"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniversary 1 tahun 02.
Gemuruh GOR Pajajaran perlahan memudar menjadi latar belakang, tergantikan oleh suara deru mesin Vespa matik putih Timy yang membelah dinginnya jalanan menuju Bandung Utara.
Di jok belakang, Nawang mengeratkan pelukannya pada pinggang Timy, menyembunyikan hidungnya di balik jaket kebesaran milik cowok itu.
Aroma sisa keringat pertandingan tadi sudah berganti wangi parfum woody segar yang sengaja Timy semprotkan banyak-banyak selepas mandi di loker.
Tujuan mereka malam ini ke Bukit Moko. Tempat di mana lampu-lampu kota Bandung terlihat seperti hamparan berlian yang tumpah di atas kain hitam.
Begitu motor berhenti di area parkir yang agak sepi, hawa dingin langsung menggigit kulit. Nawang turun sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm.
"Dingin banget, Aa," ucap Nawang, melirik Timy yang sedang merapikan jaketnya sendiri.
Timy tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya meraih tangan Nawang, menggenggamnya erat, lalu memasukkan kedua tangan mereka yang bertautan ke dalam saku jaketnya yang longgar. Tindakan sederhana, namun instan menyalurkan kehangatan yang membuat pipi Nawang merona di kegelapan.
Mereka berjalan menuju pembatas tebing, tempat terbaik untuk melihat city light.
Di atas mereka, langit Bandung sedang bersikap ramah—bersih tanpa awan, memamerkan ribuan bintang yang berkilap samar kalah saing oleh gemerlap kota di bawah sana.
"Satu tahun," gumam Nawang memecah keheningan, matanya menatap lurus ke depan. "Kerasa cepet ya A?"
Timy menoleh, memandangi profil samping wajah Nawang yang terkena pendar cahaya kota. "Cepet karena kita jarang berantem. Kamu tahu sendiri kan neng, Aa paling males sama yang ribet."
Nawang tertawa kecil, menyenggol bahu Timy. "Iya, tahu. Yang ada di otak Aa kan cuma basket, basket, terus neng."
"Urutannya kebalik," ralat Timy cepat, suaranya tenang tapi tegas. "Neng dulu, baru basket."
Senyum Nawang melebar. Sifat Timy memang seperti ini. Cowok itu bukan tipe pujangga yang suka merangkai kalimat puitis panjang di media sosial. Timy adalah tipe yang akan diam-diam memperhatikan kapan tali sepatu Nawang lepas, atau langsung membelikan air mineral dingin tanpa diminta saat Nawang kelelahan memimpin latihan cheerleader. Realistis, tapi mengena.
Timy kemudian melepaskan tautan tangan mereka. Ia meraba saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam yang ukuran nya pas di genggaman tangan.
"Buat neng," kata Timy pendek, menyodorkan kotak itu.
Nawang mengerjapkan mata, sedikit terkejut. "Apa nih? Kan janjinya malam ini cuma makan bareng doang A?."
"Buka aja."
Saat Nawang membuka kotaknya, lampu kota di bawah sana memantulkan cahaya pada sebuah kalung perak bermata tipis.
Desainnya sangat simpel—sebuah rantai halus dengan dua inisial huruf yang menyatu dengan elegan: T & N. Tidak norak, sangat mencerminkan selera Nawang yang minimalis.
"A,aaaaa... ini bagus banget," bisik Nawang, jarinya menyentuh permukaan logam yang dingin itu. "Tapi aa dapet uang dari mana? Uang jajan aa kan buat bayar kas klub sama servis motor kemarin?"
Timy terkekeh, mengacak rambut Nawang gemas. "Neng jangan meragukan kemampuan hemat Aa. Aa mutusin gak nongkrong di warkop habis latihan selama tiga bulan. Lagian, ini kan momen setahun sekali. Masa Aa gak modal."
