Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAb 15
Siang itu matahari cukup terik ketika Mia tiba di depan sebuah gedung perkantoran yang cukup modern di kawasan bisnis di pusat ibu kota. Ia mengenakan blus putih rapi dan celana kain gelap, rambutnya diikat bersih. Di tangan kanannya ia membawa map berisi dokumen-dokumen lamaran yang kemarin ia siapkan dengan teliti di rumah orang tuanya. Kayla sementara dititipkan pada ibunya, sehingga Mia bisa fokus pada urusan penting hari ini.
Gedung itu milik Kimmy, sahabatnya sejak masa kuliah. Kimmy kini sudah berhasil membangun perusahaan konsultan yang cukup berkembang. Mia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk. Sudah lama ia tidak memasuki dunia kerja, setelah ia resign dulu. Ia merasa seolah keterampilan dan kepercayaan dirinya ikut terkubur. Tapi hari ini, tekadnya sudah bulat.
Di lobi, resepsionis menyambutnya dengan ramah. Tidak lama kemudian, Kimmy sendiri keluar dari ruangannya. Wanita itu tersenyum lebar begitu melihat Mia.
“Mia! Kamu benar-benar datang,” ucap Kimmy sambil memeluknya singkat. “Ayo masuk, jangan berdiri di sini.”
Mereka duduk di ruang kerja Kimmy yang nyaman. Di meja terhampar beberapa dokumen proyek. Kimmy menatap sahabatnya dengan serius.
“Jadi, kamu serius ingin kembali bekerja?” tanyanya.
Mia mengangguk mantap. “Serius. Aku sudah terlalu lama di rumah. Aku butuh sesuatu untuk diriku sendiri. Bukan hanya jadi istri dan ibu, tapi juga menjadi Mia lagi.”
Kimmy tersenyum tipis. Ia sudah lama mengenal potensi sahabatnya. Dulu di kampus, Mia selalu unggul dalam analisis, komunikasi, dan kepemimpinan. Setelah menikah dan resign, Kimmy sempat prihatin melihat Mia kehilangan semangatnya.
“Aku tahu kemampuanmu,” kata Kimmy akhirnya. “Perusahaan ini sedang butuh seseorang untuk posisi koordinator proyek. Bukan pekerjaan ringan, tapi aku yakin kamu mampu. Kalau kamu mau, mulai minggu depan kamu bisa bergabung.”
Mia terdiam sejenak. Dada terasa hangat. Ia tidak menyangka prosesnya akan semudah ini. “Kamu yakin? Aku sudah lama tidak bekerja…”
“Justru karena itu aku menerimamu,” potong Kimmy. “Aku percaya dengan potensi yang kamu miliki. Dan aku tahu, kamu orang yang bertanggung jawab. Kita bisa atur jam kerja yang fleksibel, supaya kamu tetap bisa urus Kayla.”
Air mata Mia hampir jatuh, tapi ia menahannya. Ia mengulurkan tangan. “Terima kasih, Kim. Aku tidak akan mengecewakanmu.”
Kimmy menjabat tangannya erat. “Selamat datang kembali di dunia kerja, Mia.”
"Kalau begitu aku permisi" pamit Mia.
"Hati-hati. Aku menunggumu minggu depan" ucap Kimmy
Setelah itu Mia Keluar dari gedung tersebut, langkahnya terasa lebih ringan. Angin siang menerpa wajahnya. Sekarang dia merasa memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Bukan hanya sebagai istri yang selalu mengalah, bukan hanya sebagai ibu yang terus melayani, tapi sebagai perempuan yang memilih untuk bangkit kembali.
Di dalam hati, ia sudah memutuskan. perubahan yang ia mulai pagi ini, akan terus ia lanjutkan.
*
*
Sementara itu di rumah, suasana rumah yang biasanya dipenuhi aroma masakan kini digantikan oleh bunyi mesin cuci dan keluhan yang tidak ada habisnya.
Rukmini berdiri di depan mesin cuci dengan wajah cemberut. Ia memasukkan satu per satu pakaian kotor ke dalam mesin cuci, baju miliknya sendiri, baju Lukman, daster Sonya, hingga baju Janu yang penuh noda. Tumpukan cucian yang biasanya dikerjakan Mia kini menjadi tanggungannya sepenuhnya. Setiap kali ia membungkuk mengambil pakaian, pinggangnya terasa pegal, dan mulutnya tidak berhenti mengomel.
“Dasar menantu tidak tahu diri,” gerutunya pelan tapi penuh kesal. “Sudah tahu banyak pekerjaan, malah keluyuran tidak jelas. Pagi-pagi sudah pergi, tidak masak, tidak mencuci, tidak mengurus rumah. Dia pikir di sini hotel? Semua orang harus melayaninya?”
