Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Mainan
"Lucian, atau jangan-jangan kamu sudah punya wanita lain yang lebih kamu cintai?”
“Memangnya kenapa kalau aku punya wanita lain?”
Jawaban Lucian terdengar begitu santai, seolah memiliki wanita lain bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Wanita di dalam ruangan cemberut sebelum menyinggung kabar pernikahan Lucian yang didengarnya dari Lucky.
"Aku dengar dari Lucky, kau sudah menikah. Siapa wanita itu?"
Jantung Annabella berdegup semakin kencang. Ia masih menunggu dan berharap Lucian tidak akan mempermalukannya di hadapan wanita lain.
Sayangnya, harapan itu segera hancur.
“Dia? Dia hanya mainan saja.”
Dunia Annabella seakan berhenti berputar.
Mainan?
Jemarinya seketika mengencang.
Selama ini, ia tahu Lucian membencinya. Ia juga tahu pria itu menikahinya hanya untuk membalas dendam. Namun, mendengar dirinya disebut sebagai mainan dengan begitu mudah tetap terasa seperti sebilah pisau yang menancap tepat di dadanya.
Ternyata, di mata pria itu, dirinya tidak cukup berharga untuk dianggap sebagai seorang manusia yang memiliki perasaan.
Wanita di dalam ruangan terdengar terkejut, tetapi keterkejutan itu segera berubah menjadi kegembiraan. Ia mulai membicarakan rencana pernikahan mereka dan bertanya kapan Lucian akan menyingkirkan Annabella.
Lucian menjawab bahwa ia akan mengurus semuanya setelah balas dendamnya selesai.
Annabella menunduk. Pandangannya perlahan mengabur. Entah karena tubuhnya yang makin lemah atau air mata yang mulai menggenang.
Ia ingin pergi.
Ia tidak ingin mendengar satu kata pun lagi.
Namun, kedua kakinya seolah terpaku di lantai. Bahkan untuk sekadar berbalik, ia membutuhkan seluruh tenaga yang tersisa.
Brak!
Tas bekal terlepas dari tangannya dan menghantam lantai. Percakapan di dalam ruangan langsung terhenti.
“Siapa di luar?”
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Lucian muncul dengan raut kesal. Namun, begitu melihat Annabella berdiri pucat di hadapannya, ekspresinya sedikit berubah.
Wanita itu bersandar pada dinding. Keringat dingin membasahi wajahnya, sementara tubuhnya tampak kesulitan menopang diri sendiri.
“Kau sedang apa di sini?” tanyanya tajam.
Annabella berusaha berdiri tegak meskipun pandangannya berputar.
“A-aku disuruh mengantarkan bekal makan siang untukmu.”
Lucian melirik tas yang tergeletak di lantai sebelum kembali mengamati wajahnya. Ia curiga Annabella telah mendengar percakapannya dengan Cristal.
“Kau sengaja berdiri di depan pintu untuk menguping?”
Annabella menggeleng lemah.
“Tidak. Aku baru saja datang.”
“Lalu, apa kau mendengar sesuatu?”
Untuk sesaat, Annabella ingin tertawa.
Lucian masih bertanya seolah dirinya adalah orang asing yang tidak berhak mengetahui apa pun tentang kehidupan pria itu. Padahal, mereka telah terikat dalam sebuah pernikahan.
“Tidak ada,” jawabnya lirih.
Lucian menyipitkan mata, jelas tidak memercayainya.
“Jangan berpura-pura tidak tahu apa-apa di hadapanku.”
Annabella menggigit bibir bawahnya. Ia tak lagi punya tenaga untuk menjelaskan sesuatu yang sejak awal tak ingin didengar Lucian.
“Aku hanya ingin pulang.”
Kalimat itu terdengar begitu sederhana, tetapi entah mengapa membuat Lucian semakin kesal. Lucian tidak mengerti mengapa Annabella selalu bersikap seperti ini. Wanita itu tidak membantah, tidak melawan, dan tidak berusaha mempertahankan harga dirinya.
“Ambil bekalnya, lalu masuk!”
Annabella perlahan membungkuk untuk meraih tas tersebut. Namun, baru sedikit menundukkan tubuh, kepalanya terasa berputar hebat. Pandangannya mulai menghitam, suara di sekitarnya semakin menjauh, dan tubuhnya kehilangan keseimbangan.
“Annabella!”
Bruk!
Lucian refleks menangkapnya.
Tubuh wanita itu terkulai dalam pelukannya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kehilangan warna, dan napasnya terdengar begitu lemah.
“Annabella! Bangun!”
Lucian menepuk pipinya pelan, tetapi wanita itu tidak memberikan respons. Untuk pertama kalinya, ada rasa gelisah yang menyelinap ke dalam tatapan pria tersebut.
Ia menatap wajah Annabella yang tak sadarkan diri. Tubuh wanita itu terasa ringan dalam pelukannya, seolah sudah kehilangan seluruh tenaga untuk bertahan.
Entah mengapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman. Apakah hukuman cambuk yang diberikannya beberapa waktu lalu sudah terlalu berlebihan? Pikiran itu melintas begitu saja, tetapi Lucian segera menepisnya.
