengernyit. "Apa lagi yang diinginkan pria itu?" gumamnya.
Karin yang mendengar gumamannya langsung menoleh. "Siapa?"
"Tidak ada."
Ponsel Elma kembali menyala. Kali ini bukan pesan baru, melainkan layar yang belum ia matikan. Sayangnya, Karin sudah telanjur melihat nama pengirimnya.
"Maxime?"Karin berteriak kencang.
Elma buru-buru membalikkan ponselnya.
"Jangan ikut campur."
Karin langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi, memasang senyum penuh kecurigaan.
"Dia mengirim pesan kepadamu?"
"Tidak. Aku hanya sedang membaca berita." Dusta Elma.
"Berita dari Maxime Sinclair?" Goda Karin.
Elma menatap sahabatnya tajam. "Karin."
"Baik, baik. Aku diam." Karin mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. Namun, senyum jahil di wajahnya sama sekali tidak menghilang.
Elma kembali memandang ponselnya. Ia sebenarnya bisa saja mengabaikan pesan itu. Namun, entah mengapa, membiarkannya tanpa jawaban terasa lebih menjengkelkan daripada membalasnya.
Akhirnya, ia mengetik singkat.
Elma: Belum.
Balasan datang kurang dari satu menit kemudian.
Maxime: Kenapa?
Elma memejamkan mata. Ya Tuhan, sekarang dia ingin tahu kenapa pula? Jarinya bergerak cepat di atas layar.
Elma: Sedang bekerja.
Beberapa detik berlalu.
Maxime: Pekerjaanmu tidak akan selesai kalau kau tidak makan.
Elma menatap layar dengan mulut sedikit terbuka. Pria itu benar-benar sedang menguliahinya tentang makan siang?
Ia segera membalas.
Elma: Aku tahu cara mengurus diriku sendiri, Maxime.
Kali ini, Maxime tidak langsung menjawab.
Elma meletakkan ponselnya dengan perasaan puas. Setidaknya, ia berhasil menghentikan percakapan yang menurutnya tidak penting itu. Namun, kepuasannya hanya bertahan sekitar dua menit.
Ponselnya kembali bergetar.
Maxime: Aku tidak mengatakan sebaliknya.
Elma membaca pesan tersebut, lalu mendengus.
Elma: Kalau begitu, berhenti menggangguku saat bekerja.
Ia menekan tombol kirim, kemudian meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah.
Selesai.
Setidaknya, itulah yang ia harapkan.
Beberapa Menit Kemudian
"Jadi, bagaimana kelanjutannya?" Suara Karin membuat Elma mengangkat kepala.
"Kelanjutan apa?"
Karin menunjuk ponsel Elma dengan dagunya. "Percakapan romantis kalian."
Elma nyaris tersedak air mineral yang baru diminumnya. "Romantis dari mana? Dia hanya menanyakan apakah aku sudah makan!"
"Justru itu." Karin mencondongkan tubuh ke depan, menatap Elma dengan ekspresi serius yang dibuat-buat.
"Pria yang setiap pagi bersikeras sarapan bersamamu, kemudian mengirim pesan saat jam makan siang hanya untuk memastikan kau sudah makan, menurutmu itu kebetulan?"
Elma meletakkan botol airnya. "Dia hanya cerewet."
"Cerewet?"
"Ya."
"Sejak kapan Maxime Sinclair menjadi pria cerewet?"
Elma terdiam sesaat.
Karin melanjutkan sebelum sahabatnya sempat menjawab.
"Dari ceritamu selama ini, dia bahkan jarang bertanya tentang kegiatanmu. Sekarang, dia mulai bertanya apakah kau sudah sarapan, kapan kau pulang, dan apakah kau sudah makan siang."
Karin mengangkat sebelah alis. "Menurutmu, apa yang berubah?"
Elma menghela napas. "Tidak ada yang berubah. Mungkin dia hanya sedang bosan."
"Dan menurutmu, dia tidak punya pekerjaan untuk mengusir kebosanannya?"
"Dia punya perusahaan besar untuk diurus. Karin."
"Nah, tepat sekali." Karin mengetukkan ujung jarinya ke meja.
"Seorang direktur perusahaan besar yang seharusnya sibuk dengan pekerjaannya justru menyempatkan diri menghubungi istrinya hanya untuk bertanya apakah dia sudah makan."
Elma menggeleng.
"Kau terlalu banyak membaca novel romantis."
Karin tertawa.
"Dan kau terlalu pandai mencari alasan untuk tidak mengakui sesuatu."
"Aku tidak sedang menyangkal apa pun!"
"Baiklah."
Karin mengangguk dengan wajah polos. "Aku tidak akan mengatakan bahwa suamimu mulai perhatian kepadamu."
Elma menyipitkan mata. "Bagus."
"Atau bahwa dia mungkin sedang mencari alasan untuk mengobrol denganmu." Sambung Karin
"Karin!"
Tidak perduli jika Elma sedang kesal padanya, Karin kembali berucap "Atau bahwa dia merindukanmu meskipun kalian baru berpisah beberapa jam."
Elma mengambil sebuah berkas dari meja dan menutupinya di depan wajah Karin. "Pergi bekerja!"
Tawa Karin langsung memenuhi ruangan.