Nawang menatap cowok di depannya dengan pandangan yang dalam. Emosi yang tertahan sejak kemenangan di GOR tadi mendadak membuncah. Ia tahu betul bagaimana Timy berjuang menyeimbangkan waktu antara latihan fisik yang melelahkan, mempertahankan nilai akademis agar tetap bisa ikut turnamen, dan menjaganya agar tidak merasa diabaikan.
Kalung ini bukan sekadar perhiasan, tapi simbol dari waktu bermain yang rela dikorbankan Timy demi dirinya.
"Sini, Aa pasangin," ujar Timy.
Nawang berbalik, menaikkan rambut panjangnya ke atas. Timy maju selangkah, mendekatkan tubuhnya.
Nawang bisa merasakan embusan napas hangat Timy di tengkuknya, membuat bulu kuduknya meremang halus.
Jemari besar Timy yang biasanya kasar karena gesekan bola basket, kini mendadak menjadi sangat hati-hati dan telaten saat mengaitkan ujung kalung tersebut.
"Udah," bisik Timy tepat di dekat telinga Nawang.
Nawang berbalik kembali menghadap Timy, memegang inisial huruf yang sekarang menggantung pas di bawah tulang selangkangannya. "Gimana? Cocok gak?"
Timy menatap Nawang tanpa berkedip. Di bawah sinar bulan dan lampu kota, Nawang terlihat luar biasa di matanya.
Tanpa riasan tebal, hanya dengan jaket kebesaran dan senyum tulus yang selalu menjadi jangkar emosi Timy di saat-saat paling penuh tekanan.
Timy meraih kedua pundak Nawang, menatap langsung ke dalam manik mata gadis itu dengan intensitas yang membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak serius, namun intim.
"Neng, kamu tahu kan Aa bukan tipe cowok yang pinter ngomong?" Timy memulai, suaranya agak berat. "Aa gak bisa janjiin hal-hal besar yang kedengarannya muluk-muluk."
Nawang mengangguk pelan, mendengarkan dengan saksama.
"Tapi ada satu hal yang bisa Aa pastiin," lanjut Timy, ibu jarinya bergerak perlahan mengusap bahu Nawang. "Di luar sana, entah nanti pas kuliah atau pas Aa sibuk sama dunia Aa, bakal banyak orang baru yang datang. Tapi buat Aa, rumahnya udah ketemu di sini. Sama neng. Aa gak bakal pernah berpaling, Neng. Fokus Aa cuma satu, dan itu neng."
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Jujur, tanpa hiasan metafora yang berlebihan, tapi justru karena itulah kata-kata Timy terasa begitu nyata yang masuk di telinga Nawang.
Mata Nawang berkaca-kaca, namun ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia maju selangkah, merapatkan jarak di antara mereka, lalu memeluk pinggang Timy erat-erat. Ia menyandarkan pipinya di dada Timy, mendengarkan detak jantung cowok itu yang berirama tenang—sebuah kontras dari detak jantung liar saat mereka berada di lapangan basket beberapa jam lalu.
"Neng pegang omongan Aa," ucap Nawang lirih di dada Timy. "Kalau aa sampai meleng dikit, neng bakal minta Ezra buat rebut posisi shooting guard Aa."
Timy tertawa lepas, pelukannya di tubuh Nawang makin mengerat. "Gak bakal Aa kasih kesempatan."
Mereka berdua berdiri membisu untuk waktu yang lama, menikmati kebersamaan di atas bukit yang dingin.
Di bawah mereka, Bandung terus menyala.
Di atas mereka, bintang-bintang menjadi saksi bisu sebuah komitmen sederhana yang lahir dari dua remaja yang saling mendewasakan satu sama lain.
Malam itu bukan hanya tentang merayakan satu tahun yang telah lewat, melainkan tentang meletakkan fondasi yang kuat untuk tahun-tahun berikutnya yang siap mereka hadapi bersama.
......................
...****************...
Tbc,