Ia menutup pintu mesin cuci dengan keras, lalu menyalakan tombol. Bunyi mesin mulai berputar, tapi keluhan Rukmini belum selesai. Ia berjalan ke dapur, membuka kulkas, dan melihat sisa sayur serta ayam yang tadi disebut Rian. Dengan wajah masam ia mulai mencuci sayuran, sesekali menghela napas panjang.
Di ruang tamu, Sonya duduk santai sambil memainkan ponsel. Lukman masih terbaring di kamar, belum bangun meski sudah hampir siang. Rukmini melirik ke arah mereka, tapi tidak berani menyuruh. Sonya adalah menantu kesayangannya, dan Lukman adalah anak kandungnya. Ia selalu merasa kasihan jika harus memerintah keduanya. Lain halnya dengan Mia, menantu yang sejak awal ia anggap harus lebih banyak mengalah dan bekerja.
“Kalau Mia di rumah, semua sudah beres,” gumam Rukmini lagi sambil mengiris bawang. “Sekarang aku harus kerja sendiri. Pinggang pegal, tangan lelah. Tapi dia senang-senang di luar. Tidak tahu diri sekali.”
Ia terus mengomel sendirian, seolah ada yang mendengarkan. Setiap gerakan di dapur diiringi keluhan tentang menantu yang membangkang" tentang Rian yang terlalu memanjakan istrinya, dan tentang betapa beratnya menjadi ibu mertua yang tidak dihargai.
Di luar, matahari semakin tinggi. Mesin cuci masih berputar, panci di kompor mulai mendidih, dan Rukmini masih berdiri di dapur dengan wajah penuh amarah yang dipendam. Ia tidak menyuruh Sonya maupun Lukman. Ia hanya terus menggerutu, melepaskan seluruh kekesalan pada Mia seorang.
Selang beberapa menit, pintu kamar berderit pelan.
Lukman keluar dengan rambut acak-acakan dan wajah masih mengantuk. Ia menguap lebar sambil mengucek mata, lalu berjalan santai menuju ruang makan tanpa melepas kaos oblong yang dikenakannya sejak semalam. Begitu sampai di dekat meja, ia langsung bertanya dengan nada manja yang sudah menjadi kebiasaan.
“Mana makanannya, Bu?” tanya Lukman sambil membuka tutup saji yang masih mengepulkan uap tipis.
Rukmini yang sedang berdiri di dekat mesin cuci menoleh. Tangannya masih memegang setumpuk pakaian basah yang baru selesai diperas. Wajahnya terlihat lelah, tapi suaranya tetap lembut ketika menjawab anak kesayangannya.
“Ibu sudah siapkan di meja makan. Kamu makan saja dulu, Ibu mau menyelesaikan cucian ini dulu,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Lukman mengangguk puas. Tanpa menawarkan bantuan, ia langsung duduk di kursi utama. Tidak lama kemudian Sonya menyusul dengan Janu. Bocah itu masih rewel pelan, tapi Sonya lebih fokus pada piring yang sudah diisi nasi, ayam, dan sayur.
Mereka bertiga duduk melingkari meja makan. Lukman makan dengan lahap, sesekali mengambil lauk tambahan tanpa bertanya. Sonya menyuapi dirinya sendiri sambil sesekali menyuapi putranya. Tidak satu pun dari mereka yang menoleh ke arah Rukmini yang masih sibuk di area cuci. Tidak ada yang mengajaknya makan, tidak ada yang menawarkan untuk menggantikan cucian. Mereka makan lebih dulu, tenang, seolah pekerjaan rumah bukan urusan mereka sama sekali.
Rukmini menghela napas panjang sambil terus memasukkan pakaian ke keranjang. Di hatinya bercampur antara lelah dan kecewa, tapi ia tetap tidak berani menegurnya. Sejak dulu ia terbiasa memanjakan mereka.
Dari dapur terdengar bunyi piring yang digeser dan suara kunyahan yang santai. Rukmini melanjutkan pekerjaannya dalam diam. Ia membungkuk, mengangkat keranjang cucian yang berat, lalu berjalan menuju jemuran di belakang rumah. Setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya.
Di meja makan, Lukman menyeka mulutnya puas. “Enak, Bu. Tambah lagi dong nanti malam.”
Sonya mengangguk setuju sambil tersenyum. “Iya, Bu. Nanti masak yang lebih banyak, ya.”
Rukmini hanya menjawab dari kejauhan, “Iya… nanti Ibu masak lagi.”
Ia tersenyum pahit. Benar-benar anak dan menantu yang dimanja. Sementara ia, ibu dan mertua yang seharusnya dihormati, harus mengurus semuanya sendirian tanpa sepatah kata terima kasih.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.