Bagaimanapun juga, Annabella telah melakukan banyak hal yang tidak bisa dimaafkannya.
Setidaknya, itulah yang terus berusaha diyakininya.
Dari dalam ruangan, wanita yang tadi berbicara dengannya akhirnya keluar. Melihat Annabella terkulai dalam pelukan Lucian, senyum di wajahnya seketika memudar.
“Lucian, siapa sebenarnya wanita ini?”
Lucian tidak segera menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wajah pucat Annabella.
“Annabella,” ucapnya dingin. “Mainan yang tadi kukatakan.”
Cristal terdiam sesaat, lalu kembali menampilkan senyum puas.
Namun, ada satu hal yang tidak luput dari perhatiannya. Meski mulut Lucian menyebut Annabella hanya sebagai mainan, kedua tangannya tetap menopang tubuh wanita itu dengan hati-hati.
Pemandangan tersebut membuat hatinya tidak nyaman.
Belum sempat ia mengatakan apa pun, sekretaris Lucian muncul di ambang pintu dengan membawa tablet.
“Tuan, rapat Anda akan segera dimulai.”
Lucian mengalihkan pandangan kepada sekretarisnya, lalu kembali melihat Annabella. Setelah itu, ia membungkuk dan membaringkan wanita tersebut di sofa.
“Cristal, temani dia sebentar.”
Cristal mengernyit. Ia datang untuk menghabiskan waktu bersama Lucian, bukan menjaga wanita yang dianggapnya sebagai penghalang.
Terlebih lagi, bekal makan siang mereka sudah jatuh ke lantai. Ia lantas mendesak Lucian untuk mengajaknya makan di luar.
Namun, Lucian tidak mengubah keputusannya. Rapat perusahaan tidak bisa ditunda, sehingga ia meminta Cristal menunggu sampai urusannya selesai.
Merasa permintaannya diabaikan, Cristal semakin kesal. Ia berusaha menahan lengan Lucian, tetapi pria itu melepaskan genggamannya dan segera mengambil jas.
“Aku tidak punya waktu untuk berdebat.”
Setelah memberi isyarat kepada sekretarisnya, Lucian meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup.
Senyum di wajah Cristal langsung lenyap.
Ia menatap Annabella yang terbaring di sofa dengan kebencian yang tak lagi disembunyikan. Wanita itu tak perlu melakukan apa-apa tetapi berhasil mengubah sikap Lucian.
Sementara dirinya harus meminta perhatian, Annabella justru mendapatkannya tanpa perlu membuka mata.
Sungguh menjengkelkan!
Cristal menghentakkan kaki sebelum duduk di sofa seberang. Ia sama sekali tidak berniat menjalankan permintaan Lucian untuk menjaga wanita itu.
Tatapannya kemudian tertuju pada sebotol air mineral di atas meja. Sebuah ide jahat pun muncul di benaknya. Cristal mengambil botol tersebut, membuka tutupnya, lalu mendekati sofa tempat Annabella berbaring.
“Jangan salahkan aku kalau kau mendapat perlakuan buruk.”
Tanpa ragu, ia menuangkan seluruh air ke wajah Annabella.
Byur!
Annabella tersentak bangun. Ia terbatuk-batuk karena air masuk ke hidungnya, lalu berusaha mengatur napas sambil menyeka wajahnya yang basah.
“Akhuk! Akhuk!”
Kepalanya masih terasa berat. Bahkan sebelum ia mencerna apa yang terjadi, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Plak!
Wajah Annabella terlempar ke samping. Ia memegangi pipinya yang terasa panas, lalu mengangkat kepalanya dengan tatapan terkejut.
Cristal berdiri di hadapannya dengan wajah memerah karena amarah.
“Dasar jal*ng! Beraninya kau muncul di hadapan Lucian! Aku sudah pacaran setahun dengannya, seharusnya aku yang dinikahi Lucian!"
Annabella terpaku. Tubuhnya masih lemah, kepalanya berdenyut, dan pipinya terasa perih akibat tamparan tadi.
Cristal menuduhnya sengaja memanfaatkan status sebagai istri untuk merebut Lucian darinya.
Annabella menelan ludah. Ia tidak memahami mengapa dirinya harus menerima kebencian sebesar itu, padahal ia sendiri tak pernah menginginkan pernikahan tersebut.
“Aku tidak pernah berniat merebut siapa pun,” jawabnya membantah dan rasanya ingin membalas dua kali lipat.
“Diam!” bentak Cristal kembali mengangkat tangan.
Refleks, Annabella memejamkan mata dan melindungi wajahnya dengan kedua lengan. Ia bersiap menerima tamparan berikutnya. Namun, pukulan itu tidak pernah mendarat karena sebuah suara dingin mendadak terdengar dari arah pintu.
“Apa yang sedang kau lakukan, Cristal?”
Tangan Cristal berhenti di udara.
Annabella perlahan membuka matanya dan melihat di pintu Lucian tampak berdiri dengan wajah gelap dan tatapan yang sulit dibaca.
Kenapa dia kembali?
Apa dia mengkhawatirkan aku?
__
doa yg terbaik buat mom semoga. cepat sampai retensi ny ,,
🤗
kasihan Cristal harus gigit jempol kaki🤭🤭🤣🤣🤣