"Baik, Yang Mulia. Saya akan kembali bekerja."
Karin kembali ke mejanya, masih dengan senyum lebar. Sementara itu, Elma berusaha memusatkan perhatian pada dokumen di hadapannya. Namun, beberapa detik kemudian, pandangannya tanpa sadar beralih ke ponsel. Tidak ada pesan baru. Elma mengernyit, lalu segera menggelengkan kepala. Memangnya kenapa kalau tidak ada pesan baru? Justru itu yang kuinginkan. Ia kembali membaca dokumennya dengan lebih serius.
Pukul 13.10 — Kantor Maxime Sinclair
Di sisi lain kota, Maxime duduk di ruang kerjanya yang luas dengan pemandangan gedung-gedung tinggi dari balik dinding kaca. Sebuah laporan keuangan terbuka di hadapannya. Beberapa dokumen lain menunggu untuk diperiksa, sementara asistennya baru saja keluar setelah menyampaikan jadwal rapat sore.
Maxime melirik ponselnya. Pesan terakhir dari Elma masih terpampang di layar.
"Kalau begitu, berhenti menggangguku saat bekerja."
Maxime membaca kalimat itu tanpa perubahan ekspresi. Kemudian, ia meletakkan ponselnya.
"Baiklah, Nyonya Sinclair," gumamnya pelan. Ia kembali bekerja.
Namun, sekitar lima menit kemudian, pandangannya kembali beralih ke ponsel tersebut. Tidak ada balasan baru. Maxime mengerutkan kening. Biasanya, ia tidak pernah memikirkan apakah seseorang akan membalas pesannya atau tidak. Ia juga tidak pernah merasa perlu menghubungi orang lain hanya untuk memastikan mereka sudah makan. Tetapi sejak Elma tinggal bersamanya, ia mulai melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya. Dan yang paling mengganggu adalah kenyataan bahwa ia tidak menganggap kebiasaan itu sebagai sesuatu yang buruk.
Maxime meraih ponselnya sekali lagi, membuka percakapan mereka, lalu mengetik sebuah pesan.
Maxime: Jangan pulang terlalu malam.
Ia memandang pesan itu beberapa detik sebelum mengirimkannya. Setelah terkirim, Maxime meletakkan ponselnya dan kembali menatap laporan keuangan. Kali ini, ia benar-benar berusaha berkonsentrasi. Sayangnya, pikirannya justru kembali kepada seorang perempuan yang pagi tadi meninggalkannya di meja makan setelah hanya menemaninya selama beberapa menit.
Maxime mengembuskan napas pelan.
"Benar-benar merepotkan," gumamnya.
Entah siapa yang sedang ia ketuskan, Elma atau dirinya sendiri. Bahkan Maxime pun tidak tahu.
Sementara itu, di pengadilan. Ponsel Elma kembali bergetar di atas meja. Elma melirik layar dan langsung mengenali nama pengirimnya.
Maxime: Jangan pulang terlalu malam.
Elma menatap pesan tersebut dengan ekspresi tidak percaya. "Apa lagi sekarang?" gumamnya.
Karin yang sedang merapikan dokumen langsung menoleh.
"Pesan dari suamimu lagi?"
Elma tidak menjawab.
Karin berdiri, berjalan menghampiri meja Elma, lalu mengintip layar ponselnya. Setelah membaca pesan itu, senyumnya perlahan melebar.
"Oh, Elma."
"Jangan mulai."
"Aku bahkan belum mengatakan apa-apa."
"Tapi aku tahu apa yang sedang kau pikirkan."
Karin menarik kursi di sampingnya dan duduk. "Kalau begitu, katakan kepadaku. Mengapa seorang pria yang katanya tidak peduli kepadamu justru menghabiskan waktunya untuk memastikan kau makan dan pulang tepat waktu?"
Elma terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung memiliki jawaban.
Karin memperhatikan wajah sahabatnya, lalu berkata dengan suara lebih lembut.
"Elma, aku tidak mengatakan bahwa Maxime pasti mencintaimu. Aku hanya berpikir mungkin ada sesuatu yang mulai berubah di antara kalian."
Elma menunduk, memperhatikan pesan di layar ponselnya.
Jangan pulang terlalu malam.
Kalimat sederhana itu terasa seperti perintah, tetapi entah mengapa, ada sesuatu yang berbeda dari cara Maxime memperlakukannya akhir-akhir ini. Namun, Elma segera menepis pemikiran tersebut.
"Dia hanya suka mengatur," jawabnya akhirnya.
Karin tersenyum tipis. "Mungkin."
Ia berdiri dan kembali ke mejanya. "Tapi kalau suatu hari nanti kau mengetahui bahwa Maxime sebenarnya sedang berusaha mendekatimu dengan caranya sendiri, jangan terlalu terkejut."
Elma tidak menjawab. Ia mengunci layar ponselnya, lalu kembali membuka berkas perkara. Pekerjaannya masih banyak. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan perilaku aneh suaminya. Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri. Namun, untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Maxime, Elma mulai bertanya-tanya tentang satu hal.
Jika Maxime memang tidak peduli kepadanya, mengapa pria itu mulai memperhatikan hal-hal kecil dalam hidupnya?
☆