NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Gua kecil di lereng timur itu berbau lumut dan batu basah. Yu Tian duduk bersila di tengahnya dengan tiga butir batu roh kusam di telapak tangan, sementara embun menetes dari langit-langit dan jatuh tepat di bahunya. Ia tidak bergeser sedikit pun untuk menghindarinya.

Butir pertama retak menjadi serbuk setelah isinya ia sedot habis. Qi tipis yang keluar terasa seperti air parit yang disaring lewat kain, keruh dan penuh kotoran yang harus ia buang satu per satu.

'Sampah kualitas terendah. Dulu, debu di bawah sandalku masih lebih pekat dari ini.' Namun tubuh barunya menelan sisa-sisa itu dengan rakus, dan otot-ototnya berdenyut seolah hendak berlari tanpa menunggu perintahnya.

Tiga hari ia tidak beranjak dari sana. Pada malam ketiga, butir terakhir menjadi abu, dan sesuatu di sepanjang tulang punggungnya bergemeretak keras sampai ia menyeringai. Ia mengepalkan tangan, dan udara di sela jarinya berdesis pelan seperti besi panas dicelup air. 'Penempaan Tubuh tingkat delapan. Tembok menuju Pengumpulan Qi sudah di depan hidung, tapi jatah batu rohku habis.'

Ia membuka mata dan menatap mulut gua yang berwarna kelabu oleh kabut fajar. Tidak ada rombongan berjubah hitam yang datang mencari balas dendam, dan itu membuat pagi ini terasa sedikit membosankan.

Yu Tian berdiri, mengibaskan tanah dari jubahnya, lalu bicara pada dinding gua seolah dinding itu tuan rumah. "Aku cari sumber daya dulu. Inti monster, kalau ada monster yang cukup bodoh keluar dari sarangnya."

Ia berhenti di ambang gua dan menggaruk pelipis dengan dahi berkerut. "Sambil menunggu si Zhao... Zhao siapa tadi namanya? Entahlah, aku lupa. Nanti juga dia memperkenalkan diri sendiri."

...-------...

Hutan pinus di lereng barat sunyi dengan cara yang tidak wajar. Tidak ada kicau burung, tidak ada serangga, hanya bunyi jarum pinus yang remuk di bawah sandalnya dan bau kencing binatang buas yang menyengat dari semak di kiri jalan setapak. Yu Tian berjongkok, menyentuh tanah yang bercakar dalam, dan mencium jemarinya.

'Segar. Kurang dari satu jam.'

Ia menunduk tepat sebelum sesuatu yang berat menyambar kepalanya.

Seekor macan tutul sebesar kerbau mendarat di depannya, berbulu kelabu dengan deretan duri tulang menyembul sepanjang punggung. Matanya kuning dan berair, napasnya berbau bangkai. Monster spiritual tingkat dua, setara dengan kultivator Pengumpulan Qi tahap awal, dan tubuh Yu Tian yang masih Penempaan Tubuh terasa kecil sekali di hadapannya.

Cakar kiri menyapu. Yu Tian terlambat setengah napas, dan bahunya robek dari tulang selangka sampai ke bawah ketiak, tiga garis dalam yang langsung memuntahkan darah panas ke dadanya. Ia terlempar ke batang pinus, punggungnya menghantam kulit kayu, dan seluruh udara dalam paru-parunya habis sekaligus.

Bruk!

Ia terbatuk dan meludahkan darah ke tanah, tetapi bibirnya justru melengkung. 'Sakit lagi. Bagus. Tubuh ini jujur sekali.'

Macan itu menerjang untuk kedua kalinya, dan kali ini Yu Tian tidak mundur. Ia merunduk di bawah rahangnya, menyambar serpihan batu runcing di tanah, dan memperhatikan satu hal yang sejak tadi sudah ia hitung: di pangkal leher, di antara dua duri paling bawah, ada celah selebar tiga jari tempat bulunya tipis.

Ia melompat ke punggung monster itu. Duri-duri di sana menusuk telapak kakinya, tetapi ia menahan sakitnya dan mencengkeram bulu tengkuknya dengan satu tangan. Tangan yang lain menghunjamkan batu itu ke celah tadi, sekali, dua kali, tiga kali, sampai darah hitam menyembur ke wajahnya dan raungan macan itu berubah menjadi gorgokan basah.

Tubuh besar itu ambruk, dan Yu Tian ikut terguling di sampingnya sambil terengah-engah. Dadanya naik turun, lengannya gemetar sampai ia harus menekannya ke tanah.

'Sulit. Dulu makhluk seperti ini kubunuh dengan tatapan.' Ia menyeka darah dari matanya, tertawa pendek, lalu mengiris dada monster itu dengan batu tadi. Intinya sebesar buah kenari, hangat, dan berdenyut lemah di telapak tangannya yang licin.

Sepanjang hari ia terus berburu. Ia belajar membaca jejak lebih cepat, menimbang kapan harus menghindar dan kapan harus menyerang, dan setiap kali pulang dengan luka baru ia menutupnya dengan sobekan jubah. Menjelang senja, kantong kain di pinggangnya berat oleh lima belas inti monster tingkat menengah, masing-masing masih menyisakan hawa sisa pertarungan.

...-------...

Malam itu di gua, ia menyusun inti-inti itu membentuk lingkaran dan duduk di tengahnya. Satu per satu inti retak, dan Qi mengalir deras ke tubuhnya seperti sungai yang dibuka bendungannya. Kulitnya panas, tulangnya berderak, dan luka di bahunya menutup pelan dengan gatal yang nyaris menyakitkan. Tingkat sembilan ia lewati dalam dua tarikan napas, dan dinding terakhir Penempaan Tubuh pecah tanpa perlawanan berarti, seperti kulit telur yang sudah terlalu lama dierami.

Sesuatu di bawah pusarnya terbuka. Ruang kosong yang selama ini hanya berisi sunyi tiba-tiba menarik napas, dan Qi yang tadinya hanya lewat kini menetap, berputar, menjadi miliknya. Yu Tian membuka mata, dan sudut bibirnya naik sendiri.

'Pengumpulan Qi. Kecil sekali, tapi ini milikku.'

Duar!

Ledakan itu mengguncang dinding gua dan membuat debu turun dari langit-langit. Yu Tian menoleh ke mulut gua, dan di kejauhan langit sebelah timur menyala jingga, tepat di arah lembah tempat ia mencium bau jerami terbakar beberapa hari lalu.

Ia sudah berdiri sebelum gema ledakan itu hilang. Tangannya menyambar kantong sisa inti, kakinya melesat menuruni lereng, dan angin malam menampar luka-lukanya yang belum benar-benar kering. 'Benar saja. Untung aku belum pergi ke sekte kemarin.'

1
Naisha Anindya
semangat nulisnya author....
Naisha Anindya
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
Naisha Anindya
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!